Rabu, 15 Februari 2012

-- Memories -- Part 5

-- Memories --



Part 5

"Aishilla, kamu duduk disana!" ujar Bu Sarah sambil menunjuk bangku yang dekat dengan jendela. "Dan Alvin, kamu duduk semeja dengan..Shilla!" lanjut Bu Sarah. Alvin dan Shilla meraih tas mereka dan berpindah ke bangku yang baru. Sebelum menuju tempatnya Shilla berhenti disebelahku.

"Sorry yah, jangan cemburu sama gue.." bisiknya pelan, aku memutar bola mataku lantas mencubit kecil lengannya.

"Nggak lucu! bodo amat dia mau duduk sama siapa."

"Alyssa, kamu duduk disitu bersama Andryos!" Bu Sarah menunjuk bangku pada barisan kedua, seperti yang ku bilang tepat bersebelahan dengan Alvin. Aku mulai mendengar celotehan-celotehan menggoda dari teman-temanku

Hati-hati Shill, ntar si Ify cemburu lagi~ ujar Lintar setengah berteriak.

Ecieeee..Ify duduknya deketan sama Alvin nih yeee~ sambung temanku yang lain, ntahlah siapa, yang jelas laki-laki!

"Bodo deh, mau dikatain apa juga.." aku hanya melangkah pasrah.
Setelah selesai mengacak tempat duduk kami, Bu Sarah memberikan tugas kepada kami, karna beliau ingin menjemput anaknya di TK.

"Jangan ada yang berpindah tempat!" pesan Bu Sarah setengah mengancam, sebelum benar-benar pergi.

Benar saja perkiraan Bu Sarah, setelah beliau meninggalkan kelas semua teman-teman ku sibuk ingin kembali ke tempat asal merka. Tapi sebuah suara menghentikan aksi tersebut.

"Ehem..ehem.." seseorang berdehem keras, sehingga mau tak mau semua mengalihkan perhatian pada sang pemilik suara. "Jangan ada yang pindah tempat yah, kalau nggak, gue laporin ke Bu Sarah." ujarnya sambil tersenyum nakal ke arahku. Semua mengerti maksud Lintar yang menjabat sebagai ketua kelas -sang pemilik suara tadi-, yang memang sengaja agar posisi duduk ku tetap bertahan seperti ini.

'Aaahhh..nggak adil! ini nggak adillll!' teriak ku dalam hati.

"Shill, loe duduk disini yah, gue disitu." pinta seseorang, siapa lagi kalau bukan A-L-V-I-N!

"Iya deh, gue juga mau deketan sama Ify.." ujar Shilla menyetujui, lantas ia merapikan peralatan tulisnya.

"Eit..eit..mau kemana lo, Vin?" lagi-lagi Lintar mencegah niat teman-temanku yang ingin bertukar posisi, termasuk Alvin.

"Aduhhh Lint, cuman pindah bangkunya doang juga. Yang pentingkan gue tetep semeja ama Shilla!"

"Iya Lint, garing banget duduk deket tembok, nggak bisa ngegosip." tambah Shilla, Lintar mengangguk tanda mengizinkan.

"Lintar gak adil ihh.." seru salah satu temanku.

"Loe semua juga boleh tukeran tapi kaya Alvin, tetep duduk sama teman semeja yang sekarang, cuman pindah duduknya aja." putus Lintar.

-----

Aku menatap bangku barisan urutan ke 3, barisan ke 4 dari pintu. Yahh...itu adalah bangku dimana aku harus merelakan masa satu semesterku waktu kelas 3 awal dengan duduk bersebelahan dengan Alvin, meskipun tidak semeja.
Waktu kelas 3 semester awal kelas kami memang tidak berpindah, pasalnya kelas kami yang semestinya masih dalam tahap renovasi dan kemungkinan baru bisa ditempati pada semester kedua nanti.
Lagi-lagi sebuah cerita menyenangkan teringat kembali, dimana pada saat itu aku mulai merasa karma itu ada. Dimana aku mulai jatuh cinta pada Alvin, yang awalnya memang sempat membuat aku kagum pada prestasinya namun begitu awal SMP aku sedikit ilfeel karena sikap ‘nakal’ nya yang menurutku diakibatkan karena kebanyakan bergaul dengan gank nya Cakka. Gank nakal, yang memang terkenal pemberontak, tapi nggak pernah absen dalam pelajaran olahraga, apalagi sepak bola.

Dan satu hal yang tak pernah ku sangka, aku juga mulai memiliki rasa pada Rio, orang yang pernah aku tolak mentah-mentah. Oh my Gosh......

Aku ingat, waktu itu aku sempat merasa tersanjung saat aku dengar dari teman-temanku kalau Alvin mengkhawatirkanku. Benarkah?

......

Jam menunjukkan pukul 07.05 menit. Itu artinya aku akan terlambat jika tidak segera berangkat ke sekolah, mana ini hari senin. Yahh..sekolahku selalu membunyikan bel lebih cepat 15 menit dari hari biasanya jika hari senin. Salah satu alasannya adalah karena upacara bendera. Aku yang belum sempat mencomot sepotong roti pun bergeges meneguk susu yang masih terbilang hangat. Lalu dengan tergesa-gesa aku menghampiri Papa yang sudah stand by diluar.

Aku mempercepat langkahku -setengah berlari- begitu melihat semua murid mulai berbaris sesuai kelas masing-masing dilapangan. Huhhh..padahal tadi aku berencana untuk sarapan disekolah, kalau begini ceritanya gagal lah rencanaku.

"Hah...huh...hah...huhh.." aku ngos-ngosan, lelah sekali rasanya meskipun hanya berlari-lari kecil. Tapi jarak dari gerbang depan hingga kelasku terbilang jauh, belum lagi aku harus segera siap dilapangan sebelum Pak Budi berjaga dibelakang barisan kelasku. Aku menumpukan kedua kakiku dilutut, sambil terus mengatur nafasku yang tak beraturan.

Disebelahku, Sivia tertawa geli melihat wajahku yang berlelehan keringat.
"Telat bangun lo?" tanya Shilla, aku hanya mengangguk. Masih terlalu lelah untuk berbicara.

"Sstt..sstt...Pak Budi dibelakang tuh, jangan berisik!" ujar Lintar selaku pemimpin barisan kelasku.

Aku kembali menegakkan badanku, dengan tissue pemberian Shilla aku menghapus keringat yang membanjiri wajahku.

Haduhhhhh....matahari kayanya ngajak ribut nih. Ngapain sih mengeluarkan energi panas seterik itu, membuat keringatku semakin mengucur deras saja. Aku berkali-kali menyeka keringatku dengan tissue yang lagi-lagi ku dapatkan dengan cara meminta pada Shilla. Bukannya tak punya tissue sendiri, hanya saja tissue ku tertinggal didalam tas jadilah aku selalu meminta. Ngomong-ngomong soal tissue, itu memang sudah menjadi kebiasaan gank-ku untuk mengantongi tissue. Sekedar antisipasi, kalau-kalau kami membutuhkan tissue secara mendadak. Dan memang tissue kami terbukti bermanfaat, terutama bagi Pak Abdul guru agama kami yang memang alergi debu. Terkadang beliau bersin-bersin saat melewati anak-anak yang sedang bertugas piket dan kalau sedang tak mengantongi tissue, Pak Abdul selalu menghampiri salah satu diantara kami.

Terik matahari semakin menantang. Aku merasakan sakit diperutku, selain itu pandanganku pun terasa mengabur. Aduhh...apa ini pengaruh tidak sarapan tadi pagi? Aku memejamkan mataku sambil menahan sakit diperutku. Perlahan-lahan pandanganku semakin mengabur dan kepalaku terasa pusing. Dari pada pingsan ditempat lebih baik aku segera izin. Aku menarik-narik tangan Angel.

"Ngel, tolong anterin gue sebentar, kepala gue pusing banget.." pintaku dengan suara yang teramat lemah sambil memegangi perutku.

"Ya ampun Ify! Loe, kenapa?!" seru Zahra pelan, aku hanya menggeleng. Kemudian dengan dibantu Angel, aku keluar dari barisan menuju kelasku yang tak jauh dari lapangan.
Aku sempat melihat tampang panik Rio, seseorang yang pernah menyukai ku waktu kelas VII. Masih ingat?
Kebetulan, dia berdiri pada barisan paling belakang.
Dan entah aku salah liat atau itu memang benar, aku juga sempat melihat tampang Alvin yang sepertinya juga -ehmm- mengkhawatirkanku. Atau aku yang GR?
***

Aku membuka lembaran buku paket Bahasa Indonesia milikku. Hanya sekedar membuka tanpa membaca isinya. Jangankan membaca, melirik pun tidak. Mataku menatap lurus ke depan. Entah mengapa saat ini aku justru memikirkan Rio, orang yang pernah ku tolak mentah-mentah. Aku jadi teringat, guratan wajah paniknya tadi pagi. Untuk ku kah?

"Eh Fy, loe tau nggak tadi tuh yah Alvin khawatir gitu pas loe mau pingsan.." ujar Lintar yang tiba-tiba sudah berdiri didepanku, disampingku Debo mengangguk-angguk setuju.

"Apaan sih~"

"Yee...nggak percaya, tadi tuh yah dia panik banget tau, ya kan, Deb?" ujar Lintar -lagi- meminta persetujan Debo.

"Iya Fy, dia bilang gini 'Ify kenapa tuh?' sambil clingukan gitu.." tambah Debo, aku tak tahu maksud kedua orang ini. Membuatku GR kah? Atau memang kenyataannya demikian?

Aku merasa jantungku berdetak lebih cepat, tiba-tiba rasa senang itu merasuki tubuhku. "Udah ah, gue mau ke depan." aku berusaha menghindari Lintar dan Debo yang terus-terusan menggodaku. Ketika aku hampir berada di ambang pintu kelas, Alvin juga ingin memasuki kelas dan nyaris saja kami bertabrakan.

"Ecieee...yang dikhawatirin Alvin~" goda Lintar.

"Ecieee...yang ngekhawatirin Ify~" tambah Debo, aku membuang muka dan segera meninggalkan kelasku.

-----

Hemmm...senyum tipis menghiasi bibirku saat ini, aku merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana aku diolok-olok dengan Alvin, aku merindukannya. Aku meraba permukaan meja yang pernah menjadi mejaku dulu, satu yang membuatku terkejut. Ukiran itu....ukiran sederhana yang dibuat dengan menggunakan, entahlah mungkin penggaris mungkin juga silet. Alvin cinta Ify, tulisan sederhana yang dibingkai dengan ukiran berbentuk hati yang mengelilinginya. Ukiran itu bukan buatan tanganku ataupun Alvin, melainkan Lintar...

To be continue

•••••

0 komentar:

Posting Komentar