A homepage subtitle here And an awesome description here!
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

Link With Love

Selamat sore semua...
Ketemu lagi kan sama gue, yang baik hati dan tidak sombong ihihi
Okay, sore ini gue mau ngeshare link cerbung kedua gue. Jadi, kan beberapa waktu lalu gue sempet ngerepost cerbung gue With Love (yang juga gue udah gue repost disini) di fb kedua gue Nia Stevania II. But, mendadak gue males ngelanjutin._. sederhana kok alasannya, pertama gue kelupaan yang kedua gue agak keribetan karena kalau gue ngere-post otomatis gue mesti ngedit yah minmal sekedar ngebenerin tanda titik dan penggunaan hruf kapital. Nah, itu tuh ternyata capek juga yah._.makanya, sebagai jalan keluar gue memutuskan untuk ngeshare linknya aja yah? Maunya sih ngeshare link fb tapi...note fb pertama gue cuman bisa diliat sama orang-orang yang berteman sama fb itu, dan setelah gue re-sett tetep aja nggak bisa dibuka sama orang lain meskipun mereka belum berteman sama fb gue-_-
Well, dari pada gue kelamaan berbasa-basi, mending langsung aja yuk!

(berhubung difb gue udah nge-repost sampe part 5, so, gue ngeshare link dari part 6 aja yah..okay?)

WL [6] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-6.html

WL [7] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-7.html

WL [8] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-8.html

WL [9] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-9.html

WL [10] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-10.html

WL [11] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-11.html

WL [12] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-12.html

WL [13] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-13.html

WL [14] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-14.html

WL [15] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-15.html

WL [16] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-16.html

WL [17] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-17.html

WL [18] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-18.html

WL [19] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-19.html

WL [20] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-20.html

WL [21] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-21_-repost/179290695461087

WL [22] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-22_-repost/188165147906975

WL [23] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-23_-repost/202522266471263

WL [24] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-24_-repost/224793624244127

WL [end] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/with-love-last-part/401282113261943

Finally, DONE! itu dari part 21 adalah link note difb gue yang kedua :)

Cheers!

@Kania08_




Kamis, 09 Agustus 2012

With Love - Last Part



The final chap of With Love...


=====

Detik berganti menit, hari kian berlalu. Berbagai macam persiapan yang telah dilakukan jauh-jauh hari itu akhirnya membuahkan hasil maksimal. Acara marathon--dari class meeting sampai acara puncak berupa prom nite, yang di adakan di SMA Harapan Bangsa berlangsung dengan baik. Bisa di bilang hampir mendekati kata sempurna, err atau mungkin harus menunggu kesuksesan acara prom nite malam ini dulu baru kata sempurna itu ada?

Ify yang seharian sibuk berkutat dengan tugasnya sebagai panitia memilih untuk segera melarikan dirinya ke salah satu tempat pijat refleksi untuk merilekskan diri, begitu kegiatan class meeting usai. Hitung-hitung persiapan untuk acara nanti malam juga sih sebenarnya.

“Fy, ntar malem loe ke prom bareng siapa?” Agni yang dengan setengah hati --pasalnya Ify memaksanya-- menemani Ify ke tempat ini membuka pembicaraan.

Ify membuka matanya yang sempat terpejam saat menikmati pijatan dipundaknya, “Sendirian nggak papa kan, Ag?” Jawabnya. “Lagian nggak ada kewajiban buat couple-an juga kan?”

Agni mengangguk. “Iya kali yah..eh tapi nggak tau deh.“ Ia mengangkat kedua bahunya. “By the way, nggak asyik kali, Fy, kalau pergi sendiri.“

“Mau gimana lagi? Elo pergi bareng Cakka kan pasti? Nah Oliv sama Ray--“

“--loe sama Rio!“ Seru Agni memotong ucapan Ify.

Ify mendengus malas. Dalam hati sih berharap banget tapi ya mau bagaimana lagi, sampai detik ini Rio belum melayangkan ajakan 'pergi bareng' juga. Lagi pula, sepertinya Rio sudah memiliki pasangan. Eh tapi nggak pasti juga sih.

“Kayak nggak ada yang lain aja.“

Agni terkekeh, “Yang lain sih banyak, tapi yang loe mau kan cuman dia..“ Godanya. Ify menggeram ditempat, kemudian langsung memejamkan matanya dan membiarkan godaan-godaan Agni berseliweran ditelinganya.

'Aminn! Aminn! Aminn deh, Ag!'
***

Pemuda itu kembali mengklik tombol merah di layar Iphone-nya yang menunjukkan program sound recorder. Matanya mulai membaca tulisan yang tertera di selembar kertas.
Beberapa kalimat yang dengan susah payah ia rangkai sedari tadi.

“Err..hallo, Ify. Jangan dilepas! Aku, eh gue tau elo pasti kaget, err tapi please jangan dilepas. Ak..eh gue pengen elo ngedengerin apa yang pengen gue bilang.“ Ia mengambil jeda dari kalimat panjangnya sejenak. “Err..dan gue harap, elo mau ngejawab, sekarang juga.“

Ia kembali terdiam, kali ini sambil bolak-balik mengambil napas, demi melenyapkan kegugupan yang ia takutkan akan meleburkan pengakuannya sesaat lagi.

“Gue..apapun yang bakal gue bilang sebentar lagi, err mungkin bakal terdengar ugh, aneh. Jadi..I love you, Ify..“ Ia menggantungkan kalimatnya, secara refleks tangannya bergerak mengepal sehingga membuat lembar kertas ditangannya tak berbentuk. “Gue nggak bercanda. Gue serius. Gue cinta sama loe. Jadi, apa jawaban loe? Loe mau kan, jadi cewek gue?“

KLIK! Ia menekan icon tombol --yang sebelumnya berwarna merah-- hitam dilayar Iphone-nya untuk menghentikan perekaman sebuah pengakuan yang tercetus dari dasar hatinya. Kemudian me-replay sekali lagi, dan langsung menyimpan rapi ponselnya--setelah memastikan file rekaman tersebut tersimpan, di atas meja.
Rio. Pemuda yang baru saja melakukan 'perjuangan' yang baru pertama kali dilakukannya itu mendesah lega.

“Biarpun gue ngomongnya belepotan, tapi senggaknya, semua udah kesebut.“ Ucapnya.

Kini, perasaan hatinya yang kembali ketar-ketir. Menduga-duga apa yang akan terjadi nanti malam? Bagaimana reaksi Ify jika mendengar rekaman itu? Dengan kepala yang dipenuhi wajah-wajah Ify, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, guna mempersiapkan diri untuk malan nanti.
***

“Sebenernya, perasaan loe ke Rio gimana sih, Fy?“

Ify yang tengah sibuk memberikan mascara pada matanya, berbalik menatap Agni yang mulai sibuk dengan sweet dress berwarna gading yang akan ia kenakan di acara prom nite nanti.

“Maksudnya?“ Ify balik bertanya, kemudian melanjutkan acara me-mascara-i matanya.

Agni mendengus kesal. “Nggak usah pura-pura bego deh. I know you verry well, jujur deh.“ Desaknya.

Ify meletakkan mascara ditangannya. Kemudian beralih pada sepasang wedges 7 cm di hadapannya.

“Jujur? Kalau loe nyuruh gue jujur, kayaknya gue nggak perlu nyebut apa-apa deh. Seperti yang loe bilang barusan, you know me so well.“ Jawab Ify seadanya, sambil memasang wedges itu pada kakinya.

Agni tersenyum sumringah. Dengan semangat ia melangkah menghampiri Ify. “Terus, terus, loe nggak ada niatan buat jadian gitu? I mean..nggak lama lagi, kita bakal ninggalin SMA gitu, loe sendiri udah fix mau kuliah di Aussy, itu artinya bakal ninggalin Indonesia, gue--yang seriusan sampe detik ini masih nggak rela kalau loe tinggal, dan Rio. So?“

“So?“ Ify mengangkat sebelah alisnya, yang dibalas Agni dengan gelengan kecil. “Ya, loe jangan berpikir yang aneh-aneh deh. Nggak mungkin kan gue nembak dia?“ Ify terkekeh kecil. Dalam hati, ia memang berharap bisa meninggalkan Rio dengan sebuah keyakinan, bahwa pemuda itu akan menunggunya kembali. Tapi..

“Why not? Ini 2012, Fy! Zaman emansipasi wanita udah dimulai dari masanya Ibu kita Kartini. Loe nembak cowok duluan udah bukan hal baru.“

Ify mendelik. “Emansipasi sih emansipasi, tapi ya nggak dalam hal menyatakan perasaan juga kali.“ Ify menggeleng-geleng, tak habis pikir dengan jalan pikiran cewek tomboy macam Agni. “Nih ya, Ag. Buat gue, cewek itu bukan memilih, tapi di pilih. Dan cewek itu nggak mencari, tapi menunggu.“

Agni melongo mendengarnya. Lebih tepatnya, sedikit kurang paham dengan maksud ucapan Ify. “Sumpah nggak ngerti.“ Ia meringis.

Ify menepuk keningnya. “Gini, prinsip gue, gue nggak memilih seseorang untuk cinta gue, tapi biarkan gue yang dipilih seseorang untuk dijadikan cintanya.“ Jelas Ify perlahan. “Dan buat gue, gue nggak akan mencari cinta--ya meskipun yang pernah gue denger jodoh itu mesti dicari, tapi gue lebih memilih untuk menunggu cinta itu datang sendiri ke gue.“

Agni mengangguk paham. “I see. Dengan kata lain, elo lebih milih untuk nunggu Rio sampe tu bocah ngeshoot elo gitu?“

“Something like that.“

“Emang loe yakin, dia bakal nyatain cinta?“

“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini Agni...“ Ify berujar gemas. “Lagian, gue pernah baca gini 'women always know'. Kita para cewek udah bisa nebak kalau lagi ditaksir, karena mayoritas cowok Indonesia lebih sering ngelakuin 'serangan' terbuka. Perhatian yang tiba-tiba, semacam nanyain 'udah makan belum?' Atau 'jangan lupa makan yah..' Ya, kan?“

“Jadi maksud loe, loe cukup ngerasa kalau Rio ada rasa gitu sama loe?“

“Yep!“

Ify kembali mematut dirinya di cermin dan kemudian meraih tas tangan berwarna satu tingkat lebih cerah dari warna mini dress merah marun miliknya.

“Eh, gue duluan bareng sama Zahra yah, loe tungguin aja Cakka bentaran, kalau nggak salah tu anak mau ke rumah Rio dulu deh.“ Pesan Ify sebelum pamit.

Agi mengacungkan satu jempolnya. “Eh tapi, emang Zahra nggak bareng Dayat?“

“Bareng kok, sama adeknya Dayat juga, siapa tuh namanya? Ozy? Nah, makanya gue nebeng, sekalian nemenin Ozy lah.“ Ucap Ify sambil tertawa kecil. Kemudian segera keluar dari kamarnya, menghampiri Zahra yang--melalui pesan singkatnya memberitahukan, telah berada di halaman depan.

“Kak, loe pergi sendiri?“

Oliv yang nampak cute dengan dress model baby doll berwarna pink lembut menyambut Ify dengan pertanyaan itu, ketika Ify berpapasan dengannya di anak tangga.

“Bareng Zahra tuh, di depan. Loe nggak barengan sama Ray?“

“Bareng kok. Tapi tu anak lagi ngisi bensin.“ Ify mengangguk. “Gue pikir, elo pergi bareng Rio.“

Ify meringis. Kenapa semua orang berharap dia pergi bareng Rio sih?

“Gue duluan deh, Liv. Kasian tuh Zahra nunggu diluar, bye!“
***

Jas semi formal berwarna hitam dengan kemeja putih didalamnya, berpadu dengan pantofel hitam mengkilap--disepasang kakinya, telah melekat ditubuh jangkungnya. Not bad, ohh bukan sekedar not bad tapi...very good!
Lelaki itu menatap bayangan dirinya dengan seulas senyum tipis penuh kebanggaan.

“Yah, nggak salah gue jadi inceran cewek-cewek HB, gue ganteng gini kok.“ Narsisnya.

“Rio!!! Gue masuk yah?!“ Teriak sebuah suara dari luar pintu kamarnya. Bisa ditebak, pemilik suara itu adalah Cakka.

Cklek!
Rio membuka pintu kamarnya dan memberikan sedikit jalan untuk Cakka memasuki kamarnya.

“Wetss jadi ganteng aja lo, Yo.. Ke dukun mana dulu, tadi?“ Tanya Cakka sesukanya. Rio mendelik tak terima, dan melayangkan sebuah 'ketukan' di kening Cakka.

Tuk!

“Sialan! Dari zaman Tuhan nitipin gue ke perut nyokap gue, gue udah dikasih kegantengan tau?“

“Nggak tau, tuh...“ Ucap Cakka jahil. “By the way, loe nggak niat jemput Ify?“

Rio menggeleng. “Nggak. Mental gue mesti dipersiapin sebaik mungkin nih buat kenekatan gue yang tinggal menghitung menit.“

Cakka menoyor kepala Rio penuh nafsu. “Lebay loe. Yah, gue harap dia masih mau berbaik hati buat ngasih jawaban terbaik, buat kebahagiaan loe.“ Ujarnya berlebihan.

Rio melirik Cakka. “Sekarang, siapa yang lebay?“
***

Ruangan serba guna yang memang luas itu terlihat begitu cantik. Sebuah panggung kecil--dilengkapi dengan seperangkat alat band, kursi-kursi yang nampak cantik dengan hiasan pita, lilin-lilin kecil di atas meja, dan lampu-lampu ruangan yang terkesan redup, remang-remang membuat suasana romantic tercipta dengan sendirinya.

Di sudut panggung, nampak sepasang kekasih yang tengah asyik bercengkrama sambil menunggu teman-temannya yang lain.

“Anak-anak mana deh? Lama amat.“

Shilla, setengah melirik ke arah jam di tangannya bertanya pada Riko yang berdiri disampingnya.

“Dandan dulu kali, jadi lama.“

“Hei, bro!“

Sebuah tepukan diiringi sebuah sapaan sontak membuat Shilla dan Riko menoleh secara bersamaan.

“Lama amat loe-loe pada, kirain pada tepar.“ Seru Riko sambil menyalami Rio, Cakka, dan Agni bergantian.

“Cantik banget loe Ag, malem ini.“ Puji Shilla sambil bercipika-cipiki dengan gadis tomboy tersebut.

Agni menyeringai lebar. “Loe lebih.“

“Ify mana?“ Tanya Shilla sambil mengedarkan pandangannya, mencari sosok mungil yang memang telah seperti sahabat baginya.

“Lha, Ag. Bukannya tu anak udah duluan?“ Tanya Cakka yang mulai ikut clingukan.

“Gue nggak tau, tadi dia emang duluan kok bareng Zahra.“

“Perhatian! Perhatian!“

Suara Patton, selaku MC malam ini membuat semua insan di ruangan ini menghentikan percakapan mereka, termasuk Agni dan yang lainnya. Secara serentak mereka memfokuskan diri ke arah panggung, tempat Patton berdiri.

“Sebelumnya, selamat malam semuanya!“ Sapa Patton bersemangat, yang dijawab dengan tak kalah semangat oleh semuanya.

“Okay, ngomong-ngomong, gue pengen bilang congrats buat panitia acara pesta akbar tahunan sekolah kita tahun ini. Rio cs, ada semuakan? Nggak pada teparkan? Kerja kalian sukses, guys.“ Puji Patton. “Ngomong-ngomong, udah pada nerima surat kelulusan dong? Lulus semua kan?! Itu artinya malem ini, kita nggak usah mikirin yang macem-macem, lupain semua masalah dan kita have fun bareng-bareng disini. Setuju?!!!“

Semua bertepuk tangan, menyetujui ucapan Patton.

“Dan sebagai pembuka acara kita malam ini, gue mau memberikan penampilan spesial gue..ahahaa..“ Patton tertawa, sedikit malu juga dengan kenarsisannya. “Gue, mau nyanyi--dan ini langka banget kan? Lagu Yakin dari Radja!!“ Riuh tepuk tangan menyela ucapan Patton. “Dengan diiringi permainan gitar dari adik kelas kita, Raynald!!“

Dan tepuk tangan pun kembali bergemuruh menyambut penampilan Patton.

Bukalah hatimu untuk diriku
Sebelum cinta hilang
Seperti bintang ku puja dirimu
Seperti malam datang

“Gila! Asyik banget nih Patton milih lagu.“ Celetuk Riko dengan lirikan mengarah pada Rio.

“Yoi, bro. Kayak kode gitu ye nggak?“ Sambung Cakka. Agni dan Shilla kompak menahan tawa.

“Rese amat sih loe pada.“ Dengus Rio sambil melangkah pergi.

Sebenarnya, dari tadi ia memang sudah ingin menjauh. Berada ditengah-tengah couples sebagai seorang single, mana enak sih. Rasanya seperti nggak laku, dan yang paling pasti 'kacang' bertebaran. Bete kan?
Dan godaan--ledekan, dari mereka semua menjadi alasan Rio untuk menjauh dari keramaian, sekaligus bermaksud untuk mencari sosok bidadari hatinya yang belum juga terlihat.

Yakinkan cintamu kepadaku
Agar aku bisa memiliki
Setulus hatiku mencintai dirimu

Lupakanlah smua mimpi-mimpi
Walaupun bayangnya menghantui
Yang kadang slalu ingin memilih..cinta

***

Ify nampak menikmati suara lembut Patton yang tengah mengalun. Disebelahnya ada Zahra dan Dayat yang sedang seru-serunya membahas sesuatu yang ia sendiri kurang paham. Atau mungkin memang karena ia tidak berniat untuk mendengarkan?


Katakan bila hatimu gelisah
Memberi cinta yang indah
Jangan memaksa kan ingin yang lain
Tunggulah cinta memanggil

“Fy..“

Sebuah suara halus yang menyebutkan sepenggal namanya membuat Ify menoleh. Sedikit terpesona--hingga terdiam tak bersuara, Ify menatap Rio --seseorang yang menyapanya-- tak berkedip.

TUK!

Rio mengetuk kening Ify, iseng. Membuat Ify tersadar dan secara refleks membawa perubahan pada raut wajah terpesonanya menjadi lipatan-lipatan kejengkelan.

“Apaan sih?! Iseng banget.“

Rio tertawa kecil, “habis elonya sih, ngeliatin gue sampe nggak kedip gitu. Gue ganteng yah?“ Tanya nya narsis dengan nada menggoda, lengkap dengan aksi menaikkan kerah kemejanya.

Ify bergidik malas. “PD!“

Yakinkan cintamu kepadaku
Agar aku bisa memiliki
Setulus hatiku mencintai dirimu

Lupakanlah smua mimpi-mimpi
Walaupun bayangnya menghantui
Yang kadang slalu ingin memilih..cinta

Hening.
Rio dan Ify terkurung dalam diam, tanpa sadar bahwa beberapa orang yang tadi ada disekitar mereka telah menjauh entah kemana. Tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan.
Hingga akhirnya, Rio meletakkan gelas minuman ditangannya, dan kemudian mencolek pundak Ify dengan ragu.

“Apa?“ Tanya Ify dengan alis terangkat.

“Ikut gue yuk!“ Rio mengajuk sambil tersenyum kaku.

Entah mengapa, Ify merasa detak jantungnya mulai tak normal. Lonjakan detakkannya terasa berlebihan. Mendadak gadis ini merasa, mulas.

“Kemana?“

Rio menggaruk-garuk pelepisnya dengan bingung. “Ke taman sekolah bentar.“

Ify mengetuk-ngetukkan giginya, kemudian mengangguk setuju. “Gue naruh gelas ini dulu yah.“
***

Cakka menyikut-nyikut perut Riko yang berdiri disampingnya. “Sstt..sstt, mau ikut nggak?“

“Kemana?“

“Ngeliat free show spektakuler, di jamin nggak nyesel deh.“ Jawabnya sambil terkikik geli.

“Hayo! Ngomongin apa?“ Tanya Shilla yang tiba-tiba saja menyembulkan kepalanya, dari balik punggung Riko.

“Nih, si Cakka mau ngajakin nonton.“

Agni mengernyit bingung. “Nonton apaan, Kka?“

Cakka diam. Sengaja memperlambat jawabannya, membuat 3 anak manusia didekatnya menyipit penasaran.

“Nungguin yah?“ Ucapnya jahil.

TUK!

Agni menjitak kepala Cakka dengan gemas. “Seriusan deh nggak pake bercanda! Muka loe mencurigakan banget sumpah!“ Ucap Agni tak sabaran, Shilla mengangguk setuju.

“Kayak maling yah, Ag..“ Celetuk Riko.

“Gue kan emang maling..“ Sahut Cakka, “..maling hatinya Agni~“

Agni mendelik malas mendengarnya. “Jayus!“

“Aku kan jujur, sayang~“ sahut Cakka dengan manis--bermaksud untuk menggoda Agni, lengkap dengan tampang polos.

“Mau 'ini' lagi?“ Agni menyiapkan tangannya untuk menjitak Cakka, lelaki itu kontan menutupi kepalanya.

“Jangan dong, Ag.. KDRT nih. Yuk deh, loe semua ikutin gue!“

“Dari tadi kek, dut.“

Cakka mendelik mendengar kata 'dut' yang diucapkan Riko. “Apa loe bilang?!“ Tanya nya garang. Riko menggeleng cepat sambil menunjukkan tanda damai dengan kedua jarinya.
***

Ify menatap earphone yang diulurkan Rio kepadanya dengan alis bertaut. Bingung, apa maksudnya ini?

“Dengerin deh.“ Ujar Rio yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.

Dengan ragu Ify meraih earphone yang terpasang di Iphone tersebut, dan menyumbatkan ke telinganya.

Rio tersenyum, dalam hati ia merapalkan doa demi kelancaran semuanya.
Ia menekan-nekan layar Iphone di tangannya. Hingga...
Ify tersentak kaget, dengan bola mata melebar sempurna. Ekspresi yang diyakini Rio merupakan akibat dari sesuatu yang sedang didengarkan oleh gadis itu
Beberapa waktu berlalu, Rio yakin betul Ify telah mendengar seluruh pengakuan yang terekam dan terputar saat ini. Ia semakin menatap dalam wajah Ify yang semakin menunduk, seolah menghindari tatapan Rio yang menghujam tepat ke kedua manik matanya.

Meski tahu rekaman itu telah berhenti, Rio tetap membiarkan Ify yang belum memberikan reaksi. Mungkin kaget, tidak menyangka.

Sementara itu, dari balik bulu matanya, Ify dapat melihat ekspresi penuh harap yang tercetak di wajah Rio.

“Jangan pura-pura masih ngedengerin deh, Fy. Itu rekaman gue yang buat, dan gue tau banget seberapa lama durasinya.“ Ucap Rio yang nampak tak sabar karena Ify yang tetap bungkam.

Ify sampai tersentak ke belakang karena terkejut.

“Jangan ngehindar. Seperti yang gue minta, jawab aja sekarang. Gue tau loe udah tau loe udah punya jawabannya kan?“

Rio tak dapat menahan rasa ge-ernya begitu mendapat wajah Ify yang bersemu merah, lengkap dengan senyum malu-malunya.
Dengan perlahan, ia melepaskan earphone yang masih terpasang ditelinga Ify dan mengangkat wajah gadis cantik tersebut.

“Jadi, apa jawaban loe?“

Ify yang masih sedikit shock mengerjap sekali, kemudian berdehem kecil.

“I..ini, serius?“ Tanya nya berusaha normal. Meskipun yang terjadi, justru terdengar aneh karena suaranya mendadak parau.

Aku hanya ingin cinta itu pasti
Jangan adalagi keraguan
Aku hanya ingin cinta yang abadi
Seperti air...

“Apa loe liat gue lagi make topeng monyet? Kostum badut? Gue nggak bercanda!“ Ujar Rio tegas.

Ify menelan ludah dengan susah payah. Dengan --dipaksakan-- berani ditatapnya kedua bola mata bening milik Rio. Mencari kejujuran, dan memang ia tak menemukan kepura-puraan disana.

Perlahan tapi pasti, Rio menyentuh tangan Ify, menggenggamnya erat dan menatap Ify dengan tulus.

Loe mau kan, jadi cewek gue? Apa gadis itu bisa menjawab tidak untuk pertanyaan yang seolah-olah tidak membutuhkan jawaban. Karena sang penanya telah mampu menebak jawaban apa yang akan ia terima.

“Cieeee..jadi juga akhirnya~“ koor panjang itu membuat Rio dan Ify sontak menoleh ke sekelompok orang yang dengan serempak memasang senyum menggoda, tak jauh dari mereka.

“Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya mereka jadi juga!“

“Jadi loe nerima gue kan, Fy?“ Tanya Rio dengan mata berbinar.

Ify mengangguk dengan senyum malu-malu. Dan dengan sekali gerakan tubuh mungil itu telah menyatu dalam dekapan hangat seseorang. Seseorang yang memilihnya sebagai cinta. Seseorang yang ditunggunya untuk menjadikannya cinta. "I love you, Ify..."

• • • FIN! • • •

Huaaaa..alhamdulillah ya Allah!
Finally, gue bisa nyelesein final chapter *halahh* dari cerbung abal-abal yang udah gue tulis dari tahun lalu! Masih ada yg inget nggak sih? Kalau nggak inget dan berminat untuk inget, silahkan check notes saya yah pepss!
Huftt! Seandainya gue ngepost pas tanggal 22/23 des, pas banget tuh usia kengaretannya 1 TAHUN!
Okay, sebenernya gue emang sempet frustasi *ini lebay-_-* dan nggak mau ngelanjutin ini lagi. Sampe ngefix--kalau ini beneran nggak bakal dilanjut. Tapi..tapi..ditengah kegalauan hati, mendadak ide menamatkan WL muncul! Sempet stuck karena kehabisan ide buat acara 'jadian' nya RiFy dan lagi-lagi begitu ngebaca novel yang baru gue beli, gue dapet pencerahan!
Okay, ini suatu kejujuran, untuk adegan nembak Rio itu (via VN) gue ambil dari adegan penembakannya Adriel ke Becca di novel Khokkiri! (tapi cuman sebatas cara dia nembak maka vn, latar, kalimat dan beberapa lainnya olahan gue sendiri :D) Itu novel gila keren banget. Complicated deh, romantis, gentlement, dan apayah..gue nggak pernah tau kalau didunia ada penyakit semacam kepribadian ganda *okay, ini ngingetin gue ke...forget it deng* nggak cuman 2 kepribadian dalam satu tubuh doang, tapi bisa nyampe belasan! Dan itu yang dialami sama tokoh utama cewek di novel Khokkiri. Penuh misteri dan bikin senyum-senyum sendiri deh pokoknya.
Akhir kata, sorry typo(s)
Sorry gaje..
Sorry kalau terlalu 'lompat' banget alurnya..
Sorry for everything deh pokoknya.
Saran, komentar, kritik dan semacamnya masih gue tunggu meskipun ini final chap ya :p


Cheers!

@sugargirl08


Minggu, 01 April 2012

Tulisan Gue!



Tulisan-tulisan gue! Hasil karya pribadi yang 100% asli!

• Cinta Pertama Pada Pandangan Pertama. Cerbung perdana, terdiri dari 20 part. Dengan special couple Ocha. First posted on facebook (Nia Stevania/Nia_rasyied@ovi.com), 10 agustus 2010.
• ‎Yang Terbaik Bagimu (Untuk Ayah). Cerpen perdana, dengan main character dari semua personel FB Band (Iza, Arry, Iwan, Dimas & Satria). Sudah pernah dicopast sama salah satu Fb luver.
• With Love. Cerbung kedua, dengan special couple RiFy! Belum ending-atau mungkin tanpa ending. First posted on facebook (Nia Stevania), 30 oktober 2010.
•Cinta Pertamaku, Cinta Terakhirmu. Cerpen IC pertama, dengan special couple RiFy! Sad ending.  Posted on Nia Stevania (facebook), 25 maret 2011. Sudah dicopast, tepatnya tanggal 01 april​ 2012 dengan usname fb "Phely Ana Scania".
•Tentang Sebuah Kisah : Aku, Dia Dan Mereka. Mini cerbung pertama, dengan special couple RiFy. Terdiri dari 5 part. First posted on facebook, 21 april 2011.
•Love In The Difference. Cerpen RiFy sad ending.
• Kisah Lalu : Mudah Saja (Buat loe, tapi nggak buat gue). Cerpen FyEl pertama.
• There Still a Rainbow, After The Rain. Cerpen dengan couple RiFy di opening cerita, dan berakhir dengan couple AlFy!
•Memories. Mini cerbung kedua, dengan special tokoh, Ify. Terdiri dari 11 part, diambil dari kisah nyata masa SMP. First posted on facebook, 14 februari 2012.
• Bukan Untuk Bersatu. Cerpen RiFy dengan happy ending tanpa kenyataan bersatunya hubungan mereka (?).
• Kalau Rio Jatuh Cinta. Cerpen RiFy dengan 100% happy ending.
• Cinta Untuk Rio. Cerpen RiFy yang -juga- 100% happy ending.
• Angkuh. Cerpen RiFy dengan happy ending.
• Tentangnya (Mantan Kekasihku). Cerpen RiFy, antara happy ending dan sad ending. Sedikit menggantung.
• Aku (Masih) Ingin Bersamanya. Cerpen CaFy pertama, sedikit religius (?).
• Ada Yang Selalu Ada. Flashfiction, dengan main character, Andrean & Nia. Posted on facebook (Nia Stevania/Nia_rasyied@ovi.com), 04 februari 2012. Postingan pertama di http://niastevania.blogspot.com/.
• Ada Yang Selalu Ada..sekuel. Sambungan dari ff Ada Yang Selalu Ada. Baru diposting di http://niastevania.blogspot.com/.
• Just a Dream. Cerpen dengan dua versi, RiFy & Andrean-Nia. Diposting 4 kali, versi RiFy difb Nia Stevania II, versi Andrean-Nia difb Nia Stevania. Direpost lagi (kedua-duanya) di http://niastevania.blogspot.com/.
• Memujamu. Cerpen RiFy, diposting di fb Nia Stevania II.
• Indah Pada Waktunya. Cerpen RiFy posted on Nia Stevania II (facebook).
• Cinta. Cerpen RiFy posted on Nia Stevania II. Especially for Rise and RFM. Sebagai hadiah anniv RFM + kado ultah buat Rio.
• Inginku. Cerpen AlFy kedua. Posted on Nia Stevania II.
• Sang Waktu. Cerpen RiFy. Posted on Nia Stevania II.
• Terlambat. Cerpen dengan awalan AlFy dan berakhir RiFy. Posted on Nia Stevania II.
• Dulu, Hari Ini Dan Selamanya. Cerpen RiFy. Posted on Nia Stevania II.
• Suka Padamu. Cerpen CaGni pertama. Posted on Nia Stevania II.
• Sekali Ini Saja. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Dan Bila. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Dibawah Rinai Hujan. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Dia 'peri cintaku'. Cerpen RiFy, terinspirasi dari masa lalu. Posted on Nia Stevania II.
• Hanya Jadi Sahabatmu. Cerpen antara AlFy & RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Berakhir. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Jatuh Cinta (dag dig dug). Cerpen new release, dengan special tokoh RiFy!

Semua cerpen, cerbung dan mini cerbung di atas adalah 100% tulisan gue pribadi. Yang dua diantaranya sudah dicopast sama orang lain. Dan parahnya, baru mengirimkan komentar, gue diremove! Nggak punya skill tapi pengen terlihat bisa. Loser!
Sekali lagi, gue nggak meminta like yang banyak sebagai bentuk penghargaan atas apa yang gue tulis. Cukup nggak ngopast, dan ngakuin tulisan gue sebagai hak/karya pribadi aja udah cukup buat gue! Kalau pun berniat ngopast-lebih halusnya ngerepost ulang, tolong izin! Dan sertain nama gue sebagai penulis aslinya!

Nb : semua cerpen, cerbung dan mini cerbung di atas gue posting di fb Nia Stevania, Nia Stevania II, akun saling sapa gue kalau nggak salah 'Nhiya', akun netlog gue 'Nia_Stevania' dan blog pribadi gue http://niastevania.blogspot.com/

Wassalam..

Nia 'nistev' stevania_

Jumat, 09 Maret 2012

-- Memories -- Part 11

-- Memories --




Part 11

"Setujuuu?!"

Dan seruan tiba-tiba dari MC yang kalau tidak salah -seingat aku- Irsyad, salah satu cowok yang pernah menghuni kelas XIa.

"Loe kenapa, Fy?" tanya Sivia yang kayaknya mulai risih dengan aksi clingak-clinguk kepalaku.

Aku menggeleng sekilas. "Nggak.."

"Nyariin Alvin tuh~" ledek Zahra dengan membuang muka. Takut ku semprot kali yah..

"Apaan sih, Ra~"

"Well, daripada membuang waktu lebih baik, gue langsung manggil aja kali yah. The devil!!"

Dan wuuuu..ruangan yang sempat sunyi senyap ini pun kembali heboh dengan gemuruh tepuk tangan teman-teman lainnya. Ternyata pamor the devil nggak turun-turun juga yah..

Denting piano mulai berbunyi, disambut dengan petikan gitar tapi sosok yang aku cari belum menampakkan batang hidungnya.
Hingga beberapa menit setelah musik intro dimainkan, suara merdu itu mulai terdengar..

Kenangan indah saat bersamamu
Saat kau ada disampingku
Kini semua terulang kembali
Masa-masa terindah bersamamu

Jujur..
Begitu bait pertama dinyanyikan, aku yang sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu -karena memang mereka berada dalam formasi dan posisi yang tetap tanpa perubahan- terdiam. Rasanya semua yang ada disekitarku menjadi samar. Titik terang itu hanya satu, didepanku. Ditempat seseorang yang tengah berdiri sambil memegang tiang mic.
Dia bernyanyi dengan penuh penghayatan. Seolah sedang menceritakan apa yang kini sedang ia rasakan.

Aku jatuh cinta lagi
Cinta yang dulu bersemi kembali
Aku jatuh cinta lagi
Cinta pada mantan kekasihku

Ohhh..
Aku sempat GR. Jangan-jangan dia menyanyikan lagu itu untukku. Why? Karena sebelum mengambil ekpresi mendalami -dengan mata terpejam dan wajah sedikit menunduk- lirik tersebut. Tapi saat mendengar kalimat terakhir dibait tersebut, aku malah jadi menertewakan diriku sendiri.

'Ify..Ify..kayak loe pernah jadian sama Alvin aja..'

Cinta yang pernah ada dihatiku
Kini t 'lah hadir kembali dijiwaku
Mungkinkah semua terulang kembali?
Ku ingin engkau seperti dulu

"Fy, ini si Alvin nyanyinya ngehayatin banget yah.." komentar Shilla mengagetkanku.

"Iya nih. Buat siapa tuh? Aren? Zeva?" tambah Sivia.

Zahra melirikku sambil tersenyum menggoda, yang ku balas dengan alis terangkat. "Yang jelas bukan buat elo kan, Fy~"

Dan..ha-ha-ha..mereka -Sivia, Shilla, Zahra dan Angel- tertawa berjama'ah tanpa menatap mulutku yang manyun total.

Aku menggeram. "Rese nih.."

Huhhh..karena terlanjur dongkol, aku memilih mengasingkan diri, sedikit lebih ke pinggir dari kerumunan cs-an ku tadi.

Ku rasa ku t'lah jatuh cinta
Kepada dirimu

"Apa kabar, Fy?"

Aku mendengar suara seorang pria yang bertanya dengan intonasi bicara yang sangat lembut. Entah kenapa aku malah jadi deg-deg-an secara mendadak.
Dengan pelan aku berbalik untuk menghadap seseorang yang menanyakan kabarku tadi.

Aku jatuh cinta lagi
Cinta yang dulu bersemi kembali
Aku jatuh cinta lagi
Cinta pada mantan kekasih

"Ri..o.."

Aku terkejut setengah mati, dia Rio! Rio yang sedari tadi aku cari..

Dia tersenyum sangat manis. "Apa kabar? Udah lama nggak ketemu.."

Aku mendadak jantungan ditempat. Oh Tuhan..ini memang yang ku inginkan. Ini memang yang sedari tadi aku tunggu-tunggu. Tapi kenapa saat semua ada didepan mata, lidahku menjadi kelu?

"Ba..baik. Elo sen..diri, Yo?"

"Nggak lebih baik daripada saat gue tau elo nolak niat gue ngasih coklat valentine waktu kelas 7 dulu."

Aku ternganga. Dia masih inget!

"Nggak lebih baik daripada saat denger elo digosipin ada apa-apa sama Alvin."

Aku masih terdiam, dengan mulut yang sudah terkatup rapat.

"Nggak lebih baik daripada saat ngedapetin kenyataan, elo jaga jarak sama gue, elo mulai menjauh dari gue--"

Aku menunduk dalam. "Maaf~" ucapku lirih.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah sentuhan mendarat dikedua pundakku.
Saat aku mengangkat wajah, untuk memastikan pemilik kedua tangan hangat ini adalah dia, aku mendapatinya tengah menatapku sambil tersenyum manis.

"Tapi semua makin jadi jauh lebih baik setelah elo nyamperin gue ke kelas sebelum UAN pas kelas 9."

Aku masih bertukar pandang dengannya.

"Jadi lebih baik setelah elo ngulurin tangan loe dan bilang maaf ke gue.."

Aku menggigit bibir bawahku. Kenapa ngebahas itu sih? Aku kan jadi malu sendiri mengingatnya..

"Dan jauh lebih baik lagi setelah ketemu loe disini, hari ini, dalam keadaan yang dengan ikhlas mau ngomong sama gue.." dia mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil.

Mendadak mataku mengeluarkan cairan bening yang entah sedari kapan sudah menganak sungai disana. Sambil menangis, aku jadi tertawa mengingatnya.
Dan tak tahu siapa yang memulai, kami sudah berada dalam satu pelukan yang bercampur kerinduan.

"Dan gue rasa..akan semakin jadi jauh lebih baik lagi kalau elo.."

Dia menggantungkan kalimatnya, sambil menguraikan pelukan kami. Aku menatapnya dengan alis terangkat tinggi, yang disahutnya dengan senyuman manis..

"Kalau elo mau nerima pernyataan kalau gue.." dan lagi, dia menggantungkan kalimatnya. Ia membungkukkan sedikit badannya -yang memang lebih tinggi dariku-, dan mengarahkan kepalanya kesamping wajahku.

"Gue masih cinta sama loe.." bisiknya lirih...


=====

Woyyy! Ini udahan! Udah kelar mament! Ini cerita seriusan REAL! Tapi cuman pas flashbacknya doang. Kalau soal acara reuninya ngarang, soalnya pas reunian tempo hari gue absen dong-___-
Ngepostnya antara pd nggak pd nih. Habis..cerita pribadi sih..yang kayaknya nggak ada seru-serunya kali yahhh..tapi anggap aja ini pengganti WL. Yang udah gue putusin, nggak bakal dilanjut! Maaf WLoversss (?) Saya terpaksa (˘̩̩̩.˘̩ƪ)

Okeee dikritik aja kalau ada typo atau apapun yang mengganggu mata...
Thanks semua manusia yang membaca, ngelike, berkomentar di cerita ini..

Seeyaaa

Nia 'nistev' stevania_

Minggu, 04 Maret 2012

-- Memories -- Part 10

-- Memories --


Part 10


"Idihh..Ify GR nih...gue nggak ngeliatin lo juga.." elak Shilla, yang kemudian menjulurkan lidahnya. Huuuu...udah ketauan juga masih aja bo'ong.

"Masih suka sama Alvin, Fy?" tanya Sivia mewakili yang lainnya, ku lihat 3 temanku yang lain mengangguk-angguk mendengar pertanyaan Sivia.

Aku menggeleng keras. "Nggak! Siapa bilang?" jawabku cepat, aku nggak bohong. Meskipun harus ku akui, aku sedikit merindukan dia..inget yah sedikit...S-E-D-I-K-I-T, tapi tetap rasa rinduku lebih besar ke -ehmm- Rio. Ya mungkin karna rasa bersalahku yang lumayan besar juga ke dia...hehee

Zahra tersenyum menggoda. "Ngaku deh ngaku~" desak Zahra sambil mencolek-colek lengan ku. Apabanget deh si Zahra...

"Enggak!" jawabku lagi.

"Eh Fy, loe inget nggak? Dulu pas ujian Alvin kan minta contekan sama loe.." ujar Shilla yang lagi-lagi menggodaku. Jelas saja aku ingat, bagaimana mungkin aku melupakan kejadian itu. Kejadian yang benar-benar mengejutkan ku dan sumpah sampai detik ini aku masih merasa heran dengan sikap Alvin pada saat itu...
»»

Semua penghuni ruangan 4 sedang fokus dan serius menghadapi lembar jawaban diatas meja. Yahhh...hari ini UAN dimulai. Dan aku bersama Shilla, Iyel -karena diurut berdasarkan no. Induk siswa/i maka aku dan Shilla bisa mendapatkan ruangan yang sama dengan Iyel-, Alvin dan 16 teman yang berada dikelas ini sudah duduk manis menghadapi soal.

Huhhh...ujian yang pertama hari ini adalah IPA. Oh My God...buatku IPA masuk dalam kategori pelajaran yang rumit, terutama bagian fisikanya. Oh no! Aku nggak terlalu pintar IPA, haduhhh...aku bingung, bisa nggak yah aku ngerjain soal ini? Semoga ujianku hari ini bisa berjalan dengan lancar Ya Allah, batinku. Aku memulai ujianku dengan membaca al fatihah, kemudian berdoa sebentar dan segera membuka lembar soal yang tadinya ditaruh dengan cara tulisan soal menghadap meja. Ngerti nggak? Itu lho soalnya ditaruh terbalik jadi yang nampak cuman kertas putih polosnya doang. Kalau peraturan disekolahku sih begitu, nggak tau deh disekolah kalian...heheee

"Bismillah.." ucapku sembari membuka lembar soal. Sebelum mengerjakan, aku selalu memilih untuk membaca seluruh soal terlebih dahulu. Kemudian, baru aku menjawab dari pertanyaan yang paling mudah untuk ku jawab. Waktu baru berjalan sekitar 15 menit, tapi aku sudah duduk tenang dimejaku. Bukan..bukan karena aku sudah selesai, melainkan karena aku sudah tak tahu lagi harus menjawab apa. Dari 45 soal yang ada, aku baru menyelesaikan sekitar 25 soal, sisanya belum kujawab sama sekali. Ku lihat Iyel melirik ke arahku, humm pasti minta jawaban. Dan benar saja, ia segera menanyakan jawaban salah satu soal dengan menggunakan isyarat jarinya. Setelah pura-pura berpikir aku segera memberitahukan jawabanku dengan menggunakan isyarat jari juga tentunya...ahahaa mungkin ini memang parah, masa iya ujian pake nyontek-nyontekan gini? Tapi mau gimana lagi dong, daripada dibilang sombong?
Apalagi hampir seluruh kelas sudah pernah meminta kepada wali kelasku, mereka bilang "Bu, tolong kasih tau dong sama anak-anak IXe, mereka kan pinter-pinter jadi jangan pelit-pelit. Bagi-bagi jawaban gitu, kan kalau kami nggak lulus kasian juga Bu.." dan aku sedikit merasa heran juga dengan respon guruku yang bilang "kalian boleh bekerja sama dengan catatan harus berhati-hati, jangan sampai ketahuan sama pengawasnya. Apalagi pengawasnya bukan dari sekolah kita.."

Ahahah..sumpah, aku benar-benar heran tapi ya sudahlah, toh aku melakukan apa yang awalnya tak ingin ku lakukan, memberi contekan.

Iyel mengucapkan rasa terima kasihnya melalui sebuah senyuman. Ya nggak tau sih sebenarnya, tapi menurutku senyuman itu adalah senyum terima kasih.

Kini aku kembali berkutat dengan soal-soal dihadapanku. Kali aja tiba-tiba nemu jawabannnya gitu. Disaat aku sedang berpikir keras, aku merasakan ada sebuah dorongan dikursiku.

"sstt...ssttt.." dan suara itu datang seiring dengan adanya dorongan keras dikursiku. Dengan hati-hati aku menoleh ke belakang, menghadap seorang perempuan yang entah siapa nama nya. Ya karena dia memang bukan berasal dari kelas yang sama denganku.

Dia memberikan sebuah gumpalan kertas, aku sempat menaikkan sebelah alisku. Anggaplah itu sebuah gerakan yang mengandung arti, "apa ini?" atau "buat apa kertas ini?"

Perempuan itu sepertinya mengerti dengan maksud gerakan alisku, ia menggeleng lalu mengarahkan telunjuknya kearah bangku paling belakang yang masih satu barisan denganku. Eh..apa tadi aku bilang? Bangku paling belakang? Bukannya itu Alvin? Berhubung takut kepergok pengawas, aku langsung membalik badanku menghadap papan tulis.
Kepalaku clingukan memperhatikan dua orang pengawas yang berjalan mondar mandir dikelas ini. Dengan amat sangat berhati-hati aku membuka gumpalan kertas tersebut. Aku memutar kedua bola mataku melihat isi kertas tersebut. Apa-apa-an nih? Masa secarik kertas itu isinya hanya nomer dari 1 sampai 45. Tapi...sebentar, ada coretan yang tertulis dipojokan atas kertas tersebut

"Jawaban no 1 sampai 45 apa? Dari Alvin!" Aku membaca pelan tulisan dikertas tersebut. Aku melotot saking kagetnya, apa aku nggak salah baca? Alvin minta jawaban?
Dan lagi-lagi sebuah dorongan kurasakan dikursiku. Dengan berhati-hati aku menoleh kebelakang menghadap perempuan yang mendorong kursiku. Dia kembali mengarahkan telunjuknya ke arah Alvin, dengan ragu aku menatap Alvin.

"Mana jawabannya?" tanya nya nyaris tak terdengar, aku tak menjawab melainkan kembali membalikkan badanku menghadap papan tulis.

Aku langsung mengisi jawaban pada nomer-nomer yang ku ketahui jawabannya. Seperti yang ku bilang, aku baru menjawab 25 soal jadi sisanya ku biarkan kosong.
Aku kembali meremas-remas kertas tersebut, mengembalikannya menjadi gumpalan. Dan setelah melirik sana sini, aku segera melempar gumpalan kertas tersebut kebelakang.
Ntahlah, kertas itu sampai pada orang yang tepat atau bukan, yang ku dengar sepertinya gumpalan tersebut menjadi rebutan penghuni kursi deretan paling belakang
««

"Jiahhhh..ngelamun lagi ni anak.." celetuk Zahra membuyarkan lamunan ku. Dengan tampang blo'on aku hanya menatap Zahra.

"Kenapa lagi loe?" tanya Shilla, aku menggeleng.

"nggak! Nggak papa kok.." jawabku tersenyum kikuk. "Emmm..tadi kita ngebahas apa-an yah?" tanyaku dengan tampang super polos.

Angel menepuk jidatnya. "Jiahhh..gubrakk..kita lagi ngebahas elo sama Alvin dulu Ify..."

Aku membulatkan mulutku. "ohhh.."

"Ngaku deh, loe emang pernah suka kan sama Alvin, makanya waktu dia minta contekan loe mau aja ngasih dia~" goda Zahra lagi, aku hanya tersenyum malu.

"Apaan sih~ gue tuh terpaksa tau. Kan Bu Sri sendiri yang bilang kalau kita boleh berbagi asal hati-hati." ujarku mengelak. "Lagian gue nggak mau yah dikatain pelit, sombong atau pilih kasih cuman karena nggak mau ngasih dia contekan doang." sambungku.

"Iya deh iya, percaya gue.." sahut Sivia sambil tersenyum, yang menurutku senyuman itu justru mengandung arti -iya percaya gue sama bo'ong lo-

"Ya gue akuin, gue emang pernah suka sama dia.." Shilla, Sivia, Zahra dan Angel tersenyum menggoda. "Tapi itu dulu..dulu banget waktu masih SD." sambungku sebelum mereka mengira kalau aku masih ada rasa dengan Alvin sampai detik ini.

"Eh tapi bener deh, gue ngerasa loe sama Alvin emang cocok banget lho, Fy.." ujar Zahra.

"Bener! Pertama awalan huruf nama loe sama Alvin sama-sama A, terus..dari SD udah satu sekolah plus satu kelas, orang tua kalian juga berteman baik kan?" Shilla merincikan satu persatu alasan kenapa aku dan Alvin bisa dibilang jodoh, menurutnya.

Huhhh...selalu itu, nggak Lintar cs, nggak yang lainnya selalu menyebutkan hal yang sama.

"Yahh..terserah loe semua aja deh, yang penting loe semua seneng.." jawabku seadanya. Percuma berdebat sama mereka, dijamin nggak akan ada habisnya.

Mereka tertawa penuh kemenangan. Huhh menyebalkan, jelas kalah lah...1 banding 4 gimana mau menang?

Shilla menyentuh pundakku, emm lebih tepatnya menepuk pelan. "Eh Fy, gue mau kesana bentar yah, bareng Zahra." pamit Shilla, aku tersenyum sambil mengangguk.

"Mau ikut nggak, Fy?" tawar Zahra.

Aku menggeleng kecil. "Nggak deh, cape gue habis muterin ni sekolahan." tolak ku dengan tampang ogah-ogahan.

Shilla dan Zahra mengangguk, kemudian mereka segera meninggalkanku bersama Sivia dan Angel.

Aku terus memutar leherku ke kiri dan ke kanan. Pandanganku mengelilingi seluruh penjuru aula, teteppp..aku saat ini sedang mencari 'dia' dan 'dia'. Huhhhh..kemana perginya dua orang itu?

"Nyariin Alvin yah?" tebak Angel.

"Atau Rio?" sambung Sivia sambil menaik turunkan alisnya.

Aku menggaruk-garuk kecil tengkuk ku, ketangkep basah gitu lho...tapi setelah dipikir-pikir, jujur sama mereka nggak ada salahnya juga kali yah. "Iya nih, jujur sih gue emang nyariin mereka berdua.." jawabku pelannnn...sekali..

"Kayaknya tu anak dua sih udah dateng tapi nggak tau deh dimana." komentar Angel, kepalanya ikut clingukan kanan kiri. Emmm mungkin dia sedang membantuku mencari Rio dan Alvin.

"Sabar deh, kali bentar lagi mereka nongol disekitar sini.." ujar Sivia sambil mengelus-elus pundak ku, aku hanya tersenyum. Dan kepalaku terus mencari dua sosok pria -siswa yang satu angkatan denganku- yang paling ku rindukan dibandingkan yang lainnya

"Oh iya Fy, gue denger dari Angel waktu pas hari terakhir sekolah lo sempat kelimpungan yah nyariin Rio?" tanya Sivia lagi-lagi dengan senyum menggodanya, aku diam sebentar kemudian mengangguk.
Waktu itu....
»»

Hari ini adalah hari sabtu, hari terakhir ku menginjakkan kaki di SMP Harapan Bangsa. SMP yang sudah menampungku selama 3 tahun terakhir ini. SMP yang mempunyai sejuta kenangan baik menyenangkan atau menyedihkan. Dan sekarang aku sedang menyenderkan tubuhku di dinding kantor guru. Aku sedang menunggu panggilan untuk menerima Ijazah dan SKHU ku.

Aku menengadahkan wajahku menghadap langit-langit koridor kantor guru.

"Huhhh..ini hari terakhir gue disekolah ini.." gumamku kecil kemudian aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling sekolah ini. "Dan gue nggak akan mungkin bisa lagi ngeliat Cakka cs yang ngegitar bareng trus nyanyiin lagu yang biasanya buat nyindir gue.." sambungku, terkekeh kecil.

Aku menghela nafas, terdengar lelah sepertinya. Tiba-tiba pandanganku berhenti pada sebuah ruangan yang terletak disamping kantor guru, tempatku berdiam saat ini. Kelas IXa, kelas yang dihuni Rio. "Apa itu artinya gue gak bakalan bisa ketemu Rio lagi?" tanyaku pada diriku sendiri. Entah mengapa, meski pun aku sudah meminta maaf dengannya...aku masih merasa ada sesuatu yang janggal diantara kami. Aku merasa ada sesuatu hal aneh yang mulai kurasakan, sesuatu yang tak rela untuk ku lepaskan. Dan memang teramat sulit untuk ku lepaskan.

Aku memutar kepalaku ke segala arah, kanan kiri, depan belakang semuanya ku perhatikan hanya untuk mencari satu sosok pria...Rio,
Angel sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang clingukan nggak jelas.

Angel mencolek bahuku, aku menoleh. "Napa lo Fy? Gelisah banget sih?" tanya nya. "Lagi nyari orang?" lanjutnya.

Aku menggeleng kecil. "Nggak! Nggak nyari siapa-siapa kok." jawabku, berbohong tentunya.

"Yaelahhh..sama gue pake ngebo'ong..ckckk." Angel berdecak sambil melipat kedua tangannya didada. "Jujur ajalah kalau sama gue, kaya baru kenal gue aja sih." paksa Angel.

Aku menghela nafas, setelah berpikir sedikit akhirnya ku putuskan untuk jujur. "Rio kemana yah?" tanyaku pada Angel, aku menundukkan kepalaku sambil menendang-nendang kecil kerikil dihadapanku.

"Tuhkan, apa gue bilang. Emang dia nggak barengan ama Cakka atau Iyel gitu?" Angel malah balik tanya, kalau aku tau ya nggak mungkinlah aku nanya...ckckk.

"Yang gue liat sih nggak ada, lagian kalau ada juga gue nggak mungkin nanya plus clingukan kaya gini kali.." aku menggerutu kesal. Nggak tau apa, orang lagi galau? Eh enggak deng cuman penasaran aja kemana yah tu anak, kok nggak nongol-nongol? Udah siang gini juga lagian ini kan hari terakhir.

Angel nyengir, hadehhh..nggak bagus banget deh, Ngel beneran deh suer! "Hehee..iya yah.." jawab Angel simple, kayaknya penyakit odongnya mulai keluar. "Hemm..kalau gitu ke kantin aja yuk beli minum, sambil nungguin nama loe dipanggil plus nungguin Rio dateng gitu.." ajaknya, aku mengangguk meng-iya-kan kebetulan aku lagi haus.

Aku sudah kembali mengistirahatkan badanku dengan duduk lesehan di beranda depan kantor guru -lagi-. Kedua kaki ku, ku rentangkan kedepan cape juga habis keliling-keliling bareng Angel tadi.
Sudah 2 gelas minuman dengan jenis yang berbeda ku habiskan selama menunggu panggilan, panggilan untuk menerima ijazah maksudnya. Huhhh..padahal Shilla, Sivia, Zahra sama Angel udah dapet. Kok giliran aku lama banget yah

"Alyssa Saufika!" seruan yang berasal dari ruang TU itu membuyarkan lamunanku. Lalu dengan cepat aku memasuki ruang TU untuk mengambil ijazahku.
Setelah membubuhkan tanda tangan plus cap 3 jari di ijazahku, aku kembali keluar menghampiri teman-temanku

"gimana Fy?" tanya Lintar. Hehhh..kok Lintar sih yang pertama nanya? Bukan Shilla, Sivia, Zahra atau Angel gitu..

Aku hanya tersenyum tipis dan menyerahkan ijazahku kepada Lintar. Dan dalam waktu sekejap, ijazahku sudah direbutin aja sama Lintar dan Dayat. Aku menatap dongkol kepada ke 4 sahabatku, pantessss...pas aku keluar nggak disambut, gak taunya lagi pada ngobrol bareng Cakka cs. Tapi kok Rio tetap nggak ada yah?

Pukkk..aku menepuk pundak Shilla pelan, Shilla yang tadinya mengobrol dengan Cakka membalik kan badan. Shilla nyengir. "Eh Ify, udah keluar aja. Gimana nem loe?" tanya nya. Huhhh..telat banget nanya nya.

"Tuh!" Aku mengarahkan telunjuk ku kearah Lintar dan Dayat, Shilla mengikuti arah telunjuk ku. Kemudian ia disusul Sivia, Zahra dan Angel menghampiri Lintar dan Dayat.

Aku tak ambil pusing. Lagi-lagi tanpa rasa bosan aku mengedarkan pandanganku ke penjuru sekolah.

Tes..tes...tesss..
Satu persatu rintik hujan mulai membasahi bumi. Yahhhh..terjebak dalam hujan lagi. Jangan-jangan Rio nggak masuk lagi, apalagi sekarang hujan, nggak mungkin kan dia ke sekolah hujan-hujanan. Aku putus asa, hari terakhirku kayanya emang gak bakalan ketemu dia.

Aku memandangi rintik hujan, biarin deh dikatain kurang kerjaan. 'Ya Allah, hari ini aja..kasih kesempatan terakhir buat aku ngeliat Rio!' pintaku dalam hati ya semoga aja dikabulin.

"Ngapain lo merem-merem segala Fy?" tanya Shilla sambil menyerahkan ijazah ku. Aku menerima ijazah ku kembali, kemudian menggeleng kecil.

"woy Fy! Rio tuh!" seru Angel heboh, sambil menunjuk seorang pria hitam manis yang baru saja keluar dari kelas IXa. Sudah pasti Rio orangnya, kemudian persis seperti di film-film Rio membasahi rambutnya dengan air hujan dan mengibas-ngibaskan rambut basahnya.

'Wowww...keren!' ucapku takjub, dalam hati tapi. Gila aja kalau sampai aku nyeplos kaya gitu, bisa dijadiin bulan-bulanan lagi saya..

"Akhirnya ketemu juga ya Fy?" ceplos Angel yang menurutku tanpa sadar.

"Jadi daritadi Ify nyariin Rio?!" tanya Sivia setengah berteriak, aku langsung mendelik kearahnya. Semoga Rio nggak denger.

"nyantai dong Vi.." tegur ku pelan, Sivia cuman nyengir sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

"Guys, balik yuk! Bokap gue barusan telpon minta gue buru-buru balik." ajak Shilla sambil memasukkan handphonenya.

Huwhatttt?! Balik?! Ya ampunnn..aku kan baru aja ngeliat Rio, masa udah harus balik?!

"Mesti sekarang Shill?" tanyaku polos. Shilla mengangguk pelan, sepertinya dia tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini.

"Emm sorry Fy, tapi--"

"Ya udah sih nggak papa" potongku cepat, Shilla tersenyum. "Tapi nggak papa nih sambil ujan-ujanan gini?" sambungku bertanya, sebenarnya sih hanya mencari alasan. Siapa tahu, Shilla mengurungkan niatnya. Ku lihat, Shilla, Sivia, Zahra, dan Angel menatapi hujan secara berjama'ah.

"Rintik doang Fy, nggak papa yah.." ajak Shilla lagi. Tak ada alasan lagi untukku tetap disini, yahh...seperi doa ku tadi mungkin, meski sebentar tapi Allah tetap mempertemukanku dengannya....Rio

"Yuk deh!"

Shilla dan Angel mengarah ke parkiran untuk mengambil motor. Disini, aku dan Zahra berdiri bersisian.

"Nggak usah dipandangin mulu, nggak bakalan ilang dia Fy.." tegur Zahra. Heee..sepertinya aku tertangkap basah.

Aku nyengir. "Ehehe..tau aja sih Ra.." ucapku malu, gimana nggak malu? Aktifitasku yang sedang memperhatikan Rio secara diam-diam ternyata diketahui Zahra, aduhhhh...adakah selembar kantong plastik, aku perlu itu untuk menutupi wajahku sekarang..

Tett..tettt..
Suara klakson itu menghentikan godaan Zahra kepadaku.

"Buru woy! Entar ujannya makin gede!" seru Shilla setengah berteriak, kalau nggak teriak ntar yang ada suaranya tenggelam gara-gara suara ujan.
Aku dan Zahra mengangguk, lalu berlari menerobos hujan dan duduk diboncengan Angel dan Shilla.
««

"Ahelahh Fy, gue itungin udah lebih dari 3 kali lo ngelamun mulu.." suara Shilla membuyarkan lamunanku. "Mikirin apa sih?" sambungnya bertanya, aku meringis.

"hahh?!! Nggak ada kok.."

"Serius?!"

Aku mengangguk mantap. 'Ini Rio sama Alvin kok nggak nongol-nongol sih?'

Entah sudah keberapa kalinya aku melayangkan pertanyaan serupa dalam hatiku. Dua makhluk yang ku maksud 'dia' dan 'dia' ya itu..Alvin dan Rio.

"Testt..tesst..satu dua..satu dua.."

Suara yang tiba-tiba bergema dalam aula ini membuat suasana yang sebelumnya bising menjadi sunyi. Lantas semua makhluk yang berada didalam ruangan ini memfokuskan pandangan pada satu titik, sebuah panggung kecil yang berada persis dihadapan kami semua.

"Okey guys, berhubung hari yang siang semakin beranjak siang, dan pengisi acara yang bakalan ngehibur kita juga udah dalam formasi lengkap, so..kayaknya lebih baik kalau mereka kita suruh untuk on stage sekarang." cuap-cuap MC didepan kami tentu saja membuat aku langsung heboh sendiri. Karena menurut kabar yang beredar, band yang akan tampil sebentar lagi itu tuh adalah "the devil", band paling kece zaman aku SMP, band yang juga diisi sama Alvin, Iyel, Cakka cs. And so, itu artinya Alvin udah datangkan?

"Setujuuu?!"

Dan seruan tiba-tiba dari MC yang kalau tidak salah -seingat aku- Isryad, salah satu cowok yang pernah menghuni kelas XIa.

"Loe kenapa, Fy?" tanya Sivia yang kayaknya mulai risih dengan aksi clingak-clinguk kepalaku.

To be continue