A homepage subtitle here And an awesome description here!
Tampilkan postingan dengan label RFM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RFM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2015

#5TILLRFM

Dear guys...... Nggak kerasa hari ini udah tanggal 24 oktober lagi! Perasaan belum lama ini gue ngupload foto di instagram pake kaos ‪#‎RFM4est‬ haha gadeng bo'ong...

Tapi bener, rasanya waktu cepet banget berlalu. Tau-tau kita udah 5 tahunan aja...

Dari jamannya cerbung Rify ada di ning.com, sampe sekarang udah main wattpad.
Dari jamannya cerbung Rify masih anak sekolah ala Tom & Jerry, sampe akhirnya menikah & punya anak.
Dari jamannya Rify masih manggung nyanyiin lagu orang, sampe akhirnya punya lagu--bahkan sampe nyiptain lagu sendiri.
Dari jamannya Trisil masih perawan, sampe punya laki...
Dari jaman Pak SBY sampe Pak Jokowi....

Dan kita semua ‪#‎5tillRFM‬ sampe hari ini...
Yah, meskipun ada yang mulai acuh, nggak perduli sampe pada akhirnya berpindah haluan.
Tapi itu bukan suatu masalah besar, karena seperti yang pernah gue bilang di postingan gue yang sudah lalu (setaun yang lalu mungkin?) Bahwa kita nggak berjanji untuk terus setia, tapi kebersamaan kitalah yang akan menunjukan apa kita setia? Masih bersama?


Tau-tau buka facebook liat home ada uploadan screen capture "‪#‎5tillRFM‬" jadi TT, rasanya tuh....terharu...


Disaat percouplean IC nggak serame dulu, bahkan Rify dikabarkan punya pasangan masing-masing, nggak bisa dipungkiri randoman kita nggak seperti dulu..
Mungkin juga faktor mereka yang udah pada gede, kita yang semakin dewasa...
Bahkan buat ngetweet pun gue mulai males ‪#‎eh‬

Tapi ternyata kebersamaan itu masih sangat berasa... Kita nggak janjian mau ngetweet, "dari jamannya," kan? Atau sempet pada janjian tapi gue nggak tau? ._.
Secara pribadi gue ngetweet, "dari jamannya," setelah ngebaca tweetnya Tella (Kak Sella), dan kemudian gue liat home twitter penuh dengan itu semua....
Sampe akhirnya jadi TT? Bener-bener kejutan sih :')

Semoga kebersamaan ini terus ada meskipun pada saat nanti percouplean ini benar-benar memudar. Yang penting persahabatan dan persaudaraan kita tetap terjaga.

Inget! Dari kita masih labil sampe ntah nanti mungkin kita ber-re-generasi, semoga "RFM" ini bisa menjadi suatu kenangan berharga yang nggak bakal kita lupain...ahhh cinta sekali sama kalian <3

Pssttt masih berharap suatu saat nanti biss liat Rify sepanggung lagi! Dalam keadaan yang semakin cair haha


Happy anniversarry RFM! ‪#‎5tillRFM‬‪ #‎daretobeslaw‬ \m/

Kamis, 23 Oktober 2014

#Happy24daysRFM #RFM4est

Dear kesayangan......


Semua yang terjadi di muka bumi ini atas izin dan kuasa Tuhan. Begitupun dengan kebersamaan yang kita jalin dalam 'keluarga' kecil ini. Susah-senang kita lalui bersama, suka dan duka turut mewarnai hari-hari kita. Salah paham dan perselisihin ikut mengisi kebersamaan kita. Semuanya bukan tanpa alasan, jelas bertujuan untuk semakin mendewasakan.

Berbagai masalah yang datang dalam 'keluarga' ini pun ikut membantu saya belajar tentang banyak hal.
RFM. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa saya akan bergabung dalam suatu komunitas couple, bahkan selama ini. Komunitas tak resmi, yang tadinya hanya 'just fur fun' tapi saya sadar ini lebih dari sekedar itu.
Kita belajar, berbagi, berkreasi, berimajinasi, dan melakukan banyak hal lainnya.
Ini bukan komunitas biasa. Ini keluarga! :)
Kita bukan sekelompok manusia tidak berguna, tapi sekelompok manusia dengan banyak keunikan dan kebiasaan yang selalu berusaha menciptakan suatu karya.
Saya bangga dengan RFM. Kita memang bukan suatu kelompok yang sempurna, karena kita terdiri dari sekumpulan manusia yang telah sering disebut sebagai 'tempatnya salah dan khilaf'.
Saya menjadi semangat menulis salah satu alasannya karena RFM. Saya rasa, teman-teman lain pun juga banyak yang seperti saya :)
Banyak yang datang, ada pula yang pergi. Tapi saya harap, itu semua tidak menjadikan kalian-kalian yang tetap tinggal, menjadi berkecil hati. Dan kalian yang pergi-dengan alasan sakit hati, semoga setelah ini kehidupan kalian menjadi lebih tenang dan bahagia, tidak seperti sebelum berada disini :)

Banyak harapan yang ini saya tuangkan disini. Untuk saya, untuk kalian, untuk kita semua yang menjadi bagian dari 'keluarga' kecil ini.

Menjadi dewasa. Belajar dari segala permasalahan yang ada. Memilah mana yang harus dijawab, mana yang harus di diamkan. Mana yang harus diberi tanggapan, mana yang cukup diberi senyuman.
Pisahkan, mana randoman dan mana kenyataan. Jangan kita recoki kehidupan pribadi inspirasi kita (re. Ify ataupun Rio) dengan imajinasi kita.

Tau batasan. Karena mereka hanyalah dua orang yang kita satukan untuk inspirasi karya kita, atau randoman just fur fun kita. Jadi, jangan bawa-bawa itu semua ke kehidupan nyata mereka.
Ah, tolong (kalau mungkin ada salah satu dari kalian yang melakukan ini) berhenti menjadi annoying untuk hubungan Ify dengan pasangannya, atau Rio dengan pasangannya/orang terdekatnya. Jangan bawa-bawa nama Ify di dalam kehidupan Rio dengan pasangannya/orang terdekatnya. Pun sebaliknya, jangan bawa-bawa nama Rio di kehidupan Ify dengan pasangannya.
Hidup mereka, pilihan mereka. Mengertilah bahwa tidak semua hal dari mereka pantas untuk kita campuri :)

Menjadi lebih sabar. Sabar itu tidak ada batasnya. Kalau ada yang bilang, 'saya sudah cukup sabar,' atau semacamnya, saya pastikan dia sama sekali bukanlah orang yang sabar.
Setiap orang-kelompok punya haters dan lovers, ada orang-orang yang terus mendukung dan ada pula yang mati-matian ingin menjatuhkan. Dan semua itu hal yang wajar. Justru disitulah kita bisa menunjukan bahwa kita tak semudah itu ditumbangkan :)

Terus berkreasi. Komunitas tak resmi bukan menjadi halangan untuk mematikan kreatifitas kalian. Mungkin ada yang tidak mengakui keberadaan kita, tapi yang perlu kalian catat kita berkreasi bukan untuk mereka-mereka yang memandang sebelah mata terhadap kita.

Tetap kompak. Kita tidak perlu berjanji setia sampai mati untuk RFM, untuk Rio ataupun Ify. Tapi kita sama-sama berusaha untuk terus bersama, demi kebersamaan yang telah kita lalui sekian tahun ini. Dan setia akan terjadi dengan sendirinya. Karena janji masih bisa di ingkari, tapi usaha...semua tergantung pada kemampuan diri kita masing-masing :)


Saya bukan manusia sempurna. Banyak salah dan khilafnya. Mungkin ada dari teman-teman yang merasa tersakiti dengan pernyataan saya, mohon dimaafkan :)
Saya pernah menyebut, 'RFM senior' dan 'RFM junior'. Tapi bukan dalam maksud untuk mengkotak-kotak kan. Karena seperti yang saya bilang, kita ini keluarga dan dalam keluarga tidak ada yang namanya mengkotak-kotakan. Pernyataan itu lebih kepada untuk memudahkan saya dalam menjelaskan, dan kalau pada kenyataannya cukup menyinggung perasaan dari kalian, sekali lagi mohon dimaafkan.


Be better cinta!

#RFM4est

#daretobeslaw


24/10/14

Minggu, 24 November 2013

[Bukan] Pernikahan Sandiwara




“Ify! Kita kan udah lulus, jadi gimana? Nikahnya jadi dong?!” Teriak seorang pria yang memberikan seringai nakal kepada gadis manis didepannya.
Gadis itu melotot marah.
Enak saja pria ini berbicara. Siapa bilang ia mau menikah dengan pria usil seperti dia? Lagipula, dimana sejarahnya 'kucing dan tikus' bersatu dalam ikatan suci pernikahan?

“Hehh! Lo---” Ucapan Ify--gadis itu, terhenti di udara saat pria usil itu menghampirinya secepat kilat, dan merangkul lehernya. Membuat jarak diantara mereka semakin terhapus.

”Kenapa sayang? Kamu ingin secepatnya?” Tanya nya dengan nada menggoda.
Ify yang masih belum mengerti akhirnya dihadapkan pada sesosok pria dimasa lalunya yang tengah menatap tajam pada mereka.
Dalam hati ia menggumam, oh cuma sandiwara...

•••

Sandiwara?
Yah, awalnya Ify pikir semua hanya sandiwara. Tapi siapa sangka, hal yang ia anggap sandiwara itu ternyata membawanya pada situasi yang sebenarnya. Situasi dimana ia dan pria usil itu akan bersatu.
Jadi begini, disaat Rio--nama pria usil itu, 'melamarnya' dengan background wajah tak terbaca sang mantan, ternyata kedua orang tua mereka --orang tua Ify dan Rio tentunya-- menyaksikan adegan itu. Bukannya marah atau apalah, mereka justru bertepuk tangan, dan melangkah ceria pada putra-putri mereka yang tanpa sadar mulai memisahkan diri saat mendengar tepukan orang tua mereka tersebut.
Semakin tak diduga, ternyata kedua orang tua mereka bersahabat dan memang telah membuat perjanjian konyol untuk menjodohkan putra-putri mereka dimasa mendatang, dulu.
Terlambat.
Ingin meluruskan, nyatanya kedua orang tua mereka justru menyeret Ify dan Rio --yang masih mengenakan seragam SMA lengkap dengan corat coret pilox khas kelulusan-- menuju tempat makan terdekat, untuk merayakan 'lamaran' spontan Rio.

“Ify, jadi kamu mau pake kebaya, atau gaun aja?” Tanya Mama yang asyik melihat-lihat booklet gaun pengantin. Ify menatap Mamanya dengan tampang tak mengerti.

”Lebih baik, Ify menggunakan kebaya pas akad saja, jeung. Dan gaun pada saat resepsi.” Mama Rio yang ikut mendampingi Ify dan Mamanya melihat-lihat gaun pengantin menimpali.

Ify semakin dibuat tak berkutik dengan ucapan 'calon mertuanya'. Bagaimana ini? Saat dimana ia harus menyibukkan diri dengan segala persiapan memasuki jenjang perkuliahan, keadaan justru menjebaknya dalam situasi, sibuknya menyiapkan pernikahan.
Oh God!

•••

”Gila, man! Kita baru lulus SMA nggak nyampe 2 bulan, dan tiba-tiba lo udah mau merried aja?” Alvin, salah satu teman se-alumni Rio menanyakan hal yang sebenarnya Rio pun tak tahu harus menjawab apa.

”Gue nggak bisa bayangin, apa jadinya rumah kalian ntar. Secara, lo berdua kayak kucing sama tikus.” Cakka, temannya yang lain ikut berceloteh.

Rio mendengus. Mau tak mau ucapan Cakka membuatnya berpikir.
Benar juga. Bagaimana bisa ia menjalani kehidupan yang sejahtera dengan seseorang yang bahkan menganggapnya musuh abadi?

”Gue terjebak, man. Nggak sengaja.” Keluhnya jujur.

Alvin dan Cakka saling melirik, kemudian tertawa kecil. ”Terjebak dalam situasi yang lo buat sendiri. Makanya, lain kali hati-hati kalau mau bertindak. Bukannya bikin Debo kelabakan gara-gara lo berhasil ngegebet Ify, eh malah elonya kan, yang terjebak dalam situasi rumit itu.” Ucap Alvin.

Rio mendengus. Teman macam apa mereka, bukannya membantu mencari jalan keluar, malah meledek.

”Duhh, sekarang gue butuh saran bermutu buat ngadepin masa-masa sulit gue. Jangan di kasih ceramah kek.”

Cakka menyedot bubble tea miliknya dan bersiap untuk memberikan saran. ”Begini saudara, Rio. Lo kan udah terlanjur terperangkap nih, keluar jelas nggak bisa. Pernikahan lo sama Ify, udah didepan mata. Yo'i nggak, Vin?” Cakka mengedikkan bahunya pada Alvin, yang dibalas dengan anggukan kecil. ”Tinggal seminggu lagi! So, let it flow aja. Kali aja lo malah ketagihan tinggal serumah sama Ify.”

Rio mendengus mendengar ucapan Cakka yang dianggap tak bermutu olehnya.

”Stres gue ngobrol ama kalian. Gue balik duluan deh ya. Bye!” Setelah meraih kunci mobil miliknya, Rio segera meninggalkan cafe tempat dimana ia dan teman-temannya biasa menghabiskan waktu, nongkrong.

•••

Seminggu kemudian...

Ify memandang bayangan wajahnya dicermin dengan cemberut. Cantik sih, tapi tetap saja, absennya lengkungan manis dibibirnya membuat wajahnya terlihat kurang.

“Kok cemberut gitu sih, Fy? Bukannya seneng. Kan bentar lagi kalian resmi.” Goda mama yang membantu Ify mengenakan kebaya untuk akadnya.

Ify mendengus. Mungkinkah jujur disaat seperti ini? Ia menggeleng. Itu bukan tindakan bijak. “Hhh, nggak, ma. Aku cuma..nggak nyangka aja. Sebentar lagi, aku bakal pisah sama mama.” Ucapnya setengah berbohong.

Mama mengelus sayang rambut Ify yang disanggul. “Duhh, kayak mau pindah kemana aja. Tetep di Jakarta ini kan?” Mama mencium kening Ify cukup lama, kemudian tersenyum. “Turun yuk, bentar lagi akad nikahnya dimulai.”

-oOo-

“Behel! Sarapan pagi gue mana?”

Teriakan dengan kata-kata seperti itu sudah menjadi backsound tetap rumah bergaya minimalis ini, pasca pernikahan itu terjadi. Terang saja, penghuninya kan memiliki julukan 'tikus dan kucing'.

“Hehh! Lo bisa diem nggak sih? Nggak tau apa kalau gue ribet sama bahan OSPEK?!” Ify yang memang terlihat ribet dengan segala perlengkapan OSPEKnya mengomel.
Berbeda dengan Rio yang langsung menghandle salah satu perusahaan ayahnya, Ify justru memilih untuk melanjutkan kuliahnya. Daripada garing dirumah sendirian, ya kan?

Rio hanya menaikkan sebelah alisnya. “Itu masalah lo, derita lo! Tapi hak gue sebagai seorang suami adalah dilayani sang isteri! Jadi mana sarapan gue?” Ucapnya acuh.

Ify menggeram kemudian berlalu sambil menghentakkan kakinya. Kemudian dengan kesal ia meletakkan sepiring nasi goreng dihadapan Rio.

“Cuma sepiring? Lo nggak makan?”

“Nggak perlu! Gue buru-buru! Udah ah, gue telat nih. Gue pergi dulu..” Sahutnya sambil memungut beberapa keperluan OSPEK yang sempat ia taruh diatas meja makan.

“Assalamu'alaikum..” Ucap Rio dengan nada menyindir saat Ify hendak berlalu.

Ify menepuk keningnya kemudian berbalik arah. Diraihnya tangan Rio kemudian di cium. Gini-gini, Ify menghargai Rio sebagai suami yang harus dihormatinya. Hihiii

“Gue pergi, Assalamu'alaikum!”

“Wa'alaikum salam.” Gumam Rio pelan.

Diam-diam, Rio memperhatikan Ify yang kian menghilang dibalik ruang tamu. Dalam hati ia bergumam, kapan hubungannya dengan Ify akan berjalan senormal hubungan suami istri pada umumnya?
Mungkin dulu ia tak memiliki sedikitpun rasa untuk Ify, kecuali rasa pengen nimpukin Ify yang jahil-oh bukan tapi senang menentangnya setengah mati, itu juga jaman sekolah. Berbeda dengan sekarang, pasca sebulan pernikahan mereka, nyatanya Rio mulai menyadari ada satu rasa berbeda yang hadir dihatinya, untuk Ify. Cinta?
Rio menggeleng pelan, tak sengaja matanya menangkap beberapa lembar roti yang tersaji dimeja makan. Sambil melirik ke arah dimana Ify 'menghilang', ia mengambil dua lembar roti dan mengoleskan selai cokelat-kesukaan Ify.

Pak, habis nganter Ify masuk ke
rumah trus ke meja makan yah.
Tolong antarkan bekal yang ada disana untuk Ify.

Send!
-oOo-

“Eh, Fy..”

“Hmm..”

“Apa kabar lo sama Rio?”

Ify yang tadinya sibuk mencatat kontan mengangkat wajah saat Sivia, sahabat karibnya menyebut-nyebut nama Rio. Ah, dirumah sudah dibikin susah sama kelakuan Rio yang serba aneh, haruskah di kampus ia juga diribetkan dengan nama Rio?

“Ya gitu-gitu aja, emang mau gimana?” Jawabnya tanpa minat.

Sivia mendengus. “Ya, lo kan sama dia udah mer---“

“---ssttt.” Ify buru-buru menyela ucapan Sivia sebelum gadis itu menuntaskan ucapannya. Memang, status Ify yang telah bersuami tidak dipublikasikan. Kecuali dikalangan keluarga, dan beberapa teman dekat.

Sivia cengar-cengir menyadari kesalahan yang hampir ia perbuat. “Ups! Sorry-sorry, jadi..lo kan sama dia udah..” Diliriknya kanan-kiri, “..merried.” Kemudian mengucapkan kata itu dengan sedikit berbisik. “Nah! Masa nggak ada perubahan? Tetap menjadi kucing dan tikus wanna be. Nggak bosen?”

Ify menutup buku dan menyimpan pulpennya, kemudian sedikit membuang nafas.

“Jujur yah, Vi. Gue juga pengen..banget punya kehidupan yang normal. Rumah tangga yang harmonis, pasangan yang romantis, adem-ayem, bukan tiap pagi saling teriak ini-itu nggak jelas. Dan tidur dikamar yang terpisah.”

Sivia refleks ternganga mendengar kalimat Ify yang terakhir. “Lo pisah kamar? Kok bisa?”

“Ya, kita kan nikah sebenernya juga berawal dari ketidak-sengajaan, tanpa cinta. Jadi ya...”

Sivia masih terbengong-bengong. “Hehh! Gimana juga, dia suami lo berhak dapetin 'itu' dari lo. Lo isterinya, wajib ngasih 'itu' ke dia.” Ucap Sivia..hm..agak frontal nggak sih kalau dikantin kampus membicarakan ini?

“Ihh, itu itu itu apaan sih? Jangan spesifik gitu dong.”

“Ohh, okay. Kembali ke pembicaraan awal, apa lo nggak mau memperbaiki hubungan kalian? Kalian udah terlanjur masuk ke dalam situasi ini, mengakhiri bukan jalan terbaik menurut gue, Fy..”

“Jadi menurut lo?”

“Bukan mengakhiri, tapi belajar untuk memulai semuanya dari awal, agar bisa menjadi lebih baik, bukan membiarkannya benar-benar hancur.”

“Tapi susah, Vi..” Ify meringis kecil, mengingat bagaimana abnormalnya hubungan yang ia miliki dengan Rio selama ini, apa mungkin?

“Susah bukan berarti nggak bisa kan? Cinta ada karena terbiasa, masa udah sebulanan ini tinggal se rumah perasaan lo masih benci aja ke dia?”

Ya...mungkin memang perasaan Ify sudah berubah terhadap Rio. Bukan lagi benci, tapi..mungkin cinta?
Hanya ia kurang menyadari apa yang ia rasakan.
Perasaan khawatir yang tiba-tiba datang saat mengetahui Rio belum pulang dari kantor, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Atau gelisah, saat Rio yang cukup lama mengurung diri di kamar mandi dengan kondisi muntah-muntah karena masuk angin.
Semua rasa yang timbul tanpa ia sadari itu tak pernah sedikitpun ia resapi apa maknanya.

“Jadi?”

Ify mengulum senyum. “I'll try.”

-oOo-

Rio sudah terbiasa dengan sikap cerewet Ify, kebiasaannya mengomel, sikap acuhnya saat Rio mengganggu, tapi tidak dengan sikap super manis yang 2 hari belakangan ini ia terima. Ada apa gerangan? Alih-alih membuat Ify marah, ia justru mendapatkan perhatian luar biasa dari gadis yang telah menjadi isterinya itu.

Cakka manggut-manggut seolah paham dengan apa yang Rio ceritakan padanya barusan. Saat ini, ia, dan Alvin memang memenuhi undangan Rio untuk sekedar ngopi-ngopi disalah satu cafe, disela-sela kesibukan mereka -ia dan Alvin- yang tak lain sebagai mahasiswa. ”Jadi?”

Rio berdecak, “kok malah lo yang nanya? Mestinya gue! Jadi gue mesti gimana? Lo ada kepikiran nggak, kenapa tiba-tiba dia jadi super manis gitu?”

Alvin meletakkan gelas hot cappuchinonya ke atas tatakan gelas. “Gini, bro. Jadi, my princess Sivia chub---”

“---halah, nggak pake alay gitu berapa sih?” Sela Rio dengan ekspresi agak aneh. Risih juga mendengar cowok sekeren Alvin yang terkesan cuek itu berucap demikian.

“Huuu.. Tau deh yang nggak punya panggilan sayang buat bininya sentiment mulu.“ Ledeknya yang diamini Cakka, kemudian keduanya berhigh five Ria.

“Bacot lo berdua, udah deh, jadi apaan tadi?”

“Okay, jadi..kemaren Sivia sempet cerita kalau...”

Bla bla bla..
Sebuah cerita mengalir dari mulut Alvin. Soal apa lagi kalau bukan obrolan antaran Sivia dan Ify di kantin beberapa hari yang lalu.

Cakka menepuk pundak Rio dengan tiba-tiba, membuat pria itu refleks mengumpat sambil mengelus dada. “Tuh, bro..Ify aja mencoba berubah buat kalian, kenapa lo nggak?”

“Hhh, sebenernya...dari pertama kali gue tinggal serumah sama dia, perasaan gue juga udah mulai beda kali ke dia.”

“Beda gimana?”

Rio mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. ”Ya beda, jadi...em, cinta mungkin?” Sahutnya sambil mengangkat bahu. “Tapi ya gitu, gue gengsi juga lah, Ify nya aja gitu.”

“Cupu lo..“ Ledek Cakka.

Alvin mengangguk. “Yoi, man! Cowok sejati itu berani berkata iya, nggak malu mengaku cinta, man..”

“Hidup cowok gantle!”

Rio mendelik, “apa sih lo Kka? Gaje amat.”

“Jadi, lo sekarang mau gimana?”

“Menurut kalian?”

“Shoot her!” Jawab Cakka dan Alvin bersamaan.

“Dia kan udah jadi isteri gue..“ Sahut Rio gemas.

“Halah, merried nggak sengaja juga. Tanpa cinta... Yang ini kan, lo nyatain perasaan, demi kesejahteraan hidup kalian juga. Yoi nggak, man?” Ujar Cakka melirik Alvin dengan satu tangan terangkat. Alvin menyambut tangan Cakka yang mengajak toas itu sambil mengangguk.

“Yongkru... Tunjukan kejantananmu!” Ucapnya sedikit berseru.

“Kata-kata lo ambigu, sipit!” Sahut Rio sambil menggeplak kepala Alvin.
Hhhhh, rasanya Rio mau buru-buru kabur dari cafe ini. Karena ucapan Alvin barusan membuat banyak pasang mata melirik ke arah mereka. Ambigu sih...

-oOo-

Rio mondar-mandir didepan pintu kamar. Ia sedang menanti sang isteri yang sampai sekarang belum juga pulang kuliah.
Sedikit perasaan khawatir mengisi hatinya. Memang ini bukan kali pertama Ify pulang terlambat, tapi entah mengapa, yang kali ini membuatnya tak tenang.

“Den! Den!”

Rio buru-buru mencari arah suara Bik Nah yang menyerukan namanya. Hingga akhirnya, sosok sang empunya nama muncul bersama gadis yang sedari tadi ia cemaskan.
Sedikit kaget melihat keadaan gadis itu tak baik-baik saja, Rio segera berlari menghampirinya.

“Ya ampun, Ify... Lo kenapa?”

Buru-buru Rio mengambil alih tugas Bik Nah dan mendudukkan Ify di sofa, sementara Bik Nah berlalu mencari kotak P3K.

Ify meringis sambil memegangi salah satu kakinya yang mati rasa dibagian atas, tapi cukup nyilu dibagian tumit, hm, juga terluka --yang tidak besar tapi juga tidak kecil-- disana.

“Sshhh, sakit, Yo..”

Rio panik, ia mencari-cari Bik Nah yang belum kembali. “Hahh? Iya sebentar. Bik! Bik! Kotak P3Knya mana?!”

Tergopoh-gopoh Bik Nah menyerahkan kotak putih ditangannya kepada Rio.

“Bikinin Ify teh hangat, Bik.” Suruh Rio setelah menerima kotak teresebut. Tanpa menjawab, Bik Nah segera berlalu meluluskan perintah majikannya.

“Kok bisa gini?”

“Sshh, ta..tadi, aduhh..”

“..so sorry..”

“Tadi, gue ke serempet di perempatan, yang bawa kendaraan ngebut lagi. Aw!” Ify refleks mencengkram kuat pundak Rio karena kesakitan. Rio sendiri hanya bisa menjerit tertahan karena kuku-kuku tajam Ify yang menancap dipundaknya.

“Lo jalan kaki? Kenapa? Pak Man---”

“---lo lupa? Apa emang nggak tau? Pak Man lagi cuti, dan lo! Suami yang mestinya menjaga isteri malah nggak ada perhatiannya sama sekali! Gue kuliah ngojek, pulang nggak dijemput. Tega banget sih?!” Ify mulai mengomel dengan air mata yang tanpa sadar membasahi wajahnya.
Ditengah rasa sakit karena luka di kakinya, ia juga kecewa mengingat sikap Rio yang tak ada perubahan sama sekali padahal ia telah berbuat banyak demi memperbaiki hubungan mereka.

“Maaf..” Sahutnya lirih.

“Maaf?! Kalau lo emang bener-bener ngerasa nggak bisa jalanin ini semua sama gue, lo bilang sama orang tua gue, biar kita selese sekarang! Lo pikir gue nggak capek ngadepin lo?!”

Rio terdiam. Perasaan bersalah itu mengisi hatinya. Ini memang salahnya, kenapa rasa gengsi itu tak mau berkompromi dengan rasa cintanya untuk Ify?
Dengan tenang Rio membawa Ify ke dalam pelukannya.
“Maaf..”

Ify masih sesenggukan dalam pelukan Rio. Ia sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba ia jadi hilang kendali seperti tadi.
“Gue udah berusaha merubah semuanya. Gue mencoba untuk memperbaiki keadaan ini. Tapi kenapa lo nggak mau bekerja sama untuk itu? Untuk kita?”

Hening. Rio tak berniat menjawab, hanya tangannya yang terus bergerak teratur mengusap punggung Ify.

“Gue pengen punya rumah tangga yang harmonis, suami yang romantis, kita bisa saling care, bukan ribut tiap hari. Tapi kenapa lo nggak mau ngerti?”

“Ssttt.. Maaf, Fy. Gue yang salah. Gue yang terlalu gengsi.“ Ucap Rio sambil membelai lembut rambut panjang Ify. “Gue..gue cinta sama lo...” Ucapnya lirih namun terdengar tulus.

Hening. Selain isak tangis Ify, dan hembusan nafas keduanya, tak ada lagi yang terdengar.

-oOo-

”Lo jawab apa?”

Ify menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya sebagai jawaban untuk pertanyaan Sivia.
Pagi-pagi sekali Sivia memang telah menampakkan batang hidungnya dirumah Ify. Gadis itu memilih bolos kuliah dengan alasan solidaritas karena Ify yang terpaksa izin karena sakit.
Ify yang melihat kehadiran Sivia jelas dengan senang hati menerimanya, kemudian mengajaknya duduk santai bersama di ruang tengah dengan segelas syrup dan setoples cookies untuk menjadi teman sharing mereka. Dengan senyum merekah Ify menceritakan insiden kecelakaan yang menimpanya, dilanjut dengan kemarahannya--yang membuat ia meluahkan segala unek-uneknya terhadap Rio. Termasuk pula, pernyataan cinta Rio yang membuatnya terdiam.

“Kok nggak?”

“Eung, ya habis gue speechless. Lagian, masa iya dia bilang gitu langsung gue sahutin kalau gue juga cinta sama dia? Aneh kali.”

Sivia meringis. “Itu bukan hal yang aneh bagi dua insan yang sedang jatuh cinta.” Ify hanya terkekeh sambil mencomot salah satu cookies.

“Jadi, lo udah damai? Udah tidur se kamar?” Tanya Sivia iseng.

Ify yang tengah mengunyah cookies jadi tersedak, dengan panik ia meraih gelas syrup miliknya. “Gila lo!”

“Dihh, gue ngasih pertanyaan yang normal kok.“ Sahut Sivia sambil tertawa. “Jadi gimana? Udah?”

”Belum. Hhh, gue bingung gimana mulainya. Masa tiba-tiba gue ngajak dia tidur dikamar gue? Kan aneh. Atau malah dia bakal mikir kalau gue agresif lagi. Hiii..” Ify bergidik.

Dalam hati Sivia mengeluh, agresif dengan suami sendiri bukan suatu hal yang aneh deh.

“Emh, gini aja. Besok tanggal 24, ultah Rio kan?“ Ify mengangguk. “Jadi...” Dan Sivia mulai membisikan suatu rencana untuk ulang tahun Rio.

“Tapi, dia kan pulang paling lama jam 10, belum tanggal 24 dong..”

“Bukan masalah. Ntar gue suruh Alvin yang handle. Bereskan?” Jawabnya santai.

Ify mengangguk paham. “Jadi, kapan lo sama Alvin nyusul gue?” Tanya Ify kemudian sambil menyeringai jahil. Sivia melotot sambil mendaratkan majalah ditangannya dipundak Ify.

-oOo-

Rio mengernyit heran saat mendapati pintu rumahnya dalam keadaan tidak terkunci. Padahal semua lampunya sudah mati. Mencoba berpositif thingking, mungkin Ify atau Bik Nah lupa mengunci pintu, pikirnya.
Dengan mata merem-melek, ia berjalan meniti tangga satu persatu.
Ketika tangannya menyentuh handle pintu kamar, Rio menggerakkan kepalanya untuk melihat pintu kamar Ify yang terkunci.
Diurungkannya niat untuk masuk kamar, dan melangkah menuju kamar Ify.

Cklek..
Kosong.
Kamar Ify yang nampak rapi dengan penerangan yang minim, membuat dahi Rio berkerut bingung. Kemana Ify? Ia melirik arloji ditangannya. Hampir jam 12 malam, kurang 10 menit.  Masa iya di kamar mandi?
Merasa gerah, ia menunda niatnya mencari Ify untuk mengganti baju di kamar.

Keras.
Entah kenapa pintu kamarnya seolah terkunci. Aneh, Rio sama sekali tak pernah mengunci kamarnya. Dicobanya berkali-kali, hingga denting jam 12 malam berbunyi, pintu itu pun terbuka dan....taraaaaa

“Happy b'day to you...happy b'day to you..happy b'day, happy b'day, happy b'day to you....”

Pemuda itu masih terkesima di tempatnya. Dihadapannya ada Ify, gadis yang kurang lebih 3 bulan terakhir ini menjadi isterinya, tengah berdiri dengan sebuah kue bertahtakan lilin dengan angka 19 di atasnya. Yang lebih membuatnya terkejut, Ify menggunakan..lingere?

“If..fy?” Ucapnya dengan nada bertanya.

Ify tersenyum lebar. “Surprise!” Teriaknya. “Sini dong!” Suruhnya.

Dengan ragu Rio memasuki kamarnya dan menghampiri Ify. “Kamu...”

“Make a wish dulu, baru ngomong.” Sela Ify sambil menyodorkan kue ulang tahun dengan lilin yang masih menyala.
Rio menurut, dengan mata terpejam, ia melafalkan doa dalam hati. Kemudian meniup lilin itu dengan pelan.

Ify meletakkan kue ulang tahun itu kemudian bertepuk tangan.

“Kamu kok...”

Ify tersenyum kikuk. Mendadak ia juga bingung bagaimana harus menjalankan rencana Sivia tadi siang. “Eung..ya? Kamu nggak suka aku kasih kejutan?”

Rio menggeleng, tangannya justru menggaruk keningnya karena bingung. “Tapi kenapa?”

Ify memilin-milin ujung gaun tidurnya. “Kan kamu ultah.” Jawab Ify seadanya.

Rio menatap Ify dengan seksama, dari atas hingga ke bawah.
Duh, tiba-tiba Ify tersadar dengan apa yang ia kenakan. Sebuah lingere. Meskipun faktanya Rio adalah suaminya, tetap saja rasa malu itu ada. Apalagi, Rio belum pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini sebelumnya.

“Eung..”

Rio menaikkan sebelah alisnya menanti ucapan yang akan keluar dari bibir Ify.

“Ak..aku..”

Diam-diam pemuda itu mengulum senyum, mulai mengerti dengan apa yang Ify rasakan. Bermaksud membuat Ify lebih rileks, Rio menuntun bahu Ify agar tubuh gadis itu terduduk diatas tempat tidurnya.
Ify menurut tanpa perlawanan.

“Kamu beda banget sih hari ini..”

Ify meringis dalam hati. Entah sejak kapan keduanya mulai ber aku-kamu, tapi yang jelas, dalam situasi remang-remang, kondisi berbusana Ify yang..emh itu, membuat Ify jadi canggung sendiri.

“Eung, boleh aku tau wish kamu apa?”

Rio mengernyit, “kenapa?”

“Nggak boleh tau yah?”

Rio berdehem, ia memajukan tubuhnya, membuat reaksi menegang ditubuh Ify yang mulai berpikir macam-macam.
Rio menahan tawanya, mengapa malam ini Ify terlihat polos sekali?

“Aku berharap, malam ini, esok dan seterusnya kamu tetap disini, disampingku.” Bisiknya lirih.

Dengan susah payah Ify meneguk salivanya. Lirih, tapi pasti, membuat kedua pipinya merah merona dalam remang cahaya kamar.

“Ak..aku..”

“Ya?”

“Aku mencintaimu, Rio...”

Rio terkejut. Okay, mungkin ia sudah tau bagaimana perasaan Ify -berdasarkan laporan yang Alvin terima dari Ify-. Tapi, begitu mendengar langsung pernyataan itu dari bibir Ify, tak bisa dipungkiri perasaannya menjadi meletup-letup karena bahagia.

”Kamu serius?”

Ify mengangguk malu-malu. Dengan cepat Rio menarik Ify ke dalam dekapannya. Diciumnya puncak kepala Ify berulang kali.

“Jadi, kita benar-benar akan menjadi suami isteri yang sebenarnya?” Tanya Rio lagi. Ify hanya mengangguk.

“Jadi, kita bisa menjalani kehidupan berumah tangga sebagai mana mestinya?” Lagi-lagi Ify mengangguk.

“Jadi, aku boleh tidur bersamamu dan menagih hakku?“ Ify nyaris mengangguk setelah akhirnya sadar dengan pertanyaan Rio. Ia refleks menggeleng cepat. Namun Rio memilih tak perduli, dan menahan Ify dalam dekapannya, diatas tempat tidurnya...

Okay, mungkin benar tom and jerry selalu bertengkar. Tapi mereka selalu bersama kan?

--- FIN ---

Gue kangen nulis!
Ini sumpah gaje, kacau abis! Nggak tau juga gue kenapa nulis cerita begini, garing yak? Gatau deh kayaknya kurang nendang ahahaa
Hufttt, tinggalkan komentar dan kritik kalian tentang cerita ini yah...

#muchlove!

@niyaaarasyied

Visit : http://niastevania.blogspot.com

Selasa, 25 Juni 2013

Something Like a Warning : Untuk Keluarga 'Maya' Ku

Hello everyone!!
Apa kabarnya kalian hari ini? Duhh udah lama banget nih, gue nggak sharing disini. Hemm. ada banyak hal yang sebenernya pengen gue ungkapin dalam kata-kata *halahhh* tapi timingnya nggak pernah nemu. Berhubung sekarang agak free, ya gue memutuskan untuk ngeblog aja. Dari sekian banyak hal yang pengen gue share, mungkin gue mau ngebahas yang ini dulu. Yang ini apa? Yang ini mungkin lebih ke...apayah :/ kayak wanti-wanti, unek-unek, something like a warning? And especially for my RFM, ini postingan buat kalian hihii

Anyway, gue, dan kalian yang mengaku RFM pasti emang hobbynya (sebagai RFM) adalah ngerandomin RiFy. Dan entah kenapa, gue sendiri juga pernah bilang : "alam pun seolah merestui mereka dengan kode-kode yang ada. Tapi tetep aja pada kenyataannya mereka nggak akan pernah satu."
Karena apa? Karena adaa....aja sesuatu yang kita sebut kode pas di moment Rio ataupun Ify..
Nah, nggak mau munafik gue juga suka kelepasan buat ngerandomin mereka sampai nggak sadar semua jadi terasa....berlebihan....

Kalian pernah mikir nggak, Ify atau pun Rio bisa aja risih (dan ujung-ujungnya jadi ilfeel) sama kerandoman kita. Okaylah, kalau kita randomnya nggak sampe mention ke mereka, atau nge RT-in mentionan jadulnya mereka. Tapi kalau yg kita lakuin adalah hal yang kayak gitu, gue jamin lama-lama mereka bener-bener nggak tahan sama sikap kita, RFM.
Kita yang mengagumi/mengidolakan RiFy jelas tau banget kalau mereka berdua itu paling nggak suka digosip-gosipin-yang-aneh-aneh. Tapi kadang kita malah suka berlebihan ngecengin mereka.
Ify itu diem-diem suka ngestalk TL IFC (dan dari sekian banyak IFC itu ada juga yang RFM). Inget nggak, Ify pernah ngetweet "kurang-kuranginlah begitu.." ya intinya gitulah, pas dia performe di LMI. Dan menurut info yang gue denger, itu karena dia ngeliat kerandoman RFM soal duetnya dia sama Rara yang dikait-kaitkan sama Rio.
Ify itu kegiatannya padat, pasti dia capek, terus tiba-tiba ngeliat kerandoman RFM yang bikin dia bete, apa nggak kasian?
Okaylah, kita random, tapi seperti kata Ify, "Kurang-kuranginlah begitu."
Ify fine-fine aja soal dia yang di couplein di fanfict, tapi jangan sampai kita kebablasan dan ngelupain kalau Ify (begitupun dengan Rio) punya kehidupan pribadi yang nyata. Ya mana kita tau sih kalau ternyata mereka lagi PDKT atau lagi di PDKT-in sama orang yang mereka suka?
Dan coba kalian bayangin, kalian sedang berada diposisi Ify? Ify yang tadinya biasa aja sama Rio bisa jadi malah kesel sama Rio, padahal yang berulah itu RFM. In fact, gue pernah kayak gitu. Dalam status (bisa dibilang) bersahabat, tiba-tiba dikecengin begitu, gue yang tadinya santai malah jadi bosen sendiri dengernya, dan lama-lama hubungan gue sama -seseorang-yang-gue-sebut-sahabat-itu merenggang. Di liat berdasarkan realita, itu juga kan yang terjadi sama RiFy? Stalkernya RiFy pasti tau banget gimana mentionannya RiFy jaman dulu.

Nah, terus, buat RFM junior (bukan maksud mengkotak-kotakkan RFM, menjadi senior dan junior. Tapi maksud gue disini adalah RFM baru yang masih muda) tolong berhenti membuat fakta palsu, atau menyebarkan fakta RiFy (distatus fb) yang belum jelas bener apa nggaknya. Telusuri dulu lah ya..
Dan....nggak usah terlalu nanggepin status haters lah, apalagi status yg sifatnya jadul. Wasting time gais, masih ada banyak prestasi Ify yang kayaknya bakal lebih seru kalau kita share ketimbang ngurusin haters (y)

Then, tolonglah... jangan mengkait-kaitkan Rio dalam kehidupan nyata Ify, ataupun sebaliknya, I mean, inget kasus pas Rio digosipin pacaran sama Kezia kan? Gue udah terserahlah kalian mau setuju atau nggak, suka atau nggak, tapi (dalam konteks sebagai RFM) jangan lah mengungkapkan 'ke-tidak-suka-an' kalian terhadap Kezia, dengan mengirimkan mention kepada Kezia atau pun Rio, dengan ngebawa-bawa nama Ify! Ada juga tuh yang sampe bilang, "...Rio itu cuman buat Ify." Dan parahnya, itu dimention ke Rio sama Ify. Please lah, itu namanya kalian sudah melanggar HAM orang lain, idola kalian sendiri.
Imbasnya nggak cuman ke kalian pribadi lho, tapi juga ke orang-orang yang tergabung dalam komunitas RFM, yang otomatis bakal dipandang negatif sama komunitas lain, dan juga mungkin..emm...RiFy.

LAST ONE! Soal Gibrant nih! Gue rada nggak ngerti yah, sama kalian yang ngakunya nggak suka sama Gibrant dan capek ribut sama Gibrant, tapi faktanya masih aja ngeladenin dia.
Abaikan ajalah segala status-status Gibrant yang menurut gue nggak penting karena ujung-ujungnya pasti ribet. Atau, make it simple, unfriend atau sekalian block aja dia biar statusnya nggak wara wiri di beranda kalian lagi. Daripada kepancing?
Gue, bukannya sok atau apanih yaa...koment gue distatus dia yang waktu itu bener-bener pertama kalinya dan hanya untuk sekali gue mampir. Karena apa? Gue udah cukup nyimpulin kalau debat sama dia itu buang-buang waktu. Makanya, karena gue udah bilang "gue nggak kenal dan nggak minat kenal sama lo (Gibrant)" disaat dia ngeadd gue, langsung gue tolak. Dan ternyata dia jadi pengikut fb gue, terserah sihyaaa....
Kalian ngata-ngatain Gibrant ini-itu, tapi difb masih ditemenin juga, malah ada yg koment sok manis ke Gibrant, main TOD lah. Ya mungkin kalian bermaksud baik, meminimalisir pertengkaran, tapi yang ada jatuhnya malah kayak plin plan, ga mature hahaa.
Gue itu, kalau udah ga suka, ga respect, dan nggak ngerasa cocok temenan sama seseorang, ya nggak bakal mau berakrab-akrab ria sama orang itu apapun alasannya. Daripada ujung-ujungnya malah perang status, ricuh lagi..ricuh lagi..ckckck
Apalagi gue tau dia pernah ngina (meskipun nggak mengaku haters) idola gue, rasanya tuh gue kayak orang munafik, temenan sama hatersnya idola gue sendiri. Karena apa? Gue ngaku nggak suka sama sikapnya yang suka ngina idola gue, tapi gue nya malah tetep temenan sama dia.

Okelah, gue cukup menyampaikan warning aja. Inti dari postingan ini adalah, pertama, tolong jaga sikap, berusahalah untuk lebih bisa menghargai dan menghormati privasi idola kita, kalau kalian mau mereka tetep respect sama komunitas kita. Kedua, jangan melibatkan Rio ataupun Ify dikehidupan pribadi (nyata0 mereka masing-masing. And finally, cukup deh ya ribut sama Gibrant. Rasanya tuh labil ribut lagi, kasus sama lagi, yang jadi musuh dia lagi dia lagi-_-
Okeydah, mau diterima unek-unek gue ini ya syukur, nggak terima juga...bukan masalah :)

#MUCHLOVE!


@Kania08_

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tentang anniv RFM....


Hi, gais…apa kabar?
Fine, I hope!
By the way…selamat hari raya Idul Adha yah….maaf buat segala khilaf yang sengaja atau pun nggak, buat semua kesalahan yang terlihat atau pun nggak :)

Hemm..sebenernya, gue punya maksud lain dari acara ngeblog gue hari ini loh, mau tau? Mau tau aja, apa mau tau banget?
Okay, gue agak bingung nih mau mulai darimana. Intinya sih, apa yang mau gue bahas hari ini nggak jauh-jauh dari RFM….-termasuk-kasus-anniv-RFM-
Kenapa gue bilang kasus? Karena yang gue denger, yang gue liat dan yang gue tau anniv kita taun ini amat sangat berbeda dari taun kemaren.
Nothing special.Suram!
Pada nyadar ga sih, kalau 1st anniv yang taun kemaren itu bener-bener berkesan? Banyak hal ga terduga yang terjadi saat itu. Ya, taun ini gue juga cukup surprise, I mean….surprise yang nggak gue harapkan. Gue nggak tau, emang pada dasarnya umur-umur RFM taun ini kebanyakan masih under age atau…ah bingung deh, yang jelas menurut gue –sorry-to-say – pada childs.
Semakin bertambah umur (disini maksud gue umur comm) mestinya kita-kita bisa semakin mature, rite?
Bukannya makin childs, dengan mejadikan hal-hal ga penting yang sebenarnya bukanlah suatu masalah menjadi kasus yang serius. Oh no…

Semalem (anniv RFM, 24/10/12) gue males banget, bête banget dan bener-bener kesel banget. TL yang mestinya happy-happy malah..
Tweets beberapa followers/ing gue juga ada yang bikin gue jadi..
well, gue akan kutip beberapa tweets yang mengganggu banget..


“Ify nggak ngucapin ke Rio ya? Jahat banget…”
Ha to the ha! Cuman karena Ify ga say HBD ke Rio pada ngecap Ify jahat? Sebelum gue bahas lebih lanjut, gue akan mengutip pernyataan RFM berikutnya..


“Nggak nyangka Ify licik banget, masa ke Ray ngucapi n ke Rio nggak ;”( hiks banget kan?”

Gue nggak ngerti dimana letak ke-li-ci-kan yang orang itu maksud. Yang gue tau, makna licik lebih mengarah ke-ke-curang-an dan buat gue, Ify say HBD ke Rio atau nggak itu bukan masalah kecurangan tapi hak. Nah, soal Ray..please, sudah jadi rahasia umum kalau Ify dan Ray (bersama Sivia juga) itu sahabatan! Bahkan Ify yang tanpa dia tahu kalau udah diunfoll Ray, disindir Ray tetep say HBD ke Ray, itu karena mereka sa-ha-ba-tan! Sedangkan Rio? Tau sendirikan, Rio dan Ify cuman berteman biasa yang kebetulan menjadi partner di GF IC3, no more!

“Gue berasa pengkhianat kalau liat video coveran Ify-___-“
Ini LOL! Seakan-akan Ify sama Rio bener-bener ada something, dan video coveran Ify itu ibarat perselingkuhan, dan yang menonton video itu adalah saksi-saksi perselingkuhan. I can’t imagine, seandainya kasusnya bener begitu sih..wajar, tapikan?


“Paling nggak, masih ada Rio yang perduli sama RFM.”

Chacha bilang ke gue, ini seperti sebuah sindiran halus dan gue sependapat.  Yah arahnya lebih ke Ify kan? Maksudnya Ify ga perduli sama RFM gitu? -___-
Now, gue berbicara sebagai orang awam –bukan-dengan-title-Rise-atau-pun-IFc-apalagi-RFM-
Pernah mikir gasih, belum tentu alasan Rio say HBD karena dia perduli sama RFM (Bukan maksud gue menuduh Rio nggak perduli sama RFM yah!) bisa jadi, dia say HBD karena reflex, seperti misalnya lo siapapun itu mention ke Rio.. “Yo, aku hari ini ultah, say HBD dong..” dan Rio pun membalas
“HBD yah.”
Gue masih ga paham, apa ini masuk dalam kategori keperdulian atau nggak. Bisa aja kan-masih dalam konteks misalnya, Rio ngebales kayak gitu karena nggak tau mau ngebales apa? Atau biar cepet aja gitu, toh cuman sekedar say HBD doang. Tapi apapun itu, intinya sih emang at least, Rio punya niat baik banget, mau ngebales bbm Tella dan say HBD ke RFM. Tapi kalau menurut gue, ini masih belum bentuk ke-ke-perduli-an. Sorry..

Nah, masih dalam case “Rio say HBD ke RFM” yang katanya ada yang bilang (duh gue ribet nulisnya) “Rio sebenernya nggak tau RFM itu apa” sampai-sampai ini juga menjadi kasus kemaren, gue cuman mau bilang…gue mungkin emang nggak pernah ketemu dia, gue nggak pernah ngobrol langsung sama dia, tapi seperti  yang Rio bilang ke gue (mungkin Rio udah lupa u.u) “Walaupun kamu belom pernah ketemu sama aku, tapi setidaknya kamu udah bisa menilai aku, seperti apa sifat dan karakter aku….” Dan menurut serta saran gue, percaya apa yang hati kalian bilang, karena gue juga seperti itu. Gue punya clue nih buat kalian, taun kemaren Rio juga say happy anniv kan ke kita? Salah situ wishes nya adalah “makin kompak” bisa disimpulkan dong kalau itu artinya dia tau kalau RFM itu suautu comm yang isinya lebih dari satu orang,yang terdiri dari banyak kepala makanya dia berharap kita pada kompak ahaha yah pokoknya kalau dia bilang nggak tau itu lucu, tapi kalau dia lupa masih masuk akal :p

Okay, kembali ke pernyataan-pernyataan negative RFM, selanjutnya..
“Fy, RFM juga IFc loh, fans kamu juga…”


Gue…bingung, nggak ngerti sama jalan pikiran beberapa RFM. 24/10/12 kemaren itu harinya kita kan? Mestinya kita having fun together kan? Mestinya kita nggak ngebahas hal-hal ga penting yang ujung-ujungnya cuman merusak kebahagiaan kita. Hari itu, gue pengen—dan gue yakin semua RFM berkeinginan yang sama dengan gue, menjadi harinya kita (ga penting hastag jadi trend top apa nggak, yang penting kekompakkan kita bener-bener top) tapi tanpa sadar justru kita-kita sendiri yang membuat hari itu menjadi hari yang nggak kita harapkan.
Moment penguploadan video coveran Ify dan Tristan yang terjadi di malam anniv RFM berdampak ke hari besarnya RFM yang semua tau jatuh pada keesokan harinya. Gue rasa, kalau aja semua RFM memandang biasa, nggak melebih-lebihkan, sewajarnya aja menanggapi video itu pasti nggak akan kenapa-kenapa kok. Tapi nyatanya, RFM dengan hastag anniv RFM malah nbgetweeets dengan nelangsa seakan-akan Ify tuh nggak berperasaan. Banyak yang nyinisin Ify, banyak yang mojokin Ify dan banyak-banyak yang lainnya.

Kembali ke kutipan gue diatas, dimana secara sadar ada anak RFM yang mention ke Ify, “RFM juga IFc loh, Fy..” dengan maksud Ify mau say HBD ke RFM.
Kalau kalian emang IFc, kalian pasti tau kan tentang fakta Ify yang nggak suka sama fans yang kepo? Ify nggak suka dicouple-in sama Rio (kalau menurut gue sih lebih karena kebanyakan hatersnya Ify itu berasal dari RiFy haters, kebanyakan yang ngatain Ify ini-itu semenjak couple RiFy booming, inget dulu kan? Ify biasa aja dengan couple RiFy bahkan diblognya sendiri, dia dengan sadar menulis soal couple RiFy yang mendapat voting tertinggi—kurang lebih seperti itu, itu artinya dia awalnya nggak pernah ngerasa couple RiFy itu sesuatu yang mengganggu). Ify risih banget kalau dicouple-couple-in bahkan dia pernah ngambek karena RFM ngecengin dia berlebihan kan? Sampai ngeunfoll Rio.
NAH! Mestinya kalian juga paham kan kalau seandainya Ify ga say HBD ke Rio atau say anniv ke RFM karena dia pasti mikirin dampaknya.
Nggak usah juga ngatain Ify yang nggak suka dikecengin itu childs, karena kalian nggak berada diposisi dia. Okay, mungkin kalian pernah atau malah sering dikecengin sama cowok tapi apa pernah sikap iseng temen-temen yang ngecengin  kalian itu berdampak buruk ke kalian? Di benci—nggak cuman sama satu orang, dihina, dikata-katain, difitnah? Itu kan yang dialamin Ify?
Dan menurut gue, sangat wajar kalau pada akhirnya Ify memilih cara kayak gini.

Ngatain Ify jahat, licik, apa itu yang namanya sayang?
Segampang itu menjatuhkan kata-kata kayak gitu dengan alasan yang menurut gue freak banget. Okay, gue ga muna, gue juga berharap Ify say HBD ke Rio (gue nggak berharap dia say anniv ke RFM karena emang toh sebelumnya dia ga pernah ngucapin kan?) tapi gue juga ga masalah kalau dia nggak ngucapin. Karena melihat apa yang terjadi sekarang emang terlalu muluk-muluk kalau gue berharap kayak  gitu.
Kesalahan (itupun sebenernya  cuman men urut RFM) Ify cuman ga say HBD aja udah berujung ke judgement kalau dia jahat dan licik, wahh nggak bisa ngebayangin gue, gimana seandainya Ify punya kesalahan yang lebih ‘real’ dari ini..ckckk

Banyak yang nyindir Tri (bukan Trisil) karena menganggap Tri ga respect sama RFM (something like that). Tri itu IFc! Dia itu pecinta couple Fyel! Dan menurut gue nggak ada yang salah dengan itu. Gue nggak tau atas dasar apa kalian beranggapan Tri ga respect sama RFM, kalau gue boleh menebak mungkin karena Tri sempat gedhek sama RFM yang ngebom Ify dengan mention yang isinya sama rata, minta say HBD buat Rio dan say happy anniv buat RFM yang berujung kearah memojokan Ify. Kalau emang begitu, menurut gue wajar, karena seperti yang gue bilang Tri itu IFc! IFc dari dulu! Jelas kadar sayang dia ke Ify banyak banget, dan wajar dia nggak terima kalau Ify terus dipojokin apalagi jelas-jelas semua tau kalau Ify  -bisa dibilang- risih sama couple RiFy. Dan sadar gasih, sikap kalian yang nyindir-nyindir dia malah bisa bikin dia bener-bener ga respect sama RFM.

Kalian pengen anniv RFM itu menyenangkan tapi tanpa sadar justru kalian sendiri yang ngebuat moment itu jadi menyedihkan.
Siapa yang nanggepin coveran Ify berlebihan?
Siapa yang ngerespon sikap Ify (yang nggak say HBD dan anniv) dengan emosi, kekesalan, kekecewaan?
Siapa yang pada akhirnya mojokin Ify?

Tau aja kan jawabannya apa?
Dan itu menjadi awal kacaunya hari besar RFM, di mata gue.
Tapi tetep aja semuanya nyalahin Ify. Ujung-ujungnya saling sindir sesama community. Ga malu? Kalau kata Chacha “ribut sesama comm. Itu seperti rebut sama saudara sendiri.” Gue setuju! Dan apa kalian nggak mikir sama tanggapan para penentang RFM? Mana kekompakan kita dulu?

Gue nggak tau, apa mungkin karena di 1st anniv kemaren RFM dapat banyak kejutan makanya di tahun ini pun kalian semakin berharap banyak pada suatu kejutan, tapi yang jelas…mestinya kalian nggak lupa kalau RFM itu ada karena para pecinta couple RiFy. Couple RiFy sendiri ada karena kita-kita yang  buat. Bukan karena Rio, ataupun Ify yang mengajukan pembuatan community ini.
Then, couple RiFy yang kita suka itu hanya ‘main-main’, katakter mereka yang kita buat fiksi.
Gue ga muna, gue pun pengen RiFy itu ‘beneran’ (bahkan pas nonton hitam putih yang bintang tamunya Maudy Ayunda & Adipati. Dimana mereka ngebahas soal keinginan agen neptunus –maniac couple Kugy dan Kikan- supaya mereka jadian di kehidupan nyata, gue berkhayal seandainya yang duduk disana itu Rio & Ify, dan tempat para agen neptunus digantikan RFM), gue juga pernah bekhayal macam-macam tentang RiFy, sederhana deh semua cerpen gue main cast utamanya RiFy, ada emang yang CaGni, Fyel, Alfy, tapi tetep ada RiFy nya kan?
Tapi gue juga realistis
, jangan focus sama keinginan kita aja dan mengabaikan kenyataan yang ada.
FYI, dari pelajaran agama yang gue dapet “cewek muslim itu nggak boleh menikah dengan cowok nasrani, sedangkan cowok muslim boleh menikah dengan cewek nasrani.” Karena apa? Yang menjadi imam, pemimpin dalam suatu keluarga itu laki-laki. Ada penjelasan lebih panjang lagi, tapi takutnya postingan ini menjadi sara. Nah, dari itu gue pun berharap dan gue pastiin cowok di masa depan Ify itu adalah dia yang seiman dengan Ify, makanya gue nggak sampe segitunya berharap RiFy jadian apalagi sampe ke pelaminan.
Huftt..ini postingannya udah lebih dari 4 halaman dan jujur gue capek ngetik-_-
Gais, gue emang bukan member di group RFM lagi, tapi gue tetep pecinta couple RiFy, dan gue masih perduli sama RFM. Tolong, kalau kalian emang pengen RFM itu longlast, until the end, mari kita sama-sama belajar untuk memahami satu sama lain. Nggak cuman sesama member, tapi juga orang yang menjadi acuan kita dalam terbentuknya RFM ini. Mereka yang menjadi inspirasi kita dan mereka yang selama ini selalu kita support dengan atau tanpa sepengetahuan mereka, Rio dan Ify. Pahami dan maklumin dengan semua tindakan mereka. Kalian pengen dingertiin tapi kalian sendiri nggak berusaha untuk ngertiin.
Buat kalian-kalian yang emang udah nggak mampu bertahan, saran gue mending mundur teratur secara baik-baik. Jangan membuat suatu pernyataan yang seolah-olah pengen tapi nggak di lakuin. Teruntuk seseorang yang gue nggak perlu sebut namanya, sadar gasih kalau sikap lo itu justru memancing keributan? Lo terlalu banyak menuntut ke Ify. Kalau emang pengen cau dari RFM ya cau aja, nggak usah menjadikan hal ga penting  (semacam Ify yang nggak say HBD ke Rio) sebagai alasan buat cau.
Udah pada gedekan? Udah pada bisa mikir kan?

Gue minta maaf buat yang nggak suka sama postingan gue. Mau pada protes? Silahkan, tapi yang sopan! :)

Sekali lagi, mohon maaf lahir dan bathin, buat semua khilaf yang disengaja ataupun nggak. Yang terlihat ataupun nggak! :)

Nb : mungkin moment anniv udah lewat, dan postingan ini terkesan ga tepat waktu. But, gue cuman mau nyampein unek-unek
cheers!

@sugargirl08

Rabu, 14 Maret 2012

-- Jatuh Cinta! (Dag dig dug) --







Kalau ada orang yang bilang jatuh cinta berjuta rasanya, itu emang bener! Dunia jadi penuh warna? Iya banget. Hari-hari jadi ceria? Ya ialah..

Dan itu juga yang aku rasain saat ini.
Hemm..jatuh cinta, dua kata yang bisa menghasilkan banyak makna. Kadang juga bisa membuat seorang biasa menjadi makhluk pujangga..hahaha

Eumm..ngomong-ngomong soal jatuh cinta, pada tau nggak, aku jatuh cinta sama siapa?

Kau menatapku disitu
Membuatku jadi salah tingkah
Kau tersenyum kepadaku
Dan aku tersipu
• • • • •

Dia adalah Mario Stevano. Cowok hitam manis, bertubuh tinggi tegap, memiliki senyum menawan yang selalu bisa membuat semua cewek jadi GR sendiri tiap disenyumin sama dia. Woyalah..senyumnya manis banget gitu loh.. Nggak heran deh kalau banyak semut yang nyerbu dia. Eitss..tapi 'semut' nya beda dong daripada semut-semut biasanya. Semut-semut yang aku maksud ya, itu..para cewek yang suka melting setelah disenyumin sama dia..hihiii

"Stt..stt..Fy! Kak Mario ngeliatin kesini tuh!"

Seseorang menyikut kecil pinggangku sambil setengah berbisik. Siapa lagi kalau bukan Sivia, teman dekatku.

Aku yang asik membaca sebuah novel lantas menatap Sivia dengan alis terangkat. "Apaan sih?"

Sivia menggeram kecil, kemudian telunjuknya bergerak pelan-dan cukup samar, menunjuk ke arah segerombolan siswa yang berdiri dilorong menuju kantor kepala sekolah.

"Kak Mario ngeliatin kesini mulu, ngelirik elo kali yah." ucapnya masih setengah berbisik. "Jangan terlalu diliatin!" larang Sivia cepat, sebelum aku mendongak untuk mencari tahu.

Berhubung aku penasaran, ya ucapan Sivia aku anggap angin lalu aja yah..ehehe

Sighh..
Sedetik-atau mungkin lebih beberapa detik, tapi cukup untuk membuat kedua mataku nyaris terbelalak sempurna ketika melihat sendiri tentang kebenaran ucapan Sivia. Ditambah lagi, ia mengukir seulas senyum -yang sumpah demi apapun- manis yang membuatku mendadak beku.

"Elahhh..roman-romannya ujan kembang nih~" celetuk Sivia menyadarkan ku.

"Hahh?! Apaan?

Kau ingin tahu namaku
Mencari tahu tentang diriku
Ku hanya bisa membisu
• • • • •

"Iya, Fy! Demi Tuhan! Gue nggak bo'ong!" ucap Sivia sungguh-sungguh. Ia mengacungkan jari tengah dan telunjuknya seolah bersumpah.

Tapi tetap aja aku nggak percaya. Bagaimana bisa, seorang Mario berusaha mencari tahu tentang aku. Apalagi sampai menanyakan siapa namaku kepada Sivia.

Aku menyedot habis juice jeruk dihadapanku, kemudian menatap Sivia dengan serius. "Sivia sayang..gimana pun juga, gue nggak percaya! Kok bisa gitu, dia--"

"Alyssa!"

Huhh...aku terpaksa menghentikan ucapanku saat mendengar sebuah suara yang menyerukan namaku.

Aku memutar arah pandangku ke belakang dengan sedikit kesal. "Ap--"

Lagi-lagi ucapanku terhenti, saat aku tahu pemilik suara itu adalah...Mario. Catet! Mario!

"Err..nama loe, Alyssa kan?" tanya nya terdengar gugup.

Aku melirik Sivia sekilas, yang dilirik hanya mengeluarkan cengiran kaku yang terlihat bingung.

"Alyssa Saufika.." balasku menambahkan.

Dia tersenyum kecil. "Err..iya, itu maksud gue. Alyssa Saufi--"

"Panggil Ify aja, kak." potongku.

Dia menggigit kecil bibir bawahnya sebentar. "Ya, Ify, emm..gu..gue mau ngajak elo buat jadi partner gue di prom satnite depan, bisa?"

Hatiku berdebar berdebar
Dar dar dar dar dar dar
Jantungku berdegup berdegup
Dag dig dug dag dig dug

Ku ketuk pintu hatimu
Tok tok tok tok tok tok
Aku ingin jadi kekasihmu
• • • • •

Emh..aku berulang kali berjalan mondar-mandir, depan-belakang sambil memikirkan sesuatu. Maksud sesuatu itu ya..ajakan Rio tadi siang disekolah.
Aku memang belum menjawab, karena aku sendiri bingung.
Mau nerima, tapi gengsi karena aku merasa baru kenal (meskipun faktanya aku udah naksir kapan taun deh). Nolak, tapi munafik kalau aku nggak mau pergi ke prom sama dia.

"Ughh..bingung kan gue!!" seru ku, jadi frustasi sendiri.

Drtt..drttt
Ponsel touchscreen-milikku, yang ku letakkan di atas sofa bergetar. Dengan segera ku raih, dan mengecheck ada apa disana.

Udah terima aja. Kapan lagi pergi ke prom sama cowok inceran satu sekolah?
Lagian, gue juga bareng kak Alvin. You know lah, Fy...kak Alvin sama kak Rio sohib, so ntar kalau elo nolak, gue jadi berasa garing dong menjadi makhluk paling cantik diantara dua makhluk kece-_-

Sender : Sivia 'Via'

Aku menghela nafa sebentar.

"Terima, atau nggak yah.."

Aku masih berpikir.
Mungkin kalau kalian jadi aku, kalian akan langsung berkata 'mau!'. Apalagi kalau kalian memang sudah jatuh hati, seperti aku yang memang sudah jatuh hati pada Rio.
Tapi...

Ku tak pernah merasakan
Rasa ini menggerogotiku
Aku ingin engkau tahu
Aku suka kamu
• • • • •

Tertawa, bercanda, ceria sekali lah sepertinya. Itu adalah gambaran mengenai kondisi Rio hari ini. Tapi, aku kok malah jadi nggak seneng gitu ngeliat dia happy?

"Ya ialah, elo lagi cemburu!" komentar Sivia waktu aku menceritakan ekspresi Rio dengan nada tak suka. Ekspresi yang memang ku lihat saat Rio tengah bersenda gurau dengan salah satu cewek beken di sekolahku ini, Acha.

"Ahh..cemburu apaan coba.." elakku, masih tak mengerti.

"Ify, masalahnya, elo jadi grasak grusuk sendiri cuman karena ngeliat kak Rio sama Acha berduaan di per--"

"Ya, mereka yang salah! Ngapain berduaan di perpus? Kan perpus dibangun buat belajar, bukan pacaran!" selaku.

Sivia terlihat kesal. "Jangan potong omongan gue, barbie~"

Aku menyeringai lebar sambil menggaruk-garuk tengkukku. "I'm so sorry darling.. Jadi menurut loe?"

"Iya, elo jatuh cinta sama kak Rio! Dan sekarang elo cemburu ngeliat doi berduaan sama Acha!"

Aku menunduk dengan wajah cemberut. "Terus gue mesti gimana?"

"Terima ajakan dia buat jadi partner ke prom satnite nanti, secepatnya sebelum dia mutusin buat ngajak Acha!"

"Loe pikir gue bisa?"

Sivia mendengus. "Hallo..barbie!! Inget, do something or do nothing." ucapnya tegas, penuh penekanan. Matanya menatapku tajam, dan ekspresi wajahnya sangat serius!

"Kalau elo pengen kak Rio ngegebet cewek lain ya silahkan loe tolak dan jangan lakuin apapun. Tapi kalau elo pengen kak Rio cuman buat elo-err..i mean cuman pergi sama loe, ya loe harus ngelakuin saran gue tadi!" sambungnya.

Well, ini sama artinya dengan take it or leave it kayaknya. Ya kalau emang pengen -mengambil- hati  Rio cuma buat aku, ya aku harus melakukan sesuatu.

Jangan kau mengulur waktu
Ku tak bisa tidur malam ini
Katakan saja i love you kepadaku
• • • • •

Aku mengggigit kecil bibir bawahku saat melihat sebuah nama pemanggil tertera di display ponselku. Butuh waktu cukup lama -bahkan sang penelpon sampe menghubungiku lebih dari dua kali- untuk mengangkatnya.
Tepat pada panggilan ketiga, setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk membuang nafas berulang kali, aku menerima panggilan tersebut. "Hallo.."

"Hallo, Fy.." balasnya disana. "Err..belum tidur?"

'Kalau gue tidur nggak mungkin ngangkat telpon kali..' sahutku, dalam hati.

Aku melirik jam dinding di kamarku sebentar. "Belum, kak. Emm kenapa nelpon gue?"

Yah, yang menelponku adalah Rio.
Darimana dia dapet nomer telponku? Kata Sivia sih, sehari setelah Rio memberikan penawaran berupa ajakan pergi bareng ke prom itu, dia langsung meminta nomerku ke Sivia.

"Emang kalau nelpon elo, mesti kenapa-napa dulu gitu?" tanya nya, terdengar bercanda.

Aku meringis kecil. "Err..ya nggak gitu juga sih~"

Bla..bla..
Akhirnya hampir 20 menit ku lalui dengan bertelpon ria dengan Rio. Dari omongan nggak penting sampai yang benar-benar garing. Ehhh...

"Nggak ngantuk, Fy?"

"Elo nya nelpon, gimana dong.."

"Ehehe, ya udah deh. Tidur gih.." suruhnya.

Aku mengangguk. "Okay, gue tutup yah.."

"Malem, Fy.."

"Malem, kak Rio~"

Klikk..
Sambungan terputus.
Aku menguap sebentar sepertinya aku memang sudah mengantuk.
Namun, begitu membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, bukannya terlelap aku justru jadi nggak bisa tidur.
Bolak-balik, kanan-kiri. Tiba-tiba, aku jadi teringat pada...Rio

"Hemm..tadi kak Rio nelpon gue buat apaan sih? Masa' cuman ngomong ngalor ngidul nggak jelas gitu?"

Aku segera bangkit dari posisi berbaringku.

"Elo jatuh cinta, Fy! Jatuh cinta, sama kak Rio!"

Huhh..kenapa disaat-saat seperti ini aku jadi teringat omongan Sivia yang nggak jauh-jauh dari Rio.

Tok..tok..
Pintu kamarku diketuk dari luar. Setengah melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30 wib itu, aku berjalan sambil misuh-misuh karena merasa terganggu.

"Hehh!! Elo nggak punya jam apa dikamar?" semprotku kepada Gabriel-kakakku, yang nggak pake assalamu'alaikum langsung membuka pintu kamarku.

Gabriel melayangkan sebuah toyoran kecil dikepalaku dengan santai. Kemudian, dengan wajah innocentnya, dia berjalan memasuki kamarku.

Aku berkacak pinggang ditempatku, lalu mendengus. "Ngapain sih loe, bertamu ke kamar gue tengah malem gini?!"

Gabriel tetap santai, dan mengambil posisi berbaring diatas tempat tidurku.
Errr..saudara yang menyebalkan!
"Gabriel Stevent.." geramku karena tak mendapat respon.

"Alyssa Saufika.." balasnya santai. Kemudian ia tertawa kecil dan menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya. Ku tatap ia dengan alis terangkat. "Sini! Gue mau ngomong.." suruhnya setelah tertawa.

Aku berjalan menghampirinya dengan langkah kaki setengah menghentak. "Apaan sih?" tanyaku setelah mendaratkan tubuhku disebelahnya.

Tiba-tiba saja Gabriel merangkulku hingga semakin dekat kepadanya. "Mestinya gue yang nanya. Ada apa sih sama adek gue yang cantik ini. Perasaan beberapa hari ini, loe tingkahnya agak aneh deh."

Aku ternganga sebentar. "Hahhh?!! Aneh gimana? Biasa aja perasaan.."

"Ya kadang seneng, ceria, tiba-tiba bete, mendadak panik, kayak ada sesuatu gitu." jelasnya. Masih sambil merangkulku, ia melanjutkan ucapannya. "Pasti berurusan sama hati. Kenapa sih? Elo lagi jatuh cinta? Atau malah udah pacaran?"

Err..kakakku berbakat jadi peramal sepertinya. Ku garuk-garuk dagu panjangku yang mendadak gatal. "Emm..sebenernya, gue nggak ngerti ini jatuh cinta atau cuman suka, tapi..."

Bla..bla..bla..
Meskipun awalnya ragu, tapi toh menit-menit berikutnya aku semakin santai mengucapkan semuanya. Gabriel mendengarkan ku sambil sesekali mengangguk.

"Sebenernya, Rio itu suka lagi sama loe. Tapi dia gengsi, takut elonya nggak suka sama dia." ujar Gabriel, ia mulai melepaskan rangkulannya dan menatapku dengan seulas senyum.

"Ahh, jangan bercanda dong kak.."

Gabriel mencubit kecil hidungku. "Ihh..nggak percaya. Gue serius! Dia tuh bingung, tapi ya..gue doain secepetnya kalian jadi deh."

Aku jadi mesem-mesem sendiri membayangkan bisa jadian sama Rio, kakak kelas yang telah membuatku jatuh hati.
Dengan perasaan berbunga-bunga, aku memeluk Gabriel dengan semangat.

"Aaaa..kak Gaby.. Gue sayang banget sama loe, semoga doa loe makbul yah." ucapku sungguh-sungguh.

Belum ada 10 menit aku memeluk Gabriel, ponselku kembali berbunyi. Gabriel yang memang sedang dalam posisi dekat dengan ponselku segera meraihnya. Mata dan mulutnya mulai bergerak mencari tahu siapa orang yang tengah menelponku malam ini.
Bukannya marah -karena ku pikir dia nggak akan suka kalau ada orang yang menghubungiku diwaktu selarut ini-, dia justru menyerahkan ponsel itu kepadaku, dengan senyum menggoda.

"Ecieee, pangerannya nelpon nih~" godanya padaku.

Aku terkejut. "Nelpon lagi?!" ku rebut ponsel tersebut dari tangan Gabriel, dan segera menerima panggilan tersebut. "Ha..hallo, kak.." sapaku mendadak gugup. Huhhh akibat percakapanku dengan Gabriel tadi nih..

"Belum tidur yah, Fy? Sorry nih gue ganggu lagi.."

Aku menggaruk-garuk pipiku yang mendadak gatal. Melalui ekor mataku, aku dapat melihat tampang mupeng -mungkin karena pengen tau apa yang kami bicarakan- Gabriel yang sedang berpangku tangan.

"Err..sebenernya, tadi ngantuk tapi..malah ga bisa tidur..ehehe." jawabku diakhiri dengan kekehan garing.

Hening.
Bukannya menyambung obrolan, Rio malah jadi diam. Aku yang memang dari awal sudah merasa kikuk jadi semakin diam. Wasting time nggak sih?

"Fy/kak.."

Kami sama-sama membuka suara setelah keheningan yang beberapa menit terjadi. Kemudian kami -lagi-lagi- sama-sama tertawa entah karena apa, Gabriel sampai mengerutkan keningnya melihat kami.

"Elo duluan deh, Fy.."

"Ahh, nggak. Elo aja kak, nggak penting juga sih yang mau gue tanyain."

Srett..
Gabriel langsung merebut ponselku, kemudian mengaktifkan speakerphone disana.

Rio memulai pembicaraan kembali. "By the way, soal tawaran gue--"

"Iya! Mau! Ify mau pergi sama loe!" seru Gabriel bersemangat!

Aku? Aku menatapnya dengan mulut ternganga, lengkap dengan satu alis terangkat.
You say what?!

"Ify? Kok suara loe kayak--"

"Jangan kan jadi partner ke prom, jadi pacar loe juga dia mau!"

Gabriel kembali memotong pertanyaan Rio dengan semangat. Aku yang sadar dengan apa yang baru saja diucapkan Gabriel langsung merebut kembali ponsel touchscreen-ku yang berada ditangannya.

"Jangan didengerin kak! Itu tadi emang kak Gabriel yang ngomong!" seru ku cepat.

Gabriel mendengus tak suka. Rio terdiam.
What the hell?

"Hahahaa.."

Oww..tawa menggelegar itu membuatku menjauhkan ponsel ditanganku secara mendadak ke arah Gabriel yang sampai harus menutup kedua kupingnya karena terkejut.

"Woy mas~ gue Gabriel makhluk paling kece, bukan Sule si pelawak itu!" komentar Gabriel.

Rio terdiam dan terdengar sedikit berdehem.

"Err..sorry, bro. Ify masih didekat loe?"

"Always beside me.."

Aku mencibir. "Sok bule loe, kak~"

"Whatever~"

"Emm, Fy.."

Aku membatalkan niatku yang ingin membalas ucapan Gabriel. Mendadak aku jadi deg-deg-an, kok nerveous gini sih?

"Ya~" sahutku dengan -sebenernya nggak direncanain, tapi refleks- manis dan lembut.

"Seandainya gue bilang, gue suka sama loe, elo percaya?"

"Percaya! Percaya banget dia!"

Ughh..lagi-lagi Gabriel menyela ucapan Rio, dan menjawab pertanyaan Rio yang jelas-jelas untukku.

"Kak Gab~" seru ku jengkel, Gabriel malah nyengir. "Sorry, kak.." sambungku kepada Rio.

"Nggak papa. So, elo percaya?"

Glekk..
Aku menelan ludah. Jawab apa nih?

"Emm..ya..aku..ya percaya lah. Hahaha..aku kan baik, manis, err cantik juga sih kata orang ehehe jadi wajar kalau kak Rio suka, iya ahaha.."

Kenapa aku jadi gelabakan gini?

"Suka dalam artian lain, Fy. Bukan suka untuk alasan berteman."

Mampus! Jawab apaan?

"Yaa--"

"Kalau gue bilang gue cinta sama loe, elo percaya?"

Ishh..ini si Rio maksudnya apaan sih? Belum juga dijawab malah diskip ke pertanyaan berikutnya.

"Percaya! Percaya banget dia mah!"

Oh may...Gabriel minta di makan kayaknya. "Kak Gab~"

"Gabriel, didekat loe ada selotip nggak? Atau lakban gitu?" tanya Rio yang sepertinya sih -dan emang iya kayaknya- ditujukan untuk Gabriel. Loh kok, jadi nyambung ke alat yang bisa menempel gitu sih?

Gabriel mengangguk. "Ada! Nih ditangan gue ada lakban." jawabnya yang entah sejak kapan sudah memegang segulung lakban.

Aku melengos, itu tadi mestinya jadi romantis kan? Kok malah jadi kayak gini?

"Good! Mending sekarang elo plester tu mulut pake lakban dan jangan ganggu gue sama Ify!"

Wowww..itu tadi Rio ngomong apa?

Gabriel merengut. "Asem loe, Yo! Gue Gabriel! Kakaknya Ify! Elo mau nggak gue restuin?!" sahutnya sok galak.

Aku berdehem sebentar. "Gabriel stevent~" ucapku dengan nada menegur.
Gabriel mengalah dan akhirnya bungkam.

"Gabriel beneran ngeplester mulutnya, Fy?" tanya Rio setelah sekian menit berhening-hening ria.

Aku menggeleng. "No..cuman gue suruh diem pake pelototoan doang."

Rio kembali tertawa, kemudian berdehem kecil. "Oww okey, gue pengen ngelanjutin ucapan gue yang tadi."
Jeda, aku tidak merespon karena ku pikir dia memang sengaja mengambil jeda untuk bernafas. "Kalau gue jatuh cinta sama loe, apa loe percaya?"

Ow ow..aku harus jawab apa nih?
Percaya? Kok kesannya PD banget gitu yah?
Nggak percaya? Tapi kan tadi Gabriel udah bilang..

"Ya..fifty-fifty sih.."

"Kenapa?"

Aku mengelus-elus bibir bawahku. "Ya..elo baru kenal gue beberapa minggu, kan? Ya kok bisa gitu--"

"Love at first sigh. Ada, kan?"

Aku mengangguk tanpa sadar.

"Elo tau?" Lagi-lagi aku mengangguk. "Gue nggak bisa tidur malam ini karena mikirin loe."

Sama! Sama banget!

"Sempet ragu, tapi mendadak yakin kalau gue..gue bener-bener cinta sama loe."

Oh may...kayaknya aku mulai terbang nih. Ehhh..

"Sekarang loe jawab, loe mau nggak pergi ke prom satnite nanti sama gue?"

Aku diam...
Iseng-iseng mataku kembali melirik Gabriel yang tau-tau sudah terpejam sempurna disampingku. Ku tarik bedcover di kaki ku dan mulai menyelimutinya. Duhh, kok berasa kayak emak-emak gini yah..

"Ify? Ify? Elo masih melek, kan?"

Aku mengangguk cepat dan buru-bur membenarkan posisi duduk ku. "Ahh..ya! Gue masih melek. Kenapa tadi, kak?"

Rio berdehem kembali. "Elo..mau nggak pergi ke prom bareng gue satnite nanti?"

"Emm..maa..uu.." ucapku pelan. Pelan...banget.

"Yes!" dia berseru keras. Kenapa sih? Tadi nyatain cinta, terus nanyain soal prom. Kok dia gaje gini sih?

"Rio pesek! Gue udah tidur!"seru Gabriel dengan mata terpejam.

Upss..speakerphone nya masih aktif.

Ku kembalikan modus speakerphone yang semula aktif menjadi non aktif. "Udah, sana..loe balik ke kamar loe sendiri.." suruhku sambil mendorong-dorong tubuh Gabriel. Dia menurut -mungkin faktor setengah sadar- dan segera keluar dari kamarku.

"Iyel, Fy?"

"Iya.. Tadi dia ketiduran disebelah gue." jawabku. "Ohh iya, elo kenapa teriak tadi?"

Dia tertawa kecil. "Karena loe nerima ajakan gue buat ke prom bareng, itu artinya elo udah nerima pernyataan cinta gue dan setuju kalau gue jadi cowok loe!"

Aku terbelalak. "Huwhatttt?!!"

"Selamat malam... Have a sweet dream, barbie~"

Tut..tut..tuttt
Sambungan terputus dan itu artinya..kami jadian?!!!!

•••••

Dan akhirnya...simpulkan sendiri apakah menurut kalian mereka 'sekarang' masih tanpa status or have a relationship?!
Err okee, ini mungkin memang sedikit (atau mungkin banyak?) freaky-__-

Ya udahlah, anggap ini kado anniv IFc yang ke 4 dari gue buat semua IFc yang lagi berbahagia \m/ dan berhubung gue RFM jadi couplenya RiFy..hihiii

Well, yang mau berkomentar silahkan isi kolom dibawah ini yah!
Sorry banget buat judulnya yang errr sedikit norak-_- gue bingung dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan judul lagu yang menjadi sumber inspirasi gue, yang mana juga gue tulis dicerita ini :D

Upss ya, beib.. Gue lupa nama duo cewek yang ngebawain lagu yang ada dicerita ini, yang jelas tuh lagu muncul sekitar akhir 2010-awal 2011 gitu judulnya dag dig dug!

Nb : buat yang pernah copast cerita gue, please jangan diulangin lagi yah. Gue nggak minta penghargaan berupa like yang banyak untuk cerita yang gue tulis kok. Cukup dengan ga ngecopast dan mengakui karya gue sebagai karya pribadi aja. Dan kalaupun niat ngopast, izin dulu bisa kan? :)

Seeyaaaa


Nia 'nistev' stevania_