A homepage subtitle here And an awesome description here!
Tampilkan postingan dengan label Mini cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mini cerbung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Aku Pernah {Final Part}

- Aku Pernah Merasa Tak Percaya Lagi.. -

Aku pernah merasa tak percaya lagi. Seperti kepada orang yang baru ku kenal. Membutuhkan proses agar bisa kembali mendapatkan kata percaya itu lagi.
Saat itu. Saat dia memintaku untuk kembali, mengisi hari-harinya lagi.

“Kasih aku satu kesempatan, untuk kita sama-sama lagi, Fy. Kita perbaikin semuanya sama-sama.”

Tanganku membeku dalam genggamannya. Aku tak ingin membalas tatapannya. Semua masih terasa sakit disana, disuatu tempat yang tak bisa dia lihat, hatiku.

“Kamu yang minta 'udahan', Yo--”

“--dan sekarang izinkan aku untuk minta 'lanjut' lagi sama kamu.” Potongnya cepat.


*Ohh..Mengapa? Mengapa kau tak mengerti halusnya perasaanku, kau goreskan keraguan..*


Aku memejamkan kedua mataku. Mencari jawaban yang paling tepat untuknya.
Aku berusaha memunculkan kembali kenangan-kenangan kebersamaan kami. Namun, bayangan tentang kesakitanku ikut menghampiri.
Rasanya..susah untuk -langsung- percaya lagi.

Aku menghembuskan nafas, lirih.

*Namun ku menyayangimu walau hilang percayaku, biar cinta menuntunku..untukmu..*

“Maaf, Yo. Aku ngga bisa..”

Dia melepaskan tanganku--dengan cepat, yang sebelumnya berada dalam genggamannya. Kemudian, kedua tangan kokohnya beralih pada kedua pundakku, dan diguncangnya pelan.

“Bohong! Kamu masih sayang sama aku, dan aku bisa rasain itu. Karena aku juga sama, masih sayang sama kamu. Please jangan bohongin perasaan kamu sendiri, Fy!”

“Kemana kamu waktu papah aku meninggal? Waktu aku butuh support saat aku bener-bener down? Aku butuh banget semangat dari kamu tapi kamu malah having fun sama Dea!” Ucapku tak terkendali.

“Maaf..” Lirihnya.

Aku memejamkan mataku sebentar. “Kamu yang memutuskan, nggak ada lagi kata 'kita' diantara aku sama kamu. Dan aku penuhin itu. Sekarang kamu bilang kamu pengen memperbaiki semuanya?”

Dia memandangku dengan tatapan memohon.

“Perlu waktu buat aku bener-bener bisa berani menunjukkan perasaan aku ke kamu, Yo. Perlu waktu buat aku menata hati lagi setelah kamu mutusin buat udahan. Dan..sekarang, aku juga perlu waktu untuk bener-bener bisa kembali lagi sama kamu.”

“Maaf. Mestinya, aku tau itu..” Dia menatapku dalam. ”Dan aku janji akan nunggu saat itu.”

“Dan sebelum saat itu tiba, kalau kamu emang udah nggak sanggup, aku nggak ngelarang kamu untuk pergi, dan ninggalin janji kamu ini.

Aku pernah merasa tak percaya lagi. Meski dia berusaha sekuat hati, namun diri ini tak bisa dipaksakan. Krisis kepercayaan? Yah, kekecewaan memang selalu berdampak pada krisis kepercayaankan?
***

Aku pernah merasa tak percaya lagi. Saat itu, karenanya..

•••


Aku sedang merasakan mati rasa. Hampa. Kosong. Tak ada bahagia, sebahagia dulu lagi. Tak ada sedih, sesedih dulu lagi. Semua bagaikan biasa saja.

“Fy, ada salam dari Gabriel.” Ucap Sivia yang baru saja mengambil tempat disebelahku. Ia menyodorkan gelas minuman pesananku, kemudian menyantap pesanannya.

“Terus, gue harus bales salam dia lagi, gitu?” Tanyaku malas. 'Tisam' dari Gabriel bukan kali ini saja ku dapatkan, tapi..entahlah, aku lupa sudah berapa banyak.

“Dihhh..lo gitu banget sih, baru pacaran sekali tapi patah hatinya udah parah banget, sampe trauma gitu. Untung baru pacaran, gimana kalau dulu lo udah merried ama Rio, jadi perawan tua kali.” Ucapnya. “Duhh, kok gue dijitak sih?!”

Aku memutar kedua bola mataku dengan kesal. “Masa lalu, please... Lagian, siapa yang trauma pacaran coba?”

“Lah terus, kenapa lo ga pernah pacaran lagi? Kenapa lo selalu jaga jarak tiap ada cowok yang PDKT? Kenapa lo anti banget sama Gabriel?” Jeda. Sivia menatapku dengan lekat, sesaat. “Bukan karena lo masih ngarepin Rio, kan?”

“Nggaklah!” Bantahku cepat. “Ada juga Rio kali yang masih ngarepin gue~”

Sivia mengangguk berulang-ulang. “Ohh iya juga yah? Kan dia udah nyesel banget karena mutusin lo, sampe rela ga pacaran demi nunggu elo nerima dia lagi.” Kemudian Sivia menggeleng.

“Ya udahlah, Fy. Pokoknya, kalau oneday lo berubah pikiran, lo berniat buat ngebuka hati sama Gabriel, tell me please...” Ucapnya setengah memohon.

Aku tertawa kecil. “Nggak janji yah, siapa tau gue berubah pikiran, tapi ga berniat buat ngebuka hati gue untuk Gabriel.”

“Terus, buat siapa?”

“Al..vin, mungkin?” Jawabku setengah menggoda.

Sivia mendelik. “Nggak boleh!” Tegasnya setengah menjerit.


Aku seperti sedang mati rasa. Bukan tak lagi bahagia, hanya saja..kebahagian ini tak sama. Tak seperti dulu, ketika bersamanya.
Kapankah aku berhenti 'mati rasa'?

•••

Aku pernah merasa suka, kepadanya..seorang pemuda yang akhirnya mengisi hariku.
Aku pernah merasa jatuh cinta, kepadanya..yang kemudian menyatakan isi hatinya kepadaku.
Aku pernah merasa cemburu, karenanya..yang pernah berhasil menguasai hatiku.
Aku pernah merasa bahagia, karenanya..yang pernah mampu melambungkan hatiku.
Aku pernah merasa kecewa, karenanya..yang pernah mengabaikanku.
Aku pernah merasa tak percaya lagi, karenanya..yang sempat pergi meninggalkanku, dan berbalik memintaku kembali.

Aku pernah merasakannya. Merasakan semua pahit-manisnya rasa dalam kehidupan. Tangis kesakitan, yang membuatku enggan kembali merasakan cinta. Hingga berujung pada hampanya perasaan. Hambar. Dan mati rasa.

Namun, jika bisa ku mengulang. Aku ingin kembali ke masa itu.
Masa dimana aku tersenyum karena cinta, dan menangis karena cinta.
Meski pedih, meski perih..
Setidaknya aku masih bisa 'merasa', bukan seperti sekarang...mati rasa...

---

Well, sebenernya story ini agak random. Gabungan antara kenyataan dan imajinasi. Hem..agak freaky sih, tapi gue nekat! :D
Ada yang baca atau nggak..nggak masalah. Tapi..pasti gue lebih seneng dan bersyukur kalau ada yang baca..ahahaha
Koment juga deng. Like? Terserah anda (•̯͡.•̯͡)
NAH! Ini baru..bener2 FINAL PART!
Finally, thanks for reading, thanks for coments, thanks for your thumb guys! Thanks for all support to me!

NB : kalimat yg gue kasih tanda * itu adalah lirik lagu Kepastiannya Rossa.

Tunggu cerpen random gue selanjutnya yah! Kalau minat :p judulnya, InsyaAllah...PDKT Gagal! Couplenya....


Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {5}

- Aku Pernah Merasa Bahagia... -

Aku pernah merasa bahagia. Bagaikan ribuan kelopak bunga menghujaniku. Bagaikan jutaan kembang api yang menghiasi langit mewarnai hari-hariku.


Aku teringat, saat dimana hanya ada aku dan dia di taman ini. Taman yang letaknya persis di belakang gedung sekolahku.
Saat itu. Saat dia menyatakan perasaan cintanya yang mampu melambungkan hatiku.

“Tau nggak, Fy? Gue selalu ngerasa sakit pas lagi jatuh.”

Aku mengangguk. “I know. Kalau jatuh nggak sakit, anak kecil nggak bakal nangis kali~”

Dia tertawa kecil. “Okay, tapi..buat gue, ada satu macam jatuh yang rasanya nggak sakit. Malah enak, bikin gue seneng.”

Aku mengernyit heran. “Really? Jatuh macam apa sih?”

Dia mengulum senyum, misterius sekali. “Jawabannya gue simpen dulu. Sekarang gue mau ngasih satu pertanyaan sama lo. Apa yang bakal lo lakuin setelah lo jatuh?”

“Ya bangun lah, masa tetep stay dibawah? Semua juga gitu kan?”

“Aku nggak.” Jawabnya cepat.

“Lho?”

Perlahan tangan kanannya bergerak naik, menyisipkan sejumput anak rambutku, ke belakang alat pendengarku.

“Satu macam jatuh yang nggak berasa sakit adalah jatuh cinta. Satu hal yang ngebuat aku nggak pengen bangun lagi setelah jatuh, juga jatuh cinta.”

Jeda. Ia mengambil tanganku dan menggenggamnya hangat.

“Dan yang aku rasain saat ini juga jatuh cinta. Disini, sama kamu.”

Aku pernah merasa bahagia. Seakan seluruh dunia berdoa akan diriku. Membuat senyuman indah pun enggan pergi dari bibirku.
***

Aku pernah merasa bahagia. Saat itu, bersamanya..dan karenanya..
•••

- Aku Pernah Merasa Kecewa... -

Aku pernah merasa kecewa. Seolah semua orang mengkhianatiku. Seolah semua orang pergi meninggalkanku.

Saat itu, saat dia benar-benar tak berada disisiku. Tanpa tahu aku sungguh membutuhkan kehadirannya.

“Yang sabar yah, Fy. Kalau lo nangis terus, bokap lo nggak bakal pernah tenang disana.”

Sivia. Sahabat yang selalu ada bersamaku, tanpa lelah terus menyabarkanku. Mengusap halus punggungku, dan terkadang membawaku dalam dekapan hangatnya.

Hal terberat sedang ku hadapi saat ini. Kehilangan satu-satunya teman hidupku--karena aku anak tunggal dan Ibuku telah berpulang sejak aku berumur 5th.
Dan aku bersyukur, masih ada Sivia disampingku.
Tapi, bolehkah aku berharap? Berharap akan kehadirannya? Berharap ia akan datang dan menenangkanku dalam pelukannya?

Harapan tinggal harapan. Sekeras apapun aku berdoa, jika Tuhan berkata 'tidak', semua takkan pernah terjadi.
Dan aku kecewa. Teramat kecewa, saat mendapati fakta tentangnya yang justru tengah berbahagia ditengah-tengah pesta gadis lain--entah siapa, bukan bersama ku yang sedang berduka.

'Aku butuh dia Tuhan, tapi kenapa dia tidak ada?'
***

Aku pernah merasa kecewa. Saat itu, kepadanya..

- continue -

Pendek? Banyak yg ga ngerti alurnya? Ngerasa alurnya kecepetan? Tiba2 jadian, dan ga lama langsung putus..
Okay, pertama..kenapa pendek? Karena idenya cuman segitu (•̯͡.•̯͡)
Kedua, soal alur...setelah gue pelajari (?) gue udah bisa nentuin kalau ini emang bener-bener make alur mundur. Nah makanya gue pake kata 'pernah' maksudnya itu kejadian udah dialami diwaktu sebelumnya gitu ohohoo
Soal alur yg cepet, karena ini formatnya mini story bukan cerbung dan tiap part berdasarkan 'rasa' (kayak part 1 kan lagi suka, part 2 lagi jatuh cinta) yang ada dihati gue (re. Ify dalam cerita ini) jadi ya gitulah *eh
Nah, terakhir juga ada yang nanya, “kok tiba2 jadian?” dan ada juga yang nanya “gimana jadiannya?” Udah terjawab dong dipart ini..ehehe
Btw, NP udah Final part yah..
Finish! Byebye~


Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {4}

- Aku Pernah Merasa Sakit... -

Aku pernah merasa sakit. Bagai ribuan pisau menghujam jantungku. Menuai luka menganga yang teramat membekas.


Aku sakit jika harus bertengkar dengannya. Aku sakit jika dia lebih membela gadis lain daripada aku. Aku sakit..

“Aduh, Fy. Suer deh, kemaren tuh aku sama Dea cuman jalan biasa doang. Kan kamu sendiri yang bilang, kamu nggak bisa pergi sama aku karena ada janji sama Sivia. Ya udah, aku pergi aja sama Dea.”

Memang benar. Tapi, itu bukan berarti dia bisa pergi dengan gadis lain tanpa sepengetahuanku kan?

“Tapi, apa perlu kamu perginya sama Dea? Pake gandengan segala lagi.” Dengusku kesal.

Dia memutar kedua bola matanya, kesal?

“Fy, please! Aku cuman jalan sama Dea, lagian yang ngegandeng kan Dea, bukan aku. Kenapa mesti diributin sih?!”

“Cuma kamu bilang? Apa pernah, kamu liat aku jalan sama cowok lain? Apa pernah, kamu liat aku digandeng sama cowok lain? Ap--”

“Stop it!” Dia menyelaku agak keras. “Masalah kecil kayak gini aja kamu besar-besarin. Gimana mau kelar?! Aku pulang aja.”

Dia berlalu, meninggalkanku yang masih terpaku ditempatku--disofa ruang tamu.

Aku sakit saat dia meninggalkanku tanpa menyelesaikan masalah ini.
***

Aku pernah merasa sakit. Saat ia mulai lelah. Saat semua ia putuskan untuk diakhiri saja.
“Aku udah nggak sanggup.” Ucapnya disuatu siang, saat kami tengah duduk santai didepan kolam ikan rumahku seperti biasa.

Aku yang sebelumnya tertunduk, mendongak. “Maksud kamu?” Tanyaku dengan alis terangkat.

Dia mendesah, lelah?
Diusapnya wajah yang datar itu dengan kedua tangannya.

“Aku rasa..kita cukup sampe disini aja, Fy. Aku nggak sanggup kalau harus ribut terus sama kamu. Aku nggak bisa kalau harus terus-terusan ngikutin cara kamu.”

Aku mengerjap sekali. Masih belum mengerti dengan semua yang diucapkannya.

“Serius, aku nggak ngerti.”

Dia nampak menggigit bibir bawahnya, sesaat sebelum menatapku. “Aku cinta kamu, aku sayang kamu. Tapi..bukan berarti aku harus ikutin aturan kamu. Aku punya pergaulan sendiri, dan itu nggak cuman sekedar sama kamu, teman-teman kamu atau teman-teman satu team-ku di club sepak bola.”

Jeda. Ia menghembuskan nafas sesaat.

“Aku juga pengen bebas bergaul dengan cewek lain, selain kamu, atau Sivia.”

Saliva-ku seakan tertahan, tersendat saat melewati tenggorokan.

“Cuman karena itu?” Tanyaku lirih.

“Itu nggak sekedar cuma, Fy! Buat aku, kamu sekarang udah berubah. Nggak kayak Ify yang dulu lagi. Kamu yang sekarang over protective. Dan aku nggak suka!”

“Aku kayak gitu karena aku nggak mau kehilangan kamu, Yo..”

“Tapi cara kamu salah! Please, Fy..jangan paksa aku. Kita bisa mulai kehidupan baru tanpa ada kata 'kita' diantara aku sama kamu.”

Sebuah kecupan hangat mendarat dikeningku. Tangannya yang hangat bergerak lembut menyusuri kulit pipiku. Kemudian, langkah lebarnya berlalu meninggalkanku.

Aku pernah merasa sakit. Saat itu, saat dia meninggalkanku..
***

- continue -

Sorry telat (•̪ -̮ •)♉

Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {3}

- Aku Pernah Merasa Cemburu... -
Aku pernah merasa cemburu. Bagaikan bara api menggerogoti hatiku. Badan ini terasa panas. Senyum pun seolah enggan menghampiri bibirku.
“Lo sama Rio beneran udah jadian?!” Jerit Sivia, bertanya. Saat ini kami sedang berada di PIM, menjalankan rencana kami sekitar 2 minggu yang lalu.

Memang tampangku seperti sedang berbohong? Aku mengangguk kesal.

“Egila, kapan PDKT-nya? Gue aja nggak pernah tau kalau elo suka sama dia.”

Aku menyeringai malu. Yah, aku termasuk tertutup untuk soal perasaan. Entahlah, aku terlalu malu untuk mengakui kalau aku menyukai seseorang, apalagi kalau aku mengakui sedang jatuh cinta..

“Yah, PDKT-nya biasa aja kok. Err..tapi bagi gue nggak biasa deh, secara lo tau kan, gimana sikap gue ke anak-anak cowok.”

Aku termasuk cewek yang tidak gampang akrab dengan cowok. Cowok manapun, sekalipun teman satu sekolah. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa Rio sempat ragu untuk mendekatiku--katanya waktu itu setelah menyatakan cinta padaku.

“I see! Pantes yah, lo suka ngeliatin anak-anak di club sepak bola, kecengan lo disana~”

Aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan Sivia. Tiba-tiba Sivia menepuk pundakku dengan heboh.

“Fy, Fy, Fy! Itu Rio kan? Kok sama Dea?”

Aku clingukan mencari kedua sosok yang disebut Sivia.
Dan benar saja, aku melihat keduanya tengah berjalan beriringan dengan satu cone ice cream ditangan masing-masing. Sesekali keduanya terlihat sedang tertawa bersama. Bahkan, Dea tanpa enggan memeluk sebelah lengan Rio.

Aku merasakan sebuah sentuhan hangat dipunggungku. Bergerak naik-turun seolah mendinginkan hatiku yang mendidih, panas.

“Mereka kok..mereka kok berdua sih, Vi?”

“Aduh, sabar Fy, kali aja mereka jalan atas dasar temen, lo jangan salah sangka dulu, lo tanya dia dulu ntar.”

Nafasku mulai memburu, mataku memanas. Dengan cepat aku meraih phonecell didalam saku celanaku, dan mendial nomer yang telah ku hafal diluar kepala.

Sial!
Tidak diangkat.

“Nggak diangkat, Vi.” Ucapku lirih.

Sivia kembali menenangkanku.

“Ugh, gimana yah, Fy? Atau gini aja, kita beli minum dulu. Ntar malem lo hubungin dia lagi, kali aja sekarang hp dia ke silent atau ketinggal dirumah gitu. Lagiankan besok bisa ketemu disekolah.”

“Yah..”

Aku menuruti keinginan Sivia. Aku butuh penjelasan, meski harus menunggu.
***

- continue -

Cheers!

@sugargirl08

Aku Pernah {2}

- Aku Pernah Merasa Jatuh Cinta... -
Aku pernah merasa jatuh cinta. Bagaikan ribuan kupu-kupu mengepakkan sayapnya dalam perutku. Bagaikan rentak gendang yang bertalu dalam dadaku.
“Menurut lo, jatuh cinta itu gimana sih, Vi?”

Sivia menatapku dengan alis bertaut. Ada yang salah dengan pertanyaanku?

“Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?” Tanya Sivia, terdengar curiga.

Aku menggeleng. Kemudian meletakkan daguku pada kedua tangan yang bertumpu pada lututku.

“Pengen tau aja. Gue kan..belum pernah jatuh cinta.”

Sivia mencibir. “Huuu..bukan belum pernah kali, tapi belum nyadar.”

“Yah, mana gue tau, gue yang belum pernah atau emang belum nyadar kalau sekarang, gue tanya tanda-tanda jatuh cinta itu gimana aja, lo nggak ngasih tau.”

Sivia berdehem. “Hem..jatuh cinta yah? Kalau berdasarkan pengalaman gue sih..lo bakalan susah tidur karena sering ke inget dia, ya kalaupun bisa pasti jadi sering mimpiin dia. Makan rasanya nggak nafsu, lo lebih semangat pas nerima sms dia dibanding sms gue. Ya gitu deh, hal-hal yang dulunya lo nggak suka, lo nggak bisa kalau udah atas dasar kata 'karena atau demi dia' pasti jadi bisa.”

Aku mengangguk-angguk, paham. Pantas saja, semenjak dekat dengan Alvin, Sivia menjadi lebih semangat dengan hal-hal yang berbau basket. Setelah ku tanyakan, ternyata itu adalah salah satu hal yang bisa membuat ia dan Alvin menjadi lebih connect.

“Terus, Fy..lo pasti jadi lebih peka. Kalau dia ada didekat atau disekitar lo, meskipun lo awalnya nggak tau, tapi pasti lo bisa ngerasain.”

Benarkah?
Apa itu semacam telepati? Ikatan bathin? Ah, tapi kan yang merasa hanya aku. Dia?
Bukankah telepati atau pun ikatan bathin hanya teruntuk mereka-mereka yang saling menaruh hati? Atau kesimpulanku selama ini salah?

Tiba-tiba saja aku merasa degup jantungku berdetak lebih cepat. Entahlah, aku seperti merasakan..

“Latihan ntar sore, Yo! Jam setengah 4!”

Aku buru-buru menoleh ketika mendengar teriakan itu. Persis disaat itu, aku melihat sosoknya sedang berbalik ke belakang dengan jempol teracung.
Apa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya?
Apa feeling ku--tentang keberadaannya tadi, hanya kebetulan? Atau memang itu pembuktian atas penjelasan Sivia barusan?
***

Aku pernah jatuh cinta. Bagaikan kebahagian selalu menyelimutiku. Senyum ceria seolah enggan pergi dari bibirku. Meski hanya sebentar, diantara rinai hujan, asal berdua dengannya..semua terasa menyenangkan.

“Belum pulang, Fy?”

Aku mendongak dan tersenyum kikuk. Entah mengapa, dua hal itu selalu menjadi efek dari keterkejutanku saat melihatnya.

“Eh, belum, Yo. Kamu?”

Ia menadahkan kedua telapak tangannya di bawah rinai hujan, sambil menatap langit.
Aku menatap siluet samping wajahnya dengan seksama.

“Gue suka banget sama hujan, Fy.”

Aku tahu! Dia suka hujan dan suka bermain bola sambil mandi hujan.

“Apalagi kalau sambil main bola, rasanya seru terus makin semangat juga.”

Aku tersenyum. Ternyata pengetahuanku tidak salah.

“Biasanya, gue cuman ngerasain bahagianya hujan karena main bola. Tapi sekarang..gue juga ngerasain bahagianya hujan karena seseorang yang gue suka.”

Dia menatapku dan tersenyum kecil. Tanpa tahu segala macam perasaan berkecamuk dalam dadaku.
Ingin tahu. Penasaran. Tak suka.

“Disini, sama lo.” Ia kembali tersenyum, setelah sukses membuatku tertegun dengan sebuah pertanyaan didalam otakku, karena ucapannya barusan.

“Gue duluan yah!” Pamitnya menerobos hujan.

Maksudnya? Aku takut ini hanya GR-ku saja. Tapi..bukankah pernyataanya barusan menyiratkan kalau ia menyukaiku?
***

Aku pernah jatuh cinta. Saat itu, kepadanya..Rio
- continue -

Cheers!

@sugargirl08

Selasa, 09 Oktober 2012

Aku Pernah {1}

- Aku Pernah Merasa Suka... -

Aku pernah merasa suka. Kepada dia yang berwajah manis. Kepada dia yang memiliki senyum menawan. Kepada dia yang menarik perhatianku dengan sejuta pesonanya.
“Over ke gue bola nya, Yo!”

Wushh..bundaran hitam-putih itu pun melesat karena tendangannya.

Aku suka melihatnya bermain bola. Melarikan kedua tungkai kakinya yang terus 'menjaga' bola.

“Hehh! Ngeliatin apaan sih?”

Aku menoleh, kemudian tersenyum kikuk pada Sivia, sahabatku.

“Nggak, cuma iseng aja ngeliatin anak-anak main bola.”
***

Aku senang melihatnya tersenyum. Senyum yang meski bukan hanya untukku. Senyum yang walaupun bukan karenaku.

“Kenapa sih lo, bro, senyum-senyum mulu daritadi.”

Dia menggeleng sambil tetap mempertahankan senyumnya. Dari tempatku--beranda kelas, aku bisa menangkap pembicaraannya dengan teman-teman satu teamnya, di club sepak bola.

“Senyum itu ibadah.” Sahutnya.

“Kebanyakan senyum disangka gila.” Celetuk Gabriel--pemain sepak bola bernomer punggung 14, sekenanya.

Dan mereka pun tertawa bersama. Tanpa menyadari, bahwa disudut lain tempat mereka, ada aku yang juga ikut tersenyum karena dia.
Hingga kemudian, indera pendengarku menangkap derap langkah yang kian mendekat. Oh, dia dan teman-temannya.

Dag..dig..dug..
“Hi, Fy! Serius amat bacanya~”

Aku mengangkat wajahku yang tertunduk dan mengerjap. Terkejut ketika mendengar ia melewatiku dengan sebuah sapaan, disertai sebuah senyum menawan.
Aku tak mampu berucap, hanya mengangguk sekilas dengan senyuman kikuk. Sepertinya, dia juga tidak berharap balasan akan sapaannya.
Setelah membalas senyumku, ia berlalu bersama teman-temannya yang terlihat menggodanya. Menggodanya? Entahlah..
***

Aku suka melihatnya belajar. Wajah tampannya terlihat semakin menarik dengan raut serius itu.

“Yo! Ajarin gue yang nomer 3 dong..”

Dea. Salah satu siswi dikelasku--yang menurut kabar menaruh hati kepadanya, menghampiri dia yang sedang menekuni buku paket Fisika diatas meja.

“Sini deh!”

Dan gadis itu pun menempati bangku kosong disebelahnya. Bangku milik Alvin, kebetulan lelaki berwajah chinese itu sedang tidak masuk karena sakit.

Tanpa sadar aku mendesah. Kapan aku bisa seberani Dea untuk menghampirinya? Kapan aku bisa seperti gadis lain, yang tanpa sungkan menyapanya lebih dulu? Kapan..

“Kapan-kapan kita ke PIM yuk, Fy! Gue udah lama nih nggak ber-window shopping gitu..”

Ucapan Sivia yang mengejutkanku, membuatku tersadar dari lamun panjangku.

“Eh, iya deh, kapan-kapan.” Jawabku sekenanya.
***

Aku suka melihatnya. Aku suka memperhatikannya. Aku..suka semua tentangnya. Mengapa? Karena aku..
- continue -

Tau kok, ini aneh. Yah, agak ngebingungin juga nggak sih? :o
Err..ini rencananya bakal jadi beberapa part gitu (maybe 4-5 part).
Gue rasa, tulisan ini agak garing yah._. Mungkin karena gue udah lama nggak nulis-_-

Btw, alurnya agak beda dari cerita ber-part gue yang sebelumnya. Nggak ngerti sih, ini gue make alur mundur apa bukan :/ tapi kayaknya sih iya._.

Nggak berharap banyak yang ngelike sih, tapi gue berharap banget ada yang baca! Ahahaha
Buat yang udah baca, terima kasiiiiiiiihhhh~

Cheers!


@sugargirl08

Minggu, 01 April 2012

Tulisan Gue!



Tulisan-tulisan gue! Hasil karya pribadi yang 100% asli!

• Cinta Pertama Pada Pandangan Pertama. Cerbung perdana, terdiri dari 20 part. Dengan special couple Ocha. First posted on facebook (Nia Stevania/Nia_rasyied@ovi.com), 10 agustus 2010.
• ‎Yang Terbaik Bagimu (Untuk Ayah). Cerpen perdana, dengan main character dari semua personel FB Band (Iza, Arry, Iwan, Dimas & Satria). Sudah pernah dicopast sama salah satu Fb luver.
• With Love. Cerbung kedua, dengan special couple RiFy! Belum ending-atau mungkin tanpa ending. First posted on facebook (Nia Stevania), 30 oktober 2010.
•Cinta Pertamaku, Cinta Terakhirmu. Cerpen IC pertama, dengan special couple RiFy! Sad ending.  Posted on Nia Stevania (facebook), 25 maret 2011. Sudah dicopast, tepatnya tanggal 01 april​ 2012 dengan usname fb "Phely Ana Scania".
•Tentang Sebuah Kisah : Aku, Dia Dan Mereka. Mini cerbung pertama, dengan special couple RiFy. Terdiri dari 5 part. First posted on facebook, 21 april 2011.
•Love In The Difference. Cerpen RiFy sad ending.
• Kisah Lalu : Mudah Saja (Buat loe, tapi nggak buat gue). Cerpen FyEl pertama.
• There Still a Rainbow, After The Rain. Cerpen dengan couple RiFy di opening cerita, dan berakhir dengan couple AlFy!
•Memories. Mini cerbung kedua, dengan special tokoh, Ify. Terdiri dari 11 part, diambil dari kisah nyata masa SMP. First posted on facebook, 14 februari 2012.
• Bukan Untuk Bersatu. Cerpen RiFy dengan happy ending tanpa kenyataan bersatunya hubungan mereka (?).
• Kalau Rio Jatuh Cinta. Cerpen RiFy dengan 100% happy ending.
• Cinta Untuk Rio. Cerpen RiFy yang -juga- 100% happy ending.
• Angkuh. Cerpen RiFy dengan happy ending.
• Tentangnya (Mantan Kekasihku). Cerpen RiFy, antara happy ending dan sad ending. Sedikit menggantung.
• Aku (Masih) Ingin Bersamanya. Cerpen CaFy pertama, sedikit religius (?).
• Ada Yang Selalu Ada. Flashfiction, dengan main character, Andrean & Nia. Posted on facebook (Nia Stevania/Nia_rasyied@ovi.com), 04 februari 2012. Postingan pertama di http://niastevania.blogspot.com/.
• Ada Yang Selalu Ada..sekuel. Sambungan dari ff Ada Yang Selalu Ada. Baru diposting di http://niastevania.blogspot.com/.
• Just a Dream. Cerpen dengan dua versi, RiFy & Andrean-Nia. Diposting 4 kali, versi RiFy difb Nia Stevania II, versi Andrean-Nia difb Nia Stevania. Direpost lagi (kedua-duanya) di http://niastevania.blogspot.com/.
• Memujamu. Cerpen RiFy, diposting di fb Nia Stevania II.
• Indah Pada Waktunya. Cerpen RiFy posted on Nia Stevania II (facebook).
• Cinta. Cerpen RiFy posted on Nia Stevania II. Especially for Rise and RFM. Sebagai hadiah anniv RFM + kado ultah buat Rio.
• Inginku. Cerpen AlFy kedua. Posted on Nia Stevania II.
• Sang Waktu. Cerpen RiFy. Posted on Nia Stevania II.
• Terlambat. Cerpen dengan awalan AlFy dan berakhir RiFy. Posted on Nia Stevania II.
• Dulu, Hari Ini Dan Selamanya. Cerpen RiFy. Posted on Nia Stevania II.
• Suka Padamu. Cerpen CaGni pertama. Posted on Nia Stevania II.
• Sekali Ini Saja. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Dan Bila. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Dibawah Rinai Hujan. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Dia 'peri cintaku'. Cerpen RiFy, terinspirasi dari masa lalu. Posted on Nia Stevania II.
• Hanya Jadi Sahabatmu. Cerpen antara AlFy & RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Berakhir. Cerpen RiFy, posted on Nia Stevania II.
• Jatuh Cinta (dag dig dug). Cerpen new release, dengan special tokoh RiFy!

Semua cerpen, cerbung dan mini cerbung di atas adalah 100% tulisan gue pribadi. Yang dua diantaranya sudah dicopast sama orang lain. Dan parahnya, baru mengirimkan komentar, gue diremove! Nggak punya skill tapi pengen terlihat bisa. Loser!
Sekali lagi, gue nggak meminta like yang banyak sebagai bentuk penghargaan atas apa yang gue tulis. Cukup nggak ngopast, dan ngakuin tulisan gue sebagai hak/karya pribadi aja udah cukup buat gue! Kalau pun berniat ngopast-lebih halusnya ngerepost ulang, tolong izin! Dan sertain nama gue sebagai penulis aslinya!

Nb : semua cerpen, cerbung dan mini cerbung di atas gue posting di fb Nia Stevania, Nia Stevania II, akun saling sapa gue kalau nggak salah 'Nhiya', akun netlog gue 'Nia_Stevania' dan blog pribadi gue http://niastevania.blogspot.com/

Wassalam..

Nia 'nistev' stevania_

Rabu, 20 April 2011

"_Tentang Sebuah Kisah : Aku, dia dan mereka_" Ending



Ini sebuah kisah. Tentang aku, dia dan mereka. Tentang perasaan, penyesalan dan pegharapan. Tentang dia ‎yang terlalu mudah untuk ku cinta dan terlalu sulit untuk ku lupakan.
Dan inilah sebuah kisah, tentang cinta ‎yang terlalu sulit untuk ku akui kehadirannya. Hingga membawa ku pada penyesalan dan hanya bisa berharap semoga kita akan dipertemukan kembali.....


Bagian 5


»» Waktu yang dinanti. Semoga saat waktu itu tiba aku tidak akan menelan kekecewaan. Dan kini saatnya aku mempersiapkan diri untuk semuanya ««

Aku mengetuk-ngetukkan pulpenku ke atas meja. Lembar buku tulis dihadapanku masih kosong. Tugas yang diberikan Bu Ira sebelum beliau meninggalkan kelas belum satu pun ku kerjakan. Aku sedang memikirkan waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku kepada dia. Jangan sampai semua usahaku menjadi sia-sia. Setidaknya..secepatnya aku harus menyampaikan isi hatiku kepada dia. Kalau tidak, Debo akan mendahuluiku. Apalagi beberapa hari belakangan ini ku lihat Debo semakin sering mendekati dia. Saat ini pun Debo sedang meminta bantuan dia untuk mengerjakan tugas pemberian Bu Ira. Huhhhh...ayolah Rio, semangat...kalau jodoh tidak akan kemana

"Eh bro, kenapa lo"

Aku mendengus kesal kepada Alvin yang duduk dibelakangku. Tepukannya barusan terasa keras bagi orang yang sedang melamun sepertiku, yah meskipun pada kenyataannya tepukan itu sangat lemah

"BT...gak semangat"jawabku malas

"Gara-gara Debo..??"aku memutar pandanganku ke depan setelah mendengar pertanyaan Gabriel "dia.."Gabriel menunjuk Debo dengan pulpennya "..kalau dibandingin sama lo dia tuh gak ada apa-apanya tau, semangat dong"

Hemm...Gabriel benar-benar the best, bukan cuma sebagai saudara kembarku saja tapi juga sebagai teman, sahabat...ahhh pokoknya, dia selalu bisa mengatasi kegelisahanku

"Thanks bro"ucapku sambil tersenyum

"Jadi, kapan lo mau nembak Ify..??"Alvin yang entah sejak kapan berdiri disampingku melontarkan pertanyaan yang memang sedang menjadi pemikiran besar ku belakangan ini

Aku mengangkat bahu, karna aku sendiri juga belum tahu "ntahlah, gue bingung"

Dan sebuah jitakan mendarat mulus dikepalaku. Aduhhh..sakitt

"Elo beneran cinta gak sih sama dia..??"

Pertanyaan Gabriel barusan membuat mataku melotot. Hal itu mestinya tidak perlu dipertanyakan lagi, karna sudah jelas kalau jawabannya iya

"Ya ialah"

"Tembak dong Yo"

Aku melengos mendengar sahutan Alvin. Kalau ngomong doang mah gampang, tapi...ngelakuinnya itu lho, susah...

"Lo pikir nembak cewe gampang..??"

"Alahhh..Yo, masa' lo kalah sih sama Alvin"ucapan Gabriel itu mengundang tatapan kesal dari Alvin, membuatku tertawa kecil karna melihat mata sipit Alvin yang tidak bisa membesar "nih yah, Alvin yang dinginnya ngalah-ngalahin kutub utara aja bisa nembak Sivia, kenapa lo nggak"

Siippp...ini seperti sebuah cambuk penyemangat untukku. Gabriel benar, masa' Alvin bisa aku nggak..?? Apa kata dunia..??

Aku mengangguk sambil tersenyum pasti "lo bener Yel, Alvin aja bisa, kenapa gue ngga..??"sahutku sambil melirik Alvin, Alvin melengos dan mencibir pelan

"Jadi kapan..??"

"Apanya..??"tanyaku polos, Gabriel dan Alvin kompak menepuk jidat mereka

"Jadi kapan lo nemb..."

Aku langsung membekap mulut Gabriel dan Alvin dengan kedua tanganku. Gilaa..bisa runyam kalau sampai anak-anak satu kelas tahu

"Ngga pake teriak"ujarku ketus, Gabriel dan Alvin menyeringai lebar sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya bersamaan

"Jadi kapan Rio..??"tanya Gabriel setelah aku melepaskan bekapanku dari mulutnya, Alvin mengangguk-angguk mendengarkan pertanyaan Gabriel

Aku mengetuk-ngetuk kepalaku dengan ujung pulpen 'sok mikir' "Ngga tau.."jawabku akhirnya sambil menggeleng

"Riooooooo...."

Aku tertawa kecil mendengar paduan suara Gabriel dan Alvin ‎yang mengundang tatapan bertanya dari seluruh penghuni kelasku termasuk dia dan Debo

"Kenapa Yo..??"

Dia bertanya saat mataku tepat jatuh dikedua matanya, aku menggeleng kikuk

"Ngga Fy, ngga papa"

"Ahhh..biasa, cari perhatian"

Meskipun dari jarak yang agak jauh, aku bisa mendengar cibiran pelan dari Debo yang disahuti dengan teguran halus oleh dia. Ahahahaaa...Ify memang baik, dia selalu membelaku

"Kamu udah selesai Yo..??"

Aku melirik lembaran buku yang masih kosong dihadapanku, kemudian menggeleng sambil tersenyum malu "belum.."

"Ngga ngerti yah..??"aku menggaruk-garuk kepalaku, sedangkan Gabriel dan Alvin cekikikan ditempat mereka "aku bantuian yah"tawarnya sebelum mendengar jawabanku dari pertanyaan dia sebelumnya. Dan lagi, tanpa mendapatkan persetujuan dariku, dia langsung membereskan peralatan tulis miliknya dan berpindah ke tempatku. Aku menghadiahi Debo dengan senyuman manis tapi meremehkan...ahahaa

Dia menempati kursi Gabriel yang memang dengan sengaja ditinggalkan Gabriel untuknya. Kemudian mempersiapkan semua peralatan tulisnya diatas meja. Aku memperhatikan tiap lekuk wajahnya dari samping. Ya Tuhan...makhluk ciptaan-Mu ini benar-benar indah...
Hahhh..aku rasa, akan sulit untukku berkonsentrasi jika dia yang menjadi guruku. Buktinya, saat ini aku mulai gelisah. Degup jantungku yang dengan nakalnya mulai berlompatan kesana kemari. Belum lagi kucuran keringat ‎yang mulai mengalir di pelipis dan membasahi telapak tanganku saat ini. Ckckkk...aku benar-benar grogi saat ini

"Kamu sakit Yo..??"

Aku terkesiap, dengan refleks aku menggeleng kecil "ngga kok"

"Tapi kok keringetan gitu..?? Kan AC nya jalan"dia merogoh sakunya dan mengeluarkan tissue miliknya.
Ini nih, ‎yang membuat aliran darahku mengalir dengan semakin cepat. Dia menghapus bulir-bulir keringatku dengan tissue miliknya, aku langsung melirik ke arah Debo. Benar saja, mukanya memerah penuh amarah

"Emm....maa...makasih Fy"

Ya Tuhan...kenapa aku selalu gugup saat berdua dengan dia..??

"Sama-sama"dia tersenyum manisssss sekali "kita lanjutin belajarnya yah.."ajaknya. Dan kali ini aku berusaha untuk benar-benar menyimak apa yang dia ajarkan padaku.

Baiklah Rio, mestinya sudah tidak ada lagi kebingungan itu. Aku harus segera menentukan waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hatiku kepada dia

»» Sekarang atau tidak sama sekali ««

Aku mematut diriku didepan cermin lebar dikamarku. Ku telusuri tiap detail wajah dan pakaianku, aku tidak ingin cacat sedikit pun malam ini. Aku mengenakan pakaian yang cukup santai, dengan kaos putih polos ‎yang kemudian dilapisi dengan kemeja hitam polos yang lengannya ku lipat sampai batas siku. Dua kancing atas kemeja hitamku, ku biarkan terbuka. Dan sebagai bawahannya, aku memakai skiny jeans hitam. Huhh..lumayan, tidak mengecewakan. Setidaknya itulah penilaianku terhadap penampilanku sendiri.
Aku mengambil sepatu kets hitam putihku untuk semakin menyempurnakan penampilanku malam ini.

Lagu fireflies mengalun cukup lama. Menyadarkan ku dari ke-terpesona-an-ku terhadap penampilanku sendiri malam ini. Aku meraih handphoneku yang tergelatak disamping bantal. Dan menemukan sebuah pesan singkat dari Alvin

=====
From : Alvin

Yo, gue bareng Via duluan ya.
G'luck...semoga sukses :)
=====

Aku menghela nafas setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan Alvin kepadaku. Hadehhh..itu artinya, aku akan datang sendiri malam ini ke acara dia. Yahh..malam ini, tepat tanggal 06 desember, dia mengadakan acara perayaan ulang tahunnya ‎‎yang ke 17. Acara ini juga akan menjadi acara perpisahan karna mulai besok dia akan meninggalkan Jakarta dan kembali ke Bandung. Dia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai siswa percontohan dari sekolahnya di sekolahku. Hummm...malam terakhir, dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada malam ini. Aku sudah mantap, aku akan menyatakan cintaku kepada dia. Diterima atau tidaknya itu urusan belakangan, seperti kata Gabriel...kalau jodoh takkan kemana. Tapi kalau aku boleh PD, sepertinya dia juga memiliki rasa yang sama denganku.

Aku segera menyambar kunci mobil ‎yang tergantung di meja belajarku, setelah memastikan penampilanku sudah keren malam ini

"Come on Rio...lo pasti bisa"gumamku menyemangati diriku sendiri

-----

Suasana rumah dia malam ini sangat berbeda dengan pada saat malam pertama aku mengunjunginya. Berpuluh-puluh orang telah berkumpul dihalaman depan rumahnya yang sepertinya memang dijadikan sebagai tempat acara berlangsung

"Hai Yo"

Aku menoleh, sebuah senyuman manis menyapaku yang baru saja membalikkan badan. Oh Tuhan...dia semakin mempesona saja, aku benar-benar takjub melihatnya

"Eh hai Fy"

"Selalu begitu. Kamu kok akhir-akhir ini ngomongnya suka gelagapan gitu sih Yo..??"

"Gak papa, elo cantik banget malam ini"pujiku jujur

"Apaan sih Yo, kamu tuh ya seneng banget bikin aku terbang"

"Tapi, gue kan jujur"

"Hehee...iya deh. Makasih yahhh"dia tersenyum manis, aku pun balas tersenyum "tapi kamu juga ganteng kok, beda dari biasanya"

Aku tersipu mendengar ucapannya "hehee...makasih Fy"

"Sama-sama Yo"

"Elo kok disini Fy..??"

"Ya trus mau dimana..??"

"Eumm dimana yah..?? Dipanggung mungkin, kan biasanya kalau orang ultah deketan ama MC"

"Kamu telat, tadi tuh aku udah standby diatas panggung sekalian acara potong kue"jawabnya

Sepertinya dia kesal karna keterlambatanku, buktinya dia cemberut. Huhhh..aku baru sadar kalau aku terlambat, padahal aku mempersiapkan diri sejam sebelum acara, kok aku bisa terlambat yah

"Hahh..sorry Fy, gue tadi ke jebak macet dijalan"ucapku beralasan

"Ngga bawa kado..??"dia bertanya dengan kepala yang clingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Aku terkekeh, rupanya dia mengharapkan hadiah dariku. Aku meyeringai lebar sambil menggaruk-garuk kepalaku "menurut kamu..??"

Dia mendesah "ya udah gak papa, kamu udah dateng juga aku seneng kok"

"trus kue potongan pertamanya buat siapa tuh...??"tanyaku dengan nada menggoda. Dalam hati aku berdo'a, semoga bukan untuk Debo

"Buat mamah sama papah dong"

"Kedua..??"

"Buat seseorang"

Dia menjawab sambil menunduk, sepertinya malu. Tapi...siapa seseorang yang dia maksud..?? Aku..?? Jelas bukan, karna aku baru datang. Atau Debo..??

"Si..siapa..??"

Dia mengangkat wajahnya kemudian tersenyum "tunggu bentar yah"

Dia membalikkan badannya, namun dengan cepat aku menahan tangannya sehingga ia berbalik menatapku dengan alis terangkat

Aku tersenyum "selamat ulang tahun Alyssa"ucapku sambil menaruh sebuah mini box ke dalam genggamannya

Dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang memang kosong "Rio..ya ampun"

Ekspresinya lucu, membuat tanganku reflesk mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi itu "gue gak mungkin dateng dengan tangan kosong"

"Makasih ya Yo..makasih bangettt..aku seneng banget, sumpah"

Aku bisa mendengar dengan jelas, kalau ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh

"Ya udah, tunggu disini bentar yah"

Aku hanya mengangguk, meng-iya-kan permintaannya. Kurang lebih 5 menit aku menunggu, dia kembali dengan kedua tangan tersimpan dibalik punggungnya

"Elo bawa apa..??"

Dia tersenyum "potongan kedua aku buat kamu"

Dia menyodorkan sepiring kecil yang berisi sepotong kue ulang tahunnya ke hadapanku. Aku masih bingung, tidak menyangka potongan kedua kue ulang tahunnya, dia berikan kepadaku

"Malah bengong, buka mulut kamu"suruhnya, tangan kanannya menyendok potongan kue ulang tahun itu dan menyuapinya ke dalam mulutku

"Makasih"

"Buat..??"

"Buat potongan keduanya..ehehee"

"Sama-sama"dia kembali tersenyum, kemudian mengembalikan piring -bekas kue ulang tahun- di tangannya kepada pelayan yang melintas disekitar kami "tau alasen aku gak, kenapa aku ngasih potongan keduanya ke kamu..??"

Aku menggeleng, jelas saja aku tidak tahu "ngga"

"Karna kamu...."

Ucapan ‎yang akan keluar dari mulutnya terpotong oleh dering handphonenku. Dengan cepat aku merogoh saku jeansku, kemudian menekan tombol penerima panggil setelah membaca nama penelponnya

"Hallo"

"...."

"Sorry tante, tapi saya..."

"...."

"Aduhhh..."

Aku bingung, penelpon ‎yang tak lain adalah Ibu nya Agni memintaku untuk ke rumah sakit malam ini juga. Agni adalah mantanku, kami putus karna Agni memilih untuk bertunangan dengan Riko. Ahhhh...mengingat itu aku menjadi sakit hati lagi, rasanya seperti mengusik luka lama yang sudah susah payah ku sembuhkan

"...."

Aku semakin bingung, beliau -Ibu Agni- memaksaku untuk pergi ke rumah sakit. Pasalnya setengah jam lagi Agni akan melakukan oprasi dan dia memintaku untuk menemuinya sebelum memasuki ruang oprasi

Aku menghela nafas sebentar sebelum memberikan jawaban atas dua pilihan yang sangat berat. Tetap disini dan segera menyampaikan isi hatiku kepada dia...atau...meninggalkan rumah ini dan menemui Agni yang sebentar lagi akan berjuang untuk hidup dan matinya. Ya Tuhan...semoga apa yang aku pilih adalah hal yang benar

"Baiklah tante, 15 menit lagi saya ada disana"

Aku memutuskan sambungan telpon dan menatap dia dengan pandangan tak enak. Dia tersenyum, sepertinya kali ini senyum yang dipaksakan

"Kalau emang ada hal penting yang mesti diselesein, kamu boleh pulang kok"ucapnya sambil menyentuh pundakku "thanks udah dateng yah..."sambungnya, kali ini terdengar lebih pelan

"Maaf..."

"Gak perlu minta maaf"

Aku semakin merasa bersalah. Perasaan hatiku bergejolak saat ini, kenapa ada saja halangan saat aku mulai meyakini semuanya dan bersiap menyampaikan ‎apa yang telah ku yakini itu..
Entah keberanian dari mana, aku melangkah maju dan segera memeluk dia. Ini sepertinya akan menjadi pelukan terakhir, karna besok dia akan kembali ke Bandung.
Hening. Aku dan dia sama-sama diam dalam posisi berpelukan. Sesaat kemudian aku teringat dengan janjiku yang akan datang 15 menit setelah memutuskan sambungan telpon tadi.

Aku melepaskan pelukanku "so..sorry Fy, refleks"ucapku, dia menggeleng dan tersenyum. Aku bersiap memutar badanku, untuk segera pergi meninggalkan pesta ini. Namun aku merasa sesuatu menahan tanganku. Dan....

"Makasih udah mau dateng kesini, makasih udah mau jadi temen aku selama aku disini, makasih...makasih buat semuanya"

Aku kaget. Bukan, bukan karna ucapan terima kasih dia. Tapi...karna saat dia menahan tanganku dan aku berbalik, dia mencium pipiku dengan cepat. Dan harus aku akui, saat itu aku sempat menahan nafas, belum lagi degup jantungku yang kembali berdendang diiringi dengan aliran darah yang kian cepat.

Dan setelah mengucapkan semua itu, dia berlari meninggalkanku. Dia menangis..?? Sepertinya begitu. Karna saat menyampaikan rasa terima kasihnya, aku bisa melihat kedua bahunya yang bergetar. Dan saat dia berlari meninggalkanku, dia sempat menaikkan tangannya, entahlah..sepertinya dia mengusap air matanya

-----

Aku memacu mobilku dengan cepat. Ku harap pengorbananku meninggalkan pesta dan menunda penyampaian isi hatiku itu tidak berakhir sia-sia. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku terus memikirkan dia. Dan baru ku sadari, sepertinya ada yang janggal saat ia mengutarakan rasa terima kasihnya...aku merasa masih ada hal lain yang ingin disampaikannya. Tapi apa..?? Arghhhh...aku tidak tahu, karna aku tidak bisa membaca matanya ‎yang sepertinya mengisyaratkan sesuatu.

Ya Tuhan....aku harap, Engkau memberikanku kesempatan untuk besok bisa bertemu dengan dia meski untuk terakhir kalinya. Izinkan aku untuk menyampaikan seluruh isi hatiku yang dengan sungguh mencintai dan menyayanginya. Apa pun isi hatinya, sama atau tidak dengan isi hatiku..aku tidak akan mempermasalahkannya

»» Dan jawabannya bukan 'sekarang' bukan juga 'tidak sama sekali'. Aku harap...kita bisa bertemu kembali suatu saat nanti ««

Aku merasa bersalah sekali. Karna menurut cerita mereka, dia menangis dan meninggalkan pesta setelah kepergianku. Oh Tuhan...sepertinya aku telah mengacaukan pestanya.

Setelah siap dengan seragam sekolahku, aku bergegas keluar dari kamar untuk menghampiri Gabriel. Aku ingin bertanya, apakah kira-kira dia belum berangkat..?? Semoga Gabriel tahu jawabannya

Tok tok tok

Pintu kamar Gabriel terbuka. Gabriel keluar dengan dasi yang belum terikat rapi

"Tumben lo udah siap Yo..?? Nyamperin gue ke kamar lagi. Ada apaan nih..??"

"Eumm..kira-kira Ify udah berangkat belum..??"

"Dia bilang sih, pesawat dia berangkat jam setengah 8 gitu"Gabriel menjawab pertanyaanku sambil membetulkan ikatan dasinya.

Aku melirik arloji ditanganku. Jam menunjukkan pukul 06 lewat 55 menit. Jarak dari rumahku menuju bandara cukup jauh, namun ku harap aku bisa mengejar dia sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanku dan perasaanku

"Gue cabut, tapi hari ini gak masuk"

Aku bersiap berlari namun Gabriel menahan lengan kananku

"Lo mau bolos..?? Ngejar Ify..??"tanya nya beruntun, aku menghela nafas kemudian mengangguk. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku segera berlari dan menyambar kunci mobil Gabriel -karna kunci mobil Gabriel berada didekatku- dan kemudian memacu mobil milik Gabriel menuju bandara. Tuhan...kali ini saja, sempatkanlah aku bertemu dengan dia

-----

Aku berlari-lari didalam bandara. Pandanganku menyebar ke seluruh penjuru ruangan ini. Sambil melirik jamku, aku rasa dia masih disini. Karna jam masih menunjukkan pukul 07 lewat 25 menit, yah masih ada waktu 5 menit sebelum pesawat yang ditumpanginya terbang

"Ya Tuhan...Ify dimana..??"batinku gelisah. Kepalaku clingukan mencari-cari sosok dia. Namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya suara seorang wanita yang menyampaikan bahwa pesawat penerbangan Bandung akan segera berangkat. Aku semakin gelisah karna tak menemukan dia, dan..hei..itu dia. Meskipun dari belakang, aku dapat mengenali rambut dan postur tubuhnya

"Ify..."teriakku tak karuan. Nafasku mulai tersengal-sengal, tapi aku tetap menyerukan namanya. Sial..dia tidak mendengerku

"Ify..."teriakku. Dan kali ini dia menoleh. Benar dia Ify, namun sayang dia berbalik hanya untuk tersenyum dan melambaikan tangannya setelah itu dia menghilang

"Oh Tuhan..aku belum mengatakannya..aku belum menyampaikannya"

Aku merasakan handphoneku berdering. Dengan cepat aku mengambilnya dan mendapatkan sebuah pesan singkat disana

=====
From : Ify Alyssa

Terima kasih sudah menjadi seseorang yang spesial sejak kedatanganku pertama di Jakarta dan entah sampai kapan...g'bye :)
=====

Oh Tuhan...apalagi ini..?? Apa ini artinya dia memiliki rasa yang sama denganku. Astaga, aku lupa, pesawat sudah lepas landas dan itu berarti dia sudah terbang. Otomatis handphonenya pun dalam keadaan mati. Aku mengurungkan niatku yang ingin menelponnya. Berusaha menenangkan perasaanku. Dia pergi meninggalkanku. Meninggalkan rasa yang ada untuknya. Meninggalkan penyesalan yang ada untuknya. Meninggalkan sejuta pertanyaan tentang kenyataan hatinya untukku.

Aku berharap dia akan menjemput rasa yang tertinggal dihatiku untuknya.
Aku berharap dia akan menghapus penyesalan dihatiku yang ada karenanya.
Dan aku harap, dia akan kembali demi menjawab sejuta pertanyaan yang ada dihatiku untuknya.


Semoga Tuhan mempertemuka kami kembali suatu saat nanti...




=======


Finishhhh.....hhh..jujur, lagi-lagi ini tulisan yang gue buat secara mengalir apa adanya (seperti cinta pertamaku, cinta terakhirmu), prosesnya emang gak sesingkat CPCT tapi lumayan cepetlah, sekitar 6 hari...ehehee.
Dan jujur lagi nih, ini karya yang memberikan hemm kepuasan tersendiri karna disini juga tertulis unek-unek yang emang pengen banget gue ungkapin, dulu. Mungkin, karna cerita kali ini berdassarkan pengalaman pribadi kali yah. Ya meskipun gak semuanya tapi inti cerita ini memang menceritakan potongan kisah di masa lalu gue......ahahaha


oke guys, thanks for reading^^




_With Love Nia Stevania_

"_Tentang Sebuah Kisah : Aku, dia dan mereka_" bagian 4





Ini sebuah kisah. Tentang aku, dia dan mereka. Tentang perasaan, penyesalan dan pegharapan. Tentang dia ‎yang terlalu mudah untuk ku cinta dan terlalu sulit untuk ku lupakan.
Dan inilah sebuah kisah, tentang cinta ‎yang terlalu sulit untuk ku akui kehadirannya. Hingga membawa ku pada penyesalan dan hanya bisa berharap semoga kita akan dipertemukan kembali.....



Bagian 4


»» Disaat restu sudah ditangan, aku justru merasa ragu untuk bisa mendapatkanmu ««

Aku sedang terduduk dibangku taman ‎yang terletak didekat musholla sekolahku. Pandanganku menyebar, mencari-cari sesosok wanita, dia.
Aku berencana untuk memberitahukan kepada dia bahwa mereka -Shilla dan Sivia- ingin meminta maaf. Dia pasti senang, apalagi dia pernah mengutarakan keinginannya untuk bisa berteman akrab dengan Sivia dan Shilla. Yahhh..bagaimana pun juga, Shilla dan Sivia adalah teman -satu sekolah- lama dia kan..?? Sudah semestinya kalau mereka saling bercengkrama satu sama lain.
Mataku sudah lelah mencari-cari dia, tapi hasilnya nihil. Padahal sebentar lagi waktunya dia melakukan shalat dzuhur, dan biasanya dia akan datang minimal 5 menit lebih awal dari waktu adzan.
Aku mencoba mengedarkan pandanganku sekali lagi. Senyum sumringah terukir dibibirku saat ku dapati dia sedang melangkah ke arahku, mungkin lebih tepatnya ke arah musholla ini. Tapi...dia tidak sendiri. Disampingnya ada Debo -salah satu teman sekelasku- ‎‎yang terlihat asik membicarakan sesuatu dengan dia. Ahhhh..lagi-lagi perasaan kesal itu hadir, aku cemburu.
Dia semakin mendekat dengan senyuman manis yang sepertinya untukku. Aku menghirup nafas sejenak, sesaat sebelum dia benar-benar berada tepat dihadapanku

"Hai Yo"

"Eumm...hai Fy"aku membalas sapaannya dengan kikuk. Ohhh...Tuhan..kenapa detak jantungku semakin hari semakin sulit dikontrol saat bertemu dia..?? Tenangkanlah Tuhan..kali ini saja

"Kok malah diem sih Yo..??"

"Ehh..sebenarnya gue peng..."

"Eh udah adzan, masuk yuk Fy"

Shitt..!! Aku mengumpat kesal. Debo baru saja memotong ucapan ‎yang dengan susah payah ku usahakan untuk keluar dari mulutku. Hahh..aku bisa menebak, Debo tidak suka denganku yang mungkin menurutnya dekat dengan dia. Meskipun pada kenyataannya aku dan dia memang dekat. Aku bisa melihat jelas sorot mata penuh ketidak sukaan dimata Debo

"Bentar De"aku tersenyum miring mendengar sahutan dia "kamu mau ngomong ‎apa Yo..??"

"Aku mau bilang kalau..."

"Gak baik menomer duakan Tuhan Fy, dan sebaiknya kamu memenuhi panggilan Tuhan dulu setelah itu baru makhluk-Nya"

Ohh..Tuhan...‎Debo benar-benar pengganggu.
Aku bisa melihat raut kebingungan diwajah dia. Well, aku akui perkataan Debo ada benarnya. Tapi, bisakan dia mengucapkannya dengan manis bukan tatapan sinis

"Ya udah, kamu shalat dulu aja Fy"suruhku "ntar gue sms-in lo aja kalau lo lagi sendiri"sambungku sedikit menyindir Debo. Dia mengangguk dan tersenyum kecil

"Makasih Yo buat pengertiannya"

"Sipp, gue ke kelas dulu yah..bye"aku pamit, dia menjawabnya dengan sebuah senyuman.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari musholla, aku memandangi punggung dia ‎yang mulai menghilang dibalik pintu musholla.

-----

"Sekedar ngingetin yah, elo gak pantes sama Ify"

Aku menatap Debo dengan alis bertaut. Apa maksud Debo berkata seperti itu..??

"Maksud lo apa..?? Gue gak ngerti"ucapku berusaha biasa

"Gak usah pura-pura bego, elo suka kan sama Ify..??"aku mengangguk mantap "gue peringatin sama lo, elo jangan pernah ngedektin Ify. Karna elo sama dia beda..inget beda"aku bisa merasakan tatapan tidak bersahabat Debo "dan gak perlu gue jelasin, lo pasti ngerti dengan maksud perbedaan itu"

Debo pergi setelah mengucapkan semua itu. Dan aku hanya memandang penuh amarah ke arah pintu gerbang, sebelum Debo menghilang dari sana
Hahhh...kenapa Debo begitu sinis sih tadi..?? Apa Debo juga menyukai dia..?? Tapi..bukan berarti Debo bisa bersikap seenaknya kan..?? Aku tau, aku dan dia berbeda. Dia Islam sedangkan aku..?? Tapi bukan berarti aku tidak boleh jatuh cinta kepada Dia kan..??

»» Sebuah lagu menenangkan hatiku. Lagu kesukaanmu yang mulai menjadi lagu kesukaanku. Dan setidaknya aku semakin mantap untuk bisa memiliki hatimu ««

"Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling memahami...mengapa ini yang terjadi"

Aku berdiri dibelakang dia yang sedang bersenandung pelan. Sepertinya dia menyenandungkan lagu ‎yang terputar dari mp3 miliknya. Karna aku sudah hafal betul kebiasaannya ‎yang sering menyendiri sambil mendengarkan lagu di taman dekat musholla ini.
Suara dia yang begitu menghanyutkan membuatku tidak menyadari bahwa lagu yang ia bawakan sudah berakhir. Diluar kesadaranku, aku bertepuk tangan, takjub. Dia menoleh dan tersenyum malu, aku berkata demikian karna melihat dia yang salah tingkah

"Suara lo bagus"

"Masa' sih..?? Lagunya kali yang bagus"

"Lagunya bagus..??"aku memasang tampang 'sok mikir' sambil memposisikan duduk disebelahnya "mungkin sih. Tapi..gue lebih terpesona karna ngedengerin suara lo. Buktinya gue sampe gak sadar kalau lo udahan nyanyinya"sambungku jujur. Karna memang itu yang kurasakan

"Kamu paling bisa deh Yo, bikin cewe terbang"

Dia tertawa kecil, dan aku hanya menyeringai bangga kearahnya

"Woyyalahh..Rio"ucapku "eh emang tadi lo terbang..?? Mana..?? Kaki lo masih napak"aku clingukan kearah kaki dia ‎yang masih menapak dirumput, dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat. Lagi-lagi dia tertawa sambil meninju pelan pundakku

"Jayus banget sih kamu"

"Jayus..?? Tapi ketawa. Berarti lucu dong"

"Iya deh, terserah kamu aja. Yang penting kamu seneng"

"Eh iya Fy, elo habis dengerin lagu apa..??"tanyaku ingin tahu. Saat mendengarkan dia bernyanyi tadi, aku jadi penasaran ingin mendengar lagu aslinya

"Tere, mengapa ini yang terjadi"dia tersenyum dan menyodorkan mp3 miliknya "nih kalau kamu mau ngedengerin"tambahnya. Aku meraih mp3 putih itu. Baru saja memasangkan satu earphone ke telinga kananku, bel tanda masuk berbunyi. Aku mendengus sebal karna rencana ku untuk mendengarkan lagu itu terhenti

"Yah..pake bel lagi"

"Bawa pulang aja kalau mau. Ntar lagunya kan bisa sekalian kamu copy ke PC kamu"aku mengangguk mendengarkan saran dari dia

"Oke tapi gak papa nih..??"tanyaku basa basi

"Ngga papa kok, tapi besok dibawa yah, soalnya aku suka dengerin mp3 kalau lagi kesepian..ehehe"

Dan kami pun beranjak setelah perundingan singkat itu. Huhhh..jadi tidak sabar untuk cepat-cepat pulang

-----

Aku membanting tubuhku diatas tempat tidur empuk milikku. Melempar asal seragam sekolah ‎yang baru saja kuganti dengan kaos hijau yang lebih santai. Aku merogoh ransel hitamku dan mengeluarkan sebuah mp3 berwarna baby blue dengan les putih. Ku pasang earphone putih ‎yang masih menempel di mp3 itu. Dan aku pun mulai mencari lagu Tere yang didengarkan dia tadi di list lagu. Sekali..dua kali, aku mendengarkan lagu itu. Dan untuk ketiga kalinya aku memutar lagu itu sambil mendengarkannya dengan seksama. Mencoba menghayati makna dari lirik lagu itu

~~~
Tiada ‎yang salah dalam perbedaan
Dan segala yang kita punya
Yang salah hanyalah sudut pandang kita
Yang membuat kita terpisah
~~~

Yah...harus ku akui kalau dipikir-pikir, perbedaan yang ada diantara aku dan dia bukanlah hal yang salah. Karna pada dasarnya semua yang ada di dunia ini diciptakan dengan memiliki perbedaan. Tergantung bagaimana cara kita menanggapinya.

~~~
Karna tak seharusnya perbedaan menjadi jurang
~~~

Kalau dari awal aku sudah menganggap perbedaan itu penghalang, selamanya dia benar-benar akan menjadi penghalang.

~~~
Bukankah kita diciptakan
Untuk dapat saling melengkapi
Mengapa ini ‎yang terjadi
~~~

Semua manusia diciptakan dengan perbedaan. Ada yang mempunyai kelebihan dan ada juga yang memiliki kekurangan. Dan Tuhan punya alasan tersendiri mengapa Ia menciptakan makhluk-Nya dengan berbeda. Logikanya, ‎yang 'berkelebihan' diciptakan untuk melengkapi ‎yang 'berkekurangan', seperti misalnya yang bisa melihat, bisa menjadi mata bagi yang buta. Ahhh...kenapa aku tak pernah berpikir sampai sini sebelumnya..??

~~~
Mestinya perbedaan bukan alasan
Untuk tak saling memahami
Harusnya cinta bisa memberi jalan
Tuk satu kan semua harapan
~~~

Dan kalau aku benar-benar mencintai dia, mestinya aku berusaha keras agar perbedaan itu bukan lagi penghalang untukku dan dia.

~~~
Karna tak seharusnya perbedaan menjadi jurang

Bukankah kita diciptakan
Untuk dapat saling melengkapi
Mengapa ini ‎yang terjadi
~~~

Aku tersenyum puas, kemudian melepaskan earphone putih ‎yang menempel dikupingku. Sepertinya semangatku kembali muncul. Omongan Debo yang sempat terngiang-ngiang ditelingaku dari beberapa hari yang lalu, mulai menghilang.
Ahhh...lagu ini benar-benar ajaib, pantas saja dia menyukai lagu ini. Karna dari lagu ini kita bisa membuka pikiran kita agar tak selalu menjadikan segala macam perbedaan -apapun itu bentuknya-, sebagai penghalang dalam mewujudkan suatu harapan

»» Aku bahagia karna dia bisa berada disini bersamaku dan mereka ««

"Ify.."

Aku mendongak, mengalihkan perhatianku dari semangkuk bakso dihadapanku. Dengan kening berkerut aku menatap Shilla yang baru saja menyerukan nama Ify

"Mereka udah baikan Yo"ujar Alvin seolah membaca pikiranku

"Hai.."

Dia menyapa sambil tersenyum ramah dan tentu saja aku dan mereka juga membalas dengan senyuman yang tak kalah ramah

"Gabung disini aja Fy, Rio kangen tuh"

Well, mungkin Sivia hanya bermaksud untuk menggodaku. Tapi tidak tahukah bahwa aku merasa seperti menjadi orang bodoh saat ini. Karna celetukan Sivia tadi tentu saja membuatku salah tingkah

"Hahh...ap..apaan sih lo Vi"aku agak gelagapan menyahuti celetukan Sivia tadi. Sontak saja, mereka tertawa melihat tingkahku sedangkan dia, dia hanya menahan tawanya

"Eh duduk Fy, gak cape ‎apa lo bediri mulu"ujarku berusaha mengalihkan perhatian mereka

"Emm..aku duduk dimana nih..??"

Dia clingukan mencari tempat kosong. Mereka saling pandang, dan atas inisiatif ku sendiri aku menggeser duduk ku sedikit lebih ke kanan

"Duduk sini aja Fy"suruhku sambil menepuk tempat kosong disebelahku. Dia mengangguk dan mengambil posisi duduk disebelahku

"Ehm..ehm..aduhh, Yel gue keselek nih"

"Hahh..keselek yah Shill, ini nih minum dulu"

Gabriel memberikan segelas es jeruk miliknya kepada Shilla dengan gaya 'sok mesra'. Lalu keduanya tertawa bersama, yahh..aku tahu, mereka sedang menggodaku lagi saat ini

"Kok kamu gak makan Yo..??"

"Hahh..‎engga itu, ini mau makan"aku meringis sambil menghentak-hentakkan kakiku dengan pelan.
Hiuhh..tak tahukah dia..?? Selera makanku menghilang karna dia. Bukan berarti dia perusak moodku, tapi...aku seperti merasa lebih kenyang menatap wajahnya daripada menyantap makanan dihadapanku saat ini

"Ya udah, dimakan dong Yo. Kok malah di diemin"ucapan dia membuyarkan lamunanku "ntar kalau dingin nggak enak lagi lho"

Aku tertawa kecil, tidak menyangka gadis yang awalnya ku kenal sebagai gadis -cukup- pendiam ternyata bisa cerewet juga

"Malah ketawa"dia mencibir pelan

"Ehehe...habis, sekarang elo cerewet banget deh perasaan. Padahal sebelum-sebelumnya rada pendiem"

"Apaan sih Yo"dia mendorong pelan pundakku, membuat tubuhku terdorong ke belakang dan tepat menubruk bahu Gabriel. Sehingga, bulatan bakso yang hampir mendarat didalam mulut Gabriel terlempar jauh ke mangkuk Alvin

"Huahahahaaa"aku tak dapat menahan tawaku, begitu pun dengan dia dan mereka. Kecuali Gabriel, yang nampak memajukan bibirnya beberapa centi

"Rese' banget sih lo Yo, bakso terakhir gue tuh"ucap Gabreil agak kesal. Garpunya mengarah ke dalam mangkuk Alvin

"Eitsss...ini mangkok gue dan segala yang ada didalam mangkok ini adalah milik gue"ujar Alvin sambil menepis tangan Gabriel ‎yang siap menusukkan garpunya ke salah satu bakso di mangkuk Alvin

Hahhh...dan aku merasa, keadaan semakin menyenangkan saat ini. Semoga ini akan berlangsung selamanya

"_Tentang Sebuah Kisah : Aku, dia dan mereka_" bagian 3



Ini sebuah kisah. Tentang aku, dia dan mereka. Tentang perasaan, penyesalan dan pegharapan. Tentang dia ‎yang terlalu mudah untuk ku cinta dan terlalu sulit untuk ku lupakan.
Dan inilah sebuah kisah, tentang cinta ‎yang terlalu sulit untuk ku akui kehadirannya. Hingga membawa ku pada penyesalan dan hanya bisa berharap semoga kita akan dipertemukan kembali.....

Bagian 3


»» Telah ku putuskan untuk menceritakan semua ini pada kembaranku. Kembaranku pasti bisa mengerti aku, karna kami satu ««

Aku mencelupkan kedua kaki ku ke dalam kolam renang yang terletak di halaman belakang rumahku, setelah sebelumnya aku menaikkan celana panjangku hingga batas lutut. Aku merenung, memikirkan perasaanku untuk dia dan tentang reaksi mereka jika mengetahui aku mencintai dia. Jujur, sampai detik ini aku belum mengetahui alasan mereka -lebih tepatnya Shilla dan Sivia- tidak menyukai gadis sebaik dia.
Aku mendesah, kedua bola mataku memandangi ribuan bintang ‎yang terhampar dilangit luas. Melihat lengkungan bulan malam ini, aku jadi teringat senyumannya, senyuman ‎yang ku rasa selalu menghiasi bibirnya

"Ngelamun aja lo Yo"

Aku menatap Gabriel ‎yang baru saja menegurku. Gabriel langsung menghempaskan tubuhnya disebelah kiriku, kedua kakinya ikut tenggelam seperti kedua kakiku

"Belum tidur Yel..??"tanyaku. Biasanya Gabriel akan tidur paling lambat jam 11 malam dan ketika aku melirik arloji di tangan kananku, jam telah menunjukkan pukul 11 lewat 35 menit

"Ngga tau nih, gue gak bisa tidur. Kaya ada pikiran gitu"

Jawaban Gabriel membuatku tertawa geli. Apa karna aku dan Gabriel kembar, sehingga dia merasakan ‎apa yang aku rasakan..??

"Apaan..??"

Ku lihat Gabreil mengangkat bahu "ngga tau. Eumm mungkin, yang ada pikiran elo kali Yo"

Aku mendesah, menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku menceritakan semuanya pada Gabriel..?? Atau tetap menyimpannya ntah sampai kapan..

"Kenapa lo..??"

Aku menggeleng kecil "gue mau ngobrol dikit sama lo, boleh gak Yel..??"

"Apaan sih, kaya sama siapa aja. Cepetan cerita"

Sepertinya Gabriel benar-benar penasaran dengan apa yang ingin aku bicarakan saat ini. Sudahlah, cepat atau lambat Gabriel memang harus tahu, bahwa aku, Mario Stevano saudara kembar Gabriel Stevent jatuh cinta kepada seorang Alyssa Saufika

"Kalau gue jatuh cinta, lo percaya gak..??"

Gabriel terlihat heran, mungkin karna mendengar pertanyaan anehku "eum...ya percayalah, elo...cowo tulen kan..??"

Aku menjitak kecil kepalanya "ya ialah"

"Terus lo jatuh cinta sama siapa..??"aku menatap Gabriel dengan perasaan campur aduk "eumm...Ify yah Yo..??"

Tepat. Tebakan ‎yang tidak meleset, dengan lemah aku menggerakkan kepalaku kebawah, mengangguk

"Lo serius..??"dan lagi-lagi aku mengangguk "tapi anak-anak kan..??"

"Gak suka sama Ify..??"tanyaku memotong ucapan Gabriel, Gabriel menjawabnya dengan sebuah anggukan

"Sebenernya yang ngebuat kalian gak suka sama Ify apasih..?? Ify kan cewe baik, dia gak pernah ngejahatin lo semua"tanyaku menggebu-gebu "dan kalau pun dia dijahatin Shilla sama Sivia, dia gak pernah ngelawan atau malah ngaduin ke guru-guru"

"Gue sih gak benci sama dia. Malah jujur, dari awal gue udah simpatik ama dia"

Mataku terbelalak, ‎apa itu artinya Gabriel juga jatuh cinta kepada Ify..??

"Maksud lo..??"

"Ngga usah takut, gue cuman simpatik gak sampe naksir kok"

Gabriel malah terkekeh pelan, dan dengan senyuman aku menghembuskan nafas lega

"Syukur deh, eh jadi kenapa anak-anak gak suka sama Ify..??"

"Yang gak suka mah cuman Shilla sama Sivia aja kali, gue sama Alvin sih netral"

"Ya alasan Shilla sama Sivia ‎apa..??"

"Dulu Ify SMPnya di Jakarta, trus dia satu sekolah sama Shilla ama Sivia. Ya mereka suka saingan gitu deh buat jadi murid teladan dan pemenangnya selalu Ify"aku mendengarkan cerita Gabriel dengan serius "trus dari situlah awal permusuhan mereka, lebih tepatnya permusuhan ‎yang sengaja diciptaiin Shilla sama Sivia"sambung Gabriel

"So, kalau gue jatuh cinta sama Ify gak papa dong..??"tanyaku dengan wajah berseri-seri. Sengganya kalau Gabriel merestui, aku bisa lebih mudah untuk mendapatkan restu dari Shilla juga

"Itu hak lo Yo"Gabriel menepuk-nepuk pundakku "gue salut sama Ify, dia satu-satunya cewe ‎yang bisa ngeluluhin hati lo setelah lo disakitin Acha"

"Gak usah bawa-bawa Acha deh"sahutku kesal. Sampai detik ini aku masih belum terima dengan sikap Acha yang berselingkuh dibelakangku

"Sorry brother"aku tersenyum "eh tapi lo jangan langsung ngomong ke Shilla sama Sivia deh kalau lo gak mau terjadi perang"aku mengangguk mendengarkan pesan Gabriel

"Thanks yah Yel"

"Buat..??"

"Buat semuanya, restu lo, semangat lo. Pokoknya semua ‎yang udah lo lakuin buat gue. You're the best brother for me"

Aku dan Gabriel berpelukan hangat. Ahhhh..rasanya sudah lama sekali kami tidak melakukan ini

"Karna kita satu hati, satu jiwa, satu rasa"ucapku dan Gabriel bersamaan

»» Aku hampir melupakan rencana kita malam itu. Dan aku baru tersadar setelah membuat dia menunggu lebih dari dua jam. Tapi sepertinya itu juga cara Tuhan untuk semakin mendekatkan hubunganku dengannya ««

Aku bingung. Tangan ku bergerak naik turun menuju ke arah bel rumah miliknya. Antara ingin memencet atau tidak. Aku baru ingat kalau malam ini aku dan dia berencana untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh Ibu Irma beberapa hari ‎yang lalu. Rencana awal memang hari minggu, namun akhirnya kami sepakat untuk mengerjakannya di malam minggu saja. Mestinya aku sudah ada dirumah ini sejak 2 jam yang lalu, tepatnya pukul 7 tadi. Tapi karna keasyikan nongkrong dengan teman-temanku, aku jadi hampir melupakannya.
Cukup, bukankah ini sama saja membuatnya menunggu terlalu lama..??
Setelah berkali-kali menghirup nafas, aku segera menekan bel rumahnya

Cklekk...pintu terbuka. Dan aku menemukan sosok seorang gadis manis dengan rambut tergerai bebas. Hanya ada satu penjepit rambut ‎yang terselip dikepala atas, bagian sebelah kiri. Itu dia..?? Sungguh berbeda. Kalau biasanya dia mengikat satu rambutnya, kali ini tidak. Kalau biasanya dia menggunakan kacamata minusnya, kali ini tidak

"Hei...kok ngelamun..??"

Aku tersadar, dan melihat dia sedang tersenyum padaku. Sepertinya dia tidak marah, meskipun aku sudah membuatnya lama menunggu.
Aku tersenyum kikuk, tangan kananku bergerak naik menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku. Hal yang sudah menjadi kebiasaanku saat sedang bingung, malu atau canggung

"Eh...eumm sorry"

"Buat..??"

"Gue.."

"Bicara didalem aja yah, kita udah telat dua jam dari waktu yang dijanjikan"ajaknya sambil tersenyum. Dia melangkah masuk terlebih dahulu, dan aku mengikutinya dari belakang.
Setelah mempersilahkan ku duduk disebuah ruangan belajar miliknya, dia pamit untuk mengambilkan minuman untukku

"Nih, di minum dulu"ujarnya sambil menyuguhkan segelas minuman kepadaku. Aku mengangguk dan langsung meneguk habis minuman itu, maklum...karna sadar terlambat aku langsung memacu kendaraanku dengan kecepatan yang tidak biasa. Saking terburu-burunya, aku bahkan melupakan minuman ‎yang baru berkurang 5 centi dari gelasku saat itu

"Eumm..Fy, sorry yah, gue telat"dia tersenyum dan menyerahkan lembaran soal kepadaku "tadi gue, lagi nongkrong sama anak-anak terus keasyikan dan lupa"sambungku setengah meringis

Dia membuka sebuah kotak persegi panjang dan mengeluarkan kacamata minus miliknya. Hummm..mungkin jika di rumah, dia hanya akan menggunakannya saat sedang belajar

"Ngga papa kok, untung masih jam sembilan"dia melirik ke arah jam dinding didepannya "kita kerjain sekarang aja yah, ntar kamu pulangnya kemaleman"

Aku mengangguk. Dalam hati aku berdecak takjub, ternyata dizaman seperti ini masih ada gadis seperti dia. Sabar dan tidak gampang emosi. Bahkan disaat aku berbuat salah seperti ini pun dia masih menyuguhkan senyum termanisnya untukku. Kami mengerjakan 50 soal itu dengan serius. Sesekali aku bertanya padanya untuk soal yang tidak begitu ku mengerti. Dan dengan sabar dia mengajarkanku, meskipun aku selalu salah tapi dia tetap mau mengajariku sampai jawabanku benar.
45 menit kemudian, kami telah menyelesaikan ke 50 soal tersebut. Kami sama-sama merentangkan tangan kami ‎yang mulai kram, sedangkan kedua kaki kami terjulur ke depan

"Thanks ya Fy, berkat lo..gue jadi ngerti"ucapku tulus, dia tersenyum sambil mengangguk "thanks juga karna lo udah mau sabar tadi pas ngajarin gue"sambungku

"Iya Yo, sama-sama. Kamu punya stok kata makasih banyak yah..?? Daritadi say thanks mulu"

Baru saja aku ingin menyahuti ucapannya, aku mendengar suara pintu ‎yang terbuka. Aku dan dia kompak menoleh. Alisku bertaut melihat sesosok pria asing ‎yang tengah tersenyum lebar saat ini kepada Ify

"Lho, Cakka"

Aku mengalihkan tatapanku kepadanya saat mendengar dia mengucapkan sebuah nama, Cakka. Siapa Cakka..?? Kakaknya..?? Setahuku Ify anak tunggal atau pacarnya..??

"Hei Fy"pria itu berjalan ke arah dia dan memeluknya. Aku tercengang menatap adegan didepanku saat ini, sepertinya dia memang pacarnya

"Kka, kenalin..ini Rio, dia temen aku di sekolah"

Aku menerima uluran tangan Cakka dan berkenalan dengannya. Entah mengapa, bibirku terasa sulit menciptakan senyuman saat itu. Sehingga hanya sebuah senyum 'terpaksa' ‎yang aku sertakan saat berkenalan dengan Cakka

"Gue bawain nasi goreng nih buat lo"pria itu menyodorkan bungkusan hitam kepada dia "masih suka nasi gorengkan..??"aku melihat dia mengangguk dengan semangat dan langsung menerima bungkusan pemberian Cakka

"Makasih ya Kka"

Sepertinya mereka lupa, kalau disini ada aku

"Eumm Fy, sorry nih bukannya gak kangen sama lo.."aku kembali tersentak mendengar kata-kata Cakka "..tapi gue ada janji sama nyokap, jadi mesti balik sekarang"aku melihat raut kecewa di wajah dia

"Ahhh...kamu gitu deh"

"Sorry, cantik. Besok gue janji, gue bakalan jadi milik lo sehari penuh. Dari lo bangun tidur sampai lo tidur lagi, gue bakalan ada disamping lo, gimana..??"

Dia mengangguk antusias. Lagi-lagi hatiku mencelos. Besok mereka akan menghabiskan waktu berdua, seharian. Ya Tuhan...sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, dan sekarang aku cemburu

"Janji yah"

"Sipp"Cakka mengacak-acak kecil rambut dia. Kemudian berpamitan untuk pulang.

"gue duluan yah Yo"aku tersenyum tipis dan mengangguk malas. Aku tetap diam ditempatku, sedangkan dia mengantarkan kepulangan Cakka ke pintu depan

"Hei...sorry yah, tadi aku tinggal sebentar"

Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Dia kembali duduk didepanku sambil meletakkan bungkusan hitam pemberian Cakka dan sebuah piring lengkap dengan sendok dan garpunya

"Upss..lupa, nasi gorengnya cuman satu...heehee"dia menyeringai lebar, aku jadi ikut tersenyum "kamu mau..??"

"Ngga, ngga usah..elo makan aja, gue gak papa kok"tolakku halus, meskipun dalam hati aku sangat ingin mengatakan iya

"Aduhh aku jadi gak enak nih. Masa' aku makan sendiri, kita makan berdua aja yah..??"

Penawaran ‎yang menarik, sepiring berdua. Romantis kan..?? Tapi aku masih merasa gengsi untuk berkata 'iya' maka dari itu aku kembali menggeleng

"Ayolah Yo, sekali aja deh, sekali"dia memaksa, kali ini sambil menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulutku. Wahh..sepertinya dia ingin menyuapiku. Dengan ragu aku membuka mulut. Dan happp...satu sendok nasi goreng masuk ke dalam mulutku

"Enak gak..??"

Aku mengangguk "iya enak.."jawabku sambil mengangguk 'apalagi disuapin sama lo'tambahku dalam hati.
Entah mendapat pikiran darimana, aku mengambil alih sendok ‎yang berada di tangan dia

"Sekarang elo yang makan.."aku pun menyodorkan sesendok nasi goreng ke hadapan mulutnya. Dia tersenyum sesaat, lalu membuka mulutnya

"Elo anak tunggalkan Fy..??"

"Iya.."

"By the way, nyokap bokap lo kemana..??"

Dia mengunyah nasi goreng dimulutnya terlebih dahulu dan disambung dengan meminum air dihadapannya

"Ya di Bandung lah. Semenjak aku sekeluarga pindah, rumah ini cuman dijaga sama pembantu dan satpam aku aja. Mamah sama papah baru nginep disini kalau lagi ada urusan disini, atau kalau lagi liburan aja"

Aku mengangguk mendengarkan ceritanya. Dan sampai sebungkus nasi goreng itu habis, kami saling menyuapi satu sama lain. Sambil berbagi cerita dan malam semakin larut. Aku pun memutuskan untuk segera pulang karna jam menunjukkan pukul ‎‎10 lewat 15 menit

"Gue pamit yah, malam"

»» Sudah ku putuskan, aku akan membicarakan tentang perasaanku kepada mereka. Dan berharap kebencian dua sahabatku kepada dia bisa menghilang...semoga ««

"Tumben banget Yo, lo ngumpulin kita-kita disini..??"

Aku memandang Sivia yang baru saja melontarkan pertanyaan ‎yang disertai dengan anggukan Alvin dan Shilla. Gabriel..?? Gabriel sudah tau apa rencanaku mengumpulkan mereka

"Gue jatuh cinta..."ucapku menggantung, lalu menatap Sivia, Shilla dan Alvin secara bergantian "sama Ify"sambungku lirih

Aku sudah menduga kalau mereka akan sangat terkejut dengan pengakuanku. Tapi, sudahlah..ku pikir lebih cepat mereka tau itu akan lebih baik.
Dan seperti kata Gabriel beberapa hari yang lalu, Alvin memang tidak terlalu mempermasalahkan soal perasaanku. Hanya Shilla dan Sivia saja ‎yang dengan jelas menentang perasaanku. Hingga perdebatan pun terjadi diantara kami, aku, Shilla dan Sivia. Sedangkan Gabriel dan Alvin memilih diam.
Aku sudah mengenal Shilla dan Sivia cukup lama, jadi aku tau, sekeras-kerasnya mereka pasti akan lunak juga. Dan pemikiranku tidak meleset, setelah perdebatan yang cukup panjang itu, Shilla dan Sivia akhirnya merestui perasaanku. Terima kasih Tuhan...

"Thanks yah Vi, Shill. Lo berdua udah mau ngertiin gue"ucapku sungguh. Sivia dan Shilla sama-sama tersenyum

"Sama-sama Yo. Sorry kalau awalnya gue sama Sivia gak nyetujuin soal perasaan lo"

"Iya, mestinya kita sadar..jatuh cinta itu hak lo, dan sama siapa pun lo jatuh cinta selagi orang itu baik..mestinya kita ngedukung"

Ucapan Sivia itu benar-benar melegakan hatiku. Dan berdasarkan pernyataan nya tadi, aku dapat menyimpulkan bahwa yang menjadi permasalahan diantara Shilla, Sivia dan Ify hanyalah masalah kecil yang dilandasi rasa iri. Buktinya, Sivia seperti mengakui kalau Ify adalah gadis yang baik

"Berarti lo ngakuin dong kalau Ify cewe yang baik..??"tanyaku memancing. Shilla dan Sivia saling pandang

"Lo bener, mungkin cuman karna kita iri aja sama dia makanya kita suka..ya marah-marah gitulah kalau ketemu dia"

Penjelasan singkat dari Sivia masih terasa kurang untukku. Makanya aku memutuskan untuk bertanya lagi

"Gak ada masalah lain..?? Yang lebih pribadi mungkin..??"

Lagi-lagi Shilla dan Sivia melempar pandang. Membuat aku, Gabriel dan Alvin ikut melempar pandang, heran. Shilla menghela nafas kemudian mulai berbicara

"Dulu gue sempet berpikir Ify ngerebut Cakka dari gue, karna disaat gue lagi deket-deketnya sama Cakka, Ify malah hadir ditengah-tengah kita.."Shilla menatapku sebentar "dan makin lama mereka makin deket, gue ngerasa jauh dari Cakka"sambungnya. Disebelah Shilla, Gabriel melingkarkan tangannya dipundak Shilla

Tiba-tiba aku teringat, hari ini Ify akan menghabiskan harinya dengan Cakka. Seperti kata Cakka, Ify boleh memilikinya seharian ini. Aku menghela nafas, ‎apa Ify benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Cakka..??

"Yo..Yo, kok lo diem"

Aku menoleh ke arah Alvin ‎yang sempat memanggilku

"Ngga, eumm..emang Ify sama Cakka beneran pacaran..??"

"Awalnya gue ngira gitu, tapi ternyata gue salah. Denger-denger Cakka udah punya pacar, namanya Agni. Cewe itu punya hobby ‎yang sama kaya Cakka, main basket sama main gitar"

"Tapi kok semalen gue liat kayanya Ify sama Cakka deket banget yah..??"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Membuat ke 4 pasang mata mereka menatap bertanya ke arahku

"Eumm..semalem kan gue ngerjain tugas bareng Ify ya terus si Cakka dateng, ya mereka akrab banget gitu"jelasku sebelum mereka bertanya

"Lo tau darimana kalau itu Cakka..??"

"Kan Ify ngenalin ke gue Yel"

"Wihhh...gak panas lo Yo..??"

"Ya panas lah Vin, apalagi mereka akrab banget, mana pake acara janjian segala lagi hari ini"ucapku kesal. Ahh..cemburu itu hadir lagi

"Tenang Yo, Cakka sama Ify itu cuman sahabat. Mereka sahabatan dari kecil, bertiga sama si Agni juga. Masa' iya Ify ngerebut pacar sahabatnya sendiri"

Sivia benar. Kalau memang Agni juga sahabat Ify, Ify tidak mungkin merebut Cakka dari Agni. Aku bisa sedikit bernafas lega

"Tapi, emang Agni gak marah gitu kalau Ify jalan berdua ama pacarnya..??"

"Cakka sama Agni itu lebih tua 2 tahun dari Ify dan mereka udah nganggep Ify kaya ade mereka sendiri"

Aku manggut-manggut mendengarkan penjelasan lanjutan dari Shilla. Sebentar, kok sepertinya Shilla dan Sivia tau banyak tentang Ify..?? Bukannya dulu mereka tidak menyukai Ify..??

"Kok lo berdua tau banyak tentang Ify..??"

"Karna Cakka itu temennya kak Riko, dan dari kak Riko gue tau semuanya. Apalagi dulu kak Riko sempet suka sama Ify"

"Ohhhh..gitu Shill"aku mengangguk-angguk "sekali lagi makasih banyak ya guys, lo semua udah mau ngertiin gue"ucapku benar-benar tulus. Mereka tersenyum