Rabu, 15 Februari 2012

-- Memories -- Part 8

-- Memories --

Part 8


"Lupa loe, neng? Kisah gue ama Dayat tuh udah game-o-ver-!"

Aku baru ingat kalau dua hari yang lalu tepat sehari setelah Dayat berulang tahun, Sivia dan Dayat memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Alasannya menurutku sepele tapi entahlah...bagiku keduanya sama-sama salah. Aku menyimpulkan itu semua berdasarkan....
»»

"Oke...kalau emang loe ngerasa Sivia kaya gitu sama loe, tapi bukan berarti loe bisa jadian ama si Iley, kan?" komentar ku setelah mendengar penjelasan Dayat. Kebetulan saat ini aku hanya bertiga dengan Dayat dan Lintar. Sedangkan Sivia, Shilla, Zahra dan Angel sedang mengikuti penyuluhan -lagi- sebagai anggota PMR.

"Ya..karena dengan Iley, gue bisa ngerasain apa yang emang pengen gue rasain Fy." jawab Dayat, Lintar hanya diam mendengarkan pembicaraanku dengan Dayat. Sumpahhh...alasan Dayat buatku terlalu childish, hanya karena Sivia selalu menolak ajakan Dayat untuk mengantarkannya pulang -dengan alasan malu, yang ku anggap wajar untuk anak SMP yang baru pacaran- Dayat memilih untuk selingkuh dengan Iley, adik kelasku yang masih kelas VII.

"Please yah, Day, gue cuman mau loe bisa berpikir lebih dewasa. Rumah Sivia tuh deket nggak nyampe 10 menit juga dari sekolahan, jadi kalau dia nolak ajakan loe buat pulang bareng wajar, kan? Lagian kalau Sivia pulang bareng loe, gue pulang bareng siapa?"

"Ya okey..gue salah tapi Sivia juga salah dong, kenapa kalau Iyel yang ngajak dia nggak nolak? tapi giliran gue yang ngajak selalu nolak.."

Aku terdiam, kalau begini kesalahan memang bukan hanya pada Dayat tapi juga Sivia.

"Tapi..semestinya loe ajak dia ngomong baik-baik, bukannya malah selingkuh gini, sama ade kelas pula.." aku menghela nafas sebentar. "Dan loe tau? Hanya karna ini gue pastiin Iley bakalan dibenci sama anak kelas 3 terutama gue, Shilla, Zahra dan Angel!" ujarku lagi. Aku punya alasan kenapa aku berkata seperti itu. Karena memang pada dasarnya setiap senior tidak menyukai dengan junior yang sok-sok-an, kan? Apalagi kalau kasusnya seperti ini. Menjadi orang ketiga dalam hubungan salah satu best couple disekolah, di tambah lagi Iley jelas tahu betul kalau Dayat dan Sivia masih berhubungan...

"Jadi gue harus gimana?" Dayat menunduk kan kepalanya, kasihan juga melihatnya seperti itu. Aku tahu, sebenarnya yang Dayat rasakan adalah 'hambar' nya hubungan yang terjalin diantara ia dan Sivia. Sivia yang kurang perhatian, padahal Dayat selalu berusaha mengerti semua keinginan Sivia. Dia nggak pernah melarang Sivia untuk dekat dengan pria mana pun. Sedangkan Sivia selalu cemburu tiap Dayat terlihat dekat dengan salah satu murid perempuan dikelasku.

Lintar menepuk-nepuk punggung Dayat. "Makanya Day, kalau ngambil tindakan dipikir dulu dong.." ujarnya halus, aku mengangguk membenarkan perkataan Lintar.

"Iya..gue tau gue salah, terus masa iya gue harus jujur sama Sivia kalau gue pacaran sama Iley?" tanya nya, ia terlihat putus asa.

"Kalau emang itu yang terbaik, why not? Lebih baik, Sivia tau sekarang dari mulut loe daripada dia tau belakangan dari mulut gue atau mulut yang lainnya.." ujarku berusaha bijak, entahlah tapi ku rasa apa yang aku ucapkan adalah keputusan yang benar.

"Tapi, apa Sivia nggak sakit hati nanti?"

Aku dan Lintar saling menatap satu sama lain, sama-sama bingung untuk memberikan solusi yang benar-benar aman untuk Dayat dan juga Sivia.

"Sivia bakalan lebih sakit hati lagi kalau kelamaan lo bo'ongin Day." ujar Lintar akhirnya.

"Gini deh Day, kita udah kasih solusi yang menurut kita baik tapi semua balik lagi ke elo, elo yang berhak nentuin ngikutin saran kita atau ngikutin kemauan loe sendiri.." aku menatap Dayat tajam berharap apa yang aku sampaikan dicerna baik olehnya. "Dan apa pun keputusan loe, gue dukung, selagi itu nggak ngebuat Sivia lebih sakit hati lagi." sambungku.

Lintar menyela ucapanku. "Yahh..gue setuju sama pendapat Ify!"

"Satu hal yang harus loe inget, jangan sampai keputusan yang loe ambil itu bakalan buat loe menyesal nantinya, jadi pikirin dengan baik.." lanjutku lagi, kemudian menepuk pundaknya sebentar dan pergi bersama Lintar meninggalkan Dayat sendiri didalam kelas...
««

Aaahhhh...aku jadi merasa bersalah pada Sivia jika mengingat itu. Karena tanpa ku sadari, aku sama saja telah membantu Dayat untuk membohongi Sivia, aku membiarkan Dayat berselingkuh dibelakang Sivia.
Sivia.....forgive me please!

"Sorry yah, Vi..." ucapku setelah mengingat itu semua, Sivia terlihat mengerutkan keningnya.

"Buat?"

"Karena sebelumnya kan gue udah tau kalau Dayat selingkuh tapi gue malah--"

Sivia memotong ucapanku. "Udahlah Fy, semua mungkin emang salah gue. Sekarang kita nggak usah mikirin itu lagi oke?" pintanya, aku mengangguk setuju. Huhhh setidaknya aku bisa melupakan Alvin sebentar.

"Ya udah, kita ke lapangan depan aja yuk, ngeliat Iyel main basket, Rio juga ikut main lho~" goda Sivia, ia menyenggol pelan lenganku. Tanpa ku minta rona-rona merah menyembul di pipiku...ehheee engga deh, bo'ong. Mana aku tau pipiku merona atau ngga...

"Ihh..apadeh lo Vi~"

Sivia tertawa. "Ahahaa...se-nggaknya, biar nggak dapet Alvin kan, loe dapet Rio.." ujarnya, kemudian berjalan meninggalkanku.

"Siviaaaaaa!" seruku sambil menyusulnya.

Sesampainya di lapangan basket..

"Udah deh, nikmatin tuh permainannya Rio, daripada diem dikelas bikin sakit hati.." aku mengangguk membenarkan perkataan Sivia.

Wawwww..ternyata Rio memang keren.
Hello...kemana aja loe Fy sampe baru sadar kalau Rio itu keren?

Dia tersenyum, aku tak salah lihat, Rio tersenyum kikuk kearahku, agak canggung mungkin....dan aku membalasnya dengan kikuk juga. Bayangkan! Sudah lebih dari 2 tahun aku tak pernah bertukar senyum dengannya....ahahaa, aneh..

-----

Hemmm...aku mulai merasa kalau selama ini aku sudah memiliki terlalu banyak kesalahan pada Rio, dengan sikapku yang terlalu....entahlah terlalu apa, yang jelas itu bukanlah prilaku yang benar.
Masa hanya karena Rio menyukaiku, aku menjauhinya dan memusuhinya hingga kami kelas 3? Silahkan kalian hitung sendiri, berapa lama aku memusuhinya hanya karna persoalan sepele....

'Rio...aku minta maaf!'

Apalagi semenjak kelulusan aku tak pernah bertemu dengannya. Pernah sih, kalau kebetulan dia lagi nongkrong dirumah Iyel. Kebetulan rumahku dan Iyel berdekatan, tapi biasanya aku hanya berani mendengar suaranya bukan menatap wajahnya.

Ya ialah...bagaimana aku bisa menatap wajahnya kalau setiap aku ingin -diam-diam- mendengarkan suaranya, aku hanya duduk manis diteras rumahku bukan didepan rumahnya Iyel.
Aku jadi ingat, saat dengan susah payah aku mengumpulkan keberanianku untuk meminta maaf pada Rio. Saat itu.....
»»

Hari ini adalah hari jum'at dan besok sabtu, besoknya lagi minggu. Semua orang juga tau...tapi bukan itu yang ku maksud. Itu artinya hari ini adalah hari terakhir aku sekolah dalam keadaan lebih tenang, karena senin depan aku akan melaksanakan UAN sedangkan besok aku masuk sekolah hanya sekedar untuk mengecek dimana ruangan ujianku dan dimana aku duduk nantinya.

Seperti biasa setiap jum'at pagi, sekolah ku selalu melakukan senam pagi berjama'ah. Berhubung hari ini seluruh jam pelajaran dikosongkan, maka selepas senam akan diadakan jum'at bersih alias bersih-bersih massal. Huhhh...melelahkan pastinya, keluhku dalam hati.

"Akhirnya....selesai juga kerjaan kita!" ujar Zahra yang langsung menghempaskan tubuhnya di pelataran kelas. Aku, Shilla, Sivia dan Angel ikut mengistirahatkan diri disamping Zahra.

"Sekarang kita ngapain nih?" tanyaku pada salah satu diantara mereka. Semua nampak berpikir.

"Aha! Kita minta maaf aja gimana?" usul Shilla.

Alis ku bertaut, bingung tak mengerti dengan maskud ucapan Shilla. "Maksudnya?" tanyaku dengan tampang polos.

"Ya elah Fy, kaya zaman SD itu lho kan pas mau ujian kita maaf-maaf-an gitu sama guru-guru, adek kelas, ya minta doain juga sama mereka sekalian biar kita bisa lulus." ujar Shilla, menjelaskan.

"Boleh!"

Akhirnya kami berlima mulai mengitari seluruh penghuni sekolah satu persatu. Dimulai dari kantor guru, kami menyalami satu persatu guru yang berada disana, memohon ridho supaya kami bisa mengerjakan soal ujian dengan baik. Kali aja ada salah satu guru yang punya dendam kesumat sama kami berlima, who knows?
Biar kata aku dan teman-temanku termasuk murid yang patuh, tetep aja kan nggak ada yang tau kalau ternyata tanpa kami sadari, kami sudah membuat guru-guru jadi memendam rasa tak suka terhadap kami.

Aku, Shilla. Sivia, Zahra dan Angel telah selesai menghampiri guru-guru dan ini saatnya kami menghampiri adik-adik kelas kami yang berada digedung sebelah. Lelah juga rasanya setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki digedung ini -gedung waktu aku kelas satu-. Ternyata tidak banyak perubahan, hanya saja kelas pada lantai dua yang biasanya dibiarkan kosong kini sudah mulai digunakan. Aku dan yang lainnya mulai meniti satu persatu anak tangga untuk bermaafan dengan adik kelas kami yang berada dilantai atas. Selain itu menurut kabar wali kelas kami juga berada disana. Pantas saja saat tadi kami mencari beliau, kami sama sekali tidak menemukannya...

Aku menduduk-kan diriku disalah satu kursi yang terjejer didepan kantor guru, dengan kaki yang kubiarkan terbentang kedepan aku mulai menyenderkan kepalaku pada sandaran kursi.

"Huhhh..pegel kaki gue.." keluh Shilla sambil memijit-mijit kakinya.

"Iya nih, berasa banget deh gempornya." tambah Zahra.

Tiba-tiba Sivia memutar badannya yang semula menghadap lapangan menjadi kehadapanku. "Loe nggak jadi ngejalanin rencana lo Fy?" tanya nya.

Aku mengernyitkan dahi, heran. "Rencana? Rencana apa?" tanyaku dengan tampang polos. Entahlah..aku sendiri bingung dengan rencana yang dimaksudkan Sivia. Atau aku yang lupa?

"Ahelahhh..pake lupa lagi, katanya loe mau minta maaf sama Ri...awww!" Sivia meringis. Memang aku tadi secara refleks menyubit kecil lengannya, daripada dia ember...

"Waduhh...loe mau minta maaf ama siapa Fy?" tanya Shilla, Zahra dan Angel mengangguk ingin tahu.

Aku jadi tersenyum, senyuman yang aneh. Mau jujur malu, kalau nggak jujur dijamin deh nggak dipercaya secara mereka tau banget aku nggak gampang bo'ong.

"Malah diam..." ceplos Zahra yang sepertinya sudah tak sabar.

"Minta maaf sama Ri...o.." jawabku pelan.

"Hahhhh?!!" Shilla, Zahra dan Angel terkejut berjama'ah. Tuhkan...apa ku bilang, malu kan jadinya. Entahlah sudah jadi apa muka ku saat ini.

"Iiihh..tapi nggak jadi tau~" ralatku cepat.

"Lho kenapa nggak jadi?" tanya Angel.

To be continue


0 komentar:

Posting Komentar