A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 03 November 2014

Cerita Tentang Ify (dan Blink) #2

Selamat siang sobat muda pengunjung setia blog saya^^

Nggak terasa ya, sudah cukup lama juga gue mangkir dari kegiatan ngeblog tentang idola gue. Nggak lama-lama amat deng. Okay, berdasarkan kalimat pembuka tadi, pastinya kalian sudah bisa menebak kalau apa yang akan gue bahas kali ini masih akan tentang idola gue, Ify.
Oh bukan, ini bukan tentang kerandoman RFM selang dua hari anniv #RFM4est yang dikejutkan dengan penampakan kekompakan RiFy (lagi-lagi) dalam hal berpakaian yang satu tema, stripes hitam putih dengan masing-masing outer/vest yang warnanya hitam. (asli, gue nggak bisa nggak bilang kalau gue bener-bener nggak habis pikir, kenapa mereka bisa -sering- sekompak itu sih wkwk)

Bukan juga tentang kehadiran Ify (+ Blink tentunya) di La academia hari minggu tadi, yang sukses menggemparkan TL karena Rafy bertemu haha..
Tapi ini tentang hal lain, mengenai Ify lah pastinya, dengan satu talent nya yang lain-yang belum pernah gue bahas.
Modeling. Eh sebelum gue bahas soal ini gue juga mau berbagi cerita tentang Ify dan pendidikannya. Mungkin ada beberapa dari kalian yang ketinggalan infonya, berdasarkan cerita offy, ternyata teteh sudah mengikuti test audisi ujian masuk Musik UPH.
Selama test berlangsung, teteh menyanyikan 3 buah lagu didepan dosen-dosen UPH. Diantaranya, My Favorite Thing (Al Jarreu), God Bless The Child (Whitney Houston), dan Mencintaimu (Krisdayanti). Selain di test menyanyi, Ify juga di test secara lisan-wawancara dengan penguji, ujian tertulis, dan di akhiri wawancara bersama direktur.
Sudah sering menyanyi di hadapan banyak pasang mata ternyata nggak cukup jadi modal untuk Ify bisa tenang menghadapi penguji. Tegang parah katanya, haha..
Nah, dan sekarang-selepas mengikuti test, sepertinya teteh sudah bisa sedikit lebih tenang karena satu tahap sudah dilalui. Tinggal nunggu hasilnya aja deh. Kira-kira sebulan lagi, dan mari kita sama-sama doakan, semoga hasilnya memuaskan dan sesuai harapan. Aamiin O:)




Blink at Bazaar Fashion Festival 2014



Nah balik lagi ke soal modeling, selain asyik dengan dunia akting dan menyanyi sana-sini, diam-diam Blink juga punya kemampuan lain dibidang modeling lho. Meskipun basic mereka penyanyi, tapi nyatanya mereka cukup PD untuk wara-wiri di atas catwalk dalam sebuah fashion show.

Kalau ditahun sebelumnya mereka memperagakan brand Shopie Paris, beberapa waktu lalu dalam acara Pasar Indonesia dan Bazaar Fashion Festival, Blink memperagakan busana rancangan dari salah satu designer Indonesia, Michelle Maitlin. FYI, dalam beberapa kesempatan perform, Blink memang sering memakai rancangan beliau.

Blink di menit ke 06 : 40

ESMOD - Pasar Indonesia dan Bazaar Fashion Festival 2014



Wah, salut deh sama mereka. Karena semakin banyak hal baru yang mereka coba, semakin banyak pengalaman yang mereka dapatkan. Semoga ke depannya banyak prestasi-prestasi positif lainnya dari Blink yah^^


Blink dengan rancangan Michelle Maitlin



Jadi, siapa yang nggak bangga menjadi IFC dan Blinkstar? :)


#muchlove!

Kamis, 23 Oktober 2014

#Happy24daysRFM #RFM4est

Dear kesayangan......


Semua yang terjadi di muka bumi ini atas izin dan kuasa Tuhan. Begitupun dengan kebersamaan yang kita jalin dalam 'keluarga' kecil ini. Susah-senang kita lalui bersama, suka dan duka turut mewarnai hari-hari kita. Salah paham dan perselisihin ikut mengisi kebersamaan kita. Semuanya bukan tanpa alasan, jelas bertujuan untuk semakin mendewasakan.

Berbagai masalah yang datang dalam 'keluarga' ini pun ikut membantu saya belajar tentang banyak hal.
RFM. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa saya akan bergabung dalam suatu komunitas couple, bahkan selama ini. Komunitas tak resmi, yang tadinya hanya 'just fur fun' tapi saya sadar ini lebih dari sekedar itu.
Kita belajar, berbagi, berkreasi, berimajinasi, dan melakukan banyak hal lainnya.
Ini bukan komunitas biasa. Ini keluarga! :)
Kita bukan sekelompok manusia tidak berguna, tapi sekelompok manusia dengan banyak keunikan dan kebiasaan yang selalu berusaha menciptakan suatu karya.
Saya bangga dengan RFM. Kita memang bukan suatu kelompok yang sempurna, karena kita terdiri dari sekumpulan manusia yang telah sering disebut sebagai 'tempatnya salah dan khilaf'.
Saya menjadi semangat menulis salah satu alasannya karena RFM. Saya rasa, teman-teman lain pun juga banyak yang seperti saya :)
Banyak yang datang, ada pula yang pergi. Tapi saya harap, itu semua tidak menjadikan kalian-kalian yang tetap tinggal, menjadi berkecil hati. Dan kalian yang pergi-dengan alasan sakit hati, semoga setelah ini kehidupan kalian menjadi lebih tenang dan bahagia, tidak seperti sebelum berada disini :)

Banyak harapan yang ini saya tuangkan disini. Untuk saya, untuk kalian, untuk kita semua yang menjadi bagian dari 'keluarga' kecil ini.

Menjadi dewasa. Belajar dari segala permasalahan yang ada. Memilah mana yang harus dijawab, mana yang harus di diamkan. Mana yang harus diberi tanggapan, mana yang cukup diberi senyuman.
Pisahkan, mana randoman dan mana kenyataan. Jangan kita recoki kehidupan pribadi inspirasi kita (re. Ify ataupun Rio) dengan imajinasi kita.

Tau batasan. Karena mereka hanyalah dua orang yang kita satukan untuk inspirasi karya kita, atau randoman just fur fun kita. Jadi, jangan bawa-bawa itu semua ke kehidupan nyata mereka.
Ah, tolong (kalau mungkin ada salah satu dari kalian yang melakukan ini) berhenti menjadi annoying untuk hubungan Ify dengan pasangannya, atau Rio dengan pasangannya/orang terdekatnya. Jangan bawa-bawa nama Ify di dalam kehidupan Rio dengan pasangannya/orang terdekatnya. Pun sebaliknya, jangan bawa-bawa nama Rio di kehidupan Ify dengan pasangannya.
Hidup mereka, pilihan mereka. Mengertilah bahwa tidak semua hal dari mereka pantas untuk kita campuri :)

Menjadi lebih sabar. Sabar itu tidak ada batasnya. Kalau ada yang bilang, 'saya sudah cukup sabar,' atau semacamnya, saya pastikan dia sama sekali bukanlah orang yang sabar.
Setiap orang-kelompok punya haters dan lovers, ada orang-orang yang terus mendukung dan ada pula yang mati-matian ingin menjatuhkan. Dan semua itu hal yang wajar. Justru disitulah kita bisa menunjukan bahwa kita tak semudah itu ditumbangkan :)

Terus berkreasi. Komunitas tak resmi bukan menjadi halangan untuk mematikan kreatifitas kalian. Mungkin ada yang tidak mengakui keberadaan kita, tapi yang perlu kalian catat kita berkreasi bukan untuk mereka-mereka yang memandang sebelah mata terhadap kita.

Tetap kompak. Kita tidak perlu berjanji setia sampai mati untuk RFM, untuk Rio ataupun Ify. Tapi kita sama-sama berusaha untuk terus bersama, demi kebersamaan yang telah kita lalui sekian tahun ini. Dan setia akan terjadi dengan sendirinya. Karena janji masih bisa di ingkari, tapi usaha...semua tergantung pada kemampuan diri kita masing-masing :)


Saya bukan manusia sempurna. Banyak salah dan khilafnya. Mungkin ada dari teman-teman yang merasa tersakiti dengan pernyataan saya, mohon dimaafkan :)
Saya pernah menyebut, 'RFM senior' dan 'RFM junior'. Tapi bukan dalam maksud untuk mengkotak-kotak kan. Karena seperti yang saya bilang, kita ini keluarga dan dalam keluarga tidak ada yang namanya mengkotak-kotakan. Pernyataan itu lebih kepada untuk memudahkan saya dalam menjelaskan, dan kalau pada kenyataannya cukup menyinggung perasaan dari kalian, sekali lagi mohon dimaafkan.


Be better cinta!

#RFM4est

#daretobeslaw


24/10/14

Jumat, 03 Oktober 2014

Link-Link Cerbung & Fanfiction by Nia Stevania (@niyaaarasyied)


With Love adalah cerbung kedua yang aku buat-setelah Cinta Pertama Pada Pandangan Pertama, dengan proses penyelasaian yang cukup panjang. Sempat vakum beberapa....bulan apa hampir setahun ya? hm..pokoknya, pada akhirnya aku bisa menyelesaikan ini tanpa gantung. Dilanjutkan dengan beberapa mini cerbung, dan fanfiction lainnya. Dan inilah linknya. Selamat membaca!!

W I T H  L O V E

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10  |
Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19 | Part 20 |
Part 21 | Part 22 | Part 23 | Part 24 | E N D I N G


T E N T A N G  S E B U A H  K I S A H  [ A K U, D I A & M E R E K A ]

Author : Nia Stevania (@niyaaarasyied)
Cast : Rio-Ify, Sivia, Shilla, Gabriel, Alvin.

Opening2 | 34E N D I N G

A K U  P E R N A H

Aku Pernah | A P 2 | A P 3 | A P 4 | A P 5 | Final Part

M E M O R I E S

Author : Nia Stevania (@niyaaarasyied)
Cast : Icil Diva, Idola Cilik 1-3

Memories | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |10 | Last Part

Fanfiction Cakka-Ify by Nia Stevania (@niyaaarasyied)
Aku (Masih) Ingin Bersamanya

Fanfiction Gabriel-Ify by Nia Stevania (@niyaaarasyied)

[Song Fiction] Kisah Lalu (Mudah Saja)

Fanfiction Alvin-Ify by Nia Stevana (@niyaaarasyied)

[Two Shoot] PDKT Gagal & Ending

Fanfiction Cakka-Agni by Nia Stevania (@niyaaarasyied)

[Song Fiction] Suka Padamu

Fanfiction Gabriel-Ify-Rio by Nia Stevania (@niyaaarasyied)

[Song Fiction] Aku dan Kamu (dan Tuhan Yang Tahu)

Fanfiction Rio-Ify-Alvin by Nia Stevania (@niyaaarasyied)

There still a rainbow after the rain

[Song Fiction - Sekuel There still a rainbow after the rain] Takkan Bisa

Cinta Ify

[Song Fiction] Hanya Jadi Sahabatmu

Fanfiction Ify-Via by Nia Stevania (@niyaaarasyied) Kapan?

Fanfiction Rio-Ify

Akhiri Saja (Eksekusi Cinta Terlarang) | (Menjadi) Seutuhnya | Karena Kita Berbeda |
Galau (Akibat Salah Kirim) | Di Bawah Rinai Hujan | Sang Waktu |
Kalau Rio Jatuh Cinta | Memujamu | Dia 'Peri Cintaku' | Indah Pada Waktunya |
Bukan Untuk Bersatu | Cinta Untuk Rio | Cinta | Ada Yang Selalu Ada |
[sekuel] Ada Yang Selalu Ada | Akhir Kisah Kita | Dulu, Hari Ini dan Selamanya |
Just a Dream | Love In The Difference | Sekali Ini Saja | Angkuh | Dan Bila |
Bebaskan Diriku | Jatuh Cinta (dag dig dug) | Berakhir | Jika, Masih Ada |
Ingin Kembali | Kapan Kita Nikah? | I Love You, Goodbye.. | Waktu Itu |
(Bukan) Pernikahan Sandiwara | Gara-Gara Ask.fm | Kisah Tak Sampai |
Karena Kita Berbeda ( New Vers.)

Done! Semua yang di atas adalah link-link karya tulis hasil olah otak saya haha bagi kalian yang berminat membaca, silahkan klik judulnya.
Btw, kenapa nama authornya Nia Stevania? Karena Nia Stevania adalah nama pena saya :)
Selamat menikmati^^

Senin, 11 Agustus 2014

[Short story] "Kapan Kita Nikah?"

Hal terberat dalam hidup adalah ketika lo dihadapkan pada kenyataan bahwa usia pacaran lo dan pasangan lo sudah kelewat awet, dan pasangan lo mulai rewel nanyain, "kapan kita nikah?"
Bukannya nggak suka, bukan juga selama ini gue nggak serius pacaran, tapi...please, bagi seorang cowok, ketika lo ditanya begitu sama dengan, "kapan lo siap ngidupin kita dan anak-anak kita?". Ngeri nggak? Duh...

Gue Rio, Naufal Febrio sih lebih tepatnya. Gue sudah menyelesaikan pendidikan S1 gue kurang lebih setahun yang lalu. Dan selama itu juga, gue break untuk sementara waktu sama cewek gue. Seperti yang gue ceritain diatas, pertanyaan sensitif yang sering ditanyain doi waktu jaman gue kuliah membuat gue kalap lantas memutuskan untuk break sementara waktu. Perasaan doi waktu itu? Udah bisa ditebak dong, nangis dan marah-marah. Setelah puas, doi langsung pergi ninggalin gue. Awalnya, diantara rasa sesal karena bikin doi nangis, terselip rasa lega. Karena pertanyaan menyebalkan-yang terkesan menuntut pertanggung jawaban padahal gue nggak ngapa-ngapain lho, macam itu nggak akan gue denger lagi. Tapi, itu cuma awalnya. Pada akhirnya gue sadar, doi yang terbaik. Doi yang gue sayang, dan mestinya gue bisa lebih peka. Membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah itu impian kita bersama, mestinya gue bisa dewasa, mulai memikirkan masa depan hubungan kami. Bukannya merasa terganggu dan lantas memutuskan untuk break sementara waktu.... ya semoga doi nggak berubah pikiran dan lantas memutuskan untuk bener-bener menyudahi kisah asmara kami, soalnya setelah resmi break, doi bener-bener melenyapkan diri dari pandangan gue.
Huffttt I miss you so badly, dear....
Gue sadar, doi juga nggak mungkin nerima gue balik gitu aja. Dan pertanyaan macam itu (re. Kapan kita nikah?) juga nggak akan hilang begitu aja. Maka gue putuskan, untuk mensejahterakan hidup gue lebih dulu, demi masa depan hubungan kami yang lebih baik. Aamiin O:)
Dan yang gue lakukan adalah, memulai ikut serta dalam mengurus usaha milik orang tua gue yang kelak nantinya memang bakal jatuh ketangan gue-karena gue pemilik hak waris satu-satunya. Itulah alasan, kenapa gue memilih untuk stop di S1.

"Apa lagi sih yang loe pikirin? Hidup udah mapan. Mental udah siap, buruan lamar dia."

Alvin-salah satu sohib sejati gue yang sudah resmi menikahi Alvia, masih sahabatnya doi, menanyakan hal yang sudah terlalu sering dia ajukan. Okay, gue bosen. Tapi, mau gimana lagi? Kayaknya, kalau nggak nanyain itu dalam sehari Alvin bakal sakit gigi kali. Huhh

"Yelah bawel loe kayak cewek. Gue belum siap mental ketemu Ify nya, belum lagi bokapnya." Gue membayangkan wajah sangar bokapnya doi. Gue emang belum pernah ngobrol langsung dari hati ke hati sama bokapnya, tapi dulu...jaman masih pacaran, dan gue sering antar-jemput doi, bokapnya selalu titip pesen lengkap dengan nada tegas dan tatapan tajam. Siapa yang nggak jiper coba?
Tapi, doi menjelaskan alasan sikap protect bokapnya adalah nggak lain karena doi anak satu-satunya, plus harta satu-satunya milik beliau. Yah, ibunya doi sudah menghadap Ilahi sejak doi berumur 14th.

Alvin meletakkan cangkir kopinya kemudian mulai memasang tampak -sok- seriusnya.

"Kita sudah sama-sama taukan, bro. Ify tuh anak satu-satunya, harta satu-satunya yang bokapnya punya setelah nyokapnya Ify meninggal, mestinya lo paham kenapa bokapnya Ify agak-sedikit sentiment sama lo, karena beliau nggak mau Ify salah pilih dan disakitin." Ujar Alvin. "Dan...sedikit cemburu juga kayaknya, sejak Ify pacaran sama lo, praktis perhatian doi terbagi."

"Loe bener sih, Vin. Tapi gue masih belum yakin."

Alvin menggeram ditempatnya. Entahlah, lama-lama Alvin jadi nggak jauh beda sama Via, sama-sama suka mendesak gue untuk segera mengambil keputusan tentang ini. Hmm, faktor suami-istri kali yah? Ikatan bathin?

"Loe inget baik-baik ucapan gue, sekarang atau nggak sama sekali! Loe sadar udah berapa lama loe ngilang dari hidupnya Ify? Dari aktifitas antar-jemput dia yang jelas-jelas bokapnya Ify tau? Loe nggak takut kalau bokapnya Ify nanya-nanya ke Ify, terus Ify cerita, terus dia kesel, benci sama loe, terus---"

"Okay, okay, gue bakal mikirin ini secepetnya."

Dan tanpa pamit, gue bergegas meninggalkan ruangan Alvin.
***

Alvin bener. Kenapa gue nggak berpikir jauh sampe ke situ? Bokapnya doi yang udah cukup sentiment sama gue bisa makin mengerikan kalau tau gue sama anaknya break. Belum lagi kalau waktu habis kejadian itu-dimana gue mutusin untuk break sama doi, doi balik dengan pipi basah, air mata berlinang. Atau minimal, mata merah dan idung beler....

"Mah, Rio udah siap."

Nyokap yang tadinya asyik ngebaca majalah fashion edisi terbaru menutup majalahnya. Matanya menatap gue dengan alis terangkat.

"Ya, Rio udah siap untuk berkeluarga." Ucap gue mantap.

"Kamu yakin?" Tanya mamah. Gue mengangguk mantap. "Sama siapa? Ify?"

"Ya ampun mamah, kalau bukan sama Ify sama siapa lagi? Sama pembantu kita? Iyalah sama Ify." Gue agak kesal. Pasalnya, nyokap kan udah tau jelas sama siapa gue selama ini menjalin hubungan.

"Ya maksud mamah," nyokap mengambil jeda dalam kalimatnya seolah berpikir, "gini lho. Waktu itu-pas mamah dinner sama papah, mamah ketemu Ify sama papahnya dinner di restorant yang sama. Malah kami semeja. Dan---"

"---dan apa mah?!"

Nyokap mulai memasang tampang yang mencurigakan. Duh...something's wrong telah terjadi sepertinya. "Ify bilang kalian udah pu...tus."

Apa?! Pertanyaan yang gue pikir cuma tercetus dalam hati gue itu ternyata terucap dengan keras sampe-sampe nyokap melotot kaget.

"Apaan sih, Yo. Kata Ify kamu yang mutusin dia, malah sekarang sok-sokan kaget." Nyokap mulai membuka majalahnya kembali, seolah-olah nggak ngeliat kalau sekarang tampang gue udah shock pake banget.

"Mamah nggak ngerti kenapa bisa, kamu mutusin cewek sebaik Ify. Mamah udah kelewat ngarepin dia jadi menantu mamah, tapi karena ke egoisan kamu, semuanya buyar."

Gue menggeram putus asa. "Rio nggak mutusin Ify mamah."

"Tapi Ify bilangnya gitu."

Gue terdiam, nggak tau harus ngomong apa. Kenapa disaat gue mulai yakin, semuanya dipersulit?

"Eng, emang kamu serius nggak mutusin dia, Yo." Gue cuma menggeleng, menjawab pertanyaan nyokap. "Terus, kenapa kalian nggak pernah bareng lagi? Kamu nggak pernah antar-jemput Ify lagi, Ify nggak pernah main ke sini lagi,"

"Rio cuma bilang break sama dia mah, karena waktu itu Rio capek sama pertanyaan Ify yang selalu aja, 'kapan kita nikah? Kapan kita nikah?' Rio bosen."

"Sekarang?"

"Rio kangen Ify, dan mantap buat membangun hubungan yang baru sama dia."

Nyokap kembali menutup majalahnya dan menggeser posisi duduknya, semakin merapat ke gue. "Dengerin mamah, Ify pernah bilang gini...

"Kata papah ya tant, kalau cowok serius sama ceweknya, dia bakal minta ceweknya ke papahnya langsung. Untuk dihalalkan."

"...dan mamah rasa, selama ini Ify cuma pengen tau keseriusan kamu."
***

Sehabis obrolan yang cukup panjang dengan nyokap, gue memutuskan untuk merenung sebentar. Memikirkan semuanya dengan baik.
Gue sayang sama Ify. Gue serius sama dia. Dan gue nggak mau kehilangan dia. Maka dari itu, gue harus segera bertindak!

Saturday morning jumped out of bed
And put on my best suit
Got in my car and raced like a jet
All the way to you
Knocked on your door with heart in my hand
To ask you a question 'Cause I know that you're an old-fashioned man, yeah



Gue mulai menjalankan mobil pribadi gue-hasil jerih payah gue sendiri, membelah keramaian ibu kota. Hari ini hari sabtu, menjelang weekend. Jalanan belum terlalu ramai. Gue memang sengaja memulai perjalanan sepagi mungkin biar nggak terlambat. Dengan 'rude' yang menemani perjalanan gue, dan gue merasa...ini lagu seperti backsong untuk perjalanan gue hari ini, sangat pas.
Tapi pastinya, gue harap bokapnya doi akan mengatakan, "yes!" bukan "no."

Can I have your daughter for the rest of my life?
Say yes, say yes
'Cause I need to know
You say I'll never get your blessing 'til the day I die

Tough luck, my friend, but the answer is 'No'
Why you gotta be so rude?
Don't you know I'm human too?
Why you gotta be so rude?
I'm gonna marry her anyway
Marry that girl
Marry her anyway
Marry that girl
Yeah, no matter what you say...
Marry that girl
And we'll be a family
Why you gotta be so rude...

Dengan jantung berdegup kencang, gue merapikan rambut dan kemeja yang gue pake, sembari menunggu pintu dibuka. Sudah lebih dari 5 menit gue memencet bel, belum ada tanda-tanda pintunya bakal dibuka.

Dan ketika pintu terbuka, jantung gue berdegup 2 kali lebih cepat dari tadi, apalagi....yang ngebuka pintunya adalah, bokapnya Ify!

Gue nyengir garing sebelum akhirnya mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum, om..."

"Wa'alaikum salam. Ada apa kamu kesini?"

Nggak pake disuruh masuk, duduk atau disuguhin minum dulu apa?

"Eng...."

Okay, gue bingung. Mau ngajak masuk, ngobrol sambil duduk, kesannya nggak sopan banget. Yang punya rumah siapa, yang nyuruh siapa. Ya kan?

"Ada apa?"

"Eng, maaf om sebelumnya. Bisa kita ngobrol di dalem aja?"

Belum sempat ajakan gue dijawab. Sebuah sedan kecil berhenti tepat didepan kami.
Sosok yang sekian lama gue rindukan muncul dari balik pintu penumpang depan. Eh, tapi siapa laki-laki-yang menyetir mobil-yang juga ikut keluar bersama Ify?

"Eh, kayaknya ada tamu, Fy. Gue balik aja deh." Laki-laki yang tadi ikut keluar bersama Ify mendadak pengen balik lagi setelah ngeliat gue. Bagus! Jauh-jauh lo sono! Siapa lagi tuh cowok?!

Ify menatap gue dengan pandangan terkejut, dan laki-laki yang mengantarnya dengan bingung. Senggaknya itu yang gue tangkap.

"Nggak mampir dulu, Yel?"

Gue nggak salah denger tuh? Bokapnya Ify nawarin si Yel Yel itu mampir?! Gue aja nggak pernahhhh....

"Nggak usah, om. Saya balik aja. Permisi...."
***

Dan disinilah kami. Gue dan bokapnya Ify memutuskan untuk berbicara di ruang tamu. Ify sendiri udah ngacir duluan, katanya sih mau naruh tas sekalian bikin minum.

"Jadi, apa tujuan kamu kemari?"

"Sebenernya..."

Kuatkan tekatmu Rio! Tinggal sedikit lagi. Sebelum semuanya terlambat, karena gue nggak mau Ify sama si Yel Yel itu!

"...sebenernya tujuan saya kemari untuk...." gue kembali diam sebentar untuk mengambil nafas. "...untuk meminta izin, meminta Ify menjadi makmum dengan saya sebagai imamnya om..."

Thank God!

"Maksud kamu, kamu mau shalat jama'ah bersama Ify?"

Klontang....
Okay itu murni suara benda jatuh-entah apa, yang kayaknya berasal dari dapur. Tempat Ify membuat minum, katanya tadi...

"Bu..bukan itu maksudnya om..."

Gue nggak tau. Harus ketawa atau gimana. Mungkin pertanyaan bokapnya Ify terdengar polos dan bikin ketawa. Tapi disatu sisi gue kesel, karena kalimat manis itu sengaja gue rangkai untuk meminang Ify!

Bokapnya Ify menatap gue dengan alis terangkat. "Terus apa?"

"Maksud saya, izinkan saya...."

Bersamaan dengan itu, Ify dengan wajah yang entah kenapa merah-setelah gue melirik sepersekian detik, datang membawa nampan berisi minuman dingin lengkap dengan camilannya.

"Duduk sini, Fy!"

Okay, gue makin gugup. Perintah tegas dari bokapnya Ify membuat dia duduk dengan patuh disamping beliau.

"Lanjutkan, nak Rio..."

Angin segar! Pertama kalinya gue denger bokapnya Ify memanggil gue dengan sebutan, "nak Rio."

"Izinkan saya menjadi imam untuk Ify, untuk rumah tangga kami, om..."

Lega. Tapi kenapa bokapnya Ify diem? Ifynya juga diem?

"Yampunnnn....ngomong gitu doang lamanya bikin orang kejang-kejang tau nggak sih?!!"

Itu suara Via! Dengan spontan gue mencari asal suara yang menyahuti permintaan gue ke bokapnya Ify. Dan disana, dibalik pintu kamar tamu Ify, gue menemukan Via bersama Alvin sambil bersiul-siul menggoda. Ah! Ada bokap-nyokap gue juga disana! Apa maksudnya?!

Batuk kecil bokapnya Ify membuat gue membatalkan niat untuk berteriak menanyakan maksud dua pasang suami istri yang sudah senyum-senyum menggoda ditempatnya. "Sebenarnya...ayah dan ibu kamu sudah lebih dulu datang kemari untuk melamar Ify, tapi....karena mereka menyuruh saya berakting seperti ini, ya saya ikut saja."

Ucapan bokapnya Ify seolah menjawab pertanyaan gue. Ditempatnya, Ify senyum-senyum ngeledek lebih tepatnya, sambil memainkan ujung rambutnya.
Gue terjebak...hahhhh

"Baiklah nak Rio, mungkin kamu ingin bicara dengan Ify." Ujar beliau mempersilahkan. "Mari semua, kita ke belakang." Ajaknya lagi kepada Alvin-Via, dan bokap-nyokap gue.

Selepas kepergian mereka semua, gue buru-buru berpindah duduk ke samping Ify yang masih asyik dengan gayanya yang menyebalkan itu.

"Apa maksudnya tadi? Terus siapa itu tadi Yel Yel?!" Tanya gue kesel.

"Nggak penting siapa itu Iyel, yang pengen aku tanyain. Apa alasan kamu ngelamar aku? Apa yang bikin kamu berani kesini setelah minta break dan bikin aku nangis waktu itu?" Ify berbicara dengan sedikit perasaan kesal sepertinya. Terlihat dari sorot mata dan nada bicaranya yang terdengar ketus.

"Yah, Alvin, Via, mamah membuat aku berpikir. Apa tujuan aku selama ini bersama kamu? Waktu membuat aku sadar kalau kamu yang terbaik buat aku. Dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kamu." Ku raih tangannya, dalam genggamanku. "Selagi masih ada waktu, aku ingin meraih kamu kembali, makanya aku datang kesini, memberanikan diri untuk meminta kamu," ucapku sungguh-sungguh, "sama...ayah kamu yg galak itu." Sambungku setengah berbisik.

"Ihhh jahat banget sih ngatain gitu...."

Dan cubitan Ify menjadi cemilan manis disabtu yang cerah ini. Ify ku kembali. Dan kisah kami yang baru akan segera terangkai kembali. Terima kasih Tuhan...

"Jadi, kapan kita nikah?"

Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Ify, tapi kali ini gue sudah bisa menjawab. "Secepatnya!"
•••••

HUALLLOOOO?!!!! ANYONE MISS ME?!
Wkwk nggak yah? Baru berapa bulan yang lalu juga kan gue ngepost cerpen? Dan sekarang gue kembali dengan cerpen baluuuuu :3
Okay jadi sebenernya yang tersusun dalam khayalan gue bukan seperti ini. Mestinya lebih manis-tapi kayaknya kurang gula *eh
Tapi yaudahlah ya....begini pun cukup wkwk
Gue memang sengaja nggak bikin yang panjang2.... FYI, cerpen ini bisa dibilang sesuatu juga karena gue menyelesaikannya ga sampe 2 jam! Bayangkan saudara2!!
Jadi, kebetulan gue lagi niat, lagu yang nemenin gue nulis juga catchy banget bikin tulisan gue ngalir....
Btw, kalau kurang gurih dan kurang manis, tambahkan bumbu dapur kalian masing2 yak! #candaaa

Seeya!

Jumat, 08 Agustus 2014

Cerita Tentang Ify #1



Hi there! Nia here...mari kita berkumpul disini untuk berngobrol-ngobrol ria haha..
Okay, kira-kira bahasan apa yang menarik untuk kita perbincangkan hari ini? Cinta? ah udah deh, ask.fm gue udah cukup rame dengan curhatan temen-temen anonymous tentang kisah percintaan mereka. Dan buat kalian-kalian yang juga tertarik untuk sharing sama gue bisa disini ... Mngkin nggak selalu bisa membantu, tapi sengggaknya bisa menngurangi beban pikiran #halahh
Nah, gimana kalau sekarang kita bahas soal idola kita bersama aja? Atau mungkin cuma gue? Yaps! IFY ALYSSA!

Duh, rasanya kalau udah ngebahas cewek-idola gue & mungkin kalian, yang satu ini nggak akan pernah ada habisnya. Ntah cuma untuk sekedar dikagumin, atau dirandomin, pasti bisa aja. Muji dia karena semua anugerah Allah yang sudah Dia titipkan ke doi pun kayaknya gue nggak pernah bisa berenti. Selalu ada aja yang bikin gue berdecak kagum sama dia. Yaya, doi bukan manusia sempurna, pastinya punya kekurngan dan kelemahan juga tapi apa gunanya ngebahas kelemahana dan kekurangan doi kalau kita pribadipun belum cukup sempurna #halahhh

Baru-baru ini, beberapa hari yang lalu tepatnya, si teteh punya kesempatan untuk tampil dengan musisi besar Indonesia yang terkenal banget pastinya. Barry Likumahuwa! Siapa yang nggak tau coba? Bahkan anak kelahiran jaman sekarang juga banyak yang tau kok sama beliau. #Ifyngejazzlagi jadi hashtag yang cocok menjadi pengiring tweets-tweets IFC yang berbahagia karena teteh yang comeback ke dunia jazz lagi..hoho
Jangan ngaku IFC kalau nggak tau Ify punya sejarah sama yang namanya musik jazz..haha

/.
Saat tampil di Java Jazz Festival 2011



Salah satu hal yang menjadi kesenangan gue selepas Ify mengisi Idola Cilik ya berselancar di YT untuk nontonin video-video yang di upload papahnya, baik itu perform-perform dia di IC1 dulu, maupun penampilan-penampilan Ify dengan kemampuan olah vokalnya di genre jazz.
Ify pun pernah tampil di JAVAJAZZ Festival, bahkan punya kesempatan duet sama Raissa! waddu kalau aku mah ra iso :|


IFY BLINK (14 Years) Singing COME WITH ME of TANIA MARIA

Nah, waktu itu-dalam video di atas, Ify masih berusia 14 tahun, dalam penampilannya Ify berkolaborasi dengan guru musiknya di Farabi Music School.

RAISA & IFY : WHEN YOU BELIEVE

Kalau yang diatas ini adalah saat dimana Ify berkesempatan tampil dengan salah satu penyanyi berbakat Indonesia saat ini, Raissa.... Dulu Raissa belum sebesar sekarang hoho.

Kalau di daftarkan, sudah cukup banyak juga yah Ify dikasih kesempatan untuk berkolaborasi dengan musisi besar Indonesia-baik secara pribadi maupun bersama Blink. Bersama Blink, Ify dan teman-teman bisa mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu pengisi dalam album Pongki Barata yang bertajuk, "Pongki Barata Meets The Stars" 

FYI, yang patut dibanggakan adalah, Blink merupakan satu-satunya girlband yang dipercayai Pongki Barata mempunyai kualitas untuk mengisi albumnya...hoho
Selain Pongki Barata, musisi lain yang juga pernah memberikan kepercayaan kepada Blink adalah
Melly Goeslaw. Masih inget dong sama salah satu konser Melly Goeslaw yang juga ditayangkan di Kompas TV? Disana lagi-lagi Blink menjadi satu-satunya girlband yang menjadi pengisi acaranya, selebihnya ada boyband dan beberapa solois.
Selain itu, Blink juga pernah menjadi pengisi acara untuk Konser Karya Purwacaraka!


Itu kalau bersama Blink, secara personal, selain dengan Barry Likumahwa baru-baru ini, Ify juga pernah tampil bersama Tompi, Kahitna, Calvin Jeremy, oh iya waktu jaman Idola Cilik Ify juga sempat berduet dengan Afgan-bersama Septian dan Letto-bersama Septian dan Kiki.
Selain itu dalam salah satu sesi latihan untuk workshop LPM Farabi Ify juga ditemani om Dwiki Dharmawan.
Eits, jangan lupakan sama hadiah coveran yang Ify persembahkan untuk IFC di anniv ke IFC yang ke 5 ya, Ify membuat coverannya dengan di iringi oleh kak Yuri Jo, musisi asal Australi yang mengisi Java Jazz Festival 2013. Saat itu Ify mengcover dua lagi Back at One, dan Officially Missing You.
Ups, bersama Icil Diva, Ify juga pernah tampil bareng Keith Martin lho...hoho

Ngomong-ngomong soal Ify dan musik, pastinya kalian tau kalau mereka sejiwa #halahh dan itulah kenapa gue yakin banget, oneday Ify bakal jadi salah satu musisi besar Indonesia! aamiin O:)

Anyway, beberapa waktu yang lalu pada ngecheck timlinenya @officialifc nggak? Yang menyimak pasti tau dong ada apa disana? Yap! Offy menyempatkan untuk berbagi cerita mengenai Ify dan salah satu fokus utamanya saat ini. Pendidikan yang nggak jauh-jauh dari musik^^

Okay, buat yang nggak sempat menyimak akan gue ceritakan secara singkatnya disini *izin yak min hoho*
Jadi, sebenernya project Ify bersama Barryv Likumahuwa itu bisa dibilang project dadakan yang nggak disangka-sangka. Awalnya, Ify sekedar ingin menyaksikan BLP dengan musik jazznya, eh ternyata yang terjadi berikutnya Ify malah diminta untuk ikutan nyanyi. Hikmahnya, dari perform dadakan itu, Ify seperti diingatkan betapa jarangnya dia belajar dan kumpul bareng dengan komunitas jazz seperti ini. Padahal bisa di bilang Ify kan dulunya lumayan aktif dengan yang namanya jazz.
Nah, kabar gembira lainnya adalah pada akhirnya ify benar-benar sudah punya pilihan untuk masa depan pendidikannya selepas SMA ini. Ofc! yang menopang passionnya, apalagi kalau bukan musik?
UPH menjadi pilihannya. Dengan pertimbangan, yang dia cari adalah universitas yang kental jazznya. Di musik UPH, dari 6 jurusan yang menjadi pilihan, Ify memutuskan untuk mendaftar di jurusan jazz & pop performance. Tentunya keputusan ini ia ambil setelah berdiskusi dengan kedua orang tuanya, guru dan teman-teman musisi.

Hmm, masuk UPH juga nggak gampang, banyak proses yang harus Ify lalui termasuk audisi. Ify yang bingung memilih majornya antara vokal dan piano akhirnya mempersiapkan diri untuk kedua-duanya. Salutttt!

Ify bersama beberapa musisi/penyanyi Indonesia

Audisi in shaa Allah akan digelar pada bulan oktober nanti, lumayan Ify masih punya waktu kurang lebih 1,5 bulan lagi untuk mempersiapkan diri. Kalau ngeliat persiapan Ify yang matang, gue ga ragu kalau dia pasti lolos! Semangat teh!
Jadi gais-IFC dimanapun kalian berada, mari kita sama-sama doakan teteh semoga dia bisa lolos audisinya, masuk universitas harapannya dan bisa meraih cita-citanya..aamiin O:)
Sampai disini dulu perbinangan kita, sampai ketemu di postingan berikutnya..hohoo

#We'restilltogether


ps : FYI, ini postingan mestinya sudah terbit dari 3 hari yang lalu, tapi karena faktor perkerjaan yang menghadang selalu gagal, okay maafkanlah kalau terkesan kudet-_-

- kalian bisa mengklik nama-nama penyanyi diatas untuk melihat penampilan Ify bersama mereka^^



Minggu, 03 Agustus 2014

MEETUP! #ganksmp #v'girls




 
Akhirnyaaaaaaaaa!
Setelah bertahun-tahun nggak pernah kumpul-kumpul-terhitung selepas SMP, V'girls berkumpul lagi di jum'at, 01 agustus 2014....
Kebayang nggak, hal apa aja yang di obrolin 5 sahabat yang terpisah kurang lebih...5 tahun? 6 tahun? duhh gue lupa deh, lulus SMP taun berapa-_-
Dari mulai flashback jaman SMP sampai dengan membayangkan masa depan.

"Masih ada yang inget nggak, waktu itu kita habis belanja bareng di warungnya Mama Aldi, terus asik minum lewat tengah lapangan, terus----"

Spontan deh gue teriak. "Aku ingat! aku ingat! kita di teriakin dari microphone!"

"Yang mana itu? aku lupa..." Fhia udah pasang tampang bingung, emang sih dia hampir banyak lupanya wkwk #peace Salah satunya moment tasmiyahan adiknya Shelly yang sekarang udah kelas 2 SD. Ya Allah...jadi makin berasa tua.....

"Yang kita minum es di tengah lapangan, terus Bu Sus kalau nggak salah ngomong pake mic, "tolong yang minum sambil berdiri, duduk." Langsung kita pada mencar..."

Itu cuma salah satu dari sekian banyak moment SMP yang kami bahas.

Ah iya! si Rahmi-calon tukang gigi wkwk, udah punya planning menikah di usia berapa, dan punya keturunan di saat apa... Ya ampun, rasanya baru aja deh kita-kita pake seragam putih-biru, eh sekarang udah ada yang kerja, mau sidang, dan nunggu wisuda. G'luck gais!
Beruntungnya mereka-Fhia, Zha, dan Shelly, karena masing-masing dari mereka sudah punya 'calon' pasti yang sudah punya penghasilan..waaa semoga mereka semua sampe ke pelaminan.
Rahmi yang baru 'selesai', dan gue yang masih jomblo masih terus berharap segera di turunkan calon imam yang baik luar dalam, dunia akhirat sama Yang Maha Kuasa..aamiin O:)

Hm, yang juga bagian paling heboh di moment meet up kemarin adalah pas selfie! Gue ga bawa tongsis, yang lain nggak punya tongsis, jadi ribet deh ngaturin gimana caranya biar dapet angle yang bagus dan hasil yang memuaskan. Beberapa kali kita malah harus ngerepotin adiknya Shelly untuk dijadiin tukang foto..hoho
Finally! Kita punya foto bareng ber 5! dari smp lho kita sahabatan, dan nggak punya satu pun foto ber 5 hiks hiks...






Okay, I k ini sangat-sangat latepost tapi berhubung saya sangat ingin berbagi #yakali jadi saya tidak perduli mau ini latepost atau nggak wkwk....
Btw, buat si Rahmi yang bentar lagi balik untuk menempuh pendidikan, hati-hati di jalan ya!
Sukses buat kita semua teman-teman! ^^


#muchlove!

nb : bagian dialog aslinya menggunakan bahasa kami sehari-hari, tapi di  atas sudah saya perbaharui dengan bahasa yang lebih bisa dimengerti haha

Selasa, 22 Juli 2014

[Selingan] Dibalik Pilpres

Presiden Indonesia yang baru telah terpilih. Masa kampanye pun sudah lama berlalu, tapi nyatanya perseteruan antar dua pendukung capres belum berakhir juga.
Saya menghargai setiap perbedaan, dan tentunya akan lebih mudah untuk kita bisa menghargai orang lain-termasuk untuk pilihan dan pendapatnya, jika mereka juga mau berbesar hati untuk berlaku sebaliknya terhadap kita.

Yang mengecewakan saya adalah, saat ternyata orang yang saya anggap teman-yang lebih mengerti, tapi justru bersikap seolah-olah tidak menghargai pilihan dan pendapat saya, sedangkan saya selalu berusaha untuk menghargai perbedaan yang ada diantara saya dan teman-teman saya.
Dalam suatu pertemanan, hal yang wajar kalau si A suka boyband dan si B lebih suka group band. Tapi bukan berarti si B bebas mengatakan kalau boyband itu gay, padahal jelas hal itu bisa menyakiti perasaan si A kan?
Atau dalam pertemanan berbeda agama, apa sopan kalau kita menjelekan agama teman kita, karena (pasti siapapun termasuk) kita beranggapan agama kita yang paling benar?
Ini hanya perumpamaan.

Semua orang punya pendapat, dan pilihannya masing-masing, dengan pertimbangan alasan yang berbeda. Mestinya, kalian-apalagi kalau sudah mencoblos, itu artinya kalian sudah dewasa, bisa lebih terbuka menerima perbedaan. Lebih bisa menghargai pilihan teman tanpa harus membuat rusak hubungan yang sudah terjalin baik. Apa nggak sia-sia? Jatuhnya mencoblos lebih banyak mudharatnya daripada tidak mencoblos, karena mencoblos membuat rusak hubungan baik dua orang yang ternyata berbeda pilihan.
Saya selalu menjaga tweets saya, tidak menjelekkan capres manapun (tapi mungkin mengkritik -yang dianggap judgement- orang-orang di belakang capres yang tidak saya dukung, memang pernah). Karena saya sadar, orang-orang yang saya follow mayoritas orang yang saya kenal, orang yang saya tau berbeda pilihan dengan saya. Tapi nyatanya mereka tidak mau bertoleransi seperti saya. Saya kecewa :(

Kalian mengaku Islam, kalian berkata harus memilih yang sesuai dengan syariat Islam tapi nyatanya sikap kalian tidak menunjukan bagaimana mestinya seorang muslimin bersikap.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berbaik sangka.


Tapi kalian, presiden yang baru belum dilantik saja sudah berpikir, "hancur Indonesia di pimpin syiah," "bisa-bisa aset Indonesia di jual lagi kayak yang sudah-sudah," kalian mengait-ngaitkan Pak Jokowi dengan Megawati, karena 'kejahatan' Megawati di masa lalu. Padahal, ingat...anak pencuri juga tidak pasti menjadi pencuri. Saya semakin tidak sabar untuk menyaksikan Jokowi mengemban tugasnya. Hal pertama yang paling saya tunggu adalah, soal siapa yang akan beliau angkat sebagai menteri agama? Apa seperti tuduhan yang sudah dengan yakinnya orang-orang jatuhkan kepada beliau? Bahwa jabatan itu akan diberikan kepada seorang Syiah. Atau seperti pernyataan beliau ketika di interview, bahwa orang yang ia pilih adalah seorang ahlu sunnah waljama'ah...

Hati manusia itu nggak ada yang tau. Jangan mendahului Tuhan dengan semua sangkaan buruk kalian.

Islam mengajarkan kita untuk menjaga aib sesama, itupun kalau kalian ingin Allah menjaga kalian dari aib kalian sendiri di akhirat kelak.

[Al-Baqarah : 216] Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui....

Allah Maha Mengetahui lebih daripada hamba-Nya, tapi masih aja ada yang bilang dengan yakinnya, "si A lebih baik daripada si B." Ckck...

Dalam Al Qur'an pun Allah telah memperingatkan agar kita bisa menjaga lisan. Karena seluruh anggota tubuh kita kelak akan di mintai pertanggung jawabannya di akhirat, termasuk lisan.
Untuk apa kita gunakan? Menyampaikan kebaikan? Atau keburukan?

[Al Qalam : 10-11] Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.

Ingat teman, perkara lisan itu luar biasa bahayanya. Seperti dalam sebuah hadits,

"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau Diam" [HR. Bukhori & Muslim]

Maka ini bukan persoalan apakah yang kita ucapkan itu sesuai fakta atau tidak, tapi apakah lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya?

Saya kecewa dengan beberapa teman, kalau sekiranya saya sendiri bersalah terhadap kalian, saya minta maaf. Tapi, jujur saya sangat menyayangkan tweets-tweets kalian yang tidak bisa menghargai perbedaan.
Kalian mengatakan jangan saling hina, tapi nyatanya kalian meluapkan segala isi hati kalian dengan pernyataan seolah-olah kalian lebih tau, dan Tuhan telah salah dengan apa yang Ia tetapkan.
Kalian berkata akan berbesar hati, tapi nyatanya kalian terus menghujat orang yang kalian anggap jahat itu, seolah-olah kalian lebih baik daripadanya.

Puaskan nafsu kalian, dengan hinaan, tuduhan, dan prasangka-prasangka buruk kalian terhadap beliau. Kemudian renungkan, apa dengan begitu membuat kalian menjadi lebih baik daripada beliau di mata Tuhan?
Apa dengan begitu membuat pahala atau amal ibadah kalian semakin bertambah dan dosa kalian berkurang?
Manusia tempatnya khilaf dan salah. Kalau kalian meyakini Allah tidak tidur, mestinya kalian tau Allah bersama orang-orang yang sabar, Allah menyertai orang-orang yang di dzalimi :)

Nb : Ini unek-unek saya, yang tidak hanya cukup disampaikan dalam 140 karakter di twitter. Ingat, muslim yang satu dan yang lainnya itu satu tubuh, satu sakit yang lain pun ikut sakit. Sudah semestinya kita saling rangkul, dan mengingatkan :)

Senin, 02 Juni 2014

Sebuah Project Dari Sang Idola

Seindah Biasa by Blink Indonesia


Haihai...apa kabar semua?!!! Yampun, rasanya udah lama banget gue nggak ngeblog, memposting sesuatu apalagi yang berbau...BLiNK!
Okay, dihari ini gue akan berbagi cerita mengenai BLINK, Ify as Ify Alyssa (not Ify Blink..hihi) bersama project mereka..

Hm..jadi, salah satu musisi besar Indonesia, Pongki Barata-yang dulu lebih dikenal sebagai Pongki Jikustik sedang membuat suatu project untuk album terbarunya. Album dengan tajuk, "Pongki Barata Meets The Stars" ini menggaet penyanyi-penyanyi keren Indonesia. Diantaranya, Kotak Band, Tulus, Astrid, Baim, Endah N' Rhesa, Lea Simanjuntak, Rio Febrian, Mike Mohede, Icha, Shopie Navita (sang istri) dan.....BLINK! Yeayyy! Blink merupakan satu-satunya GB yang mengisi album tersebut. Bangga yah? Ofc lah! Mengutip kata-kata Pongki-yang agak pesimis dengan GB, "...terus terang menurut saya tidak banyak girlband yang saya tahu bisa menyanyi dengan baik, atau setidaknya sesuai dengan ekspektasi saya..." Itu artinya, ketika Pongki memutuskan pilihan pada mereka, mereka adalah GB yang masuk dalam ekpektasinya..haha
That's why..gue bangga sama Ify yang merupakan bagian dari Blink, GB yang mendapat tanggapan positif dari musisi senior, bukan hanya soal packaging tapi benar-benar pada kualitas!

Btw, dialbum ini Blink dipercayai untuk membawakan ulang salah satu tembang hits Pongki yang pernah dibawakan oleh penyanyi besar Malaysia, Siti Nurhaliza. Tembang yang sangat hits nggak cuma di Indonesia, tapi juga Malaysia dan Brunei dan Singapore (yang baru gue tau setelah membaca di website Pongki untuk project ini)

Keren! Semua tau gimana luar biasanya suara Siti Nurhaliza, dan mengetahui Blink dapet kepercayaan besar ini tentunya kita-kita, para fans yang awalnya cuma tau Blink diajak dalam project Pongki jadi makin antusias dan berbangga hati. Begitu mendengar reviewnya, yang ada diotak gue adalah, "keren! dibagian reff ini didominasi oleh perpaduan suara Ify dan Sivia yang super, agak ke ujung ditutup dengan suara Prissy yang emang sering kebagian nada rendah." Hm, baru denger reviewnya aja, TL langsung heboh. Gimana full versionnya? Ada yang penasaran dan pengen denger teasernya?
Let's check this out!

teaser dan review Seindah Biasa by Blink






Ify dan Yovie Widiyanto


Finish dengan Blink soal project mereka bersama Pongki Barata, gue kembali mengulas (asik bahasa gue) mengenai sebuah project dari sang idola. Siapa dia? Liat foto di atas dong...Bukannnn! Bukan Yovienya tapi..si gadis cantik nan manis berdagu tirus, si bidadarinya IFC, Ify Alyssa. Jadi, kalau kata gue sih ini soal Ify sebagai Ify Alyssa, bukan Blink hihi
.

Nah, kemarin Ify berkesempatan tampil bersama Kahitna (yang ternyata juga di idolakan oleh Ify hihi) di ultah Jasindo yang ke 41
Wah......lagi-lagi Ify berkolaborasi dengan musisi spektakuler Indonesia, Yovie Widianto dan Hedy Yunus yang juga tergabung dalam Kahitna namanya sudah malang melintang didunia tarik suara #eeaaa
Di kesempatan kemaren, bersama Kahitna, Ify membawakan salah satu lagu mereka yang juga sukses di recycle oleh Raisa, Mantan Terindah.

Hm, bakal sekeren apa yah? Entah kenapa, gue pribadi ngerasanya kalau Ify dan Raisa membawakan lagu Marcel atau Kahitna pasti keren! Jadi nggak sabar nunggu video yang...ya semoga ajasih ada haha
Sambil nungguin videonya yang entah ada atau tidak, kalian gue kasih liat fotonya ajaya? hehe

Ahhh pokoknya liat foto-foto itu bikin semakin ngerasa...Ify..kamu memang membanggakan! hihi
 




Rabu, 16 April 2014

Sense Of Writing...



Sense of writing…

Entah kenapa tiba-tiba gue pengen ngebahas ini. Jadi tuh sebenernya, gue lagi bener-bener kehilangan sense of writing gue banget. Padahal, gue kangen nulis, gue kangen baca komentar orang-orang tentang tulisan gue. Pokoknya bener-bener rindu setengah mati….
Jadi gue harus apa dong? -,-

Beberapa waktu lalu gue sempet beli novel baru, berharap setelah berselancar didunia novel-novel yang gue beli itu, mood gue untuk menulis hadir lagi. Okay, moodnya emang ada, tapi…rasa bingung karena memikirkan gimana caranya untuk memulai itu lho….
Mungkin karena kelamaan vakum kali yah…

Oh iya, sebenernya tadi malam gue udah nyoba buat nulis lagi. Yang Alhamdulillah mungkin mood gue nulis muncul karena font yang gue pake. Haha aneh ya? Tapi, emang bener kok. Jenis font dalam menulis bagi gue juga penting. Penting untuk menambah mood.  Kembali ke soal tulisan semalam. Nggak usah panjang-panjang lah, cukup semacam one shoot apa flash fiction gitulahhh haha…
Hasilnya lumayan, tapi entah kenapa gue merasa ada yang kurang..
Tulisan yang gue buat semalam itu sebenernya ada point pesannya gitu (yakali sok banget pake ngasih pesan haha) tapi…setelah gue baca tuh ya, antara isi cerita sama point pesannya agak nggak sinkron. Terkesan dipaksakan… yampun, gue yang nulis aja mikirnya gitu apakabar readersnya ya-_-
Okaylah, intinya gue berharap sense of writing gue balik secepetnya, karena gue bener-bener kangen nulis pake banget haha

#muchlove!


@niyaaarasyied

Minggu, 02 Maret 2014

[Cerpen] I Love You, Goodbye....



Gadis itu tak henti-hentinya menarik sudut-sudut bibirnya, hingga membentuk sebuah lengkungan yang terlihat manis. Menampilkan sepasang lesung pipi yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Di tangannya, tersimpan selembar foto yang menggambarkan sesosok pria tampan dengan senyuman -yang juga- manis.

Brakk..
Hentakan tangan di atas meja yang cukup keras, hingga menimbulkan suara gaduh pun terabaikan oleh indera pendengarnya.
Sedangkan sang pelaku-penggebrak meja, menatapnya dengan mulut ternganga.
Apa warna tangan yang telah memerah, dan suara yang cukup keras masih tidak dapat ditangkap oleh gadis berdagu tirus ini?
Pikirnya terheran-heran.

"Ehh! Behel! Stop ngelamun woy!" Serunya sambil memukul meja berulang-ulang.

Membuat gadis yang ia sebut behel itu langsung tersadar, dan menatapnya dengan ekspresi kesal.

"Apaan sih, Vi? Ganggu aja!" Dengusnya kesal.

Sivia yang ditanyai hanya menyeringai dengan wajah tak berdosa. "Err..ya, kasian aja sama ni kelas kalau tiba-tiba harus berubah fungsi menjadi.." Gadis ini menggantungkan kalimatnya, sambil memasang tampang berfikir. "..ah ya! Berubah fungsi menjadi kamar penghuni RSJ!" serunya. "Kan nggak elite banget.." Sambungnya meledek.

Ify, gadis berdagu tirus yang juga -tadi- dipanggil behel oleh Sivia, memutar kedua bola matanya dengan malas. "Eghh..elo penghuninya!"

"Enak aja. Yang ngelamun sambil senyum-senyum sendiri siapa? Pake mandangin foto segala lagi.." Tuduhnya. "..eh eh eh..kayaknya gue kenal tuh orang."

Sreettt..
Tanpa permisi, Sivia langsung merebut lembaran foto di tangan Ify dan memperhatikan pemuda yang terpajang disana. Merasa telah mengenali, Sivia segera mengembalikan foto tersebut kepada pemiliknya, disertai dengan sebuah senyuman menggoda.

"Eciee~ jadi Tristan nih sekarang~ Rio nya di kemanain neng?" Goda Sivia sambil menyenggol pelan lengan Ify yang duduk disebelahnya.

Ify memegangi ujung mejanya, untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. "Rio udah ke laut!" Sahutnya ketus.

Sivia tertawa lepas mendengar sahutan Ify. "Segitunya banget loe sama mantan loe yang satu itu.." Godanya lagi.

Ify menggeram ditempatnya. "Siviaaaa!! Stop talking about him! Gue males! Gue enek! Gue bosen! Huhh.." Ify membuang muka, pura-pura merajuk karena terus diledek sahabat sekaligus teman sebangkunya ini.

Sivia mulai menahan tawa. Ia memutar tubuhnya, mengelilingi sebuah meja, dan mengambil posisi duduk disebelah Ify.
"By the way, kok loe bisa punya fotonya Tristan sih? Loe kan nggak pernah akrab sama dia? Eh terus, kata anak-anak, loe pernah jalan bareng dia yah?" Tanya Sivia mengalihkan pertanyaan.

Ify kembali menatap Sivia. Sepertinya pertanyaan Sivia barusan cukup mampu mengembalikan moodnya yang sempat -sedikit- rusak.

"Jadi..waktu ekskul fotografi kemaren, kan kita praktek tuh, disuruh ngambil gambar dengan tekhnik dasar aja gitu, nah kebetulan banget dia-mungkin sih, habis latihan futsall gitu, ya gue jepret deh.." Jelas Ify dengan senyum yang tak kunjung lepas dari bibirnya.

Sivia membulatkan mulutnya sembari mengangguk. "Terus, kok bisa jalan bareng?"

"Jadi..."

Ify mulai menceritakan awal mula perkenalannya dengan Tristan. Les piano, menjadi jawaban dari pertanyaan Sivia mengenai awal perkenalan -yang lebih akrab- di antara Ify dan Tristan. Suatu kebetulan karena Ify menjadi murid baru di salah satu sekolah musik, yang tak hanya mengajarkan tentang segala macam hal yang berkaitan dengan vokal, tapi juga bagaimana cara memainkan berbagai macam alat musik dengan baik dan benar.
Dan lagi-lagi, kebetulan yang mengasyikkan karena Ify memilih untuk mengambil kelas piano -selain kelas vokal-, yang sebelumnya sudah lebih dulu di pilih Tristan.
• • • • •
  Denting bel rumahnya yang terus berbunyi mau tak mau membuat gadis itu turun tangan sendiri untuk membukanya. Kemungkinan besar, penghuni rumahnya yang lain sedang keluar dan tinggallah ia seorang diri.

"Yaa! Sebentar!" Serunya dari dalam, sambil memutar kunci rumah.

Cklikk..
Pintu rumahnya terbuka, dan menampilkan sesosok pria yang membuat terkejut setengah mati.

"Rio..."
***
Pemuda hitam manis ini tak henti-hentinya bergumam. Jari jemarinya mengetuk-ngetuk stir mobil, guna menghilangkan sedikit rasa gugup yang menyelimuti hatinya. Dari balik kaca mobilnya, kedua ekor matanya terus memantau sebuah rumah yang berdiri megah persis dihadapannya.

"Masuk..nggak..masuk..nggak..masuk..nggak.." Ia mulai menimbang-nimbang, sambil menghitung jumlah kancing kemejanya. "Ahh.. Masuk deh!" putusnya yakin.

Dengan kecepatan sedang dilajukannya kendaraan berwarna metalic miliknya, dan behenti sebentar didepan pintu gerbang, menanti sang satpam rumah membukakan untuknya.

"Loh, den Rio?!" Sapa sang satpam sedikit terkejut. Ia cukup mengenali pemuda tampan ini karena dulunya, pemuda tersebut sangat sering berkunjung ke kediaman milik majikannya ini. "Masuk den! Udah lama nggak mampir yah?"

Rio-pemuda tersebut, mengeluarkan senyuman -yang-seingatnya-dulu-selalu-dibilang-manis-oleh-gadis-yang-tinggal-di-istana-megah-ini.

"Ehehe iya nih, Pak. Ify..ada, kan?" Tanya nya sedikit ragu.

Sang satpam tersenyum sambil mengangguk cepat. "Ada den, ada. Kebetulan non Ify lagi sendiri di rumah, jadi kalau den Rio pengen ngajak keluar, bisa kok den, mumpung non Ify kayaknya lagi kesepian." Jawab satpam tersebut, yang sepertinya dapat menangkap maksud kedatangan Rio kemari.

Rio mengangguk sekilas. Setelah mengucapkan terima kasih, ia kembali melarikan mobilnya memasuki halaman rumah Ify, dan memberhentikannya persis didepan pintu masuk rumah gadis tersebut.

Dengan sedikit dag-dig-dug, Rio menekan bel rumah Ify dan sedikit berdoa sambil menunggu pintu terbuka.

"Yaa! Sebentar!"

Rio tersentak mendengar seruan yang samar-samar itu. Bahkan meski tak jelas, suara itu masih terdengar merdu di telinganya. Jantungnya pun kian berdegup kencang. Ia semakin kebingungan menyusun kalimat-kalimat manis, sebagai pembuka pada pertemuan pertamanya, setelah ia resmi menyandang status jomblo beberapa bulan yang lalu.

Cklikk..
Pintu terbuka, Rio yang sempat menunduk mulai mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Hingga akhirnya, kedua mata itu dapat kembali melihat wajah cantik seseorang yang sekarang sudah berstatus sebagai mantan kekasihnya.

"Rio..."

Rio menelan ludah. Gadis itu masih mau menyebut namanya? Setelah hal jahat yang pernah ia lakukan dulu, hingga membuat gadis itu menangis dan terluka.
***

"Rio.."

Ify menghentikan ucapannya saat mengetahui siapa yang sedang bertamu saat ini. Perasaannya campur aduk, antara kesal, marah, kaget, tak menyangka, namun tak bisa dipungkiri ia merindukan pria ini. Tapi bukan berarti ia masih mencintainya. Ia hanya merindukan saja. Tidak lebih!

"Ng..ngapain, ngapain loe kesini?" Tanya nya dengan nada bicara -dibuat agar terdengar- tak suka.

Rio kembali menelan ludah, tangannya secara refleks menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

"Err..gue haus.."

Hening.
Rio merutuki ucapan -yang mungkin- polos yang tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya. Sedangkan Ify menatapnya dengan alis terangkat, ujung bibirnya sedikit tertarik, dan sebenarnya ia memang sedang berusaha untuk tidak tertawa.
Dengan gerakan kepalanya, ia memberikan izin kepada Rio untuk masuk dan mempersilahkan pemuda tersebut untuk mengambil tempat disalah satu sofa ruang tamunya.

"Duduk! Gue ambilin minum bentar." Suruh Ify ketus. Tanpa mendengar apa-apa dari Rio, ia segera ke dapur untuk membuatkan pemuda yang katanya haus itu, segelas minum dingin.

Beberapa menit kemudian, Ify kembali ke ruang tamu dengan segelas syrup dingin di tangannya. Ia menyodorkan gelas minuman itu langsung kepada Rio, yang tanpa sempat berucap terima kasih, sudah menghabiskan syrup tersebut setengah gelas.

"Loe marathon ke rumah gue?" Tanya Ify sinis, sedikit bermaksud menyindir juga.

Rio jadi malu, tampangnya pasti sudah teramat konyol. Pemuda itu lantas menggaruk-garuk tengkuknya, sambil meletakan gelas minumannya ke atas meja. "Ehehee..nggak kok, Fy. Cuman tadi, gue emang udah haus dari rumah tapi nggak sempet minum." Jawabnya kagok.

"So what? Gue nggak tanya!"

Rio menggembungkan kedua pipinya, kemudian mengeluarkan nafas dari mulutnya. "Err..sendiri aja, Fy?" Tanya nya basa-basi.

"Pintu gerbang di depan dibukain sama Pak Nono, kan?" Ify balik bertanya, Rio mengangguk. "Berarti gue nggak sendiri!" Sambungnya ketus.

Rio mendengus dalam hati, salah lagi gue.

"Err--"

"Ngapain loe ke sini?" Tanya Ify cepat, menghentikan ucapan Rio yang belum sepenuhnya keluar.

"Gu..gue..gue..ma--"

Ify berdecak. "Sejak kapan sih loe ngefans sama Azis Gagap? Jawab pertanyaan gue aja lama banget!" potongnya sinis. Ify mulai jengah. Rasa rindu nya sudah cukup terobati dengan bertemu muka seperti ini. Selain itu, berbicara -meski dengan ketus- kembali dengan Rio juga cukup menjadi penawar rindunya. Dan rasanya, meninggalkan ruang tamu ini sekarang juga lebih baik daripada ia harus berlama-lama dengan pemuda pembohong seperti Rio.

"Sorry.." Ucap Rio lirih. Ify tak menyahut, ia hanya melirik pemuda itu sekilas melalui ekor matanya. "Sorry banget, Fy.."

Ify mulai mendengus. "Sorry? Setelah berbulan-bulan kita putus, dan elo baru minta maaf sekarang?" Tanya nya seolah-olah shock. "Huhhh..keren banget yah!"

"Gue tau gue salah. Gue pengen banget minta maaf sama loe dari dulu tapi--"

"Tapi apa? Tapi loe lebih milih gue yang ninggalin elo, ketimbang si-cantik itu? Iya?!" Sela Ify. Ia mulai berdiri menantang dihadapan Rio yang masih terhalang meja ruang tamu.

"Buk--"

"Loe mau bilang bukan maksud loe kayak gitu, iya?" Selanya lagi. "Arghh! Udahlah, Yo! Gue males dengerin omongan loe! Gu--"

"Dengerin gue dulu, Alyssa!" Kali ini giliran Rio yang menyela. Ia berdiri langsung dihadapan Ify, dengan kedua tangan mencengkram -agak- kuat bahu gadis tersebut. "Loe nggak pernah mau ngedengerin gue! Loe nggak pernah ngasih kesempatan ke gue!" Sambungnya membentak. Ify membeku dalam cengkraman kuat pemuda tersebut.

Nafas Rio mulai memburu. Perlahan, ia mulai melepaskan cengkramannya, dan menghempaskan tubuh jangkungnya pada sofa yang ada persis di belakangnya.
Tangannya bergerak naik mengusap wajah yang mulai dibasahi keringat.

"Loe nggak pernah ngasih gue kesempatan buat ngejelasin semuanya.." Ucapnya lirih. "..minta maaf sama loe, dan..dan ngungkapin perasaan yang bahkan sampai detik ini masih gue rasain ke elo.." Sambungnya, masih dengan nada lembut dan pelan.

Ify masih membisu, dan bertahan pada posisinya.

"Gue udah sering ngubungin nomer loe, tapi selalu loe reject. Sms gue nggak loe bales. Terakhir nomer loe malah nggak bisa dihubungin." Rio masih berkeluh kesah, tanpa mendapat tanggapan dari Ify. "Apa itu masih nggak bisa ngebuktiin kalau gue nyesel?"

Ify membuang muka saat wajah Rio menghadapnya. Dengan sepasang mata elang yang menusuk tajam pada bola matanya, akan semakin membuat gadis itu merasa lemah jika terlalu lama beradu pandang dengan pemuda tersebut.

"Gue sering banget nyamperin elo ke sekolahan loe, Fy.. Tapi, nggak pernah sekali pun gue berhasil nemuin loe."

"Gue benci sama loe, Yo.. Gue kecewa.." Ify mulai berucap, diiringi isakan tertahan. "Gue yang berusaha percaya sama loe, yakinin kalau elo nggak bakal nyia-nyiain gue, tapi nyatanya.."

"Sorry, Fy.."

"Elo selalu gue banggain di depan temen-temen gue! Rio yang manis, Rio yang perhatian, ketua Osis, jago basket, pujaan cewek-cewek, dan apalah itu semua. Gue yang selalu dengan yakinnya ngomong ke teman-teman gue kalau elo itu bakal setia.." Ify tak lagi membuang muka. Kali ini dengan berani ia menatap Rio dengan kedua mata yang mulai berair. "Tapi yang terjadi elo malah ngekhiantin gue dengan rival gue sendiri!" Ify berucap penuh penekanan sambil menunjuk dada Rio.

Dengan gerakan cepat Rio meraih telunjuk Ify yang terarah padanya, dan balas menggenggam sambil menciumi tangan gadis tersebut.

"Maafin gue, Fy. Maafin gue.. Gue salah, gue berdosa, gue emang jahat banget, tapi sumpah demi apapun gue sayang banget sama loe. Nggak pernah ada yang lain selain loe Fy.."

Ify menarik tangannya yang masih saja diciumi Rio. "Loe mungkin udah ribuan kali ngomong kayak gitu ke cewek-cewek lainnya, Yo.." Ucapnya sinis.

"Fy, gu--"

Comeback comeback to me~

Dering handphone Ify membatalkan niat Rio yang ingin meluruskan presepsi Ify mengenai ucapannya barusan. Dan tanpa memperdulikan Rio yang mengutuk kesal pada handphonenya, Ify segera meraih benda mungil tersebut dari balik saku jeansnya.

"Err..hallo, Vin.." Sapa Ify lembut.

Membuat Rio menatapnya dengan kening berkerut. Ia semakin curiga saat Ify memilih untuk menjauh darinya sambil tetap menyelipkan handphone tersebut diantara tangan dan telinganya.
10 menit kemudian, gadis itu kembali dengan wajah yang mulai tenang.

"Si--"

"Dia Alvin, cowok yang lagi deket sama gue sekarang." Potong Ify yang sudah bisa menebak apa pertanyaan Rio.

Pemuda itu menghela nafas kecewa. Wajahnya memerah, memendam amarah. Dia tak setuju jika Ify bersama pria lain selain dirinya. Ia masih menyayangi Ify, tapi kenapa gadis itu malah memberitahukan kedekatannya dengan pria lain?
'Sadar, Rio! Loe bukan siapa-siapanya Ify lagi.' Bathinnya mencelos.

"Apa itu artinya elo udah menutup hati loe buat gue, Fy?" Tanya nya lirih. Berharap Ify akan menjawab tidak akan pertanyaannya.

Ify tersenyum masam. "Loe tau jawabannya, Yo. Life must go on. Gue mesti move on. Nggak lucu kan, kalau gue stuck disitu aja cuman karena dikhianatin cowok?"

Sekali lagi, Rio menghela nafas. Diusapnya kembali wajah nya yang muram, dan mulai bangkit dari posisi duduknya.
Ia melangkah mendekati Ify. Dan tanpa permisi, pemuda tersebut mendaratkan satu kecupan dipuncak kepala Ify , sambil membelai rambut gadis itu.

"Asal loe tau, gue masih sayang sama loe, dan masih belum menyerah buat ngedapetin loe lagi." Ucapnya kemudian berlalu. Membiarkan gadis yang masih melayang karena perlakuannya tersebut, membeku ditempatnya.
• • • • •

"Kenapa sih, Fy? Nggak konsen banget kayaknya?"
Alvin-pemuda yang tengah dekat dengan Ify, membuka pembicaraan. Ia memang sedikit merasa aneh melihat sikap Ify yang mendadak jadi banyak diam, ya meskipun dari awal mengenal gadis itu, Alvin tahu bahwa Ify bukanlah gadis yang banyak bicara. Tapi setidaknya, ia akan selalu menjadi pendengar dan lawan bicara yang baik bagi siapa saja, bukan malah menghiraukannya seperti barusan.

"Ify! Hello! Are you okay?"

Alvin kembali bertanya sambil menyentuh bahu gadis tersebut.

"Ah ya! Kapan sih gue nggak terlihat okay di depan loe?" Tanya Ify berusaha biasa.

Alvin hanya tersenyum sambil menggeleng. Kemudian ia mengambil bola kaki yang sempat ia letakkan disebelahnya, dan mengacak kecil rambut Ify sebelum meninggalkan gadis itu ke tengah lapangan.

"Gue main dulu.." Pamitnya.

Ify yang mulai merah merona hanya bisa memasang senyuman kaku, sambil mengangguk sebagai isyarat mempersilahkan kepergian pemuda tampan tersebut.

"Gilaa! Sport jantung gue.." Gumamnya sambil memegangi dadanya, merasakan detak jantung yang tiba-tiba saja memiliki ritme tak berarturan.

"Hayolohhhhh! Kenapa merah merona kuning ungu jingga!!!" Seru Sivia, setelah sebelumnya memberikan salam pembuka kepada pundak Ify, berupa tepukan keras yang hampir saja membuat tubuh mungil gadis itu tersungkur ke depan.

"Slow, woy! Slow! Anarkis banget sih jadi cewek!" Sungut Ify sambi mengusap-usap pundaknya.

Lagi-lagi Sivia memasang cengiran tak bersalahnya. Kemudian dengan santainya ia mengambil kaleng softdrink milik Ify, dan meneguknya hingga menyisakan setengah kaleng.

"Eh neng, kenapa lagi loe? Perasaan sama Alvin lancar-lancar aja, tapi kok tu muka kayak baju belum disetrika gitu?"

Ify memanyunkan bibirnya sesaat setelah Sivia meletakkan kaleng minumannya. Namun kemudian, ia jadi terpikir akan pertanyaan Sivia.

"Huftt.." Ify mendesah panjang. Pandangannya terarah pada Alvin yang bergerak gesit di tengah lapangan. "Rio.."

Sivia menatap Ify dengan kaget mendengar nama yang meluncur dari bibir gadis tersebut. "Ada apa dengan Rio?"

"Dia ngajak gue balikan.."

Bla..bla..
Ify mulai menceritakan prihal kedatangan Rio beberapa malam yang lalu ke rumahnya. Adegan demi adegan, kalimat demi kalimat di ceritakannya secara rinci tanpa satupun yang terlewat.
Sivia sampai melongo ditempatnya. Antara merasa kagum karena sikap Rio yang menurut sudut pandangnya, cukup so sweet. Dan kesal karena dengan kurang ajarnya Rio masih berani mencium Ify, yang jelas-jelas berstatuskan sebagai mantannya. Catat! Mantan! Ex-girlfriend! Bukan pacar. Kurang ajar kan?

"Kok loe nggak nolak waktu dia nyium elo? Jangan-jangan loe masih sayang terus ngekhayatin ciuman tu cowok lagi?" Sivia mulai mengintrogasi.

"Ya ampun Sivia... Demi Tuhan! Gue akuin, gue emang kangen banget-banget sama dia. Tapi kalau loe bilang gue masih sayang... It's only in his dream. Gue udah nggak ada rasa apa-apa lagi sama dia. Suer!" Ucap Ify penuh keyakinan. Kedua jarinya -tengah dan telunjuk- teracung tegak membentuk huruf V sebagai bukti keseriusannya.

Sivia menghela nafas. "Ya..ya, gue percaya. Terus?"

Ify menggeleng. "Dia beneran ngebuktiin omongannya buat merjuangin gue kayaknya."

Sivia mencibir pelan. "Adudu..berat banget bahasa loe. Merjuangin? Emang loe aset penting negara?"

"Senggaknya, gue aset penting buat bonyok gue, karena gue anak satu-satunya. Gue juga aset penting buat sekolahan ini karena selain kapten cheers, gue juga merupakan 'anak olimpiade' disekolah ini. Mau apa loe?"

Sivia melengos. "Mulai deh sok pentingnya.." Sahutnya malas.

Ify melayangkan sebuah jitakan halus ditempurung kepala Sivia, karena mendapatkan respon seperti itu. "Ughh! Jadi gue harus gimana dong, Vi? Help me?"

"Lah, emang mesti gimana? Jalanin aja.. Berani apa sih Rio sama loe?"

"Sivia.. Elo nggak tau kan penderitaan gue 2 hari terakhir ini?" Sivia refleks menggeleng. "Setiap jam pulang, gue terpaksa ngatur waktu supaya nggak kepergok sama Rio, karena tu bocah mantengin gue didepan gerbang. Belum lagi dirumah, biarpun gue jelas-jelas nolak kedatangan dia, tu anak dengan songongnya beralasan pengen ketemu bonyok gue, carmuk abis kan?" Jelas Ify menggebu-gebu.

Sivia jadi menggaruk-garuk keningnya. Ternyata problema yang dihadapi Ify cukup rumit. "Huhh..sebenernya yang dimauin Rio dari loe apa sih?"

"Dia pengen gue balikan sama dia."

"Ya udah sih terima. Kalian cocok ini." Sahut Sivia asal.

Ify melotot kesal padanya. "Mesti berapa kali gue bilang kalau gue udah ilfeel sama dia?"

"Iye..iye, slow neng. Ya loe jelasin baik-baik dong, dengan halus, lembut biar dia ngerti kalau elo pengen lepas dari dia." Jawab Sivia mulai serius.

Ify melengos. "Malas! Yang ada dia besar kepala kalau dibaik-baikin."

"Fy.."

Suara seorang pria membungkam mulut Sivia yang belum sempat berujar. Begitu mengetahui siapa pemilik suara tersebut, Sivia mau tak mau harus sadar diri untuk segera menyingkir dari sana.

"Upss.. Kayaknya gue mesti get out nih." Ucapnya meledek. Ify hanya diam tak berkutik.

Alvin tersenyum penuh terima kasih pada Sivia. "Thanks, Vi." Ucapnya. "Temenin gue ke kantin bisa kan, Fy?" Alvin beralih menatap Ify yang sedang menunduk.

"Fy, atau Vi nih? Gue apa Ify?" Tanya Sivia iseng, diiringi tawa kecil diakhir kalimatnya.

"Ify yang manis dan cantik dong, Sivia sayang~"

Ify dan Sivia kompak mendelik sambil bergidik. "Ihh..gombal parah loe." Cibir Sivia sambil meninju kecil lengan Alvin. "Gue duluan deh, Fy. Pikiran saran gue tadi. Dagh!" Pamit Sivia yang segera berlari meninggalkan Ify dan Alvin.

"Saran apaan, Fy?" Tanya Alvin selepas kepergian Sivia.

Ify menyeringai kecil sambil menggeleng. "Nggak. Cuman masalah pelajaran doang kok." Dustanya.

Alvin tahu Ify berbohong, namun ia membiarkan. Mungkin bukan kapasitasnya untuk mencampuri urusan Ify. Lagian, siapa dia? Pacar bukan mau sok sibuk ngurusin masalah orang.

"Ya udah. Kantin, yuk!" Ajaknya pada Ify. Ify mengangguk, sedikit tersentak saat tau-tau tangan Alvin telah merengkuh lengannya, dan memaksa tubuh Ify untuk berjalan berdampingan dengannya.

'Fiuh..sport jantung lagi gue.'
• • • • •

“Sebaik-baik perpisahan adalah yang diakhiri dengan senyuman. Sebagaimana awal hubungan itu dimulai.“

Sender : 0823xxx

Ify mendengus kesal membaca pesan singkat itu. Meski hanya nomer, tanpa nama, ia sudah bisa menebak siapa pengirim itu. Masih dengan rasa kesalnya yang mendadak datang, Ify berniat menghapus pesan masuk tersebut. Namun, suara merdu Taylor Swift yang menyanyikan reff salah satu lagu terbaiknya menghentikan niat Ify.
Tanpa melihat nama si pemanggil, Ify menekan tombol accept pada ponselnya.

“Please, dengerin gue. Jangan tutup telphonenya!”

Ify mengernyit, apa lagi sih maksud lelaki ini?

“Gue cuman mau, lo nemuin gue untuk terakhir kalinya ditempat biasa kita ketemu. Please, biar gue bisa setegar lo buat ngadapin kenyataan ini, Fy...”

Baiklah, Ify mulai tersentuh. Mendengar lirih suara pria tersebut merupakan hal asing..hem, langka malah bagi Ify. Karena Ify jelas mengenal betul bagaimana sosok pria tersebut dengan segala tabiat.

“Gue anggap diem lo itu 'iya',” Ify tersentak mendengar suara yang tiba-tiba itu. “besok gue jemput yah. Bye Naura Safiya..” Dan sambungan pun terputus.
Well, kita lihat, besok akan seperti apa...
•••
Suasana disini tidak berubah. Masih ramai, masih sejuk, masih menyenangkan. Membuat ingatan Ify tentang masa lalunya bersama Rio, hadir kembali saat ini. Secepat mungkin Ify menggelengkan kepalanya, membuang jauh semua memory yang terputar kembali bagai jarum jam yang bergerak teratur. Bahkan, Ify masih mengingat hari bahagia terakhirnya bersama Rio dengan status sebagai kekasih dari pria tampan tersebut.
»»
Seorang remaja pria menarik lembut pergelangan gadis cantik yang berjalan disisinya, menuju sebuah perosotan berwarna biru muda yang terletak ditengah-tengah taman.

"Aaahhh, mau kemana sih, Yo? Sakit nih tangan aku ditarik-tarik gitu." Rengek Ify, gadis cantik yang berjalan bersisian dengan remaja pria tersebut.

"Ke situ Ify!" Rio mengarahkan telunjuknya ke sebuah perosotan biru yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. "Kita main perosotan yah." tambahnya semangat.

Ify mendengus sebal, masa' iya kencan pertama mereka -setelah 1 minggu yang lalu resmi jadian- harus dilalui dengan bermain perosotan ala anak TK? Nggak ada yang lebih bagus gitu?
Merasa tidak ada respon, Rio menghentikan langkahnya. "Kok diem? Gak mau yah main perosotan sama aku?" Tanya nya sedikit kecewa.

Ify memaksakan sebuah senyuman untuk Rio. "Nggak kok. Yuk deh kita main kesana." Ajaknya sambil menggandeng Rio menuju perosotan biru tersebut.
Dengan sedikit takut dan -emm- malas, Ify bersiap-siap menaiki perosotan tersebut. Ia akan terjun dari puncak perosotan tersebut setelah sebelumnya Rio menerjunkan dirinya terlebih dahulu.

Rio menatap gadis dibelakangnya dengan senyuman "Siap?" tanyanya, Ify tersenyum masam. "Oke, 1-2-3..."

Rio memulai aksinya diiringi dengan teriakan kecil bernada ceria. Memang, perosotan yang mereka naiki saat ini memiliki tinggi yang tidak biasa. Karena, perosotan ini memang tidak dikhususkan untuk anak-anak.
Setelah Rio sampai dengan selamat didasar tanah, Ify segera mempersiapkan hatinya yang mulai ketar-ketir. Ify menelan ludah saat melihat dasar tanah dari tempatnya berdiri saat ini. Cukup tinggi, dan ia rasa itu juga cukup mampu membuat nyalinya menciut. Kalau saja dibawah sana Rio tidak berteriak menyerukan namanya, menyuruh gadis manis itu untuk segera terjun, mungkin Ify sudah turun dan mengurungkan niatnya untuk beraksi saat itu.

'Oke, aku pasti bisa!'

Setelah berulang kali menghirup nafas, Ify mulai memposisikan dirinya. Bersiap untuk segera meluncur.

'Bismillah ya Allah'
Ucapnya dan..wushhhhh Ify meluncur sambil menutup kedua matanya. Dalam hati gadis itu membathin, berharap semoga ia bisa selamat sampai dibawah.

Sampai pada akhirnya, ia merasa tubuhnya sudah terduduk didasar tanah. Dan tepat ketika ia membuka matanya, Ify menemukan setangkai mawar merah didepan matanya.

"Aku sayang kamu." Ucap Rio polos.

Ify tersenyum malu. "Apaan sih Yo, masih SMP bilang sayang."

"Tapikan kita udah pacaran," protes Rio. "Nggak papa dong aku bilang gitu."

Ify mengangguk kecil. "Ehehe, iya yah."
««

Rio baru saja memarkirkan kendaraan roda empatnya. Sambil mengotak-atik ponselnya, pria jangkung tersebut berjalan santai menghampiri Ify yang terdiam mematung, tatapannya terfokus pada perosotan yang cukup tinggi, letaknya tidak jauh dari tempat Ify berdiri saat ini.
'Masih ada ternyata'
Rio membathin dalam hati, sambil ikut menatap perosotan lama yang sudah berubah warna. Kalau dulu seingat Rio perosotan tersebut berwarna biru, kini warna nya menjadi merah cerah.

"Emm Fy," tegur Rio sambil menepuk pundak Ify. Ify tersentak dari lamunannya. "Inget sama-"

"-eh elo kapan dateng, Yo?" Tanya Ify, memotong ucapan Rio. Ia tau kemana arah ucapan Rio nantinya, maka dari itu Ify memotong ucapan pria tersebut.

"Emm baru kok, kita main perosotan itu yuk.." Ajak Rio menunjuk perosotan tadi.

"Enggak ah, kayak anak kecil aja." Tolak Ify cepat.

"Ayolah Fy, cuman hari ini gue banyak minta sama lo," pinta Rio, "besok-besok nggak lagi deh." Tambahnya.

Ify menggembungkan kedua pipinya dengan kesal. Namun gadis tersebut tetap pasrah mengikuti Rio yang mulai menuntunnya menuju perosotan tersebut.

Entah hanya kebetulan atau memang...Rio sengaja mengulang apa yang pernah terjadi dulu. Setelah ia sampai didasar tanah, Rio segera menjauh dari perosotan tersebut. Ia membiarkan Ify meluncur dengan kedua mata tertutup. Masih ekspresi yang sama, seperti dulu, pikir Rio.

Ify yang merasa sudah meluncur dengan selamat membuka kedua bola matanya. Dan bagaikan de javu, kini gadis tersebut mendapati Rio yang tengah menyodorkan sesuatu didepan wajahnya. Berbeda dengan 4 tahun silam, kini yang berada dihadapannya bukanlah mawar merah, melainkan ice cream rasa cappucino bertabur chocochips, ice cream kesukaan Ify.

"Gue masih sayang sama lo." Ucap Rio tulus.

Ify menatap Rio dengan perasaan tak enak. "Eemm makasih." Ucapnya sambil menerima ice cream tersebut.
•••

Ify mendengus kesal berulang kali. Sedari tadi Rio tak henti-hentinya menarik tangan Ify dan membawa gadis itu menuju berbagai macam stand favorite yang sering mereka kunjungi dulu.

"Isshhhh, udah ah, Yo. Capek gue ditarik-tarik mulu sama lo." Sungut Ify kesal.

Rio menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ify. "Capek yah?" tanya nya penuh perhatian, Ify mengangguk malas. "Ya udah, duduk disana aja yuk!" Ajaknya sembari menggandeng -atau-lebih-tepatnya-menarik-sedikit-paksa- tangan Ify.
Ify menurut, pasrah. Dengan langkah malas ia mengiringi Rio yang berjalan selangkah lebih dulu didepannya. Begitu sampai disalah satu stand minuman, keduanya memilih sebuah meja yang letaknya persis dibawah pohon rimbun.

"Bentar yah, gue ambil minuman dulu. Jangan kemana-mana." Pesan Rio, dengan nada yang terkesan memerintah. Ia mengacak pelan puncak kepala Ify sesaat sebelum ia meninggalkan gadis manis tersebut. Selang beberapa menit kemudian, Rio kembali dengan segelas vanilla latte dingin ditangannya.

"Nih." Rio menyodorkan gelas vanilla latte tersebut yang disambut sumringah oleh Ify.

"Makasih!" Sahut Ify gembira. "Masih inget aja minuman favorite gue." Tambahnya.

Rio tersenyum masam. "Sampai kapan pun, gue nggak mungkin lupa kali, Fy."

"Eh kok jadi melow gini, lanjut main yuk, bosen nih."

Ify mencoba mengalihkan pembicaraan Rio yang ia yakini ujung-ujungnya akan mengacu pada hal yang paling dihindarinya, perasaan Rio yang masih tertuju padanya.

Rio menghela nafas, merasa -sedikit- kesal dengan Ify karena gadis itu selalu berusaha menghindari kenyataan bahwa ia -Rio- masih memiliki rasa itu pada Ify, meskipun sekarang semua itu sudah terlambat.
Dengan enggan Rio mengiringi Ify yang berjalan lebih dulu didepannya.

Srettt...Rio menarik tangan Ify saat gadis itu ingin menyebrang jalan. Dan mungkin karena tidak berkonsentrasi -akibat-pembicaraan-antara-ia-dan-Rio- Ify hampir saja menyebrangkan diri ditengah ramainya lalu-lalang kendaraan. Untung saja Rio sempat menahan Ify, membuat tubuh mungil gadis tersebut terdorong hingga ke dadanya.

Tak bisa dipungkiri, bahwa Ify merasa dadanya berdebar-debar saat tubuhnya melesak masuk ke dalam pelukan Rio.

"Lain kali kalau mau nyebrang hati-hati ya, Fy," pesan Rio, tangan kanannya masih melingkar di pundak Ify. "Liat kiri kanan, jangan asal nyelenong kayak tadi." Tambahnya.

Ify mengulum senyum "thanks, Yo."

"Udah kewajiban gue," ucap Rio tulus, Ify terdiam. Berusaha acuh dengan ucapan tulus tersebut. "Senggaknya, sebelum gue bener-bener pergi...gue akan selalu ngejagain elo, semampu gue."

Rio memfokuskan kedua manik matanya pada sepasang mata bening milik Ify. Entah mendapat keberanian darimana, Rio mengecup lembut puncak kepala Ify. Tak menolak, Ify membiarkan perlakuan Rio.

"Gue nggak akan pernah berhenti buat bilang," Rio menggantungkan kalimatnya, membiarkan bermili-mili oksigen memenuhi rongga dadanya, "gue masih sayang sama lo."

Ify terdiam, tak mampu berucap. Untaian kalimat yang semestinya terlontar dari mulutnya, berganti dengan derai air mata yang menyeruak dari kedua pelupuk matanya.
Dan dengan sekali gerakan, Rio kembali merengkuh Ify kedalam pelukannya. Menghapus berjuta-juta rindu yang sebelumnya hanya mampu ia pendam dan tak tersampaikan

Langit gelap malam ini terlihat indah dengan ribuan bintang yang masih setia menemani sang bulan. Membuat gadis manis yang terduduk disebuah bangku panjang yang terletak persis dibawah pohon akasia itu menatap takjub. Ya meskipun hal seperti ini sudah sering terjadi, tapi melihat pemandangan ini secara sengaja jelas berbeda dari biasanya. Disebelahnya, pria hitam manis yang sedari siang bersamanya menatap dalam siluet samping gadis tersebut. Menikmati detik-detik terakhir kebersamanya dengan sang pujaan hati, sebelum 'waktu' itu memisahkan kebersamaan mereka. Dinginnya angin malam yang hilir mudik disekitar mereka terabaikan, seolah bukanlah penghalang bagi keduanya menikmati malam ini dengan cara mereka masing -yang tentu saja berbeda-.

Sadar akan tatapan tajam yang terus mengarah kepadanya, Ify refleks memutar kepalanya dan menatap Rio dengan alis terangkat.

"Kenapa?"

Rio tertawa kecil dan menggeleng. Jemarinya saling terikat erat. "Nggak papa, pengen mandangin kamu lama-lama aja, kan buat terakhir kalinya."

Ify sedikit merasa aneh dengan sikap Gabriel hari ini. Berulang kali pria disebelahnya ini menyematkan kata 'terakhir' disetiap kalimat yang ia lontarkan. Dan memilih beraku-kamu, padahal sebelumnya tidak seperti itu.

"Kenapa? Natapin aku nya gitu banget?" Tanya Rio saat Ify menatapnya tanpa kedip.

Ify meringis kecil dengan kepala bergerak ke kanan dan ke kiri berulang kali. "Nggak, biasa aja kok."

Setelah menjawab kikuk, Ify kembali memutar arah pandangannya ke depan. Membiarkan ribuan hembusan angin menerpa wajah cantik serta membelai lembut rambut panjang yang mulai menari bebas karenanya.
Rio bergeming. Tatapannya masih tertuju pada Ify. Dihembuskannya nafas sesamar mungkin, menutupi agar gadis disampingnya tak menyadari sejumput kegelisahan yang mengisi hatinya. Dengan pelan telapak tangan Rio bergerak mendekat, merengkuh kelima jemari kanan Ify dan menggenggamnya erat. Membuat Ify tersentak kaget dan kembali menatapnya dengan alis menyatu, dilanjutkan dengan gerakan mata yang menatap genggaman Rio dan wajah tampan pria tersebut secara bergantian.

"Kamu ngerti maksud sms aku tadi siang kan, Fy?" Ify mengangguk ragu.
"Aku cuma mau, hubungan yang pernah kita awali baik-baik itu, kita akhiri dengan baik-baik juga. Ya..meskipun ada keadaan dimana hal itu udah ngebuat kamu nggak baik-baik aja."

Ify bertahan dengan diamnya, sambil menunggu Rio meneruskan kalimatnya.

"Dan sebelum aku bener-bener pergi, aku pengen..aku pengen kamu dengerin ungkapan hatiku, penyesalanku..dan semua perasaan hatiku yang sesungguhnya."

Ify masih diam. Pandangannya tak beralih dari kedua bola mata teduh milik Rio.

"Aku, aku sayang banget, Fy..sama kamu. Dan aku..aku nyesel udah nyia-nyiain kamu, dulu."

Ify menggigit kecil bibir dalamnya, dan mulai menatap Rio dengan enggan. Bukan marah atau apapun sejenisnya, hanya saja gadis ini terlalu rapuh untuk menatap mata tajam Rio yang selalu sukses menghipnotisnya.
Perlahan Rio melepaskan genggamannya. Ia menegakkan tubuhnya dan mulai berdiri menantang, didepan ribuan benda langit yang masih asyik berkerlip, seolah mengabaikan kehadiran dua insan yang tengah dilanda kegalauan.

"Aku sadar kok, Fy..sadar banget kalau semua udah terlambat. Dan aku..aku tapi gak bisa terus-terusan ngebohongin perasaan aku, bersikap seolah-olah gak sayang kamu padahal aku cemburu ngeliat kamu sama cowok lain,"

Di tatapnya kembali mata Ify yang mulai menahan laju air matanya. Dan tesss..sekali kedip kristal bening itu mulai menyembul dari pelupuk mata gadis manis tersebut. Dengan lembut Rio menyusuri pipi tirus Ify, menghapus jejak-jejak air mata yang nampak basah dikedua pipinya.

"Jangan nangis, aku kesini bukan buat bikin kamu nangis," ujar Rio lirih. "Aku nggak kayak Alvin ya, Fy? Dari dulu aku cuman bisa nyiptain kesedihan yang berujung air mata buat kamu. Alvin? Dia selalu bisa ngebuat kamu senyum, ketawa, bahagia..hahaa."

Tiba-tiba Rio tertawa hambar. Pikirannya terusik dengan sejuta penyesalan yang kembali menebal didalam hatinya. Betapa ia menyia-nyiakan gadis seperti Ify, yang dengan sabar selalu menemaninya, dan tak pernah bosan untuk selalu memahaminya. Dan pantasnya, Ify tersenyum karena cintanya bukan menangis karena 'penyiksaan-penyiksaan' bathin yang tanpa sadar sering dilakukannya.
Laju airmata Ify makin tak terkendali, meskipun tanpa isakan. Tak tahu harus berkata apa, Ify hanya mampu terdiam dan membiarkan air matanya mengalir sebagai pengganti ungkapan hatinya.
Dengan sedikit ragu, Rio merengkuh Ify kedalam pelukannya. Tanpa berkata manis untuk menghentikan tangis gadis itu. Cukup dengan sentuhan lembut penuh kasih sayang, ia mampu menenangkan kekalutan hati Ify.
Sejujurnya, tak sedikitpun rasa itu tersimpan didalam hatinya. Karena sudah sejak lama, kekosongan hati yang dulu sempat diisi oleh Rio, digantikan dengan se sosok pria berkulit putih dengan postur tubuh yang hampir menyerupai Rio.
Namun, malam ini Rio membuatnya harus merasa bersalah karena mendengar jeritan hati pria tersebut. Jeritan yang terdengar tulus, dan mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.

Rio melepaskan dekapannya, dan berganti mencengkram -lembut- pundak gadis cantik si pemilik hatinya.

"Fy," panggilnya, sedikit menunduk karena memang sang gadis yang ia sebutkan namanya tengah menatap fokus pada rerumputan hijau yang mulai berembun. "Bisa liat aku?" Tanya nya terdengar memohon.

Dengan perlahan gadis itu mengangkat wajahnya. Masih terlihat jejak-jejak air mata yang membekas dikedua pipinya. Bahkan, kedua mata gadis tersebut terlihat memerah dengan sedikit kantung dibawah matanya.

"Maaf, aku selalu buat kamu nangis." Rio merengkuh wajah cantik Ify, membuat gadis itu mau tak mau menatapnya. "I love you, goodbye..." 

 Ify tak menjawab. Ia hanya menatap nanar wjah sendu pemuda dihadapannya itu.
 
"Aku antar pulang yah?"
Tanya Rio dengan nada mengajak. Sejujurnya Ify masih ingin berlama-lama disana, tapi akhirnya dengan mau tak mau, rela tak rela gadis itu mengikuti langkah lebar Rio sambil terus memeluk tubuhnya yang diselimuti dinginnya angin malam.

Rio menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ify yang berjalan dua langkah dibelakangnya. "Lelet deh, Fy." Ucapnya, tanpa ragu tangan kanannya mendekap tubuh Ify dari samping.
Dengan sedikit terkejut, Ify mengangkat wajahnya dan mendapati senyuman manis terukir diwajah -yang juga- manis tersebut. "Kedinginankan? Jadi gak papa dong." Ucap Rio, jahil.

Ify mendengus, ingin menolak tapi enggan. Karena tak dapat dipungkiri, sedikit demi sedikit 'kedinginan' itu berubah menjadi 'kehangatan' saat lengan kokoh Rio melingkari bahunya.

"Makasih." Ucap Ify pelan, dengan wajah menunduk. Rio tak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya dengan sebuah senyum kelegaan yang terus menempel dibibirnya. 

*** 

Ikhlasku, karena aku masih ingin melihat senyummu, saat bersamaku..meski kau bukan milikku..

- I love you, goodbye...


----

Anyway, versi aslinya si Alvin itu Tristan, tapi kemudian karena untuk di publish menjadi #loveinrify Tristan gue edit jadi Alvin, tapi ga tau deh pas udah cetak gue liat perasaan balik lagi jadi Tristan :/
Yang gue post ini versi revisi, dengan Tristan yang sudah gue ganti menjadi Alvin. Dan kalau ada kalian yang ngerasa dejavu dengan scene endingnya...YUP! Ini merupakan salah satu scene di WL cerbung gue juga HAHA
Ini gue post untuk memenuhi permintaan teman-teman sekalian..

Terimakasih sudah membaca!

#muchlove!

@niyaaarasyied