Rabu, 29 Februari 2012

-- Memories -- Part 9

-- Memories --

Part 9


"Hahhhh?!!" Shilla, Zahra dan Angel terkejut berjama'ah. Tuhkan...apa ku bilang, malu kan jadinya. Entahlah sudah jadi apa muka ku saat ini.

"Iiihh..tapi nggak jadi tau~" ralatku cepat.

"Lho kenapa nggak jadi?" tanya Angel.

"Yaa..abis malu~"

Shilla menepuk jidatnya. "Ngapain malu sih Fy, ayo deh kita temenin!" ajak Shilla, ia mulai menarik-narik tanganku.

"nggak, nggak, nggak! Gue nggak jadi, gue malu tau.." tolak ku sambil menarik tanganku yang ditarik paksa oleh Shilla.

"Aduhh..nggak usah malu, kita temenin, ayo guys!" Shilla ngotot, ia kembali menarik tanganku diikuti yang lainnya.

Sumpahhh..aku malu..malu banget..jarak antara kantor guru dan kelas Rio yang tak begitu jauh membuat detak jantungku semakin keras, lompat sana sini nggak karuan. Oh God..help me please! Aku meronta kecil berusaha melepaskan cengkraman kuat dari tangan Shilla dan Angel. Sedangkan dibelakangku, ku dengar Zahra dan Sivia terkikik melihat tingkahku.
Habis....sudah! Kini aku, Shilla, Angel, Zahra dan Sivia sudah tiba tepat persis didepan kelas Rio. Untungnya Rio nggak ada, ehhh bukan nggak ada, ternyata Rio sedang berada dikelas bersama teman-temannya merapikan bangku. Cowo yang baik, gumamku tanpa sadar.

"Eh Yon! maaf-maafan dulu nih.." ujar Shilla pada Sion sambil mengulurkan tangannya, Angel, Zahra dan Sivia mengikuti. Ku lihat Angel biasa saja menghadapi Sion, hummm baguslah sepertinya rasa kecewa Angel atas insiden valentine -nembak malam valentine putus dihari valentine- tahun lalu itu sudah menghilang.

"Rio ada nggak, Yon?"‎​‎​​‎​ tanya Shilla to the point. Ingin rasanya aku mencubit lengan, perut, pinggang atau apa sajalah yang penting Shilla membatalkan ucapannya tapi sayang terlambat. Sion yang sedang asik memainkan sapunya berseru keras dengan kepala sedikit mengintip kedalam kelas.

"Rio....ada yang nyariin!" serunya, aku semakin tak tahan. Beneran nggak bo'ong, saat ini keringat dingin mulai mengucur dikedua telapak tanganku dan aku yakin saat ini muka ku sudah semakin pucat. Bukan karna sakit tapi saking groginya aku jadi pengen pipis...lho?

"Eh ada apa?" tanya Rio dengan senyum ramahnya. Oh Tuhan...rasanya aku mulai nggak sanggup, aku ingin lariiiii....

"Eh Yo, Ify pengen minta maaf nih sama loe.." ujar Shilla, lagi-lagi to the point. Ya Tuhan...segampang itu Shilla mengutarakan semuanya, nggak tau apa orang lagi sport jantung?!

Aku merasakan sebuah senggolan ditanganku Shilla rupanya, ia mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat agar aku segera mengulurkan tangaku. Aku melirik Rio dengan ekor mataku, sepertinya ia sedikit terkejut, bingung, heran, aneh dengan kehadiranku. Tapi kalau boleh aku berharap, aku harap dia senang dengan kehadiranku saat itu....ahahaaa..mau saya itu!

Dengan perlahan ku ulurkan tanganku. "Eee..emm Yo, gue minta maaf kalau selama ini gue ada salah sama loe.." ucapku cepat dengan sedikit terputus-putus. Pengaruh gugup, siapa sih yang nggak nervouse kalau berhadapan dengan orang yang selama ini sengaja dijauhi? Sehingga menciptakan jarak yang begitu luas, menyebabkan dua insan yang pernah berteman bagai tak saling mengenal.

Rio membalas uluran tanganku. Senyum tipis terkembang dibibirnya. "Iya..nggak papa kok." jawabnya. Oh God! I'am  serious! Saat ini aku merasa hatiku berdebar-debar, jantungku semakin cepat berdetak...benar-benar tak ku sangka, ku rasa aku mulai jatuh cinta padanya, pada Rio....

"Cieeeeee....Ify...Rio~" koor anak-anak kelas XIa -kelas Rio-. Aku hanya bisa tersipu malu-malu dan rupanya Rio pun mengalami hal serupa....ahahhaaa
Bertepatan dengan sorakan itu, aku langsung menarik cepat tanganku dan berlalu meninggalkan kelas itu, kelas yang menjadi saksi bahwa aku masih punya hati. Tanya kenapa? Karna aku punya keberanian untuk menyampaikan maafku dan pastinya aku bisa menyadari atas segala sikap ku yang sangat salah kepada Rio. Sebelum benar-benar pergi tak lupa ku berikan sebuah senyuman -yang ku harapkan- manis untuk Rio, meski aku tau itu sangat terlihat kaku. Ku lihat Rio justru tersenyum malu dengan tangan kanan yang sibuk menggaruk-garuk tengkuknya.
««

Lagi-lagi hanya tawa kecil yang hadir dari mulutku saat mengingat tingkah konyol ku waktu itu. Jujur aku merindukan saat itu, saat dimana untuk pertama kalinya aku menjabat tangan Rio dengan perasaan deg-deg-an dan ucapan dengan intonasi yang lebih lembut, yang tiba-tiba saja ku ucapkan tanpa sadar.
Aku melirik jam dinding yang tergantung rapi didepan kelas, diatas papan tulis. Seingatku saat aku dan teman-teman menghuni kelas ini, kami meletakkan jam dinding di dinding belakang. Alasannya simple, supaya kami tidak gelisah saat menanti pergantian jam pelajaran. Soalnya kami biasanya suka grasak grusuk sendiri pada saat jam pelajaran yang berlangsung adalah pelajaran yang membosankan, Ekonomi misalnya. Oke, aku rasa soal perpindahan lokasi jam itu tidak penting. Lebih baik aku segera kembali berkumpul bersama teman-temanku di aula. Kira-kira aku sudah melewatkan berapa acara yah?

-----

Lepas dari itu semua, tiba-tiba saja saat langkahku semakin dekat dengan aula aku berpapasan dengan Iyel. Tatapan itu.....huhhh lagi-lagi aku terjebak dalam tatapan menghanyutkan seorang Gabriel.
Pertanyaan itu muncul kembali, benarkah Gabriel pernah menyukai ku? Lantas apakah ia masih memiliki rasa itu?
Untuk pertanyaan terakhir sudah bisa ku pastikan jawabannya adalah tidak. Karena setauku, semenjak dia masuk SMA dia telah memiliki seorang pacar bernama....sorry aku nggak tau siapa namanya, karena memang gadis itu bukanlah temanku.
Tatapan teduh Iyel itu kembali mengingatkan ku pada senandung kecil yang dibawakan Iyel tepat pada saat aku lewat dihadapannya dulu....
»»

Aku melewati kantor guru dengan sedikit tergesa-gesa. Hari ini aku mendapat jadwal piket, jadi aku ingin cepat-cepat tiba dikelas dan memulai tugasku. Namun baru saja aku akan melewati kantor guru, sebuah suara menarik perhatianku.

"Ketika ku melihatnya bergetar rasa didada...mungkin ini suatu pertanda bahwa kusuka padanya~" Iyel menyenandungkan lirik itu tepat pada saat aku berjalan dihadapannya. Awalnya sepasang mata itu terlihat menatap mading tapi ketika aku berjalan melewatinya ia menyempatkan untuk tersenyum yang menurutku...ehm manis..
Bahkan ketika jarak antara kami mulai terpisah beberapa langkah, aku yang sedikit menoleh ke belakang sempat menangkap sepasang matanya yang terfokus pada ku. Masa iya hanya perasaanku saja?

Oh Tuhan...maksud Iyel apasih?
««

Aku tersadar dan menggelengkan kepalaku. Membuang jauh sedikit kenangan yang kembali menyeruak kepermukaan otak ku. Sedikit terkejut, ketika ku lihat Iyel telah berdiri disampingku dengan posisi tubuh menyender pada dinding ruang LAB IPA.

"Eh Iyel, kok disini?" tanyaku basa-basi, huhh sangat basi malah.

Iyel terkekeh, ada yang aneh? "Nggak papa, gue liat loe lagi ngelamun sendiri, jadi gue temenin deh.." ucapnya santai, aku jadi mesem-mesem sendiri, seneng sih. What? Aku ngomong apa barusan...

"Eh gitu yah, kalau gitu gue balik ke aula dulu yah." Aku berniat pamit, baru selangkah membelakangi Iyel aku berbalik. "Mau bareng?" ajakku.

Aduhh..bodohnya diriku, ngapain pake ngajakin dia segala sih?

Iyel tersenyum dan menggeleng. "Gue mau ke toilet aja, dahh!" Iyel pergi setelah melambaikan tangannya. Huhh...aku tak habis pikir disaat dia ingin ke toilet masih sempat-sempatnya dia menemaniku yang sedang melamun....orang aneh

-----

Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru ruangan aula. Mencari 4 sosok sahabat yang sedari awal bersamaku. Itu dia....mereka sedang berkumpul disalah satu sudut ruangan paling depan, persis didekat panggung. Aku segera menghampiri mereka yang mungkin sudah lama menungguku....hemm mungkin sih..ehehee

"Woyyy!!" aku menepuk pundak Shilla yang kebetulan membelakangiku.

Shilla kaget dan langsung menoleh, begitu melihat tampangku ia langsung merengut kesal. "Seneng banget sih ngagetin orang.." sungutnya.

Aku nyengir. "Bukan seneng lagi tapi hobby.."

"Darimana aja neng, lama banget nggak nongol-nongol?" tanya Sivia yang sedang meminum orange juice ditangannya.

"Ke gedung belakang sama ke kelas-kelas kita dulu." jawabku seadanya.

Zahra kayankya heran, keliatan sih dari tampangnya. "Sendiri?" tanya nya, aku mengangguk. "Ngapain?" tanya nya lagi. Aku diam sebentar kemudian menggeleng. Masa iya aku bicara terus terang kalau aku habis bernostalgia disana, ngga mungkin kan?

Aku menggeleng. "Nggak ngapa-ngapain." jawabku yang tentu saja berbohong.

"Gila aja loe, keluar dari sini dari hari cerah sampe hujan terus cerah lagi, tapi bilang nggak ngapa-ngapain disana?" tanya Angel lagi, aku hanya mengangguk kecil. "Nggak mungkin deh.." sambungnya tak percaya.

Aku menyeringai lebar. "Hehee..udah ah nggak usah dibahas!"

"Eh tapi gue seharian ini nggak da ngeliat Alvin lho~" ucap Shilla dengan nada yang emmm menurutku dibuat-buat, belum lagi tatapannya yang tepat menatapku. Pasti nih niatnya ngegodain aku.

Aku mendelik, sok garang. "Apa liat-liat?"

"Idihh..Ify GR nih...gue nggak ngeliatin lo juga.." elak Shilla, yang kemudian menjulurkan lidahnya. Huuuu...udah ketauan juga masih aja bo'ong.

"Masih suka sama Alvin, Fy?" tanya Sivia mewakili yang lainnya, ku lihat 3 temanku yang lain mengangguk-angguk mendengar pertanyaan Sivia.

To be continue


0 komentar:

Posting Komentar