Rabu, 15 Februari 2012

-- Memories -- Part 4

-- Memories --


Part 4

Aku tengah duduk sendiri di bangku ku sambil mencoret-coret buku tulisku dengan kasar. Saat ini guru-guru sedang rapat jadi pada jam ini pembelajaran dikosongkan. Shilla mengajak Angel ke kelas VIIc untuk menghampiri gebetannya. Sivia dan Zahra sedang ke toilet dan hanya aku yang menetap dikelas bersama murid-murid lainnya.
Aku melihat seseorang telah duduk di bangku depan. Arah duduknya diputar menghadapku, huhhh kirain siapa ternyata.

Aku menghentikan aktifitas mencoretku dan menatap aneh ke arahnya. "Ngapain loe Lint, duduk disitu?" tanyaku, Lintar tersenyum nakal. Oh God...jangan bilang Lintar udah tau soal Alvin. Lintar juga salah satu alumni SD ku, sudah bisa menebakkan kalau dia juga tau tentang sejarah "Ify-Alvin"...

"Cieee..yang mau ketemu pacarnya~" goda Lintar, jujur aku sempat merasa malu, entahlah malu karena apa yang jelas aku merasa kalau pipiku mulai memanas saat ini.

"Apaan sih loe?" selaku, berusaha menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba datang itu.

"Hummm..kayanya nih Fy, elo sama Alvin jodoh deh." celetuk Ray yang entah sejak kapan sudah duduk disamping Lintar.

Alisku bertaut, keningku berkerut. "maksud loe?"

Ray berdehem kecil. "Ehmmm...maksud gue tuh yah kok bisa sih dia pindah sekolah, ke sekolah kita lagi. Padahal setau gue dulu yang ngotot pengen nerusin sekolah ke Malang kan dia nah sekarang kenapa dia tiba-tiba pindah?" Ray beropini, aku mencibir pelan.

"..dan gue rasa dia emang jodoh loe, karna ibarat kata biar pun loe berdua kepisah jauh banget tapi ujung-ujungnya pasti ketemu lagi!" Sambungnya dengan tampang sok serius, aku mendengus pelan.

"Udah ngomongnya? Nggak mutu tau ngomongin dia,"

"Ahelah...ntar juga loe bakalan seneng kalau udah liat orangnya." cibir Lintar, aku mengangguk malas.

"Ya..ya..ya..terserah apa kata loe aja deh."

Lintar bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Ray. "Kita keruang kepala sekolah yuk, cari tau aja Alvin masuk kelas mana!" Ajaknya, Ray mengangguk.

"Ayo! Kali aja dia sekelas ama kita." ujar Ray sambil melirik nakal ke arahku, aku melengos.

"Kalau sekelas berarti..." Lintar menggantungkan kalimatnya. "...jodoh!" sambungnya bersamaan dengan Ray. Aku yang sudah siap dengan buku paket matematika yang sudah ku gulung-gulung untuk menimpuk mereka, tapi apa daya mereka sudah menghilang entah kemana.
***

Sudah lebih dari seminggu Alvin menjadi murid tetap di sekolahku. Untungnya dia tidak memasuki kelas yang sama denganku, padahal aku sudah harap-harap cemas, takut kalau-kalau dia akan sekelas dengaku karna dia termasuk anak yang pintar. Tapi berhubung dia masuk pada pertengahan semester dua, jadi kepala sekolah menempatkannya di kelas VII1.

Tidak masuknya Alvin dikelasku ternyata tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti mengolok-olok ku. Huhhhh....bosan rasanya mendengar itu semua.

"Jujur deh Fy, loe suka kan sama Alvin?" tanya Shilla tiba-tiba terkesan menuduh sih, sambil membersihkan tangannya yang kotor. Saat ini aku dan Shilla sedang berada disamping musholla sekolah, tepatnya ditempat wudhu.

"kata siapa?" tanyaku datar, sudah ku bilang aku malas membahasnya.

"Loe nggak bisa ngebo'ongin gue, gue bisa baca mata loe" ujarnya, ia mengibas-ngibaskan tangannya yang basah hingga mencipratkan butir-butir kecil air ke wajahku.

"Aaahhh...Shillaaaaa...basah tau!" aku mengusap-usap wajahku dengan kedua tanganku, sementara Shilla terkikik melihatnya. "Nggak lucu deh Shill!" sambungku dengan tampang cemberut.

"Jadi gimana? Bener kan kata gue, kalau elo suka sama Alvin!"

Aku menghembuskan nafasku pelan, yah..mungkin aku tidak bisa berbohong pada Shilla yang memang peka terhadap orang-orang disekitarnya. "Oke...oke...gue emang suka sama dia--"

Belum sempat aku melanjutkan, Shilla sudah memotong ucapanku. "Tuhkan bener!!"

"Tapi itu DULU...dulu banget waktu masih SD, waktu dia masih berprestasi sekarang sih.." aku melanjutkan ucapanku dan memberikan penekanan saat aku mengucapkan kata 'dulu'.

"Lha..emang sekarang dia gimana?"

"Loe liat sendiri lah Shill, dulu tuh Alvin polos banget, ngga kayak sekarang terutama semenjak dia deket sama gank cowo loe tuh.."

Shilla memukul pelan bahu ku. "Yee...jangan salahin cowo gue dong."

Aku tersentak kaget. "Emang loe sama Cakka beneran udah jadian?"

"Hee...belum sih...ehehee." Shilla meringis kecil. "Eh tapi nih ya, denger-denger ada anak cewe yang sekelas sama Alvin yang lagi suka sama Alvin dan mereka...emmm cukup deket.." ujar Shilla menyambung ucapannya.

Aku memasang tampang datar, biasa ajalah..emang ada yang salah kalau ada cewe lain suka sama Alvin? "Terus?"

"Yaaa..gue cuman pengen ngasih tau aja..." Shilla kembali menggantungkan kalimatnya, aku memperhatikan wajah Shilla yang tengah tersenyum pada seorang murid perempuan. Entahlah...aku juga tidak tau siapa gadis itu.

"Loe liat cewe itu kan, Fy?" tanya Shilla sambil menunjuk ke arah gadis yang dilempari senyum olehnya tadi.

Aku mengikuti arah telunjuk Shilla dan mengangguk. "Dia? Yang tadi loe senyumin itu kan? Emang kenapa?" tanyaku agak heran.

"Dia Oik, cewe yang gue bilang lagi suka sama Alvin, saingan loe!" aku hanya memasang tampang biasa, kemudian mendelik garang ke arah Shilla saat mengingat ucapan Shilla 'saingan loe'. Aduhhh....apa lagi tuh pake saingan segala? nggak mutu kali yah..

"Pokoknya Fy, apa pun yang terjadi...gue lebih setuju kalau elo yang jadi cewenya Alvin, bukan dia!" ujar Shilla -lagi- semangat sambil menepuk-nepuk pundak ku, seolah ingin meyakinkan ku kalau aku yang terbaik untuk Alvin. Iuhhhh...apadeh Shilla, nggak penting banget.

"Apadeh loe Shill pake saingan segala, nggak mutu tau, saingan cuman buat ngerebutin cowo. Kalau saingan dalem hal pelajaran sih masih mending...tapi kalau buat Alvin..." aku menggidikkan bahu, mengisyaratkan 'nggak banget deh' kaya gitu. "Makasih deh" sambungku melengos.

Shilla mencibir. "Entar kalau Alvin beneran pacaran aja sama Oik, nyesel deh.." aku kembali melengos mendengarnya.

-----

Aku tertawa kecil saat memori itu berputar diotak ku, memori saat aku masih kelas VII, masih culun-culunnya. Dan satu hal yang telah ku sadari saat ini, dulu..aku terlalu naif soal cinta.
Aku melangkahkan kakiku ke kelas yang terletak paling pojok dari urutan kelasku, kelas VII3. Meskpun sepi dan aku rada penakut, tapi entah mengapa rasa takut itu menguap seketika. Aku berjalan melangkah ke arah kursi barisan kedua dari pintu. Kemudian kembali melangkah menuju kursi paling belakang. Kursi itu dulunya pernah ku duduki saat ulangan kenaikan kelas dan anehnya, aku dan Alvin bisa sekelas.

Ku cukupkan petualanganku digedung ini –gedung terasing dibelakang sekolah-, dimana memori tahun 2007 itu terputar kembali saat aku menginjakkan kakiku disini, tadi. Aku mulai melangkah, menjauh dari gedung ini menuju gedung utama SMP ku. Ternyata berlama-lama digedung terasing itu horor juga, sendirian pula...iiihhh

-----

Kini aku telah berada digedung utama kembali. Bukan...bukan di aula, tempat dimana acara reuni itu berlangsung. Tapi disalah satu kelas, kelas VIIId. Hahhh...aku tersenyum bangga melihat papan plang yang sudah mulai berganti nama ini, bukan lagi bertuliskan VIIId seperti dulu. Bangga karna aku bisa kembali memasuki kelas unggulan saat itu, dan itu artinya aku masih bisa menjaga prestasiku dengan baik. Aku menuju ke bangku kelas paling depan yang terletak persis didekat pintu kelas. Yahh..itu bangku ku, tempat aku menuntut ilmu saat masih kelas VIII. Lagi-lagi aku teringat suatu hal, hal yang dulu sempat membuatku kesal karena ternyata dikelas ini aku kembali sekelas dengan Alvin...seperti zaman SD

-----

Pertengahan 2007-2008

Aku berjalan bersisian dengan ke 5 sahabatku Shilla, Sivia, Angel dan Zahra. Kami kini melangkahkan kaki menuju papan mading, tempat dimana kertas pembagian kelas ditempelkan.
Huhhh...papan mading terlihat penuh dikerubungi anak-anak kelas VIII dan kelas IX yang sedang melihat pembagian kelas. Untunganya hanya sebagian kecil saja kelas IX yang ikut berjubel disana, karena sebagian lagi tengah memimpin MOS yang sedang berlangsung saat itu.
Angel mulai menyusup masuk ke tengah-tengah kerumunan itu. Sedangkan aku, aku lebih memilih bersender pada dinding kantor guru yang bersebelahan dengan papan mading.

"Yeeeee...kita sekelas!" seru Angel girang, aku dan yang lainnya tersenyum senang. Kami memang tak terpisahkan..ahahaa

"Tapi..tapi...Fy, Alvin sekelas sama kita juga lho!" sambung Shilla, rupanya ia tadi juga ikut menyusup masuk ketengah-tengah keramaian itu.

"Uhuk..uhukk.." Aku yang baru saja meminum air mineral tersedak, untungnya nggak banjir lokal. "Serius loe, Shill?!" tanyaku sambil mengeringkan mulutku yang basah dengan tissue yang sering terselip disaku seragamku.

Shilla mengangguk. "Iya bener! Udah lah santai aja.." ujar Shilla santai. Santai memang kalau jadi kalian, tapi kalau jadi aku? Oh my gosh..bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan anak-anak satu kelas lagi
***

Ini adalah minggu kedua, dimana aku dan Alvin sekelas. Huhhh...kalian pasti sudah bisa membayangkan, bagaimana rasanya sekelas dengan seseorang yang kita benci dan parahnya semua orang dikelas kita hobby banget ngecengin kita dengan orang yang kita benci itu. Kesabaranku benar-benar diuji saat ini, karena begitu banyak kejahilan teman-teman ku yang selalu mengisi hari-hariku. Salah satunya masalah nomer absen.....Oh Tuhan...

"Gila...jodoh banget loe Fy, sama Alvin, sampe-sampe nomer absen aja deketan gitu.." komentar Debo yang sedang berdiri didepan meja guru. Ku lihat disana juga ada Shilla yang tengah sibuk mencatat. Tunggu..apa Debo bilang? nomer absenku deketan sama Alvin?
Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan mejaku menghampiri meja guru.

"Ehehee...ada Ify.." Shilla langsung menutupi buku yang ada didepannya.

"Maksud Debo tadi apaan Shill?" tanyaku to the point.

"Ya, elo kan sama Alvin huruf depannya sama-sama A fy, jadi ya wajar dong kalau nomer absen kalian deketan." sahut Shilla.

"Idihhh...nggak mau! Pokoknya gue nggak mau nomer absen gue deketan sama Alvin!" tolak ku tegas. Jelas saja aku tidak mau, kalau sampai nomer absenku berdekatan dengan Alvin, itu artinya, besar kemungkinan aku akan selalu dipersatukan dalam sebuah kelompok belajar dengan Alvin. Dan aku, nggak mau!

"Owww..nggak bisa! Ini udah jadi keputusan gue!" ujar Shilla tak kalah tegas, aku mendelik.

"Maksud loe?"

Shila berdehem sebentar. "Ehem..ehem.." kemudian menutup buku absen dihadapannya. "Maksud gue, berhubung gue sekretaris, jadi ini semua terserah gue! Karena yang ditugaskan untuk menyusun daftar absen sama wali kelas kita itu gue! Sekretaris.." lanjutnya dengan senyum kemenangan.

Aku memutar kedua bola mataku dengan kesal. "Yee..nggak bisa gitu dong Shill, itu sama aja loe menyalah gunakan jabatan.."

"No..no..no.." Shilla mengibaskan telunjuknya dihadapanku. "Sorry ya neng, elo nggak ada alesan buat nolak semua ini, soalnya biar gimana pun juga ini wajar, nama lo sama Alvin huruf depannya sama-sama A. Terus huruf kedua setelah A sama-sama L nah nggak mungkin kan gue letakin nama Angel didekat Alvin padahal ada elo. Kalau sama Debo, baru Angel bisa dideketin. Soalnya huruf kedua setelah A dari nama mereka sama-sama N!" Jelas Shilla panjang lebar, dihadapanku. Skak mat...apalagi alasanku sekarang?

"Ya udah, kalau gitu nama gue disingkat aja jadi A titik Saufika Umari.." pintaku masih bersikeras dengan penolakanku.

"Ow..ow..ow..sayangnya ini harus berdasarkan akte kelahiran Ify sayang...kalau nggak berdasarkan akte, gue nggak mungkin nulis nama gue jadi Aishilla Zahrantiara tau.." ujar Shilla lagi, ia terlihat kesal saat menyebutkan namanya yang baru ku sadari ternyata berbeda dari nama aslinya yang selama ini ku kenal, Ashilla Zahrantiara bukan Aishilla Zahrantiara.

"Kok bisa gitu?"

"Soalnya di akte kelahiran gue, nama gue Aishilla Zahrantiara."
Aku hanya mengangguk mendengarnya. Huhh...pasrah sudah kalau begini..
***

Kelas VIIId yang dikenal sebagai kelas unggulan ini terdengar ribut. Terdengar seruan-seruan penolakan dari murid-murid yang berada didalam kelas ini, salah satunya aku. Seorang guru perempuan yang tak lain adalah wali kelasku mengambil penggaris kayu yang tergantung disebelah lemari. Kemudian dipukulkannya penggaris itu ke atas meja dengan keras.

"Diam semuanya! Diam!" seru Bu Sarah, wali kelasku. Suasana yang tadinya bak pasar ikan, mendadak berubah menjadi sunyi sepi bagai kuburan.

"Pokoknya tidak ada yang bisa membantah, ini sudah menjadi keputusan Ibu!" lanjut Bu Sarah garang, membuat seluruh penghuni kelas ini misuh-misuh sendiri.

"Tapi kenapa mesti pake pindah duduk segala sih Bu?" tanya salah satu temanku.

"Iya..mana sesuai absen lagi." sambung temanku yang lain. Karena memang baru saja Bu Sarah memasuki kelas, beliau mengumumkan akan mengacak tempat duduk kami yang sekarang berdasarkan nomer absen. Sudah bisa ditebak kan, semua menolak karna tidak menutup kemungkinan kita akan duduk semeja dengan lawan jenis kita terlebih lagi dengan orang yang kita benci. Siapa yang mau...

"Biar lebih fresh dong, biar beda juga...memangnya kalian tidak bosan duduk semeja dengan orang yang itu-itu saja?" ujar Bu Sarah memberi alasan, kami hanya menekuk wajah.

"Ya sudah, Ibu akan segera mengacak tempat duduk. Dimulai dari Ahmad Fauzy Adriansyah..." Bu Martha mulai menyebutkan satu persatu nama murid dikelas ini. Dan bagi yang disebut harus segera berpindah ke tempat yang baru, sesuai absen.
Aku mulai gelisah ditempat duduk ku, bagaiamana tidak? Nomer absenku berdekatan dengan Alvin. Yahh...aku tau, kami tidak akan duduk semeja tapi pasti kami akan duduk pada barisan yang bersebelahan, tetap dekat kan?

"Aishilla, kamu duduk disana!" ujar Bu Sarah sambil menunjuk bangku yang dekat dengan jendela. "Dan Alvin, kamu duduk semeja dengan..."

To be continue

- - - - -

0 komentar:

Posting Komentar