Rabu, 20 April 2011

"_Tentang Sebuah Kisah : Aku, dia dan mereka_" Ending



Ini sebuah kisah. Tentang aku, dia dan mereka. Tentang perasaan, penyesalan dan pegharapan. Tentang dia ‎yang terlalu mudah untuk ku cinta dan terlalu sulit untuk ku lupakan.
Dan inilah sebuah kisah, tentang cinta ‎yang terlalu sulit untuk ku akui kehadirannya. Hingga membawa ku pada penyesalan dan hanya bisa berharap semoga kita akan dipertemukan kembali.....


Bagian 5


»» Waktu yang dinanti. Semoga saat waktu itu tiba aku tidak akan menelan kekecewaan. Dan kini saatnya aku mempersiapkan diri untuk semuanya ««

Aku mengetuk-ngetukkan pulpenku ke atas meja. Lembar buku tulis dihadapanku masih kosong. Tugas yang diberikan Bu Ira sebelum beliau meninggalkan kelas belum satu pun ku kerjakan. Aku sedang memikirkan waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku kepada dia. Jangan sampai semua usahaku menjadi sia-sia. Setidaknya..secepatnya aku harus menyampaikan isi hatiku kepada dia. Kalau tidak, Debo akan mendahuluiku. Apalagi beberapa hari belakangan ini ku lihat Debo semakin sering mendekati dia. Saat ini pun Debo sedang meminta bantuan dia untuk mengerjakan tugas pemberian Bu Ira. Huhhhh...ayolah Rio, semangat...kalau jodoh tidak akan kemana

"Eh bro, kenapa lo"

Aku mendengus kesal kepada Alvin yang duduk dibelakangku. Tepukannya barusan terasa keras bagi orang yang sedang melamun sepertiku, yah meskipun pada kenyataannya tepukan itu sangat lemah

"BT...gak semangat"jawabku malas

"Gara-gara Debo..??"aku memutar pandanganku ke depan setelah mendengar pertanyaan Gabriel "dia.."Gabriel menunjuk Debo dengan pulpennya "..kalau dibandingin sama lo dia tuh gak ada apa-apanya tau, semangat dong"

Hemm...Gabriel benar-benar the best, bukan cuma sebagai saudara kembarku saja tapi juga sebagai teman, sahabat...ahhh pokoknya, dia selalu bisa mengatasi kegelisahanku

"Thanks bro"ucapku sambil tersenyum

"Jadi, kapan lo mau nembak Ify..??"Alvin yang entah sejak kapan berdiri disampingku melontarkan pertanyaan yang memang sedang menjadi pemikiran besar ku belakangan ini

Aku mengangkat bahu, karna aku sendiri juga belum tahu "ntahlah, gue bingung"

Dan sebuah jitakan mendarat mulus dikepalaku. Aduhhh..sakitt

"Elo beneran cinta gak sih sama dia..??"

Pertanyaan Gabriel barusan membuat mataku melotot. Hal itu mestinya tidak perlu dipertanyakan lagi, karna sudah jelas kalau jawabannya iya

"Ya ialah"

"Tembak dong Yo"

Aku melengos mendengar sahutan Alvin. Kalau ngomong doang mah gampang, tapi...ngelakuinnya itu lho, susah...

"Lo pikir nembak cewe gampang..??"

"Alahhh..Yo, masa' lo kalah sih sama Alvin"ucapan Gabriel itu mengundang tatapan kesal dari Alvin, membuatku tertawa kecil karna melihat mata sipit Alvin yang tidak bisa membesar "nih yah, Alvin yang dinginnya ngalah-ngalahin kutub utara aja bisa nembak Sivia, kenapa lo nggak"

Siippp...ini seperti sebuah cambuk penyemangat untukku. Gabriel benar, masa' Alvin bisa aku nggak..?? Apa kata dunia..??

Aku mengangguk sambil tersenyum pasti "lo bener Yel, Alvin aja bisa, kenapa gue ngga..??"sahutku sambil melirik Alvin, Alvin melengos dan mencibir pelan

"Jadi kapan..??"

"Apanya..??"tanyaku polos, Gabriel dan Alvin kompak menepuk jidat mereka

"Jadi kapan lo nemb..."

Aku langsung membekap mulut Gabriel dan Alvin dengan kedua tanganku. Gilaa..bisa runyam kalau sampai anak-anak satu kelas tahu

"Ngga pake teriak"ujarku ketus, Gabriel dan Alvin menyeringai lebar sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya bersamaan

"Jadi kapan Rio..??"tanya Gabriel setelah aku melepaskan bekapanku dari mulutnya, Alvin mengangguk-angguk mendengarkan pertanyaan Gabriel

Aku mengetuk-ngetuk kepalaku dengan ujung pulpen 'sok mikir' "Ngga tau.."jawabku akhirnya sambil menggeleng

"Riooooooo...."

Aku tertawa kecil mendengar paduan suara Gabriel dan Alvin ‎yang mengundang tatapan bertanya dari seluruh penghuni kelasku termasuk dia dan Debo

"Kenapa Yo..??"

Dia bertanya saat mataku tepat jatuh dikedua matanya, aku menggeleng kikuk

"Ngga Fy, ngga papa"

"Ahhh..biasa, cari perhatian"

Meskipun dari jarak yang agak jauh, aku bisa mendengar cibiran pelan dari Debo yang disahuti dengan teguran halus oleh dia. Ahahahaaa...Ify memang baik, dia selalu membelaku

"Kamu udah selesai Yo..??"

Aku melirik lembaran buku yang masih kosong dihadapanku, kemudian menggeleng sambil tersenyum malu "belum.."

"Ngga ngerti yah..??"aku menggaruk-garuk kepalaku, sedangkan Gabriel dan Alvin cekikikan ditempat mereka "aku bantuian yah"tawarnya sebelum mendengar jawabanku dari pertanyaan dia sebelumnya. Dan lagi, tanpa mendapatkan persetujuan dariku, dia langsung membereskan peralatan tulis miliknya dan berpindah ke tempatku. Aku menghadiahi Debo dengan senyuman manis tapi meremehkan...ahahaa

Dia menempati kursi Gabriel yang memang dengan sengaja ditinggalkan Gabriel untuknya. Kemudian mempersiapkan semua peralatan tulisnya diatas meja. Aku memperhatikan tiap lekuk wajahnya dari samping. Ya Tuhan...makhluk ciptaan-Mu ini benar-benar indah...
Hahhh..aku rasa, akan sulit untukku berkonsentrasi jika dia yang menjadi guruku. Buktinya, saat ini aku mulai gelisah. Degup jantungku yang dengan nakalnya mulai berlompatan kesana kemari. Belum lagi kucuran keringat ‎yang mulai mengalir di pelipis dan membasahi telapak tanganku saat ini. Ckckkk...aku benar-benar grogi saat ini

"Kamu sakit Yo..??"

Aku terkesiap, dengan refleks aku menggeleng kecil "ngga kok"

"Tapi kok keringetan gitu..?? Kan AC nya jalan"dia merogoh sakunya dan mengeluarkan tissue miliknya.
Ini nih, ‎yang membuat aliran darahku mengalir dengan semakin cepat. Dia menghapus bulir-bulir keringatku dengan tissue miliknya, aku langsung melirik ke arah Debo. Benar saja, mukanya memerah penuh amarah

"Emm....maa...makasih Fy"

Ya Tuhan...kenapa aku selalu gugup saat berdua dengan dia..??

"Sama-sama"dia tersenyum manisssss sekali "kita lanjutin belajarnya yah.."ajaknya. Dan kali ini aku berusaha untuk benar-benar menyimak apa yang dia ajarkan padaku.

Baiklah Rio, mestinya sudah tidak ada lagi kebingungan itu. Aku harus segera menentukan waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hatiku kepada dia

»» Sekarang atau tidak sama sekali ««

Aku mematut diriku didepan cermin lebar dikamarku. Ku telusuri tiap detail wajah dan pakaianku, aku tidak ingin cacat sedikit pun malam ini. Aku mengenakan pakaian yang cukup santai, dengan kaos putih polos ‎yang kemudian dilapisi dengan kemeja hitam polos yang lengannya ku lipat sampai batas siku. Dua kancing atas kemeja hitamku, ku biarkan terbuka. Dan sebagai bawahannya, aku memakai skiny jeans hitam. Huhh..lumayan, tidak mengecewakan. Setidaknya itulah penilaianku terhadap penampilanku sendiri.
Aku mengambil sepatu kets hitam putihku untuk semakin menyempurnakan penampilanku malam ini.

Lagu fireflies mengalun cukup lama. Menyadarkan ku dari ke-terpesona-an-ku terhadap penampilanku sendiri malam ini. Aku meraih handphoneku yang tergelatak disamping bantal. Dan menemukan sebuah pesan singkat dari Alvin

=====
From : Alvin

Yo, gue bareng Via duluan ya.
G'luck...semoga sukses :)
=====

Aku menghela nafas setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan Alvin kepadaku. Hadehhh..itu artinya, aku akan datang sendiri malam ini ke acara dia. Yahh..malam ini, tepat tanggal 06 desember, dia mengadakan acara perayaan ulang tahunnya ‎‎yang ke 17. Acara ini juga akan menjadi acara perpisahan karna mulai besok dia akan meninggalkan Jakarta dan kembali ke Bandung. Dia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai siswa percontohan dari sekolahnya di sekolahku. Hummm...malam terakhir, dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada malam ini. Aku sudah mantap, aku akan menyatakan cintaku kepada dia. Diterima atau tidaknya itu urusan belakangan, seperti kata Gabriel...kalau jodoh takkan kemana. Tapi kalau aku boleh PD, sepertinya dia juga memiliki rasa yang sama denganku.

Aku segera menyambar kunci mobil ‎yang tergantung di meja belajarku, setelah memastikan penampilanku sudah keren malam ini

"Come on Rio...lo pasti bisa"gumamku menyemangati diriku sendiri

-----

Suasana rumah dia malam ini sangat berbeda dengan pada saat malam pertama aku mengunjunginya. Berpuluh-puluh orang telah berkumpul dihalaman depan rumahnya yang sepertinya memang dijadikan sebagai tempat acara berlangsung

"Hai Yo"

Aku menoleh, sebuah senyuman manis menyapaku yang baru saja membalikkan badan. Oh Tuhan...dia semakin mempesona saja, aku benar-benar takjub melihatnya

"Eh hai Fy"

"Selalu begitu. Kamu kok akhir-akhir ini ngomongnya suka gelagapan gitu sih Yo..??"

"Gak papa, elo cantik banget malam ini"pujiku jujur

"Apaan sih Yo, kamu tuh ya seneng banget bikin aku terbang"

"Tapi, gue kan jujur"

"Hehee...iya deh. Makasih yahhh"dia tersenyum manis, aku pun balas tersenyum "tapi kamu juga ganteng kok, beda dari biasanya"

Aku tersipu mendengar ucapannya "hehee...makasih Fy"

"Sama-sama Yo"

"Elo kok disini Fy..??"

"Ya trus mau dimana..??"

"Eumm dimana yah..?? Dipanggung mungkin, kan biasanya kalau orang ultah deketan ama MC"

"Kamu telat, tadi tuh aku udah standby diatas panggung sekalian acara potong kue"jawabnya

Sepertinya dia kesal karna keterlambatanku, buktinya dia cemberut. Huhhh..aku baru sadar kalau aku terlambat, padahal aku mempersiapkan diri sejam sebelum acara, kok aku bisa terlambat yah

"Hahh..sorry Fy, gue tadi ke jebak macet dijalan"ucapku beralasan

"Ngga bawa kado..??"dia bertanya dengan kepala yang clingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Aku terkekeh, rupanya dia mengharapkan hadiah dariku. Aku meyeringai lebar sambil menggaruk-garuk kepalaku "menurut kamu..??"

Dia mendesah "ya udah gak papa, kamu udah dateng juga aku seneng kok"

"trus kue potongan pertamanya buat siapa tuh...??"tanyaku dengan nada menggoda. Dalam hati aku berdo'a, semoga bukan untuk Debo

"Buat mamah sama papah dong"

"Kedua..??"

"Buat seseorang"

Dia menjawab sambil menunduk, sepertinya malu. Tapi...siapa seseorang yang dia maksud..?? Aku..?? Jelas bukan, karna aku baru datang. Atau Debo..??

"Si..siapa..??"

Dia mengangkat wajahnya kemudian tersenyum "tunggu bentar yah"

Dia membalikkan badannya, namun dengan cepat aku menahan tangannya sehingga ia berbalik menatapku dengan alis terangkat

Aku tersenyum "selamat ulang tahun Alyssa"ucapku sambil menaruh sebuah mini box ke dalam genggamannya

Dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang memang kosong "Rio..ya ampun"

Ekspresinya lucu, membuat tanganku reflesk mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi itu "gue gak mungkin dateng dengan tangan kosong"

"Makasih ya Yo..makasih bangettt..aku seneng banget, sumpah"

Aku bisa mendengar dengan jelas, kalau ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh

"Ya udah, tunggu disini bentar yah"

Aku hanya mengangguk, meng-iya-kan permintaannya. Kurang lebih 5 menit aku menunggu, dia kembali dengan kedua tangan tersimpan dibalik punggungnya

"Elo bawa apa..??"

Dia tersenyum "potongan kedua aku buat kamu"

Dia menyodorkan sepiring kecil yang berisi sepotong kue ulang tahunnya ke hadapanku. Aku masih bingung, tidak menyangka potongan kedua kue ulang tahunnya, dia berikan kepadaku

"Malah bengong, buka mulut kamu"suruhnya, tangan kanannya menyendok potongan kue ulang tahun itu dan menyuapinya ke dalam mulutku

"Makasih"

"Buat..??"

"Buat potongan keduanya..ehehee"

"Sama-sama"dia kembali tersenyum, kemudian mengembalikan piring -bekas kue ulang tahun- di tangannya kepada pelayan yang melintas disekitar kami "tau alasen aku gak, kenapa aku ngasih potongan keduanya ke kamu..??"

Aku menggeleng, jelas saja aku tidak tahu "ngga"

"Karna kamu...."

Ucapan ‎yang akan keluar dari mulutnya terpotong oleh dering handphonenku. Dengan cepat aku merogoh saku jeansku, kemudian menekan tombol penerima panggil setelah membaca nama penelponnya

"Hallo"

"...."

"Sorry tante, tapi saya..."

"...."

"Aduhhh..."

Aku bingung, penelpon ‎yang tak lain adalah Ibu nya Agni memintaku untuk ke rumah sakit malam ini juga. Agni adalah mantanku, kami putus karna Agni memilih untuk bertunangan dengan Riko. Ahhhh...mengingat itu aku menjadi sakit hati lagi, rasanya seperti mengusik luka lama yang sudah susah payah ku sembuhkan

"...."

Aku semakin bingung, beliau -Ibu Agni- memaksaku untuk pergi ke rumah sakit. Pasalnya setengah jam lagi Agni akan melakukan oprasi dan dia memintaku untuk menemuinya sebelum memasuki ruang oprasi

Aku menghela nafas sebentar sebelum memberikan jawaban atas dua pilihan yang sangat berat. Tetap disini dan segera menyampaikan isi hatiku kepada dia...atau...meninggalkan rumah ini dan menemui Agni yang sebentar lagi akan berjuang untuk hidup dan matinya. Ya Tuhan...semoga apa yang aku pilih adalah hal yang benar

"Baiklah tante, 15 menit lagi saya ada disana"

Aku memutuskan sambungan telpon dan menatap dia dengan pandangan tak enak. Dia tersenyum, sepertinya kali ini senyum yang dipaksakan

"Kalau emang ada hal penting yang mesti diselesein, kamu boleh pulang kok"ucapnya sambil menyentuh pundakku "thanks udah dateng yah..."sambungnya, kali ini terdengar lebih pelan

"Maaf..."

"Gak perlu minta maaf"

Aku semakin merasa bersalah. Perasaan hatiku bergejolak saat ini, kenapa ada saja halangan saat aku mulai meyakini semuanya dan bersiap menyampaikan ‎apa yang telah ku yakini itu..
Entah keberanian dari mana, aku melangkah maju dan segera memeluk dia. Ini sepertinya akan menjadi pelukan terakhir, karna besok dia akan kembali ke Bandung.
Hening. Aku dan dia sama-sama diam dalam posisi berpelukan. Sesaat kemudian aku teringat dengan janjiku yang akan datang 15 menit setelah memutuskan sambungan telpon tadi.

Aku melepaskan pelukanku "so..sorry Fy, refleks"ucapku, dia menggeleng dan tersenyum. Aku bersiap memutar badanku, untuk segera pergi meninggalkan pesta ini. Namun aku merasa sesuatu menahan tanganku. Dan....

"Makasih udah mau dateng kesini, makasih udah mau jadi temen aku selama aku disini, makasih...makasih buat semuanya"

Aku kaget. Bukan, bukan karna ucapan terima kasih dia. Tapi...karna saat dia menahan tanganku dan aku berbalik, dia mencium pipiku dengan cepat. Dan harus aku akui, saat itu aku sempat menahan nafas, belum lagi degup jantungku yang kembali berdendang diiringi dengan aliran darah yang kian cepat.

Dan setelah mengucapkan semua itu, dia berlari meninggalkanku. Dia menangis..?? Sepertinya begitu. Karna saat menyampaikan rasa terima kasihnya, aku bisa melihat kedua bahunya yang bergetar. Dan saat dia berlari meninggalkanku, dia sempat menaikkan tangannya, entahlah..sepertinya dia mengusap air matanya

-----

Aku memacu mobilku dengan cepat. Ku harap pengorbananku meninggalkan pesta dan menunda penyampaian isi hatiku itu tidak berakhir sia-sia. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku terus memikirkan dia. Dan baru ku sadari, sepertinya ada yang janggal saat ia mengutarakan rasa terima kasihnya...aku merasa masih ada hal lain yang ingin disampaikannya. Tapi apa..?? Arghhhh...aku tidak tahu, karna aku tidak bisa membaca matanya ‎yang sepertinya mengisyaratkan sesuatu.

Ya Tuhan....aku harap, Engkau memberikanku kesempatan untuk besok bisa bertemu dengan dia meski untuk terakhir kalinya. Izinkan aku untuk menyampaikan seluruh isi hatiku yang dengan sungguh mencintai dan menyayanginya. Apa pun isi hatinya, sama atau tidak dengan isi hatiku..aku tidak akan mempermasalahkannya

»» Dan jawabannya bukan 'sekarang' bukan juga 'tidak sama sekali'. Aku harap...kita bisa bertemu kembali suatu saat nanti ««

Aku merasa bersalah sekali. Karna menurut cerita mereka, dia menangis dan meninggalkan pesta setelah kepergianku. Oh Tuhan...sepertinya aku telah mengacaukan pestanya.

Setelah siap dengan seragam sekolahku, aku bergegas keluar dari kamar untuk menghampiri Gabriel. Aku ingin bertanya, apakah kira-kira dia belum berangkat..?? Semoga Gabriel tahu jawabannya

Tok tok tok

Pintu kamar Gabriel terbuka. Gabriel keluar dengan dasi yang belum terikat rapi

"Tumben lo udah siap Yo..?? Nyamperin gue ke kamar lagi. Ada apaan nih..??"

"Eumm..kira-kira Ify udah berangkat belum..??"

"Dia bilang sih, pesawat dia berangkat jam setengah 8 gitu"Gabriel menjawab pertanyaanku sambil membetulkan ikatan dasinya.

Aku melirik arloji ditanganku. Jam menunjukkan pukul 06 lewat 55 menit. Jarak dari rumahku menuju bandara cukup jauh, namun ku harap aku bisa mengejar dia sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanku dan perasaanku

"Gue cabut, tapi hari ini gak masuk"

Aku bersiap berlari namun Gabriel menahan lengan kananku

"Lo mau bolos..?? Ngejar Ify..??"tanya nya beruntun, aku menghela nafas kemudian mengangguk. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku segera berlari dan menyambar kunci mobil Gabriel -karna kunci mobil Gabriel berada didekatku- dan kemudian memacu mobil milik Gabriel menuju bandara. Tuhan...kali ini saja, sempatkanlah aku bertemu dengan dia

-----

Aku berlari-lari didalam bandara. Pandanganku menyebar ke seluruh penjuru ruangan ini. Sambil melirik jamku, aku rasa dia masih disini. Karna jam masih menunjukkan pukul 07 lewat 25 menit, yah masih ada waktu 5 menit sebelum pesawat yang ditumpanginya terbang

"Ya Tuhan...Ify dimana..??"batinku gelisah. Kepalaku clingukan mencari-cari sosok dia. Namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya suara seorang wanita yang menyampaikan bahwa pesawat penerbangan Bandung akan segera berangkat. Aku semakin gelisah karna tak menemukan dia, dan..hei..itu dia. Meskipun dari belakang, aku dapat mengenali rambut dan postur tubuhnya

"Ify..."teriakku tak karuan. Nafasku mulai tersengal-sengal, tapi aku tetap menyerukan namanya. Sial..dia tidak mendengerku

"Ify..."teriakku. Dan kali ini dia menoleh. Benar dia Ify, namun sayang dia berbalik hanya untuk tersenyum dan melambaikan tangannya setelah itu dia menghilang

"Oh Tuhan..aku belum mengatakannya..aku belum menyampaikannya"

Aku merasakan handphoneku berdering. Dengan cepat aku mengambilnya dan mendapatkan sebuah pesan singkat disana

=====
From : Ify Alyssa

Terima kasih sudah menjadi seseorang yang spesial sejak kedatanganku pertama di Jakarta dan entah sampai kapan...g'bye :)
=====

Oh Tuhan...apalagi ini..?? Apa ini artinya dia memiliki rasa yang sama denganku. Astaga, aku lupa, pesawat sudah lepas landas dan itu berarti dia sudah terbang. Otomatis handphonenya pun dalam keadaan mati. Aku mengurungkan niatku yang ingin menelponnya. Berusaha menenangkan perasaanku. Dia pergi meninggalkanku. Meninggalkan rasa yang ada untuknya. Meninggalkan penyesalan yang ada untuknya. Meninggalkan sejuta pertanyaan tentang kenyataan hatinya untukku.

Aku berharap dia akan menjemput rasa yang tertinggal dihatiku untuknya.
Aku berharap dia akan menghapus penyesalan dihatiku yang ada karenanya.
Dan aku harap, dia akan kembali demi menjawab sejuta pertanyaan yang ada dihatiku untuknya.


Semoga Tuhan mempertemuka kami kembali suatu saat nanti...




=======


Finishhhh.....hhh..jujur, lagi-lagi ini tulisan yang gue buat secara mengalir apa adanya (seperti cinta pertamaku, cinta terakhirmu), prosesnya emang gak sesingkat CPCT tapi lumayan cepetlah, sekitar 6 hari...ehehee.
Dan jujur lagi nih, ini karya yang memberikan hemm kepuasan tersendiri karna disini juga tertulis unek-unek yang emang pengen banget gue ungkapin, dulu. Mungkin, karna cerita kali ini berdassarkan pengalaman pribadi kali yah. Ya meskipun gak semuanya tapi inti cerita ini memang menceritakan potongan kisah di masa lalu gue......ahahaha


oke guys, thanks for reading^^




_With Love Nia Stevania_

0 komentar:

Posting Komentar