A homepage subtitle here And an awesome description here!
Tampilkan postingan dengan label Pernah Ada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernah Ada. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Aku Pernah {Final Part}

- Aku Pernah Merasa Tak Percaya Lagi.. -

Aku pernah merasa tak percaya lagi. Seperti kepada orang yang baru ku kenal. Membutuhkan proses agar bisa kembali mendapatkan kata percaya itu lagi.
Saat itu. Saat dia memintaku untuk kembali, mengisi hari-harinya lagi.

“Kasih aku satu kesempatan, untuk kita sama-sama lagi, Fy. Kita perbaikin semuanya sama-sama.”

Tanganku membeku dalam genggamannya. Aku tak ingin membalas tatapannya. Semua masih terasa sakit disana, disuatu tempat yang tak bisa dia lihat, hatiku.

“Kamu yang minta 'udahan', Yo--”

“--dan sekarang izinkan aku untuk minta 'lanjut' lagi sama kamu.” Potongnya cepat.


*Ohh..Mengapa? Mengapa kau tak mengerti halusnya perasaanku, kau goreskan keraguan..*


Aku memejamkan kedua mataku. Mencari jawaban yang paling tepat untuknya.
Aku berusaha memunculkan kembali kenangan-kenangan kebersamaan kami. Namun, bayangan tentang kesakitanku ikut menghampiri.
Rasanya..susah untuk -langsung- percaya lagi.

Aku menghembuskan nafas, lirih.

*Namun ku menyayangimu walau hilang percayaku, biar cinta menuntunku..untukmu..*

“Maaf, Yo. Aku ngga bisa..”

Dia melepaskan tanganku--dengan cepat, yang sebelumnya berada dalam genggamannya. Kemudian, kedua tangan kokohnya beralih pada kedua pundakku, dan diguncangnya pelan.

“Bohong! Kamu masih sayang sama aku, dan aku bisa rasain itu. Karena aku juga sama, masih sayang sama kamu. Please jangan bohongin perasaan kamu sendiri, Fy!”

“Kemana kamu waktu papah aku meninggal? Waktu aku butuh support saat aku bener-bener down? Aku butuh banget semangat dari kamu tapi kamu malah having fun sama Dea!” Ucapku tak terkendali.

“Maaf..” Lirihnya.

Aku memejamkan mataku sebentar. “Kamu yang memutuskan, nggak ada lagi kata 'kita' diantara aku sama kamu. Dan aku penuhin itu. Sekarang kamu bilang kamu pengen memperbaiki semuanya?”

Dia memandangku dengan tatapan memohon.

“Perlu waktu buat aku bener-bener bisa berani menunjukkan perasaan aku ke kamu, Yo. Perlu waktu buat aku menata hati lagi setelah kamu mutusin buat udahan. Dan..sekarang, aku juga perlu waktu untuk bener-bener bisa kembali lagi sama kamu.”

“Maaf. Mestinya, aku tau itu..” Dia menatapku dalam. ”Dan aku janji akan nunggu saat itu.”

“Dan sebelum saat itu tiba, kalau kamu emang udah nggak sanggup, aku nggak ngelarang kamu untuk pergi, dan ninggalin janji kamu ini.

Aku pernah merasa tak percaya lagi. Meski dia berusaha sekuat hati, namun diri ini tak bisa dipaksakan. Krisis kepercayaan? Yah, kekecewaan memang selalu berdampak pada krisis kepercayaankan?
***

Aku pernah merasa tak percaya lagi. Saat itu, karenanya..

•••


Aku sedang merasakan mati rasa. Hampa. Kosong. Tak ada bahagia, sebahagia dulu lagi. Tak ada sedih, sesedih dulu lagi. Semua bagaikan biasa saja.

“Fy, ada salam dari Gabriel.” Ucap Sivia yang baru saja mengambil tempat disebelahku. Ia menyodorkan gelas minuman pesananku, kemudian menyantap pesanannya.

“Terus, gue harus bales salam dia lagi, gitu?” Tanyaku malas. 'Tisam' dari Gabriel bukan kali ini saja ku dapatkan, tapi..entahlah, aku lupa sudah berapa banyak.

“Dihhh..lo gitu banget sih, baru pacaran sekali tapi patah hatinya udah parah banget, sampe trauma gitu. Untung baru pacaran, gimana kalau dulu lo udah merried ama Rio, jadi perawan tua kali.” Ucapnya. “Duhh, kok gue dijitak sih?!”

Aku memutar kedua bola mataku dengan kesal. “Masa lalu, please... Lagian, siapa yang trauma pacaran coba?”

“Lah terus, kenapa lo ga pernah pacaran lagi? Kenapa lo selalu jaga jarak tiap ada cowok yang PDKT? Kenapa lo anti banget sama Gabriel?” Jeda. Sivia menatapku dengan lekat, sesaat. “Bukan karena lo masih ngarepin Rio, kan?”

“Nggaklah!” Bantahku cepat. “Ada juga Rio kali yang masih ngarepin gue~”

Sivia mengangguk berulang-ulang. “Ohh iya juga yah? Kan dia udah nyesel banget karena mutusin lo, sampe rela ga pacaran demi nunggu elo nerima dia lagi.” Kemudian Sivia menggeleng.

“Ya udahlah, Fy. Pokoknya, kalau oneday lo berubah pikiran, lo berniat buat ngebuka hati sama Gabriel, tell me please...” Ucapnya setengah memohon.

Aku tertawa kecil. “Nggak janji yah, siapa tau gue berubah pikiran, tapi ga berniat buat ngebuka hati gue untuk Gabriel.”

“Terus, buat siapa?”

“Al..vin, mungkin?” Jawabku setengah menggoda.

Sivia mendelik. “Nggak boleh!” Tegasnya setengah menjerit.


Aku seperti sedang mati rasa. Bukan tak lagi bahagia, hanya saja..kebahagian ini tak sama. Tak seperti dulu, ketika bersamanya.
Kapankah aku berhenti 'mati rasa'?

•••

Aku pernah merasa suka, kepadanya..seorang pemuda yang akhirnya mengisi hariku.
Aku pernah merasa jatuh cinta, kepadanya..yang kemudian menyatakan isi hatinya kepadaku.
Aku pernah merasa cemburu, karenanya..yang pernah berhasil menguasai hatiku.
Aku pernah merasa bahagia, karenanya..yang pernah mampu melambungkan hatiku.
Aku pernah merasa kecewa, karenanya..yang pernah mengabaikanku.
Aku pernah merasa tak percaya lagi, karenanya..yang sempat pergi meninggalkanku, dan berbalik memintaku kembali.

Aku pernah merasakannya. Merasakan semua pahit-manisnya rasa dalam kehidupan. Tangis kesakitan, yang membuatku enggan kembali merasakan cinta. Hingga berujung pada hampanya perasaan. Hambar. Dan mati rasa.

Namun, jika bisa ku mengulang. Aku ingin kembali ke masa itu.
Masa dimana aku tersenyum karena cinta, dan menangis karena cinta.
Meski pedih, meski perih..
Setidaknya aku masih bisa 'merasa', bukan seperti sekarang...mati rasa...

---

Well, sebenernya story ini agak random. Gabungan antara kenyataan dan imajinasi. Hem..agak freaky sih, tapi gue nekat! :D
Ada yang baca atau nggak..nggak masalah. Tapi..pasti gue lebih seneng dan bersyukur kalau ada yang baca..ahahaha
Koment juga deng. Like? Terserah anda (•̯͡.•̯͡)
NAH! Ini baru..bener2 FINAL PART!
Finally, thanks for reading, thanks for coments, thanks for your thumb guys! Thanks for all support to me!

NB : kalimat yg gue kasih tanda * itu adalah lirik lagu Kepastiannya Rossa.

Tunggu cerpen random gue selanjutnya yah! Kalau minat :p judulnya, InsyaAllah...PDKT Gagal! Couplenya....


Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {5}

- Aku Pernah Merasa Bahagia... -

Aku pernah merasa bahagia. Bagaikan ribuan kelopak bunga menghujaniku. Bagaikan jutaan kembang api yang menghiasi langit mewarnai hari-hariku.


Aku teringat, saat dimana hanya ada aku dan dia di taman ini. Taman yang letaknya persis di belakang gedung sekolahku.
Saat itu. Saat dia menyatakan perasaan cintanya yang mampu melambungkan hatiku.

“Tau nggak, Fy? Gue selalu ngerasa sakit pas lagi jatuh.”

Aku mengangguk. “I know. Kalau jatuh nggak sakit, anak kecil nggak bakal nangis kali~”

Dia tertawa kecil. “Okay, tapi..buat gue, ada satu macam jatuh yang rasanya nggak sakit. Malah enak, bikin gue seneng.”

Aku mengernyit heran. “Really? Jatuh macam apa sih?”

Dia mengulum senyum, misterius sekali. “Jawabannya gue simpen dulu. Sekarang gue mau ngasih satu pertanyaan sama lo. Apa yang bakal lo lakuin setelah lo jatuh?”

“Ya bangun lah, masa tetep stay dibawah? Semua juga gitu kan?”

“Aku nggak.” Jawabnya cepat.

“Lho?”

Perlahan tangan kanannya bergerak naik, menyisipkan sejumput anak rambutku, ke belakang alat pendengarku.

“Satu macam jatuh yang nggak berasa sakit adalah jatuh cinta. Satu hal yang ngebuat aku nggak pengen bangun lagi setelah jatuh, juga jatuh cinta.”

Jeda. Ia mengambil tanganku dan menggenggamnya hangat.

“Dan yang aku rasain saat ini juga jatuh cinta. Disini, sama kamu.”

Aku pernah merasa bahagia. Seakan seluruh dunia berdoa akan diriku. Membuat senyuman indah pun enggan pergi dari bibirku.
***

Aku pernah merasa bahagia. Saat itu, bersamanya..dan karenanya..
•••

- Aku Pernah Merasa Kecewa... -

Aku pernah merasa kecewa. Seolah semua orang mengkhianatiku. Seolah semua orang pergi meninggalkanku.

Saat itu, saat dia benar-benar tak berada disisiku. Tanpa tahu aku sungguh membutuhkan kehadirannya.

“Yang sabar yah, Fy. Kalau lo nangis terus, bokap lo nggak bakal pernah tenang disana.”

Sivia. Sahabat yang selalu ada bersamaku, tanpa lelah terus menyabarkanku. Mengusap halus punggungku, dan terkadang membawaku dalam dekapan hangatnya.

Hal terberat sedang ku hadapi saat ini. Kehilangan satu-satunya teman hidupku--karena aku anak tunggal dan Ibuku telah berpulang sejak aku berumur 5th.
Dan aku bersyukur, masih ada Sivia disampingku.
Tapi, bolehkah aku berharap? Berharap akan kehadirannya? Berharap ia akan datang dan menenangkanku dalam pelukannya?

Harapan tinggal harapan. Sekeras apapun aku berdoa, jika Tuhan berkata 'tidak', semua takkan pernah terjadi.
Dan aku kecewa. Teramat kecewa, saat mendapati fakta tentangnya yang justru tengah berbahagia ditengah-tengah pesta gadis lain--entah siapa, bukan bersama ku yang sedang berduka.

'Aku butuh dia Tuhan, tapi kenapa dia tidak ada?'
***

Aku pernah merasa kecewa. Saat itu, kepadanya..

- continue -

Pendek? Banyak yg ga ngerti alurnya? Ngerasa alurnya kecepetan? Tiba2 jadian, dan ga lama langsung putus..
Okay, pertama..kenapa pendek? Karena idenya cuman segitu (•̯͡.•̯͡)
Kedua, soal alur...setelah gue pelajari (?) gue udah bisa nentuin kalau ini emang bener-bener make alur mundur. Nah makanya gue pake kata 'pernah' maksudnya itu kejadian udah dialami diwaktu sebelumnya gitu ohohoo
Soal alur yg cepet, karena ini formatnya mini story bukan cerbung dan tiap part berdasarkan 'rasa' (kayak part 1 kan lagi suka, part 2 lagi jatuh cinta) yang ada dihati gue (re. Ify dalam cerita ini) jadi ya gitulah *eh
Nah, terakhir juga ada yang nanya, “kok tiba2 jadian?” dan ada juga yang nanya “gimana jadiannya?” Udah terjawab dong dipart ini..ehehe
Btw, NP udah Final part yah..
Finish! Byebye~


Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {4}

- Aku Pernah Merasa Sakit... -

Aku pernah merasa sakit. Bagai ribuan pisau menghujam jantungku. Menuai luka menganga yang teramat membekas.


Aku sakit jika harus bertengkar dengannya. Aku sakit jika dia lebih membela gadis lain daripada aku. Aku sakit..

“Aduh, Fy. Suer deh, kemaren tuh aku sama Dea cuman jalan biasa doang. Kan kamu sendiri yang bilang, kamu nggak bisa pergi sama aku karena ada janji sama Sivia. Ya udah, aku pergi aja sama Dea.”

Memang benar. Tapi, itu bukan berarti dia bisa pergi dengan gadis lain tanpa sepengetahuanku kan?

“Tapi, apa perlu kamu perginya sama Dea? Pake gandengan segala lagi.” Dengusku kesal.

Dia memutar kedua bola matanya, kesal?

“Fy, please! Aku cuman jalan sama Dea, lagian yang ngegandeng kan Dea, bukan aku. Kenapa mesti diributin sih?!”

“Cuma kamu bilang? Apa pernah, kamu liat aku jalan sama cowok lain? Apa pernah, kamu liat aku digandeng sama cowok lain? Ap--”

“Stop it!” Dia menyelaku agak keras. “Masalah kecil kayak gini aja kamu besar-besarin. Gimana mau kelar?! Aku pulang aja.”

Dia berlalu, meninggalkanku yang masih terpaku ditempatku--disofa ruang tamu.

Aku sakit saat dia meninggalkanku tanpa menyelesaikan masalah ini.
***

Aku pernah merasa sakit. Saat ia mulai lelah. Saat semua ia putuskan untuk diakhiri saja.
“Aku udah nggak sanggup.” Ucapnya disuatu siang, saat kami tengah duduk santai didepan kolam ikan rumahku seperti biasa.

Aku yang sebelumnya tertunduk, mendongak. “Maksud kamu?” Tanyaku dengan alis terangkat.

Dia mendesah, lelah?
Diusapnya wajah yang datar itu dengan kedua tangannya.

“Aku rasa..kita cukup sampe disini aja, Fy. Aku nggak sanggup kalau harus ribut terus sama kamu. Aku nggak bisa kalau harus terus-terusan ngikutin cara kamu.”

Aku mengerjap sekali. Masih belum mengerti dengan semua yang diucapkannya.

“Serius, aku nggak ngerti.”

Dia nampak menggigit bibir bawahnya, sesaat sebelum menatapku. “Aku cinta kamu, aku sayang kamu. Tapi..bukan berarti aku harus ikutin aturan kamu. Aku punya pergaulan sendiri, dan itu nggak cuman sekedar sama kamu, teman-teman kamu atau teman-teman satu team-ku di club sepak bola.”

Jeda. Ia menghembuskan nafas sesaat.

“Aku juga pengen bebas bergaul dengan cewek lain, selain kamu, atau Sivia.”

Saliva-ku seakan tertahan, tersendat saat melewati tenggorokan.

“Cuman karena itu?” Tanyaku lirih.

“Itu nggak sekedar cuma, Fy! Buat aku, kamu sekarang udah berubah. Nggak kayak Ify yang dulu lagi. Kamu yang sekarang over protective. Dan aku nggak suka!”

“Aku kayak gitu karena aku nggak mau kehilangan kamu, Yo..”

“Tapi cara kamu salah! Please, Fy..jangan paksa aku. Kita bisa mulai kehidupan baru tanpa ada kata 'kita' diantara aku sama kamu.”

Sebuah kecupan hangat mendarat dikeningku. Tangannya yang hangat bergerak lembut menyusuri kulit pipiku. Kemudian, langkah lebarnya berlalu meninggalkanku.

Aku pernah merasa sakit. Saat itu, saat dia meninggalkanku..
***

- continue -

Sorry telat (•̪ -̮ •)♉

Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {3}

- Aku Pernah Merasa Cemburu... -
Aku pernah merasa cemburu. Bagaikan bara api menggerogoti hatiku. Badan ini terasa panas. Senyum pun seolah enggan menghampiri bibirku.
“Lo sama Rio beneran udah jadian?!” Jerit Sivia, bertanya. Saat ini kami sedang berada di PIM, menjalankan rencana kami sekitar 2 minggu yang lalu.

Memang tampangku seperti sedang berbohong? Aku mengangguk kesal.

“Egila, kapan PDKT-nya? Gue aja nggak pernah tau kalau elo suka sama dia.”

Aku menyeringai malu. Yah, aku termasuk tertutup untuk soal perasaan. Entahlah, aku terlalu malu untuk mengakui kalau aku menyukai seseorang, apalagi kalau aku mengakui sedang jatuh cinta..

“Yah, PDKT-nya biasa aja kok. Err..tapi bagi gue nggak biasa deh, secara lo tau kan, gimana sikap gue ke anak-anak cowok.”

Aku termasuk cewek yang tidak gampang akrab dengan cowok. Cowok manapun, sekalipun teman satu sekolah. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa Rio sempat ragu untuk mendekatiku--katanya waktu itu setelah menyatakan cinta padaku.

“I see! Pantes yah, lo suka ngeliatin anak-anak di club sepak bola, kecengan lo disana~”

Aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan Sivia. Tiba-tiba Sivia menepuk pundakku dengan heboh.

“Fy, Fy, Fy! Itu Rio kan? Kok sama Dea?”

Aku clingukan mencari kedua sosok yang disebut Sivia.
Dan benar saja, aku melihat keduanya tengah berjalan beriringan dengan satu cone ice cream ditangan masing-masing. Sesekali keduanya terlihat sedang tertawa bersama. Bahkan, Dea tanpa enggan memeluk sebelah lengan Rio.

Aku merasakan sebuah sentuhan hangat dipunggungku. Bergerak naik-turun seolah mendinginkan hatiku yang mendidih, panas.

“Mereka kok..mereka kok berdua sih, Vi?”

“Aduh, sabar Fy, kali aja mereka jalan atas dasar temen, lo jangan salah sangka dulu, lo tanya dia dulu ntar.”

Nafasku mulai memburu, mataku memanas. Dengan cepat aku meraih phonecell didalam saku celanaku, dan mendial nomer yang telah ku hafal diluar kepala.

Sial!
Tidak diangkat.

“Nggak diangkat, Vi.” Ucapku lirih.

Sivia kembali menenangkanku.

“Ugh, gimana yah, Fy? Atau gini aja, kita beli minum dulu. Ntar malem lo hubungin dia lagi, kali aja sekarang hp dia ke silent atau ketinggal dirumah gitu. Lagiankan besok bisa ketemu disekolah.”

“Yah..”

Aku menuruti keinginan Sivia. Aku butuh penjelasan, meski harus menunggu.
***

- continue -

Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {2}

- Aku Pernah Merasa Jatuh Cinta... -
Aku pernah merasa jatuh cinta. Bagaikan ribuan kupu-kupu mengepakkan sayapnya dalam perutku. Bagaikan rentak gendang yang bertalu dalam dadaku.
“Menurut lo, jatuh cinta itu gimana sih, Vi?”

Sivia menatapku dengan alis bertaut. Ada yang salah dengan pertanyaanku?

“Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?” Tanya Sivia, terdengar curiga.

Aku menggeleng. Kemudian meletakkan daguku pada kedua tangan yang bertumpu pada lututku.

“Pengen tau aja. Gue kan..belum pernah jatuh cinta.”

Sivia mencibir. “Huuu..bukan belum pernah kali, tapi belum nyadar.”

“Yah, mana gue tau, gue yang belum pernah atau emang belum nyadar kalau sekarang, gue tanya tanda-tanda jatuh cinta itu gimana aja, lo nggak ngasih tau.”

Sivia berdehem. “Hem..jatuh cinta yah? Kalau berdasarkan pengalaman gue sih..lo bakalan susah tidur karena sering ke inget dia, ya kalaupun bisa pasti jadi sering mimpiin dia. Makan rasanya nggak nafsu, lo lebih semangat pas nerima sms dia dibanding sms gue. Ya gitu deh, hal-hal yang dulunya lo nggak suka, lo nggak bisa kalau udah atas dasar kata 'karena atau demi dia' pasti jadi bisa.”

Aku mengangguk-angguk, paham. Pantas saja, semenjak dekat dengan Alvin, Sivia menjadi lebih semangat dengan hal-hal yang berbau basket. Setelah ku tanyakan, ternyata itu adalah salah satu hal yang bisa membuat ia dan Alvin menjadi lebih connect.

“Terus, Fy..lo pasti jadi lebih peka. Kalau dia ada didekat atau disekitar lo, meskipun lo awalnya nggak tau, tapi pasti lo bisa ngerasain.”

Benarkah?
Apa itu semacam telepati? Ikatan bathin? Ah, tapi kan yang merasa hanya aku. Dia?
Bukankah telepati atau pun ikatan bathin hanya teruntuk mereka-mereka yang saling menaruh hati? Atau kesimpulanku selama ini salah?

Tiba-tiba saja aku merasa degup jantungku berdetak lebih cepat. Entahlah, aku seperti merasakan..

“Latihan ntar sore, Yo! Jam setengah 4!”

Aku buru-buru menoleh ketika mendengar teriakan itu. Persis disaat itu, aku melihat sosoknya sedang berbalik ke belakang dengan jempol teracung.
Apa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya?
Apa feeling ku--tentang keberadaannya tadi, hanya kebetulan? Atau memang itu pembuktian atas penjelasan Sivia barusan?
***

Aku pernah jatuh cinta. Bagaikan kebahagian selalu menyelimutiku. Senyum ceria seolah enggan pergi dari bibirku. Meski hanya sebentar, diantara rinai hujan, asal berdua dengannya..semua terasa menyenangkan.

“Belum pulang, Fy?”

Aku mendongak dan tersenyum kikuk. Entah mengapa, dua hal itu selalu menjadi efek dari keterkejutanku saat melihatnya.

“Eh, belum, Yo. Kamu?”

Ia menadahkan kedua telapak tangannya di bawah rinai hujan, sambil menatap langit.
Aku menatap siluet samping wajahnya dengan seksama.

“Gue suka banget sama hujan, Fy.”

Aku tahu! Dia suka hujan dan suka bermain bola sambil mandi hujan.

“Apalagi kalau sambil main bola, rasanya seru terus makin semangat juga.”

Aku tersenyum. Ternyata pengetahuanku tidak salah.

“Biasanya, gue cuman ngerasain bahagianya hujan karena main bola. Tapi sekarang..gue juga ngerasain bahagianya hujan karena seseorang yang gue suka.”

Dia menatapku dan tersenyum kecil. Tanpa tahu segala macam perasaan berkecamuk dalam dadaku.
Ingin tahu. Penasaran. Tak suka.

“Disini, sama lo.” Ia kembali tersenyum, setelah sukses membuatku tertegun dengan sebuah pertanyaan didalam otakku, karena ucapannya barusan.

“Gue duluan yah!” Pamitnya menerobos hujan.

Maksudnya? Aku takut ini hanya GR-ku saja. Tapi..bukankah pernyataanya barusan menyiratkan kalau ia menyukaiku?
***

Aku pernah jatuh cinta. Saat itu, kepadanya..Rio
- continue -

Cheers!

@sugargirl08

Selasa, 09 Oktober 2012

Aku Pernah {1}

- Aku Pernah Merasa Suka... -

Aku pernah merasa suka. Kepada dia yang berwajah manis. Kepada dia yang memiliki senyum menawan. Kepada dia yang menarik perhatianku dengan sejuta pesonanya.
“Over ke gue bola nya, Yo!”

Wushh..bundaran hitam-putih itu pun melesat karena tendangannya.

Aku suka melihatnya bermain bola. Melarikan kedua tungkai kakinya yang terus 'menjaga' bola.

“Hehh! Ngeliatin apaan sih?”

Aku menoleh, kemudian tersenyum kikuk pada Sivia, sahabatku.

“Nggak, cuma iseng aja ngeliatin anak-anak main bola.”
***

Aku senang melihatnya tersenyum. Senyum yang meski bukan hanya untukku. Senyum yang walaupun bukan karenaku.

“Kenapa sih lo, bro, senyum-senyum mulu daritadi.”

Dia menggeleng sambil tetap mempertahankan senyumnya. Dari tempatku--beranda kelas, aku bisa menangkap pembicaraannya dengan teman-teman satu teamnya, di club sepak bola.

“Senyum itu ibadah.” Sahutnya.

“Kebanyakan senyum disangka gila.” Celetuk Gabriel--pemain sepak bola bernomer punggung 14, sekenanya.

Dan mereka pun tertawa bersama. Tanpa menyadari, bahwa disudut lain tempat mereka, ada aku yang juga ikut tersenyum karena dia.
Hingga kemudian, indera pendengarku menangkap derap langkah yang kian mendekat. Oh, dia dan teman-temannya.

Dag..dig..dug..
“Hi, Fy! Serius amat bacanya~”

Aku mengangkat wajahku yang tertunduk dan mengerjap. Terkejut ketika mendengar ia melewatiku dengan sebuah sapaan, disertai sebuah senyum menawan.
Aku tak mampu berucap, hanya mengangguk sekilas dengan senyuman kikuk. Sepertinya, dia juga tidak berharap balasan akan sapaannya.
Setelah membalas senyumku, ia berlalu bersama teman-temannya yang terlihat menggodanya. Menggodanya? Entahlah..
***

Aku suka melihatnya belajar. Wajah tampannya terlihat semakin menarik dengan raut serius itu.

“Yo! Ajarin gue yang nomer 3 dong..”

Dea. Salah satu siswi dikelasku--yang menurut kabar menaruh hati kepadanya, menghampiri dia yang sedang menekuni buku paket Fisika diatas meja.

“Sini deh!”

Dan gadis itu pun menempati bangku kosong disebelahnya. Bangku milik Alvin, kebetulan lelaki berwajah chinese itu sedang tidak masuk karena sakit.

Tanpa sadar aku mendesah. Kapan aku bisa seberani Dea untuk menghampirinya? Kapan aku bisa seperti gadis lain, yang tanpa sungkan menyapanya lebih dulu? Kapan..

“Kapan-kapan kita ke PIM yuk, Fy! Gue udah lama nih nggak ber-window shopping gitu..”

Ucapan Sivia yang mengejutkanku, membuatku tersadar dari lamun panjangku.

“Eh, iya deh, kapan-kapan.” Jawabku sekenanya.
***

Aku suka melihatnya. Aku suka memperhatikannya. Aku..suka semua tentangnya. Mengapa? Karena aku..
- continue -

Tau kok, ini aneh. Yah, agak ngebingungin juga nggak sih? :o
Err..ini rencananya bakal jadi beberapa part gitu (maybe 4-5 part).
Gue rasa, tulisan ini agak garing yah._. Mungkin karena gue udah lama nggak nulis-_-

Btw, alurnya agak beda dari cerita ber-part gue yang sebelumnya. Nggak ngerti sih, ini gue make alur mundur apa bukan :/ tapi kayaknya sih iya._.

Nggak berharap banyak yang ngelike sih, tapi gue berharap banget ada yang baca! Ahahaha
Buat yang udah baca, terima kasiiiiiiiihhhh~

Cheers!


@sugargirl08