Selasa, 14 Februari 2012

-- Memories --

"The first of some part...."

Aula itu kini telah dipenuhi dengan ratusan murid-murid alumni SMP Harapan Bangsa angkatan 14. Dan salah satu diantara ratusan murid-murid itu, ada aku tentunya, yang kini sudah berbaur dengan ke 4 sahabatku Sivia, Shilla, Zahra dan Angel. Kami asyik mengobrol saat itu, sambil menikmati alunan musik dari salah satu band yang juga alumni SMP Harapan Bangsa angkatan 14.

"ahahahaaa.."

Tawa meledak diantara kami berlima karena pada saat itu kami memang sedang mengenang masa-masa konyol saat masih berseragam putih biru.

"Nggak nyangka yah kita sekonyol itu." ujar Shilla disela-sela tawanya.

"Iya...mana culun banget lagi." tambah Zahra.

"Tapi seru!" sambung Sivia, sedangkan aku dan Angel hanya tertawa kecil mengingat semua itu.

Shilla menghentikan tawa kecilnya dan beralih menatapku. "Masih inget nggak Fy, waktu kelas 1 jam pelajaran PKn loe ditegur sama bu Martha padahal kan yang lagi ngobrol bareng Kiki gue."

Yah..yahh..bagaimana mungkin aku melupakan kejadian memalukan dan menyebalkan saat itu, yang membuatku kesal setengah mati pada Bu Martha.
»»

"Kewenangan adalah..........bla..bla.."

Bu Martha sedang menjelaskan tentang bab Kewenangan Daerah. Sumpahh...jujur saja, malas rasanya mendengarkan penjelasan guru berdarah Padang itu. Habisss...kalau ngajar nggak ada manis-manisnya, udah gitu galak banget lagi. Aku hanya berpura-pura memperhatikan buku cetak dihadapanku tanpa menoleh kepada Bu Martha yang terus memberikan penjelasan.

"Ify!"

Suara itu mengejutkanku. Membuat kepalaku yang sempat tertunduk, terangkat menatap Bu Martha. Masih dengan pandangan heran dan bertanya-tanya aku menatap Bu Martha sambil menantikan maksud seruan tadi.

"Kamu ini ngobrol terus sama Kiki, nggak dengar Ibu sedang menjelaskan didepan!" ujar Bu Martha tetap dengan logat Padangnya. Sedangkan aku terheran-heran di bangku ku dengan tampang yang sudah konyol, kurasa.

"Kalau masih ngobrol juga sama Kiki, Ibu kawinkan kalian berdua biar bisa ngobrol puas-puas!" lanjutnya, aku melongo ingin rasanya aku menyanggah tuduhan Bu Martha tapiii...nyaliku terlalu kecil untuk itu.

Ditempatnya masing-masing, teman-teman sekelas ku mulai menahan tawa -karena kalau mereka meledakkan tawa mereka, sama saja mereka sedang menyalakan sumbu petasan yang mempunyai ledakan jauh lebih hebat dari tawa mereka-.
Dan yang semakin membuat ku kesal adalah tampang polos Kiki yang diam saja mendengar Septian, teman sebangkunya yang mulai menggoda dia.

'Huwhatttt...???!!! Apa-apan tu guru, gue ngomong juga nggak pake mau dikawinin aja!' umpatku kesal, dalam hati.

Hingga kurasakan seseorang menusukkan penggarisnya ke pinggangku. Dengan tampang super kesal aku menoleh ke arah Shilla, orang yang menusukkan penggarisnya padaku.

"Apa?!" ujarku nyaris tak bersuara.

Shilla mencuri-curi pandang ke arah Bu Martha. "Sorry, gara-gara gue.." ujarnya penuh sesal, aku hanya mengangguk kecil.

Memang sebenarnya yang sedang mengobrol dengan Kiki adalah Shilla. Namun mungkin karena posisi Shilla yang duduk di bangku barisan samping kananku, Bu Martha mengira aku yang berbicara jarak jauh dengan Kiki tadi.

Aku mengedikkan bahuku, acuh. "Nggak papa.."

"Shilllaaaa!!" tegur Bu Martha. Aku dan Shilla kembali pada posisi awal, menatap lurus kearah papan tulis
««

"Ahahaa...kalau aja loe ngobrol lagi ama Kiki nih Shill, pasti Ify udah dikawinin tuh sama Kiki!" ujar Sivia, matanya yang sudah sipit nyaris menghilang akibat tawanya itu.

"Aaahhh..udah ah, nggak usah ngebahas itu lagi, BT gue!" ucapku kesal. Aku menggembung-gembungkan pipi ku dan membuang muka kearah berlawanan dari wajah-wajah sahabatku. Hingga pandanganku berhenti pada sosok-sosok pemuda yang juga sedang bercengkrama satu sama lain. Huhhhh...mereka mengingatkan ku pada 'dia' dan 'dia'. Heeee...aku baru sadar, aku belum melihat sosok 'dia' dan 'dia', kemana perginya dua orang itu?

"Masih inget sama Cakka nggak Shill?" tanyaku iseng, Shilla tersenyum malu.

"Ya masihlah~"

Ku lihat segerombolan pemuda tadi sedang berjalan ke arah kami. Dan..yup mereka berhenti tepat dihadapan kami saat itu.

"Hei...heiii....apa kabar nih?!" tanya satu diantara 3 orang pemuda itu.

Shilla tersenyum kikuk. "Hei, Kka! kabar baik kok." balasnya.

'Woww...apa Shilla masih ada rasa sama Cakka, kok cuman karna disapa Cakka dia sampe blushing gitu sih?' tanyaku dalam hati.

"Loe, loe pada nggak sehat?" tanya Riko -pria yang berdiri disamping kanan Cakka-, sambil mengarahkan telunjuknya kami -kecuali Shilla- secara bergantian.

Ku lihat Sivia sepertinya gelisah, apa dia juga masih menyukai Riko?
Se-ingatku, dulu Sivia memang sempat menyukai Riko dan Iyel. Dan mereka berdua pun juga memiliki rasa yang sbama terhadap Sivia, maklum Sivia adalah salah satu 'bunga desa' disekolahku. Apa tadi? Bunga desa? Ahaahahhaaa..tapi yang berani bertindak lebih jauh hanya Iyel sedangkan Riko, ia memilih mundur karena...

To be continue...

- - - - -

Ekhem...ekhemm..
Sebelumnya..assalamu'alaikum semuanyaaaa..
Saat ini saya Nia, hadir dengan sebuah cerita baru. WL kemungkinan besar nggak akan dilanjut, ya kecuali tiba-tiba Allah ngasih ide ke otak saya buat melanjutkan-_-
But, jangan khawatir! Gue jamin 1000% kalau cerita yang ini nih bakalan the end. Because what?! Karena memang ini cerita udah finished sampe part ending. So, gue tinggal ngepost-ngepostnya doang :D
Anyway, maaf kalau ini garing bangett-,-
Secara garis besar, inti cerita ini gue ambil dari cerita lalu yang real dimasa putih-biru. Khususnya pas flashback, you know flashback._.?
Nah yg flashback itu bener-bener cerita nyata gitu..
Ohh iy kalau ada tanda "»" artinya go to flashback yaaa kalau tanda "«" artinya flashback berakhir..

Huhh..sebelum dan sesudahnya gue ucapkan terima kasih banyak buat yang baca, ngelike (kalau ada._.), koment, dan semua-muanya lah pokoknya..

Nia 'nistev' stevania_

•••

0 komentar:

Posting Komentar