Presiden Indonesia yang baru telah terpilih. Masa kampanye pun sudah
lama berlalu, tapi nyatanya perseteruan antar dua pendukung capres belum
berakhir juga.
Saya menghargai setiap perbedaan, dan tentunya akan
lebih mudah untuk kita bisa menghargai orang lain-termasuk untuk pilihan
dan pendapatnya, jika mereka juga mau berbesar hati untuk berlaku
sebaliknya terhadap kita.
Yang mengecewakan saya adalah, saat
ternyata orang yang saya anggap teman-yang lebih mengerti, tapi justru
bersikap seolah-olah tidak menghargai pilihan dan pendapat saya,
sedangkan saya selalu berusaha untuk menghargai perbedaan yang ada
diantara saya dan teman-teman saya.
Dalam suatu pertemanan, hal yang
wajar kalau
si A suka boyband dan si B lebih suka group band. Tapi
bukan berarti si B bebas mengatakan kalau boyband itu gay, padahal jelas
hal itu bisa menyakiti perasaan si A kan? Atau dalam pertemanan
berbeda agama,
apa sopan kalau kita menjelekan agama teman kita, karena
(pasti siapapun termasuk) kita beranggapan agama kita yang paling benar?Ini hanya perumpamaan.
Semua
orang punya pendapat, dan pilihannya masing-masing, dengan pertimbangan
alasan yang berbeda. Mestinya, kalian-apalagi kalau sudah mencoblos,
itu artinya kalian sudah dewasa, bisa lebih terbuka menerima perbedaan.
Lebih bisa menghargai pilihan teman tanpa harus membuat rusak hubungan
yang sudah terjalin baik. Apa nggak sia-sia? Jatuhnya mencoblos lebih
banyak mudharatnya daripada tidak mencoblos, karena mencoblos membuat
rusak hubungan baik dua orang yang ternyata berbeda pilihan.
Saya
selalu menjaga tweets saya, tidak menjelekkan capres manapun (tapi
mungkin mengkritik -yang dianggap judgement- orang-orang di belakang
capres yang tidak saya dukung, memang pernah). Karena saya sadar,
orang-orang yang saya follow mayoritas orang yang saya kenal, orang yang
saya tau berbeda pilihan dengan saya. Tapi nyatanya mereka tidak mau
bertoleransi seperti saya. Saya kecewa :(
Kalian mengaku Islam,
kalian berkata harus memilih yang sesuai dengan syariat Islam tapi
nyatanya sikap kalian tidak menunjukan bagaimana mestinya seorang
muslimin bersikap.
Islam mengajarkan kita untuk selalu berbaik sangka.
Tapi
kalian, presiden yang baru belum dilantik saja sudah berpikir,
"hancur
Indonesia di pimpin syiah," "bisa-bisa aset Indonesia di jual lagi kayak
yang sudah-sudah," kalian mengait-ngaitkan Pak Jokowi dengan Megawati,
karena
'kejahatan' Megawati di masa lalu. Padahal,
ingat...anak pencuri
juga tidak pasti menjadi pencuri. Saya semakin tidak sabar untuk menyaksikan Jokowi mengemban tugasnya. Hal pertama yang paling saya tunggu adalah, soal siapa yang akan beliau angkat sebagai menteri agama? Apa seperti tuduhan yang sudah dengan yakinnya orang-orang jatuhkan kepada beliau? Bahwa jabatan itu akan diberikan kepada seorang Syiah. Atau seperti pernyataan beliau ketika di interview, bahwa orang yang ia pilih adalah seorang ahlu sunnah waljama'ah...
Hati manusia itu nggak ada yang tau. Jangan mendahului Tuhan dengan semua sangkaan buruk kalian.
Islam
mengajarkan kita untuk menjaga aib sesama, itupun kalau kalian ingin
Allah menjaga kalian dari aib kalian sendiri di akhirat kelak.
[Al-Baqarah : 216] Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk
bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui....
Allah
Maha Mengetahui lebih daripada hamba-Nya, tapi masih aja ada yang bilang
dengan yakinnya, "si A lebih baik daripada si B." Ckck...
Dalam Al
Qur'an pun Allah telah memperingatkan agar kita bisa menjaga lisan.
Karena seluruh anggota tubuh kita kelak akan di mintai pertanggung
jawabannya di akhirat, termasuk lisan.
Untuk apa kita gunakan? Menyampaikan kebaikan? Atau keburukan?
[Al
Qalam : 10-11] Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak
bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur
fitnah.
Ingat teman, perkara lisan itu luar biasa bahayanya. Seperti dalam sebuah hadits,
"Sesungguhnya
ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak
dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke
neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan
barat.” (HR. Muslim)
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau
Diam" [HR. Bukhori & Muslim]
Maka ini bukan persoalan apakah
yang kita ucapkan itu sesuai fakta atau tidak, tapi apakah lebih banyak
manfaatnya atau mudharatnya?
Saya kecewa dengan beberapa teman,
kalau sekiranya saya sendiri bersalah terhadap kalian, saya minta maaf.
Tapi, jujur saya sangat menyayangkan tweets-tweets kalian yang tidak
bisa menghargai perbedaan.
Kalian mengatakan jangan saling hina,
tapi nyatanya kalian meluapkan segala isi hati kalian dengan pernyataan
seolah-olah kalian lebih tau, dan Tuhan telah salah dengan apa yang Ia
tetapkan.
Kalian berkata akan berbesar hati, tapi nyatanya kalian
terus menghujat orang yang kalian anggap jahat itu, seolah-olah kalian
lebih baik daripadanya.
Puaskan nafsu kalian, dengan hinaan,
tuduhan, dan prasangka-prasangka buruk kalian terhadap beliau. Kemudian
renungkan, apa dengan begitu membuat kalian menjadi lebih baik daripada
beliau di mata Tuhan?
Apa dengan begitu membuat pahala atau amal ibadah kalian semakin bertambah dan dosa kalian berkurang?
Manusia
tempatnya khilaf dan salah. Kalau kalian meyakini Allah tidak tidur,
mestinya kalian tau Allah bersama orang-orang yang sabar, Allah
menyertai orang-orang yang di dzalimi :)
Nb : Ini unek-unek saya, yang tidak hanya cukup disampaikan dalam 140 karakter di twitter. Ingat, muslim yang satu dan yang lainnya itu satu tubuh, satu sakit yang lain pun ikut sakit. Sudah semestinya kita saling rangkul, dan mengingatkan :)