Selasa, 20 November 2012

Aku Pernah {2}

- Aku Pernah Merasa Jatuh Cinta... -
Aku pernah merasa jatuh cinta. Bagaikan ribuan kupu-kupu mengepakkan sayapnya dalam perutku. Bagaikan rentak gendang yang bertalu dalam dadaku.
“Menurut lo, jatuh cinta itu gimana sih, Vi?”

Sivia menatapku dengan alis bertaut. Ada yang salah dengan pertanyaanku?

“Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?” Tanya Sivia, terdengar curiga.

Aku menggeleng. Kemudian meletakkan daguku pada kedua tangan yang bertumpu pada lututku.

“Pengen tau aja. Gue kan..belum pernah jatuh cinta.”

Sivia mencibir. “Huuu..bukan belum pernah kali, tapi belum nyadar.”

“Yah, mana gue tau, gue yang belum pernah atau emang belum nyadar kalau sekarang, gue tanya tanda-tanda jatuh cinta itu gimana aja, lo nggak ngasih tau.”

Sivia berdehem. “Hem..jatuh cinta yah? Kalau berdasarkan pengalaman gue sih..lo bakalan susah tidur karena sering ke inget dia, ya kalaupun bisa pasti jadi sering mimpiin dia. Makan rasanya nggak nafsu, lo lebih semangat pas nerima sms dia dibanding sms gue. Ya gitu deh, hal-hal yang dulunya lo nggak suka, lo nggak bisa kalau udah atas dasar kata 'karena atau demi dia' pasti jadi bisa.”

Aku mengangguk-angguk, paham. Pantas saja, semenjak dekat dengan Alvin, Sivia menjadi lebih semangat dengan hal-hal yang berbau basket. Setelah ku tanyakan, ternyata itu adalah salah satu hal yang bisa membuat ia dan Alvin menjadi lebih connect.

“Terus, Fy..lo pasti jadi lebih peka. Kalau dia ada didekat atau disekitar lo, meskipun lo awalnya nggak tau, tapi pasti lo bisa ngerasain.”

Benarkah?
Apa itu semacam telepati? Ikatan bathin? Ah, tapi kan yang merasa hanya aku. Dia?
Bukankah telepati atau pun ikatan bathin hanya teruntuk mereka-mereka yang saling menaruh hati? Atau kesimpulanku selama ini salah?

Tiba-tiba saja aku merasa degup jantungku berdetak lebih cepat. Entahlah, aku seperti merasakan..

“Latihan ntar sore, Yo! Jam setengah 4!”

Aku buru-buru menoleh ketika mendengar teriakan itu. Persis disaat itu, aku melihat sosoknya sedang berbalik ke belakang dengan jempol teracung.
Apa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya?
Apa feeling ku--tentang keberadaannya tadi, hanya kebetulan? Atau memang itu pembuktian atas penjelasan Sivia barusan?
***

Aku pernah jatuh cinta. Bagaikan kebahagian selalu menyelimutiku. Senyum ceria seolah enggan pergi dari bibirku. Meski hanya sebentar, diantara rinai hujan, asal berdua dengannya..semua terasa menyenangkan.

“Belum pulang, Fy?”

Aku mendongak dan tersenyum kikuk. Entah mengapa, dua hal itu selalu menjadi efek dari keterkejutanku saat melihatnya.

“Eh, belum, Yo. Kamu?”

Ia menadahkan kedua telapak tangannya di bawah rinai hujan, sambil menatap langit.
Aku menatap siluet samping wajahnya dengan seksama.

“Gue suka banget sama hujan, Fy.”

Aku tahu! Dia suka hujan dan suka bermain bola sambil mandi hujan.

“Apalagi kalau sambil main bola, rasanya seru terus makin semangat juga.”

Aku tersenyum. Ternyata pengetahuanku tidak salah.

“Biasanya, gue cuman ngerasain bahagianya hujan karena main bola. Tapi sekarang..gue juga ngerasain bahagianya hujan karena seseorang yang gue suka.”

Dia menatapku dan tersenyum kecil. Tanpa tahu segala macam perasaan berkecamuk dalam dadaku.
Ingin tahu. Penasaran. Tak suka.

“Disini, sama lo.” Ia kembali tersenyum, setelah sukses membuatku tertegun dengan sebuah pertanyaan didalam otakku, karena ucapannya barusan.

“Gue duluan yah!” Pamitnya menerobos hujan.

Maksudnya? Aku takut ini hanya GR-ku saja. Tapi..bukankah pernyataanya barusan menyiratkan kalau ia menyukaiku?
***

Aku pernah jatuh cinta. Saat itu, kepadanya..Rio
- continue -

Cheers!

@sugargirl08

0 komentar:

Posting Komentar