A homepage subtitle here And an awesome description here!
Tampilkan postingan dengan label WL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

Link With Love

Selamat sore semua...
Ketemu lagi kan sama gue, yang baik hati dan tidak sombong ihihi
Okay, sore ini gue mau ngeshare link cerbung kedua gue. Jadi, kan beberapa waktu lalu gue sempet ngerepost cerbung gue With Love (yang juga gue udah gue repost disini) di fb kedua gue Nia Stevania II. But, mendadak gue males ngelanjutin._. sederhana kok alasannya, pertama gue kelupaan yang kedua gue agak keribetan karena kalau gue ngere-post otomatis gue mesti ngedit yah minmal sekedar ngebenerin tanda titik dan penggunaan hruf kapital. Nah, itu tuh ternyata capek juga yah._.makanya, sebagai jalan keluar gue memutuskan untuk ngeshare linknya aja yah? Maunya sih ngeshare link fb tapi...note fb pertama gue cuman bisa diliat sama orang-orang yang berteman sama fb itu, dan setelah gue re-sett tetep aja nggak bisa dibuka sama orang lain meskipun mereka belum berteman sama fb gue-_-
Well, dari pada gue kelamaan berbasa-basi, mending langsung aja yuk!

(berhubung difb gue udah nge-repost sampe part 5, so, gue ngeshare link dari part 6 aja yah..okay?)

WL [6] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-6.html

WL [7] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-7.html

WL [8] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-8.html

WL [9] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-9.html

WL [10] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-10.html

WL [11] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-11.html

WL [12] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-12.html

WL [13] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-13.html

WL [14] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-14.html

WL [15] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-15.html

WL [16] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-16.html

WL [17] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-17.html

WL [18] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-18.html

WL [19] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-19.html

WL [20] : http://niastevania.blogspot.com/2011/06/with-love-part-20.html

WL [21] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-21_-repost/179290695461087

WL [22] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-22_-repost/188165147906975

WL [23] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-23_-repost/202522266471263

WL [24] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/_with-love-part-24_-repost/224793624244127

WL [end] : m.facebook.com/notes/nia-stevania-ii/with-love-last-part/401282113261943

Finally, DONE! itu dari part 21 adalah link note difb gue yang kedua :)

Cheers!

@Kania08_




Kamis, 09 Agustus 2012

With Love - Last Part



The final chap of With Love...


=====

Detik berganti menit, hari kian berlalu. Berbagai macam persiapan yang telah dilakukan jauh-jauh hari itu akhirnya membuahkan hasil maksimal. Acara marathon--dari class meeting sampai acara puncak berupa prom nite, yang di adakan di SMA Harapan Bangsa berlangsung dengan baik. Bisa di bilang hampir mendekati kata sempurna, err atau mungkin harus menunggu kesuksesan acara prom nite malam ini dulu baru kata sempurna itu ada?

Ify yang seharian sibuk berkutat dengan tugasnya sebagai panitia memilih untuk segera melarikan dirinya ke salah satu tempat pijat refleksi untuk merilekskan diri, begitu kegiatan class meeting usai. Hitung-hitung persiapan untuk acara nanti malam juga sih sebenarnya.

“Fy, ntar malem loe ke prom bareng siapa?” Agni yang dengan setengah hati --pasalnya Ify memaksanya-- menemani Ify ke tempat ini membuka pembicaraan.

Ify membuka matanya yang sempat terpejam saat menikmati pijatan dipundaknya, “Sendirian nggak papa kan, Ag?” Jawabnya. “Lagian nggak ada kewajiban buat couple-an juga kan?”

Agni mengangguk. “Iya kali yah..eh tapi nggak tau deh.“ Ia mengangkat kedua bahunya. “By the way, nggak asyik kali, Fy, kalau pergi sendiri.“

“Mau gimana lagi? Elo pergi bareng Cakka kan pasti? Nah Oliv sama Ray--“

“--loe sama Rio!“ Seru Agni memotong ucapan Ify.

Ify mendengus malas. Dalam hati sih berharap banget tapi ya mau bagaimana lagi, sampai detik ini Rio belum melayangkan ajakan 'pergi bareng' juga. Lagi pula, sepertinya Rio sudah memiliki pasangan. Eh tapi nggak pasti juga sih.

“Kayak nggak ada yang lain aja.“

Agni terkekeh, “Yang lain sih banyak, tapi yang loe mau kan cuman dia..“ Godanya. Ify menggeram ditempat, kemudian langsung memejamkan matanya dan membiarkan godaan-godaan Agni berseliweran ditelinganya.

'Aminn! Aminn! Aminn deh, Ag!'
***

Pemuda itu kembali mengklik tombol merah di layar Iphone-nya yang menunjukkan program sound recorder. Matanya mulai membaca tulisan yang tertera di selembar kertas.
Beberapa kalimat yang dengan susah payah ia rangkai sedari tadi.

“Err..hallo, Ify. Jangan dilepas! Aku, eh gue tau elo pasti kaget, err tapi please jangan dilepas. Ak..eh gue pengen elo ngedengerin apa yang pengen gue bilang.“ Ia mengambil jeda dari kalimat panjangnya sejenak. “Err..dan gue harap, elo mau ngejawab, sekarang juga.“

Ia kembali terdiam, kali ini sambil bolak-balik mengambil napas, demi melenyapkan kegugupan yang ia takutkan akan meleburkan pengakuannya sesaat lagi.

“Gue..apapun yang bakal gue bilang sebentar lagi, err mungkin bakal terdengar ugh, aneh. Jadi..I love you, Ify..“ Ia menggantungkan kalimatnya, secara refleks tangannya bergerak mengepal sehingga membuat lembar kertas ditangannya tak berbentuk. “Gue nggak bercanda. Gue serius. Gue cinta sama loe. Jadi, apa jawaban loe? Loe mau kan, jadi cewek gue?“

KLIK! Ia menekan icon tombol --yang sebelumnya berwarna merah-- hitam dilayar Iphone-nya untuk menghentikan perekaman sebuah pengakuan yang tercetus dari dasar hatinya. Kemudian me-replay sekali lagi, dan langsung menyimpan rapi ponselnya--setelah memastikan file rekaman tersebut tersimpan, di atas meja.
Rio. Pemuda yang baru saja melakukan 'perjuangan' yang baru pertama kali dilakukannya itu mendesah lega.

“Biarpun gue ngomongnya belepotan, tapi senggaknya, semua udah kesebut.“ Ucapnya.

Kini, perasaan hatinya yang kembali ketar-ketir. Menduga-duga apa yang akan terjadi nanti malam? Bagaimana reaksi Ify jika mendengar rekaman itu? Dengan kepala yang dipenuhi wajah-wajah Ify, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, guna mempersiapkan diri untuk malan nanti.
***

“Sebenernya, perasaan loe ke Rio gimana sih, Fy?“

Ify yang tengah sibuk memberikan mascara pada matanya, berbalik menatap Agni yang mulai sibuk dengan sweet dress berwarna gading yang akan ia kenakan di acara prom nite nanti.

“Maksudnya?“ Ify balik bertanya, kemudian melanjutkan acara me-mascara-i matanya.

Agni mendengus kesal. “Nggak usah pura-pura bego deh. I know you verry well, jujur deh.“ Desaknya.

Ify meletakkan mascara ditangannya. Kemudian beralih pada sepasang wedges 7 cm di hadapannya.

“Jujur? Kalau loe nyuruh gue jujur, kayaknya gue nggak perlu nyebut apa-apa deh. Seperti yang loe bilang barusan, you know me so well.“ Jawab Ify seadanya, sambil memasang wedges itu pada kakinya.

Agni tersenyum sumringah. Dengan semangat ia melangkah menghampiri Ify. “Terus, terus, loe nggak ada niatan buat jadian gitu? I mean..nggak lama lagi, kita bakal ninggalin SMA gitu, loe sendiri udah fix mau kuliah di Aussy, itu artinya bakal ninggalin Indonesia, gue--yang seriusan sampe detik ini masih nggak rela kalau loe tinggal, dan Rio. So?“

“So?“ Ify mengangkat sebelah alisnya, yang dibalas Agni dengan gelengan kecil. “Ya, loe jangan berpikir yang aneh-aneh deh. Nggak mungkin kan gue nembak dia?“ Ify terkekeh kecil. Dalam hati, ia memang berharap bisa meninggalkan Rio dengan sebuah keyakinan, bahwa pemuda itu akan menunggunya kembali. Tapi..

“Why not? Ini 2012, Fy! Zaman emansipasi wanita udah dimulai dari masanya Ibu kita Kartini. Loe nembak cowok duluan udah bukan hal baru.“

Ify mendelik. “Emansipasi sih emansipasi, tapi ya nggak dalam hal menyatakan perasaan juga kali.“ Ify menggeleng-geleng, tak habis pikir dengan jalan pikiran cewek tomboy macam Agni. “Nih ya, Ag. Buat gue, cewek itu bukan memilih, tapi di pilih. Dan cewek itu nggak mencari, tapi menunggu.“

Agni melongo mendengarnya. Lebih tepatnya, sedikit kurang paham dengan maksud ucapan Ify. “Sumpah nggak ngerti.“ Ia meringis.

Ify menepuk keningnya. “Gini, prinsip gue, gue nggak memilih seseorang untuk cinta gue, tapi biarkan gue yang dipilih seseorang untuk dijadikan cintanya.“ Jelas Ify perlahan. “Dan buat gue, gue nggak akan mencari cinta--ya meskipun yang pernah gue denger jodoh itu mesti dicari, tapi gue lebih memilih untuk menunggu cinta itu datang sendiri ke gue.“

Agni mengangguk paham. “I see. Dengan kata lain, elo lebih milih untuk nunggu Rio sampe tu bocah ngeshoot elo gitu?“

“Something like that.“

“Emang loe yakin, dia bakal nyatain cinta?“

“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini Agni...“ Ify berujar gemas. “Lagian, gue pernah baca gini 'women always know'. Kita para cewek udah bisa nebak kalau lagi ditaksir, karena mayoritas cowok Indonesia lebih sering ngelakuin 'serangan' terbuka. Perhatian yang tiba-tiba, semacam nanyain 'udah makan belum?' Atau 'jangan lupa makan yah..' Ya, kan?“

“Jadi maksud loe, loe cukup ngerasa kalau Rio ada rasa gitu sama loe?“

“Yep!“

Ify kembali mematut dirinya di cermin dan kemudian meraih tas tangan berwarna satu tingkat lebih cerah dari warna mini dress merah marun miliknya.

“Eh, gue duluan bareng sama Zahra yah, loe tungguin aja Cakka bentaran, kalau nggak salah tu anak mau ke rumah Rio dulu deh.“ Pesan Ify sebelum pamit.

Agi mengacungkan satu jempolnya. “Eh tapi, emang Zahra nggak bareng Dayat?“

“Bareng kok, sama adeknya Dayat juga, siapa tuh namanya? Ozy? Nah, makanya gue nebeng, sekalian nemenin Ozy lah.“ Ucap Ify sambil tertawa kecil. Kemudian segera keluar dari kamarnya, menghampiri Zahra yang--melalui pesan singkatnya memberitahukan, telah berada di halaman depan.

“Kak, loe pergi sendiri?“

Oliv yang nampak cute dengan dress model baby doll berwarna pink lembut menyambut Ify dengan pertanyaan itu, ketika Ify berpapasan dengannya di anak tangga.

“Bareng Zahra tuh, di depan. Loe nggak barengan sama Ray?“

“Bareng kok. Tapi tu anak lagi ngisi bensin.“ Ify mengangguk. “Gue pikir, elo pergi bareng Rio.“

Ify meringis. Kenapa semua orang berharap dia pergi bareng Rio sih?

“Gue duluan deh, Liv. Kasian tuh Zahra nunggu diluar, bye!“
***

Jas semi formal berwarna hitam dengan kemeja putih didalamnya, berpadu dengan pantofel hitam mengkilap--disepasang kakinya, telah melekat ditubuh jangkungnya. Not bad, ohh bukan sekedar not bad tapi...very good!
Lelaki itu menatap bayangan dirinya dengan seulas senyum tipis penuh kebanggaan.

“Yah, nggak salah gue jadi inceran cewek-cewek HB, gue ganteng gini kok.“ Narsisnya.

“Rio!!! Gue masuk yah?!“ Teriak sebuah suara dari luar pintu kamarnya. Bisa ditebak, pemilik suara itu adalah Cakka.

Cklek!
Rio membuka pintu kamarnya dan memberikan sedikit jalan untuk Cakka memasuki kamarnya.

“Wetss jadi ganteng aja lo, Yo.. Ke dukun mana dulu, tadi?“ Tanya Cakka sesukanya. Rio mendelik tak terima, dan melayangkan sebuah 'ketukan' di kening Cakka.

Tuk!

“Sialan! Dari zaman Tuhan nitipin gue ke perut nyokap gue, gue udah dikasih kegantengan tau?“

“Nggak tau, tuh...“ Ucap Cakka jahil. “By the way, loe nggak niat jemput Ify?“

Rio menggeleng. “Nggak. Mental gue mesti dipersiapin sebaik mungkin nih buat kenekatan gue yang tinggal menghitung menit.“

Cakka menoyor kepala Rio penuh nafsu. “Lebay loe. Yah, gue harap dia masih mau berbaik hati buat ngasih jawaban terbaik, buat kebahagiaan loe.“ Ujarnya berlebihan.

Rio melirik Cakka. “Sekarang, siapa yang lebay?“
***

Ruangan serba guna yang memang luas itu terlihat begitu cantik. Sebuah panggung kecil--dilengkapi dengan seperangkat alat band, kursi-kursi yang nampak cantik dengan hiasan pita, lilin-lilin kecil di atas meja, dan lampu-lampu ruangan yang terkesan redup, remang-remang membuat suasana romantic tercipta dengan sendirinya.

Di sudut panggung, nampak sepasang kekasih yang tengah asyik bercengkrama sambil menunggu teman-temannya yang lain.

“Anak-anak mana deh? Lama amat.“

Shilla, setengah melirik ke arah jam di tangannya bertanya pada Riko yang berdiri disampingnya.

“Dandan dulu kali, jadi lama.“

“Hei, bro!“

Sebuah tepukan diiringi sebuah sapaan sontak membuat Shilla dan Riko menoleh secara bersamaan.

“Lama amat loe-loe pada, kirain pada tepar.“ Seru Riko sambil menyalami Rio, Cakka, dan Agni bergantian.

“Cantik banget loe Ag, malem ini.“ Puji Shilla sambil bercipika-cipiki dengan gadis tomboy tersebut.

Agni menyeringai lebar. “Loe lebih.“

“Ify mana?“ Tanya Shilla sambil mengedarkan pandangannya, mencari sosok mungil yang memang telah seperti sahabat baginya.

“Lha, Ag. Bukannya tu anak udah duluan?“ Tanya Cakka yang mulai ikut clingukan.

“Gue nggak tau, tadi dia emang duluan kok bareng Zahra.“

“Perhatian! Perhatian!“

Suara Patton, selaku MC malam ini membuat semua insan di ruangan ini menghentikan percakapan mereka, termasuk Agni dan yang lainnya. Secara serentak mereka memfokuskan diri ke arah panggung, tempat Patton berdiri.

“Sebelumnya, selamat malam semuanya!“ Sapa Patton bersemangat, yang dijawab dengan tak kalah semangat oleh semuanya.

“Okay, ngomong-ngomong, gue pengen bilang congrats buat panitia acara pesta akbar tahunan sekolah kita tahun ini. Rio cs, ada semuakan? Nggak pada teparkan? Kerja kalian sukses, guys.“ Puji Patton. “Ngomong-ngomong, udah pada nerima surat kelulusan dong? Lulus semua kan?! Itu artinya malem ini, kita nggak usah mikirin yang macem-macem, lupain semua masalah dan kita have fun bareng-bareng disini. Setuju?!!!“

Semua bertepuk tangan, menyetujui ucapan Patton.

“Dan sebagai pembuka acara kita malam ini, gue mau memberikan penampilan spesial gue..ahahaa..“ Patton tertawa, sedikit malu juga dengan kenarsisannya. “Gue, mau nyanyi--dan ini langka banget kan? Lagu Yakin dari Radja!!“ Riuh tepuk tangan menyela ucapan Patton. “Dengan diiringi permainan gitar dari adik kelas kita, Raynald!!“

Dan tepuk tangan pun kembali bergemuruh menyambut penampilan Patton.

Bukalah hatimu untuk diriku
Sebelum cinta hilang
Seperti bintang ku puja dirimu
Seperti malam datang

“Gila! Asyik banget nih Patton milih lagu.“ Celetuk Riko dengan lirikan mengarah pada Rio.

“Yoi, bro. Kayak kode gitu ye nggak?“ Sambung Cakka. Agni dan Shilla kompak menahan tawa.

“Rese amat sih loe pada.“ Dengus Rio sambil melangkah pergi.

Sebenarnya, dari tadi ia memang sudah ingin menjauh. Berada ditengah-tengah couples sebagai seorang single, mana enak sih. Rasanya seperti nggak laku, dan yang paling pasti 'kacang' bertebaran. Bete kan?
Dan godaan--ledekan, dari mereka semua menjadi alasan Rio untuk menjauh dari keramaian, sekaligus bermaksud untuk mencari sosok bidadari hatinya yang belum juga terlihat.

Yakinkan cintamu kepadaku
Agar aku bisa memiliki
Setulus hatiku mencintai dirimu

Lupakanlah smua mimpi-mimpi
Walaupun bayangnya menghantui
Yang kadang slalu ingin memilih..cinta

***

Ify nampak menikmati suara lembut Patton yang tengah mengalun. Disebelahnya ada Zahra dan Dayat yang sedang seru-serunya membahas sesuatu yang ia sendiri kurang paham. Atau mungkin memang karena ia tidak berniat untuk mendengarkan?


Katakan bila hatimu gelisah
Memberi cinta yang indah
Jangan memaksa kan ingin yang lain
Tunggulah cinta memanggil

“Fy..“

Sebuah suara halus yang menyebutkan sepenggal namanya membuat Ify menoleh. Sedikit terpesona--hingga terdiam tak bersuara, Ify menatap Rio --seseorang yang menyapanya-- tak berkedip.

TUK!

Rio mengetuk kening Ify, iseng. Membuat Ify tersadar dan secara refleks membawa perubahan pada raut wajah terpesonanya menjadi lipatan-lipatan kejengkelan.

“Apaan sih?! Iseng banget.“

Rio tertawa kecil, “habis elonya sih, ngeliatin gue sampe nggak kedip gitu. Gue ganteng yah?“ Tanya nya narsis dengan nada menggoda, lengkap dengan aksi menaikkan kerah kemejanya.

Ify bergidik malas. “PD!“

Yakinkan cintamu kepadaku
Agar aku bisa memiliki
Setulus hatiku mencintai dirimu

Lupakanlah smua mimpi-mimpi
Walaupun bayangnya menghantui
Yang kadang slalu ingin memilih..cinta

Hening.
Rio dan Ify terkurung dalam diam, tanpa sadar bahwa beberapa orang yang tadi ada disekitar mereka telah menjauh entah kemana. Tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan.
Hingga akhirnya, Rio meletakkan gelas minuman ditangannya, dan kemudian mencolek pundak Ify dengan ragu.

“Apa?“ Tanya Ify dengan alis terangkat.

“Ikut gue yuk!“ Rio mengajuk sambil tersenyum kaku.

Entah mengapa, Ify merasa detak jantungnya mulai tak normal. Lonjakan detakkannya terasa berlebihan. Mendadak gadis ini merasa, mulas.

“Kemana?“

Rio menggaruk-garuk pelepisnya dengan bingung. “Ke taman sekolah bentar.“

Ify mengetuk-ngetukkan giginya, kemudian mengangguk setuju. “Gue naruh gelas ini dulu yah.“
***

Cakka menyikut-nyikut perut Riko yang berdiri disampingnya. “Sstt..sstt, mau ikut nggak?“

“Kemana?“

“Ngeliat free show spektakuler, di jamin nggak nyesel deh.“ Jawabnya sambil terkikik geli.

“Hayo! Ngomongin apa?“ Tanya Shilla yang tiba-tiba saja menyembulkan kepalanya, dari balik punggung Riko.

“Nih, si Cakka mau ngajakin nonton.“

Agni mengernyit bingung. “Nonton apaan, Kka?“

Cakka diam. Sengaja memperlambat jawabannya, membuat 3 anak manusia didekatnya menyipit penasaran.

“Nungguin yah?“ Ucapnya jahil.

TUK!

Agni menjitak kepala Cakka dengan gemas. “Seriusan deh nggak pake bercanda! Muka loe mencurigakan banget sumpah!“ Ucap Agni tak sabaran, Shilla mengangguk setuju.

“Kayak maling yah, Ag..“ Celetuk Riko.

“Gue kan emang maling..“ Sahut Cakka, “..maling hatinya Agni~“

Agni mendelik malas mendengarnya. “Jayus!“

“Aku kan jujur, sayang~“ sahut Cakka dengan manis--bermaksud untuk menggoda Agni, lengkap dengan tampang polos.

“Mau 'ini' lagi?“ Agni menyiapkan tangannya untuk menjitak Cakka, lelaki itu kontan menutupi kepalanya.

“Jangan dong, Ag.. KDRT nih. Yuk deh, loe semua ikutin gue!“

“Dari tadi kek, dut.“

Cakka mendelik mendengar kata 'dut' yang diucapkan Riko. “Apa loe bilang?!“ Tanya nya garang. Riko menggeleng cepat sambil menunjukkan tanda damai dengan kedua jarinya.
***

Ify menatap earphone yang diulurkan Rio kepadanya dengan alis bertaut. Bingung, apa maksudnya ini?

“Dengerin deh.“ Ujar Rio yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.

Dengan ragu Ify meraih earphone yang terpasang di Iphone tersebut, dan menyumbatkan ke telinganya.

Rio tersenyum, dalam hati ia merapalkan doa demi kelancaran semuanya.
Ia menekan-nekan layar Iphone di tangannya. Hingga...
Ify tersentak kaget, dengan bola mata melebar sempurna. Ekspresi yang diyakini Rio merupakan akibat dari sesuatu yang sedang didengarkan oleh gadis itu
Beberapa waktu berlalu, Rio yakin betul Ify telah mendengar seluruh pengakuan yang terekam dan terputar saat ini. Ia semakin menatap dalam wajah Ify yang semakin menunduk, seolah menghindari tatapan Rio yang menghujam tepat ke kedua manik matanya.

Meski tahu rekaman itu telah berhenti, Rio tetap membiarkan Ify yang belum memberikan reaksi. Mungkin kaget, tidak menyangka.

Sementara itu, dari balik bulu matanya, Ify dapat melihat ekspresi penuh harap yang tercetak di wajah Rio.

“Jangan pura-pura masih ngedengerin deh, Fy. Itu rekaman gue yang buat, dan gue tau banget seberapa lama durasinya.“ Ucap Rio yang nampak tak sabar karena Ify yang tetap bungkam.

Ify sampai tersentak ke belakang karena terkejut.

“Jangan ngehindar. Seperti yang gue minta, jawab aja sekarang. Gue tau loe udah tau loe udah punya jawabannya kan?“

Rio tak dapat menahan rasa ge-ernya begitu mendapat wajah Ify yang bersemu merah, lengkap dengan senyum malu-malunya.
Dengan perlahan, ia melepaskan earphone yang masih terpasang ditelinga Ify dan mengangkat wajah gadis cantik tersebut.

“Jadi, apa jawaban loe?“

Ify yang masih sedikit shock mengerjap sekali, kemudian berdehem kecil.

“I..ini, serius?“ Tanya nya berusaha normal. Meskipun yang terjadi, justru terdengar aneh karena suaranya mendadak parau.

Aku hanya ingin cinta itu pasti
Jangan adalagi keraguan
Aku hanya ingin cinta yang abadi
Seperti air...

“Apa loe liat gue lagi make topeng monyet? Kostum badut? Gue nggak bercanda!“ Ujar Rio tegas.

Ify menelan ludah dengan susah payah. Dengan --dipaksakan-- berani ditatapnya kedua bola mata bening milik Rio. Mencari kejujuran, dan memang ia tak menemukan kepura-puraan disana.

Perlahan tapi pasti, Rio menyentuh tangan Ify, menggenggamnya erat dan menatap Ify dengan tulus.

Loe mau kan, jadi cewek gue? Apa gadis itu bisa menjawab tidak untuk pertanyaan yang seolah-olah tidak membutuhkan jawaban. Karena sang penanya telah mampu menebak jawaban apa yang akan ia terima.

“Cieeee..jadi juga akhirnya~“ koor panjang itu membuat Rio dan Ify sontak menoleh ke sekelompok orang yang dengan serempak memasang senyum menggoda, tak jauh dari mereka.

“Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya mereka jadi juga!“

“Jadi loe nerima gue kan, Fy?“ Tanya Rio dengan mata berbinar.

Ify mengangguk dengan senyum malu-malu. Dan dengan sekali gerakan tubuh mungil itu telah menyatu dalam dekapan hangat seseorang. Seseorang yang memilihnya sebagai cinta. Seseorang yang ditunggunya untuk menjadikannya cinta. "I love you, Ify..."

• • • FIN! • • •

Huaaaa..alhamdulillah ya Allah!
Finally, gue bisa nyelesein final chapter *halahh* dari cerbung abal-abal yang udah gue tulis dari tahun lalu! Masih ada yg inget nggak sih? Kalau nggak inget dan berminat untuk inget, silahkan check notes saya yah pepss!
Huftt! Seandainya gue ngepost pas tanggal 22/23 des, pas banget tuh usia kengaretannya 1 TAHUN!
Okay, sebenernya gue emang sempet frustasi *ini lebay-_-* dan nggak mau ngelanjutin ini lagi. Sampe ngefix--kalau ini beneran nggak bakal dilanjut. Tapi..tapi..ditengah kegalauan hati, mendadak ide menamatkan WL muncul! Sempet stuck karena kehabisan ide buat acara 'jadian' nya RiFy dan lagi-lagi begitu ngebaca novel yang baru gue beli, gue dapet pencerahan!
Okay, ini suatu kejujuran, untuk adegan nembak Rio itu (via VN) gue ambil dari adegan penembakannya Adriel ke Becca di novel Khokkiri! (tapi cuman sebatas cara dia nembak maka vn, latar, kalimat dan beberapa lainnya olahan gue sendiri :D) Itu novel gila keren banget. Complicated deh, romantis, gentlement, dan apayah..gue nggak pernah tau kalau didunia ada penyakit semacam kepribadian ganda *okay, ini ngingetin gue ke...forget it deng* nggak cuman 2 kepribadian dalam satu tubuh doang, tapi bisa nyampe belasan! Dan itu yang dialami sama tokoh utama cewek di novel Khokkiri. Penuh misteri dan bikin senyum-senyum sendiri deh pokoknya.
Akhir kata, sorry typo(s)
Sorry gaje..
Sorry kalau terlalu 'lompat' banget alurnya..
Sorry for everything deh pokoknya.
Saran, komentar, kritik dan semacamnya masih gue tunggu meskipun ini final chap ya :p


Cheers!

@sugargirl08


Selasa, 20 Desember 2011

"_With Love Part 25_"


=====

Part 25

...

Seminggu telah berlalu. Masa-masa menegangkan dimana para siswa/i -kelas 3- Harapan Bangsa harus berperang dengan banyaknya soal yang tentu saja sangat menentukan masa depan mereka selanjutnya, telah mereka lewati. Beruntung saat-saat itu bisa dilalui Ify, Agni, Rio dan Cakka dengan -lumayan- lancar. Ya meskipun tidak 100% yakin kalau jawaban mereka benar seluruhnya, tapi setidaknya mereka cukup percaya diri kalau perjuangan mereka kemarin akan mengantarkan mereka pada gerbang kelulusan.
Kini semua perasaan takut yang menyelimuti mereka lenyap lah sudah. Berganti dengan rasa tidak sabar, akan hasil yang mereka peroleh.

Kalau rata-rata anak kelas 3 yang baru saja bisa mengikuti ujian bisa bersantai ria, hal berbeda justru harus dihadapi Rio, Ify dan beberapa panitia Pensi lainnya. Mereka mulai disibukkan dengan rapat perampungan rencana, untuk kembali membahas apa yang pernah mereka diskusikan sebelum ujian.

Seperti siang ini, disaat Cakka dan Agni asyik berkencan dengan bola basket mereka, Rio, Ify beserta panitia pensi lainnya -termasuk Riko dan Shilla- harus berkumpul di ruang OSIS dengan setengah hati. Gimana nggak setengah hati? Teman-teman yang lain diberi kebebasan untuk melakukan apa saja, dengan catatan tidak mengganggu adik kelas yang sedang belajar. Tapi mereka, justru harus kembali membahas pensi, pensi dan pensi. Membosankan...

"Okay, jadi mungkin emang lebih baik kalau pensinya digabungin aja sama acara perpisahan, prom night dan segala macemnya itu deh." ujar Rio mengambil keputusan, selaku ketua pensi.

"Tapi gimana ngadaiinnya? Dijadiin dalam satu hari semua? Pensi, perpisahan, prom night, belum lagi class meeting kan nggak akan bisa selese dalam satu hari, Yo?" tanya Zevana -salah satu anggota panitia pensi-  panjang lebar. Maklum, gadis manis bertubuh tinggi tersebut memang terkenal cerewet dan selalu bertanya dengan panjang lebar. Kalau menurut dia sih, "gue bukan cerewet, tapi kritis!" dan kritis itu pertanda pintar..

"Ya nggak mesti dijadiin satu hari lah, Va.. Gila aja kalau kayak gitu, tepar lah kita semua." celetuk Riko diangguki teman-teman yang lainnya.

Zevana mengangguk kecil, "So?"

"Emm gini, biar pensi, acara perpisahan sama prom night kita selesein dalam satu hari. Terus class meeting nya kita adain 3 hari sebelum acara 'akbar' -pensi, perpisahan, dan prom night- dilaksanain." jelas Rio "jadi gini, ntar di hari akbar itu siangnya kita adain pertunjukan seni yang emang udah ada didaftar, terus prom night ama perpisahan kita laksanain pas malam."

"Seharian, Yo?" tanya Ify kaget. Pasti sangat melelahkan, pikirnya. Rio mengangguk, mengiyakan. "capek dong?" tanya Ify setengah mengeluh.

"Iya, Yo. Apa itu nggak terlalu memforsir stamina kita? Gila aja, seharian kita ngurusin acara kayak gitu, pasti capek banget deh," tambah Shilla.

"‎​Yang ada ntar bukannya have fun karena acaranya, kita malah tepar gara-gara kecapean.." ujar Riko.

Rio mendengus, "gini yah, guys.. Kita kerja, kan bareng-bareng, pasti semuanya jadi lebih ringan. Lagian, konsepnya kan sama..jadi, soal tata panggung dan dekorasi lainnya nggak ada yang perlu dirubah."

"Lah, tapi kan pas pensi banyak wali murid yang hadir, Yo, otomatis kita nyediain kursi kan?" seloroh Rizky, Rio mengangguk "nah masa iya, pas malam perpisahan sama promnya tu kursi dibiarin disitu-situ aja? Kan jadi nggak enak?"

Semua diam. Memang benar yang dikatakan Rizky. Acara pensi, perpisahan, dan prom night memang satu konsep tapi tetap saja akan berbeda. Karena acara pensi akan dihadiri para wali murid -yang sudah tentu membutuhkan banyak kursi untuk para  undangan-, sedangkan perpisahan dan prom -semestinya prom hanya dihadiri para murid dan beberapa guru yang menjaga- hanya akan dihadiri para guru dan murid-murid. Yang mungkin perlu menyediakan kursi secukupnya saja.

"Gini deh, gimana kalau acara pensi kita adain dilapangan tengah aja, nah acara perpisahan sama promnya di aula sekolah?" ujar Ify memberi usul.

Zevana mengeluh tak setuju, "kita mesti nyiapin dua tempat dong, Fy.. Nggak ah, kan ribet."

"Nggak akan ribet. Kan yang diperluin buat pensi cuman panggung sama beberapa sound system beserta kelengkapan alat manggung eh sama kursi tamu juga deh, sedangkan acara malamnya kita cuman merluin panggung kecil sama ngedekor ruangannya dikit," jelas Ify "nah, kita kan juga bisa minta bantuan temen-temen. Pasti mereka mau kok, demi kelancaran acara bersama ini."

Semua mengangguk pelan, cukup setuju dengan pendapat Ify. Mau tak mau, Zevana pun ikut mengangguk.

"Iya deh," ujarnya.

Rio menghela nafas lega, "hufftt..oke setuju semuanya?" tanya Rio, semua kembali mengangguk. "Sipp, kalau gitu ntar kita tinggal mulai kerja. Soal class meeting, tenang aja. Gue udah minta bantuan anak-anak OSIS bidang olahraga buat ikut andil kok, jadi tugas kita-kita paling cuman jadi juri."

"Beneran, Yo?" tanya Zevana semangat.

Rio tersenyum, "ya gitu sih rencananya. Soalnya gue kasian sama lo semua, kita berenam disuruh ngehandle proyek segini besarnya. Mana bisa lah.."

"Kalau soal acara 'akbar' nya? Kita berenam doang atau dibantu yang lain juga nih?" Shilla bertanya.

Rio menggeleng, "seperti kata Ify, biar nggak ribet, kita minta bantuan temen-temen kelas 3."

Semua tersenyum lega, rapat terakhir benar-benar selesai. Dan selanjutnya, mereka hanya perlu menjaga stamina agar tidak kelelahan melewati minggu berikutnya yang akan menyita banyak waktu mereka.

"Oke guys, rapat selesai. Kalian boleh pulang."

Zevana dan Rizky yang memang berencana pulaang bareng segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Menyisakan Rio, Ify, Shilla dan Riko yang masih sibuk merapikan peralatan tulis mereka.

"Shill, ntar pulang bareng aku nggak?" tanya Riko ditengah-tengah keheningan mereka berempat. Shilla yang sedang menutup pulpennya menatap Riko dan mengangguk sekilas.

"Iya dong,"

Rio dan Ify yang sempat tersentak mendengar pertanyaan bernada ajakan yang dilontarkan Riko kepada Shilla, kembali terkejut saat melihat anggukan gadis cantik tersebut.

Dengan perlahan, Ify sedikit mendekatkan tubuhnya pada Rio. Dan memposisikan bibirnya tepat disamping telinga Rio, "Sstt..ssttt, Yo? Sesuatu nggak? Mereka mau pulang bareng." bisik Ify pelan, tepat disebelah kuping kanan Rio.

Rio merasakan hembusan nafas Ify ‎yang menyentuh kulit pipinya. Bulu kuduknya berdiri, mendadak tubuhnya terasa kaku ditempat. Apalagi, nafas Ify juga -pastinya- menerjang daun telinga Rio yang cukup sensitif. Rio meringis dalam hati, kenapa tiba-tiba gugup seperti ini?

"Yo? Yo?" bisik Ify agak keras. Rio yang terpaku mengerjapkan kedua matanya dan memutar kepalanya hingga tepat berhadapan dengan paras cantik Ify. Rio menelan ludah, jarak yang teramat dekat.

"Ekhemm.. Ekhemmm.." Shilla berdehem keras, sambil mengelus-elus lehernya.

"Aduh aduhh, kamu kenapa Shill? Batuk yah? Kok batuk sih?" tanya Riko seolah-olah panik, kedua matanya memicing menggoda kearah Rio dan Ify yang kompak menunduk.

Dengan senyum jahilnya, Shilla beranjak mendekati Rio dan Ify.

"Hayooo!! Ngapain tadi liat-liatan? Hahhh? Langsung salting lagi, ahahaa." godanya setengah tertawa.

Riko ikut mendekati Rio dan Ify, kemudian berdiri disamping Shilla dan merangkul santai pundak kekasihnya tersebut.

"Mana pake bisik-bisikan segala lagi, ayo ngomongin apa coba?" tambah Riko menggoda. Ia dan Shilla sama-sama terkikik melihat rona malu-malu yang menyembul dari balik pipi putih Ify. Sedangkan Rio, buru-buru menutupkan pulpennya dan bersiap pergi.

"Lo berdua kali, apaan coba mau pulang bareng segala? Pake rangkul-rangkulan lagi," balas Rio menutupi kegugupannya.

"Elo cemburu?" tanya Shilla santai, ia sedikit melirik ke arah Ify. Bermaksud untuk kembali menggoda 'teman baru' nya tersebut.

"Tau, nih.. Cemburu yah?" tanya Riko ikut menggoda.

Ify hanya melengos sebal, kemudian meraih handphonenya dan memasukkannya kedalam saku seragam sekolahnya. Mukanya terlihat kesal.

"Ap..apaan sih, nggak!" bantah Rio cepat "gue kan cuman nanya, ya kan, Fy?" tanya Rio pada Ify -setelah sebelumnya menyikut refleks lengan Ify- meminta persetujuan. Ify mengangguk acuh.

Shilla dan Riko sama-sama menahan tawa melihat perubahan raut wajah Ify.

"Jangan takut, Fy. Kita udah jadian kok, ahahaa." ucap Riko menggoda, Ify membesarkan kedua matanya tanpa sengaja "kita duluan yah, bye!" pamit Riko seraya membimbing Shilla untuk melangkah bersamanya.

"Duluan, Yo.. Fy!" pamit Shilla "Lebih baik cepet-cepet jadian deh!" serunya dari jauh.

Mendengar seruan yang lebih bersifat sebuah saran -suruhan-, sontak membuat Rio dan Ify bertukar pandang, detik berikutnya mereka sama-sama tertawa kecil dengan canggung.

"Eh emm, Yo.. Gue..gue duluan yah, bye!" pamit Ify, yang segera berlari meninggalkan Rio seorang diri.

Rio mendesah. Kapan keberanian itu muncul? Kapan hatinya benar-benar siap menyatakan perasaan terpendam yang kian hari semakin nyata?

"Huhhh.. Rio.. Rio.. Cuman nembak Ify aja, gak bisa-bisa," keluhnya pada diri sendiri.

.. .. ..

Suasana kantin siang ini cukup sepi. Mayoritas pengunjungnya adalah siswa/i kelas 1 dan 2, hanya ada segelintir siswa/i kelas 3 yang mengisi bangku kantin saat ini, tidak banyak. Maklum, rata-rata anak kelas 3 menghabiskan waktu di kantin saat jam bebas -yang hanya diberikan kepada murid kelas 3-, yang sama dengan artinya jam belajar bagi murid-murid kelas 1 dan 2.

Tukk.. Ray dan Lintar sama-sama meletakkan sebuah baki berisi 2 porsi makanan dan 2 gelas minuman -yang masing-masing mengisi baki mereka-, di meja tempat Oliv dan Nova menunggu mereka. Kedua gadis yang tadinya asyik mengobrol lantas menyuguhkan seulas senyum penuh terima kasih kepada kekasih mereka tersebut.

"Makasih!!!" seru Oliv dan Nova bersamaan. Keduanya segera meraih pesanan mereka dan bersiap untuk menyantapnya.

Lintar berdecak kecil, "ckckckk, kalian kelaperan pake banget yah? Segitunya nyambut tu makanan." ujarnya, seraya menghempaskan tubuh kurusnya disamping Ray.

"Tau nih," tambah Ray.

Yang ditanya hanya menyeringai lebar sambil tetap melanjutkan suap demi suap makanan mereka.

Glekk.. Oliv meneguk minumannya dengan buru-buru ketika teringat sesuatu tentang Ray. Mumpung inget, ntar kalau lupa nggak bakalan ketanya-tanya deh, pikirnya.

"Eumm, Ray.."

Ray langsung menghentikan makannya, dan menatap Oliv, "ya?"

"Festival yang pengen kamu ikutin itu gimana?"

"Ohh itu, ya--"

"Elo ikut festival, Ray?"

"Festival apaan?" tanya Nova dan Lintar nyaris bersamaan, memotong jawaban Ray.

"Emang lo berdua belum tau?" tanya Oliv, Nova dan Lintar kompak menggeleng "jadi, Ray rencananya mau ikutan festival drum yang diadain sama salah satu universitas swasta gitu." sambungnya.

Lintar membulatkan mulutnya, setelah menelan habis sesendok nasi goreng miliknya. Sedangkan Nova mengangguk paham.

"Kirain festival yang pawai itu," celetuk Nova polos.

"Enak aja, lo pikir gue anak TK apa?!" sungut Ray tak terima, Oliv terkikik pelan.

"Ya secara status, elo emang bukan anak TK Ray, tapi secara postur tubuh..." Lintar berdiri, memasang gaya seolah-olah tengah meneliti penampilan Ray dari atas ke bawah. "Lo TK banget." sambungnya santai.

Tuinggg..dengan pelan sendok ditangan Ray mendarat di tempurung kepala Lintar. Membuat lelaki hitam manis tersebut meringis kecil sambil memegangi kepalanya.

"Hehh, tolong yah, sesama pendek jangan saling hina!"

"Ahahaa, udah-udah," lerai Oliv "jadi, festivalnya kapan?"

"Seminggu lagi, nonton yah.." pinta Ray, dengan memasang tampang imutnya.

"Pasti dong!" seru Nova dan Lintar kompak.

"Idihh, siapa yang minta lo berdua, gue minta ke Oliv yah."

"Biarin!" cibir Nova dan Lintar, yang lagi-lagi bersamaan.

.. .. ..

Sehari setelah Rio dan kawan-kawan melakukan rapat, mereka mulai segera beraksi menjalankan tugas.

2 hari setelahnya, lapangan siap, peralatan lomba -nomer urut peserta, net untuk voli, dan lain sebagainya-, serta meja dewan juri juga telah siap. Setelah memastikan semuanya aman, Rio pun berjalan menghampiri Ify yang sedang sibuk membagikan minuman kaleng dingin kepada teman-temannya.

“Waduh, tinggal satu,“ Ify memandangi sekaleng minuman dingin ditangannya dengan bingung. Minuman tinggal satu, tapi selain dirinya sendiri, masih ada satu orang lagi yang belum mendapatkan jatah minum.

“Fy, minuman gue mana?“ tanya Rio setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk mendaratkan sebuah tepukan ringan dibahu Ify.

Gadis yang sebelumnya asyik menatap bingung pada minuman kaleng ditangannya, lantas mendelik kesal dengan kening berkerut.

“Apaan, sih?!“ tanyanya ketus.

Rio menelan ludah, "yaelah, galak amat neng. Jatah minum gue mana? Haus nih..“ pintanya dengan tangan menengadah.

Ify berdecak kesal, dan buru-buru menyodorkan minuman ditangannya. “Nih..“

“Nggak ikhlas amat,“ Rio mencibir. Setelah itu ia langsung membuka kaleng minuman, dan menenggak isinya. "Elo nggak minum?" tanya nya.

Ify menggeleng, “nggak haus..“

“Iya?“

Ify mengangguk dan menggumam pelan. “Hem...“
Dalam hati Ify membathin jengkel. Hawa panas, dari tadi kerja, dan belum minum. Ditanya minum apa nggak, dan dijawab "nggak haus" Rio malah percaya. Nggak peka amat, mana ada sih, orang yang tahan kerja dalam waktu lama tanpa minum.

Rio memperhatikan sekeliling Ify, lebih tepatnya disekitar kanan dan kiri Ify. Tak sebuah pun ditemukannya kaleng atau botol minuman. Dengan heran Rio membathin, masa' iya Ify nggak haus? Secara daritadi dia sibuk kerja dan menurut se-penglihatannya sih, Ify belum minum seteguk pun.

“Nih..“ Rio menyodorkan minuman miliknya kepada Ify. "Ambil..“ suruhnya, saat tak mendapat respon dari Ify.

“Apaan?“

Rio menarik tangan Ify dan memindah tangankan minumannuya kepada Ify.

“Nggak usah belagak nggak haus deh,“

“Lo nyuruh gue minum bekas punya lo, gitu?“ tanya Ify -agak- nyolot. Yang bener aja, masa bekas?

“Iyalah, kenapa emangnya?“

“Masa' bekas?“

Rio melayangkan sebuah toyoran pada kepala Ify. “Yee..lo pikir gue penyakitan? Udah minum, bentar lagi mendung. Lo nggak mau gue anter pulang?“

“Eh iya, iya..“

Dengan ragu Ify menenggak minuman -bekas- Rio tersebut, tanpa sisa. Sedangkan Rio hanya menatap Ify dengan mata melotot. Karena, minuman tersebut baru diminum olehnya sedikit dan sekarang....habis tanpa sisa.

“Nih,“ Ify meletakkan kaleng kosong ditangannya dalam genggaman Rio. Rio masih menatap 'shock' ke arah Ify. "Ayo, pulang!" sambung Ify mengajak, dengan semangat. Rio? Dia hanya menurut pasrah sambil mengguncang-guncang kaleng minuman ditangannya. Benar-benar kosong...


Ditempat lain...

Seorang gadis cantik, berambut panjang terlihat fokus menatap ke satu titik. Titik dimana 'pangeran' hatinya sedang sibuk memasang net voli dengan temannya yang lain.
Dari jauh, 'pangeran' nya tersenyum. Kemudian, setelah memastikan kerjaannya selesai, ia melangkah menghampiri gadis yang masih setia menunggunya.

“Sorry yah, Shill..lama..“

Shilla menggeleng tak masalah. “Nggak papa, kok.“ ujarnya, sambil menyeka keringat yang mengalir di kening Riko.

Riko tersenyum manis, ia mengulurkan tangan manisnya yang segera disambut oleh Shilla. Keduanya pun berjalan beriringan dengan tangan saling mengenggam.

“Jadi...hari ini mau ditemenin kemana?“ tanya Riko.

Shilla menggeleng, “nggak ada rencana, lagian aku capek banget. Jalan-jalannya setelah event sekolah selesai aja yah..“

“Setuju!“

Dan keduanya pun terus melangkah, saling menggenggam tangan dengan erat, seerat keduanya menggenggam cinta mereka. Dalam diam, tanpa berucap. Namun saling menebar senyum ceria.

.. .. ..

Suara berisik yang teramat mengganggu membuat Agni semakin memijat kepalanya dengan kuat. Rasa sakit dikepalanya semakin bertambah ketika mendengar suara gedebak gedebuk hasil dari perbuatan Ray. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia? Apalagi dalam waktu dekat, sepupunya tersebut akan mengikuti festival drum yang memang sejak dulu sangat ingin diikutinya.

"Raynald!!! Berisik! Bisa diem nggak sih, lo?!" teriak Agni dari kamarnya.

Beberapa menit kemudian, kepala berambut gondrong telah menyembul dari balik pintu kamar Agni yang tak terkunci.

"Ehehe..sorry kak." Ray mengacungkan kedua jari telunjuk dan tengahnya. "Maklumin dong, kan bentar lagi gue performe, butuh latihan ekstra keras biar gue bisa menang ntar..."

Agni berdecak kesal. Bukan tak ingin memaklumi, tapi rasa sakit di kepalanya membuat ia susah untuk di ajak berkompromi.

"Gue lagi migran, gondrong..." ucap Agni gemas.

"Yah, kak..minum obat lah~"

"Obatnya abis!"

"Beli.."

Agni melengos, "ogah elo aja sono, gue lagi sakit disuruh pergi."

Ray mendengus sebal sambil sedikit menghentakkan kakinya. "Ya udah, diem lo disitu!"

Agni melongok mendengar ucapan Ray. Itu anak maksudnya apaan deh? Mau ngebeliin obat buat dia, atau apasih?
Tak ingin ambil pusing, setelah sebelumnya menghembuskan nafas lega, Agni kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan kedua matanya.

.. .. ..

Tapi aku malu~
Ku malu-malu tapi mau~
Sungguh-sungguh aku malu~
Merona merah pipi ku~

Ify senyum-senyum sendiri saat mendengar lagu 'malu-malu tapi mau' yang dibawa kan oleh Echa Mamamia tersebut. Sekilas terlintas wajah Rio yang tengah tersenyum manis kepadanya. Harus ia akui, semakin hari perasaannya pada Rio semakin besar. Dan dalam hati kecilnya, ia sangat berharap Rio pun memiliki rasa yang sama kepada nya. Tingkah Rio memang sudah menunjuk kan kalau pria tersebut 'any feeling' pada Ify. Tapi tetap saja, kalau tidak ada pengakuan, semua tingkah laku Rio -yang menunjuk kan kalau dia menyukai Ify- hanya akan menjadi tanda tanya besar dalam benak gadis tersebut.

"Hahh..ribet emang, masa gue naksir sama cowok model Rio, sih? Orangnya songong, nggak peka..hufttt."

Ify bergumam sendiri sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. Ia masih asyik menikmati lagu yang mengalun dari mp3 nya, lagu 'malu-malu tapi mau' itu.

Tapi aku malu~
Ku malu-malu tapi mau~
Tuhan tolong lah diriku~
Buat lah dia jatuh cinta padaku..itu pintaku~

"Aminnn..."

Tanpa sadar, Ify malah mengamini lirik terakhir dalam lagu tersebut.

"Apanya yang amin?" tanya Oliv, yang tanpa permisi langsung masuk ke dalam kamar Ify.

"Ya ampun, Oliv! Ketuk dulu kek sebelum masuk, bikin kaget aja."

Oliv melengos, "salah lo sendiri, kak..kamar lo kan nggak di kunci, nggak di tutup juga lagi."

Ify mendengus tak perduli.

Oliv melangkah perlahan mendekati Ify, kemudian gadis itu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur Ify. "Kak?"

"Hemm.."

"Elo sama kak Rio...udah jadian, belum?"

Ify mematikan mp3 nya dan berbalik menatap Oliv. "Belum."

Oliv bangun dengan segera, "belum? Berarti lo ngarep dong, bisa jadian ama dia? Hayyooo.." goda Oliv.

Ify yang sebelumnya menjawab pertanyaan Oliv dengan asal dan sedikit tidak fokus langsung membelalakan kedua matanya.

"Hahh?! Emang gue tadi bilang apa?"

Oliv berdiri dan tersenyum samar. "Emmm..bilang apa yah? Pikir sendiri deh." jawab Oliv, dan segera meninggalkan Ify.

"Oh No! Gue tadi bilang apa sama Oliv?!!!"

-----

Well...ini cerbung bener-bener-bener ngaret! Udah berapa bulan, yah? Sebulan? Dua bulan? Atau 3 bulan? Gue lupa-__-- dan hasilnya cuman secuile inii...
Mungkin juga banyak yang lupa sama part sebelumnya kalau lupa di check lagi yah part 24 nya._.v

Ohh iya, mungkin juga ada yang ngerasa alurnya kecepatan?
Emang sengaja sih, soalnya ini cerbung rencananya bakal segera diendingin. Malah sebenernya nggak pengen gue lanjut. Krisis ide, krisis pd, krisis waktu, krisis semuanya itu adalah alasan kenapa gue berpikir kayak gitu.

Jujur gue nggak pd ngepost ini difb makanya gue ngepost di blog (-̮_-̮")
Tapi ntar kalau ada yg minta di post di fb, ya gue usahain deh yahhhh..

Okayy..readers, likers, dan komentator (?) makasih buat partisipasinya dalam meningkatkan semangat menulis gue ahahaaa...


Seeyaaa...

_Nia 'nistev' Stevania_