Rabu, 01 Februari 2012

Ada Yang Selalu Ada....sekuel


Ada yang selalu ada..

Hal yang aneh kan, kalau tiba-tiba pasangan kalian menyatakan "selesai" dengan alasan yang tidak masuk akal?
Okey, mungkin banyak yang nggak paham. Tapi kalian akan mengerti, betapa sakitnya hatiku saat dia bilang..

"Lebih baik, kita udahan.."

Freak! Bayangkan, hubungan yang hampir berujung ke pelaminan harus selesai begitu saja. What the hell?!

"Maksud kamu?" tanya ku heran. Lengkap dengan alis terangkat, dan kening berkerut. Apa ada yang salah denganku?

"Ayahku nggak setuju, Ay.."

Mataku membulat sempurna dalam waktu sedetik. Ini aneh, bagaimana bisa ayahnya tak setuju?

"Ka..kamu bercanda, kan?" tanyaku terputus-putus, berusaha menemukan sebuah senyum tertahan yang kerap ia sembunyikan saat mengerjaiku. "Mamah kamu udah ketemu sama keluarga aku, dan...dan--"

"Tapi nggak ada ayahku, kan?" potongnya bertanya. Yah, aku mengangguk.

Memang benar. Kedatangan ibunya hanya didampingi kakaknya, dan ayahnya memang tak ikut serta saat itu.
***

"Gila, Ay! Seenaknya aja Alvian ngomong kayak gitu?!"

Aku tak mampu menjawab, hanya diam dalam posisi menunduk. Tanganku memijit pangkal hidungku dengan teratur. Berusaha menghilangkan migran mendadak karena rasa tak menyangka yang begitu besar. Bagaimana bisa, bagaimana bisa, bagaimana bisa? Hanya dua kata itu yang terus berdatangan silih berganti dalam otakku.

"Gimana bisa dia bilang papahnya nggak tau soal hubungan kalian? Kalian sudah hampir menikah, dan," Naura mengambil jeda dalam kalimatnya. "Dan mamahnya dia udah nemuin keluarga lo, terus...papahnya bilang nggak tau soal hubungan kalian? Ini aneh, Ay..aneh!"

Hahh..sudahlah Naura. Aku bahkan sudah mengatakan kalimat itu berulang kali didepan Alvian.

"Ini aneh, Al! Aneh! Kalau kamu emang pengen ngebatalin pertunangan kita, jujur. Nggak usah pake alasan yang nggak masuk akal kayak gitu!"

Dan aku segera pergi meninggalkan nya setelah berucap demikian.

"Ay, Ay, Aya!"

Aku tersadar. Telapak tangan Naura yang putih itu melayang-layang didepan mataku.

"Are you okay?"

Aku mengangguk. "Yah, i'm okay. Don't worry, Ra."

Naura menghela nafas, terdengar berat di telingaku. "Jadi..sekarang.."

Aku menggigit kecil bibir bawahku. Apalagi yang mesti dipertanyakan dalam sebuah hubungan yang sudah jelas-jelas berakhir? Nothing, kan?

"Batal!" jawabku datar, diiringi senyuman getir.

Aku nyaris menyelesaikan semua persiapan pertunangan kami. Bahkan, mamah sudah membeli bermeter-meter kain untuk bahan dress cout yang akan dikenakan keluarga ku pada acara pernikahan ku nanti. Persiapan yang luar biasa jauh, kan? Tapi akhirnya...

"Padahal...elo tau banget kan, Ra? Betapa mamah udah nyiapin semuanya dari jauh-jauh hari, bahkan sampe masalah ke pernikahan."

Aku mendesah panjang.

"Nggak nyangka, yang gue harepin justru harus berakhir seperti ini.."

Naura menepuk-nepuk pundakku. "Dia bukan jodoh lo, Ay.."

Aku tertawa hambar. "Kalau dia jodoh gue sih, mungkin bulan depan pertunangan itu bakal tetep berlangsung kali, Ra."

"Sorry, maksud gue--"

Aku mengendikkan bahu ku. "Udahlah, Ra. Gue tau maksud lo kok." jawabku jujur. Yah, aku mengerti apa yang ia maksud. "Nggak tau kenapa, disaat kayak gini..gue malah kepikiran sama Andrean.."
***

Please maafin aku & keluarga aku, Ay.
Aku sayang kamu.  Love you

Sender :
Al

Sent  :
31-jan-2012
05:17:54 am

Demi Tuhan! Ingin rasanya aku membanting smartphone milikku saat ini juga. Kalau saja aku tak mengingat betapa besarnya usahaku demi mendapatkan ponsel canggih ini.
Aku membuang nafas kesal. Dia yang mengakhiri, tapi mengapa bersikap seolah tak ingin mengakhiri?

"Err...ada masalah, Ay?"

Aku mengangkat wajahku, dan menghentikan remasan kuat pada ponselku.
Seraut wajah meneduhkan itu tengah menatapku hangat. Oh Tuhan! Bisakah ia kembali menjadi milikku?

Tanpa sadar mataku mulai memanas, rasanya sekali kedip air mata itu akan tumpah begitu saja.

"Ay, kamu baik-baik aja kan? Kamu kenapa?"

Dia terlihat panik, tangannya mulai mencengkram halus bahuku. Mata tajamnya menatap lembut di kedua bola mataku.

"Ak..aku--"

Dan entah bagaimana awalnya, aku mulai jatuh dalam dekapannya.
Bisakah waktu berhenti saat ini juga? Biarkan aku merasakan lebih lama lagi lembut hangat dekapannya.

Dia membelai halus rambut panjangku, sedangkan aku, aku masih terisak dalam pelukannya.

"Ay, aku nggak tau apa masalah kamu sekarang, tapi..aku bisa pastiin, kalau aku akan selalu ada buat kamu, kamu bisa cerita apa aja sama aku, aku pasti dengerin. Kamu masih nganggep aku kan, Ay?"

Aku mengangguk kuat.

"Semuanya hancur, Ndre! Hancur! Hikss.."

"Maksud kamu?"

"Alvian ngebatalin pertunangan kami.."

Dia melepaskan pelukannya, dan mulai menatapku serius. "Kenapa, Ay? Kenapa dia tiba-tiba ngebatalin pertunangan kalian?"

"Karena..."

Bla..bla..
Aku menceritakan semuanya. Setiap detail tanpa terlewat satu kata pun, dan yang ku dapat, Andrean memberikan tatapan nanarnya untukku. Dia nyaris menangis? Kenapa?

"Ka..kamu kenapa, Ndre?"

Dia memejamkan matanya, dan bersamaan dengan itu, setetes air mata jatuh tepat di atas tangannya.

"Aku sakit, Ay..sakit.. Kenapa harus kamu yang ngalamin ini? Kenapa Alvian harus nyakitin kamu, seperti aku yang pernah nyakitin kamu? Kamu baik, Ay. Terlalu baik untuk disakiti. Tap--"

Aku membungkam mulutnya dengan telunjukku. Perlahan ku turunkan telunjuk yang sempat menempal dibibirnya beberapa menit itu.

"Udahlah, Ndre. Forget it. Tuhan cuma pengen menguji aku, dan aku yakin, selalu ada hikmah dari semua ini." Aku mencoba berpikir realistis. Benarkan? Sudah menjadi teori lama, kalau dari semua musibah selalu ada hikmah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

"Aku bodoh, Ay. Aku udah nyia-nyia-in kamu, aku nggak bisa nepatin janji aku ke kamu, aku--"

"Ndre..kamu ngelakuin itu karena ada alesannya, dan yang aku tau, itu murni bukan mau kamu, meskipun sulit..aku udah berusaha untuk ngerti kok."

Dia mulai menggenggam jemariku. Masih sama, terasa hangat dan menenangkan. Seolah memberikanku kekuatan, dan kembali menegaskan bahwa aku tak sendiri.
***

"Meskipun gue udah benci banget sama Andrean, tapi..gue nggak muna' dia emang baik banget, Ay." komentar Naura saat aku menceritakan kejadian semalam.

Aku tersenyum kaku. Entahlah, aku benar-benar linglung sekarang. Luka akibat perlakuan Alvian masih menganga, rasa yang pernah ku pupuk untuknya pun masih ada. Tapi, tak bisa ku pungkiri, di satu tempat di dalam hatiku, nama Andrean masih terukir disana. Dan ketenangan yang dia berikan semalam, benar-benar membuatku menginginkannya kembali. Menjadi milikku lagi.

"Err..elo kepikiran sama Andrean ya, Ay?"

Pertanyaan Naura menyadarkan ku. "Hahh?! Emm..gue cuman bingung, kenapa Andrean masih perduli banget sama gue, padahal..masih ada cewek lain yang lebih berhak ngedapetin perhatian dari dia."

"Gue rasa, he's still loving you.."

Aku melengos. "Are you kidding me?"

"No, Ay. Elo sendiri kan yang bilang, dia ngelakuin itu bukan karena hatinya, tapi orang tua dia, so.."

Aku mengacuhkan pernyataan Naura yang ku akui benar adanya.

Malam semakin dingin, dan aku merapatkan pelukanku pada kedua lututku.
Aku jadi teringat, Alvian. Sedang apa dia? Meski aku telah 'sakit' karenanya, bukan berarti aku bisa langsung begitu saja melupakannya.

Drtt..drtt
Ponselku bergetar, Naura yang memang posisinya persis disebelah ponselku segera meraihnya.
Aku membiarkan Naura, karena toh aku sedang tak berminat untuk memegang ponselku saat itu.

Please jangan benci aku, Ay.
Aku masih sayang kamu.  Love you

Sender :
Al
Sent :
05-Feb-2012
21:17:54 pm

Naura membacakan -baru ku ketahui setelah Naura menyebutkannya- pesan singkat itu dengan lantang, di akhiri dengan tawa sinis.

"Dia masih suka ngsmsin lo kayak gini, Ay?" Aku mengangguk, membenarkan. "Dan elo bales?"

Aku menggeleng cepat. Buat apa membalasnya? Itu hanya akan membuatku teringat dengan rasa sakit mendalam yang bahkan belum sembuh juga.

"Gue nggak sebego itu juga kali, Ra." cibirku.

"Pokoknya, elo nggak boleh berkomunikasi lagi sama dia, Ay!"

Naura melarangku. Larangan yang aku anggap sebagai rasa perdulinya kepadaku.
Dari awal Naura memang tak menyukai Alvian, sejak ia menggantungkan status kami, hingga berniat mengajakku ke jenjang yang lebih serius, Naura hanya mengatakan..

"Kalau dia bener-bener bisa ngebuat elo bahagia, gue nggak masalah. Gue setuju karena elo, Ay. Buat elo, bukan dia!"

Tidak lebih.

Aku menghela nafas. Kenapa masih terasa sakit jika aku mengingatnya? Padahal itu semua sudah berlalu.
Dan tanpa sadar, karena terlalu memikirkannya, di tambah suasana hening ditemani angin yang kian berhembus kencang, air mata ku kembali mengalir.

Naura beringsut mendekatiku, merangkulku, dan mengusap pundakku.

"Nangis, Ay.. Nangis kalau itu bisa ngebuat elo lebih tenang."

Dan aku mulai tenggelam dalam dekapan Naura, dekapan hangat sahabat terkasihku yang selalu menemaniku.

"Inget, Ay! Ada yang selalu ada! Dan itu gue, nyokap lo, bokap lo, sodara lo dan mungkin juga Andrean. Elo nggak sendiri, kita semua ada buat lo!"

"Semua cuman belum waktunya, Ay.."

Suara mamah mengejutkanku.

"Kalau nggak jodoh sama Alvian, itu artinya dia nggak baik buat kamu. Dan yang baik buat kamu, masih disimpan sama Allah, dan dikasih ke kamu, nanti kalau udah waktunya.."

Selanjutnya, kalimat panjang itu tercetus dari bibir papah.

"Wanita baik-baik akan mendapatkan lelaki yang baik-baik juga. Dan kakak percaya, karena kamu wanita baik-baik, maka Allah sudah menyiapkan lelaki yang baik buat kamu."

Dan suara Kak Naufal membuat air mataku kian mengalir. Mamah, papah, kak Naufal, mereka semua berjalan menghampiri aku dan Naura. Mereka tersenyum lebar, seolah memberikan kekuatan untuk membesarkan hatiku.

"Yang perlu kamu inget, Ay.." Naura menggantungkan kalimatnya, aku tetap setia menantinya.

"Ada yang selalu ada.." ucap Naura, mamah, papah dan kak Naufal bersamaan.

"dan itu kita semua, orang-orang yang sayang sama lo.." tambah Naura lengkap dengan senyum manis nya yang selalu aku suka.

Aku bahagia!
Sungguh-sungguh bahagia!
Memiliki mereka yang ada dan akan selalu ada, untukku.

----

Hahahaa saya ini sebenernya iseng. Nggak tau lah, kenapa bisa bikin kayak gini-_-
Tapi, jujur..ini terinspirasi dari my old sist.
"Keep strong, my lovely sist!"
Semua udah ada yang ngatur, kalau nggak sama 'dia' berarti Allah udah nyiapin 'yang lain' yang lebih pantes buat kamu.
Ini feelnya kurang banget yah--' so flat and no something gitu deh.
Alurnya juga kayaknya kurang rapi, tapi yaaaa cuman bisa begini hasilnya. Ehehehee
Tolong bantu doa yah, buat ngebangkitin semangat nulis gue yang ilang, c'moon pleaseeeee (˘ÊƒÆª˘) berdoa dimulai!
Anyway, thankso yaa buat yang udah baca...

Seeyaaa

Nia 'nistev' stevania_

0 komentar:

Posting Komentar