Sabtu, 18 Juni 2011

"_With Love Part 14_"

Part 14


:: Spesial RaLiv  & AvaTar ::

Oliv mondar-mandir didepan gerbang sekolah, sesekali ia menendang-nendang kecil kerikil yang ada didepan kakinya. Saat ini Oliv lagi nungguin Ify yang dari tadi gak keliatan batang hidungnya. Sudah lebih dari 10 menit Oliv menunggu, tapi yang ditunggu gak nongol-nongol juga. Sampai akhirnya sebuah motor yang sangat dikenal Oliv berhenti disamping Oliv. Oliv sempet seneng sih, yah semoga aja tu orang mau ngajakin pulang bareng tapi kayanya Oliv terlalu GR deh..

"lho Liv, belum pulang..??"tanya Ray yang baru saja memberhentikan motornya disamping Oliv

Oliv tersenyum dan mengangguk kecil "iya Ray, lo sendiri kok bel...."

"Ray...."Oliv dan Ray kompak menoleh kebelakang. Oliv mendengus kesal saat tahu pemilik suara itu adalah Keke.

"sorry lama, tadi gue dipanggil sama Bu Dewi"sambung Keke, Keke menatap Oliv yang baru saja membuang muka setelah melihatnya

"iya gak papa kok Ke"ujar Ray tersenyum "eumm Liv, gue duluan gak papakan..??"tanya Ray hati-hati

"hahhh..iya iya gak papa kok, duluan aja silahkan"jawab Oliv sambil tersenyum paksa, ia berusaha bersikap biasa-biasa saja

"sorry yah Liv, Ray mau nemenin gue dulu ke toko buku sebelum ke rumah lo. Gak papakan kalau Ray gak nemenin lo nunggu...??"tanya Keke gak enak. Keke gak mau membuat Oliv cemburu atau malah tambah benci sama dia karna dari mata Oliv, Keke bisa merasakan kalau Oliv suka sama Ray

"eh sorry ada telpon dari kak Ify"sahut Oliv mengalihkan pembicaraan. Ia segera menjauh dari Keke dan Ray, lalu berpura-pura menerima telpon padahal gak ada telpon sama sekali dari Ify

'huhh...dasar cewe rese'batin Oliv geram, handphonenya masih menempel dikupingnya

Titt...tittt..Oliv mendengus kesal mendengar suara klakson dibelakangnya. Dengan tampang super kusut Oliv menoleh ke belekang

"iya ka...."Oliv diam saat tahu orang yang membunyikan klakson motor tadi bukanlah Ray melainkan Deva "eh elo Dev, kirain..."

"lo kira siapa..?? Ray...??"tebak Deva, Oliv hanya tersenyum tipis "kok belum pulang Liv..??"

"tau nih kak Ify ditungguin dari tadi gak nongol-nongol, mana ntar siang gue mau ngerjain tugas kelompok lagi"keluh Oliv

"ya udah bareng gue aja"ajak Deva, Oliv diam menimbang-nimbang "tenang...lo bakalan gue anter selamat sampe tujuan"tambah Deva meyakinkan, Oliv mengangguk dan segera naik ke boncengan Deva

.....

Lintar mengetuk-ngetukkan jarinya dipintu kelas dengan kesal. Sesekali Lintar ngedumel inilah itulah karna kelamaan nungguin Nova yang gak selesai-selesai menyapu kelas -piket-

"ahelah jadi cewe kok lelet banget sih tu orang"sungut Lintar. Kalau bukan karna masih dalam masa hukuman -dari Pak Dave-, Lintar sih ogah harus nungguin Nova. Apalagi biasanya, ujung-ujungnya Lintar juga harus berbesar hati menemai Nova menunggu jemputan. Yah..Nova sih gak pernah maksa -meskipun emang Nova yang minta- tapi Lintar ngerasa perlu aja gitu nemenin Nova secara kan Nova cewe masa' harus nunggu jemputan sendirian..?? Gimana kalau ada orang yang berniat jahat sama Nova...?? Gimana kalau Nova gak dijemput-jemput setelah menunggu berjam-jam..?? Gimana kalau...ya intinya Lintar gak tega aja lah kalau harus membiarkan Nova menunggu jemputan sendirian

"woy Nov..!!!"seru Lintar "lo nyapu apa semedi sih..?? Lama amat"sungut Lintar kesal, Nova hanya menoleh sebentar lalu kembali melakukan aktifitasnya

"ahelahh..budek lo Nov"teriak Lintar lagi, Nova tetap acuh, ia segera menaruh sapunya dan beralih mengambil penghapus papan tulis

Lintar berdecak kesal "ckckckkk..bisa lumutan nih gue nungguin dia"

Akhirnya, karna kesal dikacangin sama Nova plus nungguin Nova yang kelamaan piket Lintar memilih untuk mengotak-atik ponselnya.
Lintar tersenyum tipis memandangi LCD ponselnya tanpa sadar kalau orang yang ditunggu-tunggunya sedari tadi sudah berdiri didepannya. Nova merasa heran sendiri saat melihat ekspresi Lintar yang tiba-tiba tersenyum eh tiba-tiba lagi terkikik geli. Berhubung sudah kelewat penasaran, Nova memilih untuk mengintip apa yang sedang dilihat Lintar pada layar ponselnya.
Lintar yang merasakan ada bayangan dihadapannya mendongak, dan mendapati wajah Nova yang berjarak tidak terlalu jauh dari wajahnya. Untuk kesekian kalinya, Lintar merasa deg-deg-an, mata itu...entah mengapa setiap Lintar menatap kedua bola mata milik Nova, Lintar selalu merasa damai, tenang dan pastinya hatinya jadi lompat-lompat gak karuan

"gue tau gue manis, tapi ngeliatnya biasa aja bisa kali"ceplos Nova yang merasa risih karna pandangan Lintar. Lintar terkesiap, sedetik kemudian ia berusaha bersikap sewajarnya seperti tadi

"ngeliatin apaan sih..?? Seru banget kayanya..??"sambung Nova bertanya, Lintar tak menjawab, masa' iya dia harus ngomong jujur kalau dia lagi merhatiin foto-foto Nova yang suka dia ambil diem-diem...?? Kan gak lucu. Akhirnya Lintar memilih untuk segera menyimpan kembali ponselnya dan merogoh saku celananya untuk mengambil kunci kelasnya

cklik..cklikkk...Lintar baru saja mengunci pintu kelasnya. Kemudian ia berbalik dan mendapati Nova sedang memandang aneh ke arahnya

"gue tau gue manis, tapi ngeliatnya biasa aja bisa kali"celetuk Lintar mengulang kata-kata Nova. Ia segera berjalan lebih dulu meninggalkan Nova

"ngopast abis lo"cibir Nova yang tau-tau sudah berada disamping Lintar

"ih bodo, mulut-mulut gue, sewot aja bisanya"balas Lintar

Nova menghentikan langkahnya, Lintar mengikut "heran gue, sebenernya waktu ngehamilin elo nyokap lo ngidam apasih..?? Kok keluarnya kaya gini..??"ujar Nova ia memperhatikan Lintar "bawel, nyolot, ngeselin"tambahnya

"gue juga heran sama nyokap lo, sebenernya waktu ngehamilin elo nyokap lo ngidam apa sih..?? Kok keluarnya kaya gini..??"sahut Lintar yang lagi-lagi mengcopast kata-kata Nova. Ia memperhatikan Nova Dari atas sampai bawah, Nova jadi ikut-ikutan merhatiin penampilannya "rese, cerewet, nyebelin"tambahnya. Nova dan Lintar sama-sama melengos, membuang muka satu sama lain. Lalu berjalan saling mendahului

"eh eh gue duluan"serobot Nova yang sedari tadi jalannya dihalang-halangin sama Lintar

"gakda gakda..cowo duluan"

"eh dimana-mana ladies first"

"eh kemana-mana cowo duluan"Lintar makin nyolot

"eh lo ngalah kek sama cewe"

"kalau cewenya bukan elo"Lintar menunjuk Nova "baru gue mau ngalah"

"iiihhhhh...Lintar rese"seru Nova dan brukkk...Nova terjatuh, kakinya tersandung batu yang sebenarnya tidak besar tapi karna sibuk nyolot-nyolot-an sama Lintar, Nova tidak menyadari akan adanya batu tersebut

"aduhhh..perihhh"rintih Nova sambil mengipasi lututnya yang berdarah, Lintar berjalan cepat menghampiri Nova

"makanya kalau jalan tuh be carefull dong"Lintar segera membuka ranselnya dan mengeluarkan sebotol air mineral yang masih tersisa setengah dan sehelai sapu tangan miliknya

"yaampun Lint, kaki gue luka gini lho malah mau minum"

"diem deh jangan bawel"Lintar menuangkan air mineral itu sedikit demi sedikit diatas lutut Nova, Nova speechlees. Gak nyangka Lintar bakalan memperlakukan dia seperti itu. Lintar kemudian membersihkan lutut Nova dengan sapu tangan miliknya, Nova makin terpesona. Ternyata cowo nyolot kaya Lintar bertanggung jawab banget, baik hati dan suka menolong

"eh eh pelan-pelan dong mas"Nova meringis kecil

"bawel lo ah"Lintar kembali membuka ranselnya dan mengeluarkan selembar hansaplast, kemudian ia menempelkan hansaplast itu ke lutut Nova "tuh beres"

"thanks ya Lint"ucap Nova sambil tersenyum tulus, Lintar mengangguk

"iya. Lo mau pulang ama siapa..??"

"orang tua gue lagi keluar kota, kebetulan mobil gue masuk bengkel. Kalau lo gak keberatan sih gue pengen numpang boleh..??"tanya Nova ragu-ragu "kalau lo gak keberatan sih yah, eh ya tapi kalau gak boleh juga gak papa sih gue bisa naik angkot kok"sambung Nova cepat

"huhh berhubung gue lagi baik, ya udah gue anterin"

"beneran nih..?? Makasih yah"Nova segera berdiri

"bisa diri lo..??"

"ya ialah, luka kecil doang juga masa' pake gak bisa jalan"

"bagus deh, jadi gak perlu gue papah"Lintar meneruskan langkahnya menuju parkiran

Nova mendengus kesal "ntar sore, kita ngerjain tugas Bu Maya dirumah lo kan Lint..??"tanya Nova

"yoi"

"eh jangan lupa, misi kita ntar malem buat Oliv ama Ray"ujar Nova mengingatkan, Lintar mengangguk dan mengacungkan jempolnya

"siippp"ujarnya, Lintar segera memakai helmnya "buruan naik, ntar kesorean lagi"Nova menurut dan segera naik ke boncengan Lintar

......

Jam menunjukkan pukul 16 lewat 12 menit. Tapi sampai detik ini Oliv hanya ditemani Nyopon, sedangkan Ray dan Keke belum sampai dirumah Oliv. Tadi sih Keke sempat mengirimkan sms pemberitahuan kepada Nyopon kalau dia dan Ray akan sedikit terlambat, tapi tetap saja hal itu tidak membuat kegelisahan Oliv berkurang.

Nyopon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Oliv yang dari tadi terlihat gelisah. Sebentar-sebentar Oliv membuka majalah yang berada ditangannya, kemudian majalah itu dilempar sembarangan lalu Oliv beranjak ke pintu depan untuk mengecek kedatangan Ray dan Keke. Begitu seterusnya sampai orang yang Oliv tunggu menampakkan dirinya.

cklekk...Oliv membuka pintu rumahnya, Ray sedikit terkejut padahalkan dia atau pun Keke belum memencet bel rumah Oliv

"eh Oliv, tau aja kalau kita dateng"ujar Ray basa basi

"eh itu kebetulan"sahut Oliv cepat, alis Ray bertaut "em apa yah gue lagi nyari tukang em siomay..iya tukang siomay yang biasanya lewat depan rumah gue...ehehe"Oliv gelagapan, ujung-ujungnya Oliv terpaksa bohong "ya udah masuk deh, didalem udah ada Nyopon"ajak Oliv

"lho, beli siomay nya gak jadi Liv..??"tanya Ray

"ngga usah deh, ntar gue suruh kak Ify aja"

Oliv mempersilahkan Ray dan Keke untuk duluan masuk kedalam rumahnya, sedangkan Oliv menyusul

"langsung ke taman belakang aja"seru Oliv yang masih berada dipintu depan

"huftt..gak boleh cemburu..gak boleh cemburu"gumam Oliv pada dirinya sendiri "oke Oliv, tarik nafas...tahan...buang...fiuhh"Oliv memperaktekkan apa yang diperintahkan dirinya sendiri. Setelah merasa lebih tenang ia segera menyusul Ray dan Keke ke taman belakang rumahnya

.......

Nova segera keluar dari taksi biru yang ditumpanginya tadi. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang pembayaran, Nova bergegas memasuki gerbang rumah Lintar.

Ting...tong...ting...tong...Nova memencet bel rumah Lintar dengan harap-harap cemas. Dalam hati sih Nova takut kalau Lintar bakalan ngamuk sama dia, secara Nova telat pake banget kerumah Lintar.
Cklekkk...pintu dibuka, muncul lah satu wajah dongkol dari balik pintu

"kemana aja lo jam segini baru dateng..??"tanya Lintar ketus, Nova nyengir "masuk"suruh Lintar, ia membuka pintu lebih lebar untuk Nova

"sorry...mobil gue masuk bengkel, orang tua gue diluar kota ya jadinya gue naik taksi mana ditengah jalan macet, lo tau sendirikan ada perbaikan jalan"cerocos Nova, Lintar hanya mengangguk-angguk malas

"hai Nova"sapa Acha, Ozy tersenyum sebagai bentukan sapaan -juga- untuk Nova. Nova balas tersenyum dan mengambil duduk disebelah Acha

"sorry gue telat, banyak banget halangannya pas mau kesini...ehehe"

"gak papa kok Nov, kita juga baru mulai"

"iya lagian telat kan manusiawi"sambung Ozy

Lintar meletakkan nampan berisi 4 gelas es jeruk dan setoples cemilan diatas meja.

"jadi gimana nih..??"tanya Acha membuka pembahasan mengenai tugas kelompok mereka

"gimana kalau dibagi dua aja"usul Nova

"emm bener tuh, kan soalnya banyak banget"timpal Acha

"kalau gitu berdua-berdua yah, Acha..."

"Acha bareng gue ya Lint.."seru Ozy memotong ucapan Lintar, Lintar mengangguk

"lha..berarti gue bareng elo dong...??"sambung Nova, nadanya sih gak enak banget kaya malas gitu sama Lintar...

Lintar melengos "lo gak mau..?? Kalau ngga lo kerjain aja sendiri"

"eh engga-engga, ya udah gue pasrah"

"jiahh...beginian aja pake ribut"Ozy geleng-geleng kepala melihat tingkah Lintar dan Nova yang selalu ribut

"dia nih yang ngajak ribut"Nova menunjuk Lintar

"enak aja, elo tuh"balas Lintar

"udah udah...kita mulai kerjain aja tugasnya sekarang"lerai Ozy

.....

Keke menghampiri Nyopon yang duduk dipojok taman "eh..eh Pon, gue gak ngerti deh yang bagian ini nih..??"Keke menyodorkan buku coretannya kepada Nyopon

"oh yang ini.."Nyopon memperhatikan soal itu sebentar "ini mah gampang, gini caranya..."Nyopon mulai mengajarkan Keke. Keke memperhatikan Nyopon sambil senyum-senyum sendiri. Gak tau kenapa, Keke ngerasa seneng aja bisa ngeliat muka Nyopon dalam jarak sedekat saat ini. Manis, pikir Keke.

Ditempat yang tidak jauh dari keberadaan Keke dan Nyopon, Ray beringsut ke sebelah Oliv. Ia memperhatikan wajah serius Oliv yang sedang mengerjakan soal dihadapannya

"Liv..."panggil Ray, namun tak ada sahutan. Sudah lebih dari kali Ray memanggil Oliv, namun Oliv sama sekali tidak menggubris panggilan Ray. Padahalkan duduknya sebelahan

"jiahhh..pantess"gumam Ray pelan, ia langsung menarik pelan earphone yang menutupi kuping Oliv. Oliv mendongak

"kenapa Ray..??"

"dari tadi gue panggilin lo gak nyaut-nyaut, gak taunya kuping lo lagi make beginian"ujar Ray kesal sambil menunjukkan earphone milik Oliv. Oliv nyengir

"kenapa..??"

"gak papa sih"Ray jadi bingung, mendadak dia jadi kehabisan kata-kata

"aneh"

"ntar malem jadi jalankan..??"tanya Ray akhirnya, Oliv mengangguk "gue jemput yah"tawar Ray

"gak usah, gue rencananya barengan sama Nova soalnya. Emmm kita janjian ditempat tujuan aja, okey"Ray menghela nafas, dengan pasrah ia mengangguk lemah

Hening. Setelah pembicaraan singkat itu, Oliv kembali berkutat dengan soal-soalnya. Ray pun demikian, berhubung Oliv sedang serius dengan soal-soal dihadapannya.
Oliv berkali-kali melirik ke arah Ray. Hati kecilnya ingin menanyakan sesuatu, tapi mulutnya enggan bersuara. Hemm..lebih tepatnya malu kali yah.
Setelah berkali-kali menggigit kecil pulpennya -yang memang sudah menjadi kebiasaan Oliv saat berpikir- dan bolak-balik melirik kesampingnya alias Ray, Oliv memutuskan untuk bertanya

"emm...Ray, gue boleh tanya gak..??"tanya Oliv agak gugup, Ray mendongak

"boleh, tanya aja"

"emm Keke sama lo itu emm ada..ada aduhh"Oliv jadi nervous

"emm kenapa gue sama Keke..??"

"emm elo sama Keke itu sebenernya ada hubungan spesial yah...??"tanya Oliv dengan suara yang pelan, ia tak berani menatap Ray. Ray diam sebentar, lalu tersenyum kecil

"oh, lo mau nanya gue ama Keke pacaran atau ngga gitu...??"Ray mengulang maksud pertanyaan Oliv dengan nada menggoda, Oliv bersyukur dalam hati karna Ray mengerti akan maksudnya

"ya..lo ngertilah maksud gue, ngapain pake ditanya lagi sih"

"iya iya, gue sama Keke cuman temenan kok, gak pacaran"

"yakin...??"

"ya ialah yakin. Lagian nih ya, Nyopon tuh suka sama Keke masa' iya gue tega ngerebut cintanya Nyopon"jelas Ray santai, Oliv sedikit kaget

"eh jadi kalau Nyopon gak suka sama Keke ada kemungkinan dong elo jadian ama Keke..??"

Ray mengacak-acak kecil rambut Oliv "ya ngga gitu juga kali"

"ishhh...Ray ah"Oliv merapikan rambutnya yang berantakan karna Ray

"lagian elo sih, udah ah gak usah ngebahas yang gituan kita selesein soal ini ajadeh, biar cepet selese"ajak Ray mengalihkan pembicaraan, Oliv menurut saja

......

"yang ini salah Novaaaaaaaa"jerit Lintar gemas. Ia mencoret jawaban Nova yang salah. Nova manyun, ini sudah ketiga kalinya Lintar mencoret jawaban miliknya. Padahal Nova udah hampir kribo buat ngerjain semuanya, eh Lintar malah nyoret-nyoret aja seenaknya

"ishh..daritadi salah mulu, kapan benernya sih..??"protes Nova kesal

"ya gimana mau bener kalau lo diajarin gak bisa-bisa"ujar Lintar "kerjain lagi, biar gue liatin cara lo ngerjain tuh soal"suruh Lintar, Nova mendengus kesal. Dengan kasar ditariknya buku coretan miliknya dan kembali mengerjakan ulang soal matematika itu.
Nova mengerjakannya dengan lebih teliti sekarang, soalnya daritadi mata Lintar melototin dia. Yah matanya Lintar seolah-olah bilang -lo harus ngerjain dengan bener dan serius jangan sampe salah-, mengancam gitu deh..

"nih.."Nova menyerahkan buku coretannya. Lintar menerima dan mulai mengecek jawaban Nova.
Hening lagi. Lintar sibuk bolak-balik memperhatikan jawaban-jawaban Nova sambil manggut-manggut, satu tangannya mengelus-elus dagunya. Sedangkan Nova sibuk memandang iri ke arah Ozy dan Acha yang juga sedang mengerjakan tugas mereka. Tapi bedanya tanpa nyolot, ribut atau adu mulut. Kalau kata Nova sih Lintar tuh jadi partner gak ada 'manis-manisnya' gak kaya Ozy tuh yang dengan sabar ngasih penjelasan kepada Acha..

"good...jawaban lo bener semua"ujar Lintar tersenyum lega

Nova tersenyum girang "yeayyyy...pinterkan gue"sahut Nova bangga, Lintar menoyor pelan kepala Nova

"biasa neng, Acha yang daritadi gak ada salah aja biasa"celetuk Lintar yang terkesan memuji Acha

"tau darimana lo Acha gak ada salah..?? Diakan ngerjainnya disana, gak disini"ujar Nova gak terima dibanding-bandingin sama Acha

"yeee..kenyataannya kan Acha emang pinter gak kaya lo"Lintar mencibir, Nova manyun lagi. Ihhh..kayanya anak cowo yang satu ini emang hobbynya nyolot, cari masalah dan bawel deh

"Nov..menurut lo Acha cantik gak..??"tanya Lintar sambil melirik ke arah Nova yang sepertinya lagi ngambek

"hemmm"respon Nova singkat "11:12 lah sama gue"tambahnya narsis, Lintar mencibir pelan

"menurut lo, Acha manis gak...??"tanya Lintar lagi

"hemm"Nova memperhatikan Acha sebentar "tapi masih manisan gue"sambungnya makin narsis

"menurut lo, Acha pinter gak..??"Nova menghembuskan nafasnya dengan kasar, tanda bahwa ia sudah kesal

"menurut lo..??"

"yee..gue nanya malah balik nanya"

"tanya aja sama diri lo sendiri"jawab Nova ketus. Anehh...Nova ngerasa hatinya gak terima karna Lintar daritadi muji-muji Acha mulu. Nova sangat kesal, rasanya dia pengen nutup kuping dan berhenti menjawab semua pertanyaan yang berisi pujian buat Acha, bukan dia

"kalau menurut gue sih dia pinter"ujar Lintar "wajar sih yah Ozy suka sama dia, malahan kayanya semua cowo dikelas kita juga"Lintar menatap Acha dari jauh. Sesekali ekor matanya melirik Nova yang makin kesal. Lintar memang sengaja membuat kesal Nova, sekedar ngetes kali aja Nova beneran suka sama dia, seperti feelingnya

"Acha tuh pinter, baik, cantik, manis, ra..."

"ramah, pengertian, murah senyum, lemah lembut terus apalagi..?? Bisa gak sih konsen ngerjain tugas ini aja..?? Gak usah ngebahas yang lain dulu sebelum ni tugas selesai"potong Nova ketus. Lintar menatap aneh ke arah Nova, padahal hatinya tertawa senang karna sepertinya Nova memang cemburu

"kenapa lo..?? Cemburu..??"tanya Lintar menggoda, Nova diam. Apa yang ditebak Lintar emang bener, tapi Nova gak mungkin bilang iya kan...

"hahh..?? Eng..engg..gak kok, udah deh selesein tugas ini aja, udah mau maghrib"Nova gelagapan, Lintar tertawa kecil mendengarnya. Akhirnya keduanya pun kembali menyibukkan diri dengan soal-soal dihadapan mereka

.......

Ray dan Oliv sedang bermain SOS. Pada tau kan..?? Ituloh yang didalam kotak-kotak terus nanti kita nulis huruf S atau O dimana aja yang kita mau, terus kita coret mendatar, menyilang atau menurun kalau udah ketemu kata SOS. Kalau gak tau, silahkan cari tau sendiri.
Kebetulan mereka sudah menyelesaikan soal-soal yang ada pada mereka, jadi Oliv dan Ray memilih untuk bermain-main dahulu sambil menunggu Nyopon dan Keke menyelesaikan tugasnya

"asyikkk..gue menang, jangan lupa traktir yah Ray"seru Oliv senang

"nyehh..menang ginian aja heboh"Ray mencibir pelan

"biarin"

"hei Liv, Ray. Kalian udah selese yah..??"tanya Keke yang baru saja berada diantara Oliv dan Ray. Oliv tersenyum paksa

"udah Ke"jawab Ray "eh tapi sorry nih Ke, bukannya gue gak mau nganterin lo balik tapi gue masih ada urusan sama kak Ify jadi gue pulangnya masih agak lama"sambung Ray, Oliv menatap Ray heran.
Keke terlihat kecewa, namun ia tetap tersenyum

"gak papa kok Ray, gue bisa balik sendiri"

"eh jangan, lo biar balik sama Nyopon aja"cegah Ray "gimana Pon..?? Boleh gak..??"tanya Ray setengah berteriak. Nyopon yang sedang sibuk membereskan peralatan tulisnya menatap Ray dengan alis bertaut

"lo bisa anter Keke pulang gak..??"tanya Oliv yang mengerti kebingungan Nyopon. Tentunya dengan senang hati Nyopon mengangguk semangat

"boleh, boleh banget"

"gak ngerepotin...??"

"ngga, rumah kita kan satu lokasi"

"tapi elo kan mesti muter, apa lo gak kejauhan ntar pulangnya..??"

"engga, lo tenang aja"ujar Nyopon meyakinkan, Keke mengangguk setuju. Kemudian ia pamit kepada Oliv dan Ray

"gue balik yah Liv, Ray"pamit Keke, Oliv dan Ray meresponnya dengan senyuman dan anggukan

"gue juga balik yah guys"seru Nyopon, lagi-lagi Oliv dan Ray meresponnya dengan senyuman dan sebuah anggukan. Keduanya menatap punggung Nyopon dan Keke sampai hilang dari pandangan mereka

"lo beneran ada urusan sama kak Ify..??"tanya Oliv to the point begitu Nyopon dan Keke pulang

"ngga"Ray menggeleng "gue sengaja pengen pulang lebih lama, biar bisa ngobrol sama lo"tambahnya, Oliv jadi GR. Ia tersenyum malu mendengar ucapan Ray barusan

"emang mau ngobrolin apa..??"

"hemm...apa aja boleh"

"serius Raynald..."

"boleh gue minta ceritain soal kejadian dicafe..?? Antara elo sama Deva tanpa terkecuali..??"pinta Ray yang memang penasaran dengan kebenaran yang sesungguhnya

"tanpa terkecuali..?? Maksudnya..??"

"emm ya itu, apa sih namanya"Ray memutar-mutar pulpennya "emm..kenapa lo bisa sampe pelukan sama Deva..??"sambungnya lebih pelan. Oliv menahan tawa, sepertinya dia sudah mengerti alasan sikap dingin Ray beberapa hari ini

"ooohhh...itu"Ray mengangguk "jadi tuh sebenernya...."Oliv mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tanpa terkecual. Ray pun mendengarkannya dengan seksama. Senyum penuh kelegaan terpahat dibibirnya begitu mengetahui cerita yang sesungguhnya

.......

Sore ini hujan kembali mengguyur kota Jakarta, membuat Nova terpaksa menunda kepulangannya dari rumah Lintar. Ozy dan Acha sudah pulang dari setengah jam yang lalu karna memang soal-soal yang berada ditangan mereka sudah selesai. Berbeda dengan Nova dan Lintar yang saat itu belum selesai karna kebanyakan adu mulut

"duduk deh Nov"suruh Lintar "gak cape apa lo bolak-balik mondar-mandir gitu"

Nova diam, ia berhenti mondar-mandir didepan pintu rumah Lintar dan menghempaskan tubuhnya dikursi santai yang ada diteras depan rumah Lintar

"ujannya gak berenti-berenti tuh Lint"keluh Nova "gue kan mau balik, mana ntar malam kita mau jalan lagi"

"hemm..ya udah, lo gak usah balik aja. Biar ntar kita langsung kesana nya barengan"

"trus gue gak mandi gitu..??"

"ya mandi dirumah gue aja"

"ganti bajunya..??"

"tadi sore sebelum lo ke rumah gue, lo mandi kan..??"Nova mengangguk "nah berarti lo juga ganti baju kan..??"Nova mengangguk lagi "ya udah, gak usah ganti baju, toh baju lo masih baru ini, kecuali lo punya masalah bau badan"

tukkk...Nova melemparkan gumpalan tissue kearah Lintar "sembarangan aja lo ngomong, biar kata gue gak mandi 1 minggu juga gue tetep wangi tau"protes Nova

"wetss...PD gila lo"Lintar balas melemparkan tissue bekas lemparan Nova tadi "eh udah adzan, gue shalat dulu ya Nov"pamit Lintar ketika mendengar suara adzan "elo masuk gih, katanya mau mandi"ajak Lintar sekalian, Nova mengangguk

"gak papa nih..?? Nyokap lo ada gak..??"Nova clingukan kedalam rumah Lintar

Lintar menarik tangan Nova dan membawanya kedalam "gak papa, nyokap gue ada di luar kota. Tapi lo tenang aja, didalem ada pembantu gue kok"jelas Lintar, Nova mengangguk "tuh, kamar mandinya disana"sambung Lintar sambil menunjuk kamar mandi yang terletak disamping tangga rumahnya. Nova kembali mengangguk. Keduanya pun berpisah didepan tangga, Nova masuk ke kamar mandi dan Lintar kelantai atas

.......

Suasana di pasar malam, malam ini terlihat ramai. Banyak orang berlalu lalang mengunjungi dari satu stand ke stand lainnya. Oliv yang baru saja menginjakkan kakinya di pasar malam ini sedikit tercengang. Sebelumnya Oliv gak tau kalau alamat yang dikasih Nova tadi siang itu adalah alamat pasar malam. Hemm..kalau dipikir-pikir, malam mingguan dipasar malam gak buruk-buruk amat sih. Toh banyak hal yang bisa dilihat dan stand-stand yang bisa dikunjungi.
Oliv mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pasar malam, kepalanya clingukan mencari sosok-sosok orang yang mengajaknya ke pasar malam ini

"hei..."suara plus tepukan seseorang dipundaknya membuat Oliv terkejut dan mengelus dada

"ya Tuhan.."Oliv berbalik dan menatap kesal kepada orang yang sedang nyengir dengan tampang watadosnya

"ehehe..lagi apa lo Liv..??"

"pake nanya lagi, lagi nungguin elo, Nova ama Lintar lah"

"mereka belum dateng..??"tanya Ray sambil melirik jam ditangannya

"hei..guys sorry telat"sapa Nova ngos-ngosan

"emang lo berdua kemana aja..??"

"ini nih, si Nova mandinya lama banget, dari gue shalat maghrib sampe selese dia ngga keluar-keluar dari kamar mandi"jelas Lintar, Ray dan Oliv saling melempar pandangan bertanya-tanya

"kok bisa..??"tanya Ray, disertai anggukan kepala Oliv

"lo shalat dirumah Nova..?? Atau Nova yang mandi dirumah lo..??"tanya Oliv, disertai anggukan kepala Ray

"Oliv mandi dirumah gue"jawab Lintar santai, Ray dan Oliv sama-sama tercengang

"apa...???!!!!"seru keduanya bersamaan

"eh nyantai woy, liat tuh semua mata tertuju padaku"ujar Nova, Lintar menoyor pelan kepala Nova

"semua mata tertuju pada kita, odong"

"ishh..apaan sih lo"sungut Nova

"berantemnya entaran aja deh. Sekarang gue tanya, kok Nova bisa mandi dirumah lo sih Lint..?? Jangan bilang kalau lo berdua..."

"Oliv...."teriakan kompak Nova dan Lintar membuat Oliv menghentikan ucapannya. Sontak ia dan Ray menutup kuping

"ngga usah teriak"balas Oliv dan Ray bersamaan

"elo sih, omes banget. Gue tuh kebetulan doang mandi dirumah Lintar"

"iya jadi tadi tuh Nova..."Lintar menceritakan asal muasal kenapa Nova bisa mandi dirumahnya. Oliv dan Ray mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Lintar

"ya udah, kalau gitu jalan yuk..."ajak Oliv

Mereka ber 4 pun mulai menghampiri stand-stand yang menjual berbagai macam aksesoris. Sebenarnya sih cuman Oliv sama Nova doang, kalau Lintar sama Ray mah terpaksa ngintil

"eh eh..main itu dong Ray.."suruh Oliv semangat sambil menunjuk sebuah stand permainan. Itu loh permainan lempar gelang, yang gelangnya dilempar ke arah kaleng ntar kalau gelangnya masuk ke kaleng bakalan dapat hadian sesuai nomer kaleng

"ya udah, main aja Liv"

"gue gak bisa Ray, elo aja deh yang main, gue pengen boneka beruang yang mini itu, ayolah Ray"bujuk Oliv. Ia memang langsung jatuh hati pada sebuah mini bear berwarna coklat lengkap dengan baju dan bandanya yang diperuntukan sebagai hadiah kaleng bernomer 8. Imut bangett, pikir Oliv

"emmmm.."Ray tampak berpikir, namun Oliv langsung menarik tangannya dan membawanya memasuki stand tersebut meninggalkan Lintar dan Nova yang masih sibuk berdebat soal permainan yang ingin mereka mainkan

"gue maunya main tembak-tembakan itu dulu Nov"

"ngga Lintar, gue mau nya naik komedi puter itu"

"tembak-tembakan"

"komedi puter Lintar, ayolahhhhh"bujuk Nova dengan tampang memelas

"MKKB banget sih lo"cibir Lintar

"biarin"Nova menjulurkan lidahnya kemudian menyeret Lintar menuju area komedi putar

.......

Ray sudah mencoba berkali-kali melemparkan gelang besar itu ke arah kaleng didepannya. Tapi jangankan dua, satu aja gak masuk

"yah..susah Liv, ganti deh jangan nomer 8"tawar Ray putus asa

"sekali lagi deh, kalau gak bisa ya udah gue nyerah"pinta Oliv putus asa, Ray mengangguk. Ia menghitung dalam hati 1...2...3...happppp...lemparannya masuk tepat dikaleng nomer 8

"yeayyy..Ray hebat"seru Oliv yang langsung memeluk Ray, yang dipeluk cuman tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepalanya

"ini de.."penjaga stand itu menyerahkan mini bear coklat tersebut dengan senyum menggoda

"eh..sorry Ray"Oliv melepaskan pelukannya dengan wajah merona "gak sengaja"tambahnya

"hehee...sengaja juga gak papa kok Liv"goda Ray, Oliv memukul pelan pundak Ray

"apaan sih"

......

Lintar sibuk mengejar Nova yang terus berlari sambil tertawa terbahak-bahak. Ia baru saja mengerjai Lintar dengan menyuruh petugas komedi putar untuk memutar permainan itu berkali-kali, Lintar sampai pusing dibuatnya

"sialan lo Nov, gue mual tau"Lintar mencak-mencak sambil memegangi perutnya yang mual

"ahaha..lagian lo jadi cowo, asli payah banget"ledek Nova, lagi-lagi sebuah toyoran mendarat di kepala Nova

"eh, asal lo tau, semua orang juga bakalan pusing kali kalau naik komedi puter berkali-kali, sarap lo"

"mas..mas..mas"Nova memanggil penjual gulali yang lewat didepannya "gulalinya satu yah"pinta Nova, penjual itu memberikan sebungkus gulali kepada Nova dan Nova memberikan selembar uang 5 ribuan kepada penjual gulali tersebut.
Nova segera membuka plastik gulali tersebut dengan semangat. Ia memandangi gulali itu sambil tersenyum, lalu segera memakan gulali itu dengan lahap

"udah gede makannya begituan"ujar Lintar mencibir, padahal dalam hati dia juga mau tapi pengen minta kok malu yah...

"biarin, biar gue tambah manis"

Lintar mendelik herab "apa hubungannya..??"

"gulali kan manis nah kalau gue banyak makan gulali ntar gue pasti tambah manis"jelas Nova, Lintar terkekeh mendengarnya

"eh tapi ntar sakit gigi lho"

"gak akan, gue mah udah kebal"sahut Nova "cobain deh"Nova menyodorkan gulali itu ke mulut Lintar, Lintar menggeleng

"ngga, gue gak suka yang manis-manis kan gue udah manis"

"nyehh narsis aja bisanya"

"biarin"

"cobaan deh Lint, enak tau"paksa Nova sambil berusaha memasukkan secuil gulali kedalam mulut Lintar. Lintar mengalah, ia membuka mulutnya dan membiarkan Nova memasukkan gulali kedalam mulutnya. Lintar menikmati manisnya gulali itu sambil menatap Nova

'gila...perasaan ni gulali kok tambah manis yah'batin Lintar

"enakkan.."Lintar mengangguk, meng-iya-kan "dulu waktu nyokap bokap gue gak sesibuk sekarang, kami sering pergi ke pasar malem terus beli gulali. 1 gulali gini nih, kita makan bertiga, asyik deh"cerita Nova sambil mengingat-ingat masa lalunya "tapi sayang, sekarang mereka sibuk banget"Nova mendesah kecewa saat mengingat keduanya yang terlalu sibuk dengan kerjaan mereka.
Lintar memandang iba kepada Nova. Sambil terus memakan gulali ditangan Nova, ia mengelus pundak gadis manis disampingnya

"sabar yah, lo kan udah gede, pasti udah bisa ngerti dong kalau mereka sibuk"Nova mengangguk sambil menatap Lintar. Bentar...bentar...kok kayanya ada yang aneh yah

"Lintar...."teriak Nova, Lintar refleks menutup kupingnya "kok gulali gue lo abisin sih"

upss...Lintar menutup mulutnya "ehehee..sorry Nov, gak sadar gue"

"gak mau, pokoknya ganti...ganti...ganti..."

"iya deh iya, yuk kita cari"ajak Lintar yang tanpa sadar sudah melingkarkan tangannya dipundak Nova

"eh bentar deh, kayanya kita kelupaan sesuatu deh"Nova berpikir sejenak "kayanya Oliv sama Ray gak ada sama kita deh"

"jiahhh...kemana mereka..??"Lintar clingak clinguk kesana kemari "udahlah, mereka udah gede ini kan bagus rencana kita bisa berjalan dengan sendirinya"sambung Lintar, Nova tersenyum sumringah

"iya yah, semoga secepatnya mereka bisa jadian"harap Nova

'semoga lo sama gue juga'tambah Lintar dalam hati

"aminnnnn..."ucap keduanya mengamini, lalu saling pandang dan tertawa bersama

......

"ahhhh..gue cape Ray, mereka gak ketemu"keluh Oliv. Ia sudah terduduk didepan salah satu stand yang ada dipasar malam ini. Kakinya terbentang kedepan, Ray ikut duduk disebelahnya

"hehhh..mereka berdua nyusahin"

"bangett..."

"Liv..."

"apa..."

"kita....udah lama yah gak jalan berdua kaya gini"ujar Ray dengan tatapan lurus kedepan, Oliv menatap Ray

"iya.."

"kayanya kita mesti terima kasih deh sama Nova, sama Lintar juga"

"buat...??"

Ray balik menatap Oliv "karna mereka berdua, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi dan karna mereka berdua juga...kita jadi bisa jalan bareng malem ini"ucap Ray sambil tersenyum manis

"lo bener Ray, mereka emang sahabat yang palinggggggg...baik dalam hidup gue"

"gue juga.."

"idihh ngikut"

"fakta tau"

"iya, faktanya lo ngikutin gue"

"ngga.."

"iya.."

"ihh..Oliv ngajak ribut nih.."Ray manyun

"biarin..."Oliv memeletkan lidahnya dan berlari meninggalkan Ray. Ray menghela nafas, kemudian segera berlari mengejar Oliv
 

0 komentar:

Posting Komentar