Jumat, 27 April 2012

"Bebaskan Diriku" (short story)


Lama sudah ku pendam ini..
Lama sudah ku makan hati, menghadapimu..
-----

Menekan rasa sakit yang kian menusuk tepat diulu hati. Meredam setumpuk amarah yang kian menggunung dibenak ini, tealh ku lakukan bukan hanya untuk sekali. Ironisnya, semua terjadi hanya karena satu orang yang sama, orang yang mengaku cinta namun justru membuatku tersiksa. Ingin berakhir, tapi sulit bagiku untuk mengakhirinya. Dia begitu indah tuk ku benci.

“Loe itu terlalu banyak bersabar, Fy..” Ujar Sivia disuatu kesempatan, saat aku sedang menunggu giliran tampil di salah satu event sekolah.

Dan Pricilla pun menambahkan. “Cinta emang butuh pengorbanan, tapi ini udah bukan pengorbanan lagi namanya, Fy..”

Aku hanya terdiam kala itu. Karena bagaimana pun juga, mereka benar
Huftt..berulang kali aku membuang nafas. Jengah dengan keadaan yang ku alami saat ini. Mungkin memang sudah seharusnya semua ini di sudahi. Tapi bagaimana caranya?
Teringat disaat dia yang berulang kali mengabaikanku demi hal lain—yang ia sebut penting, dan aku hanya bisa tersenyum memakluminya. Mengabaikan semua desas-desus buruk yang mengatakan, bahwa ia telah mendua.
***

Aku tersenyum lega saat melihat dia yang masih duduk manis dibangkunya, membereskan buku-buku pelajaran yang berserakan diatas meja. Perlahan, aku melangkah mendekatinya, dan memberanikan diri untuk menyentuh pundaknya.

“Yo,”

“Hemm…”
Dia berdehem tanpa menatapku, tetap dengan kesibukannya.

Aku mendesah pelan, “Errr..hari ini,  kamu jadi nemenin aku ke tempat les, kan?” Tanyaku penuh harap. Dia mulai meraih ranselnya, dan menyampirkan dipundaknya. Tanpa menjawab pertanyaanku, dia mulai melangkah hendak keluar. Aku kembali mendesah, kali ini diiringi rasa kecewa. Tapi aku sudah cukup terbiasa dengan sikap barunya ini. Baru? Karena memang dia berubah acuh seperti ini sejak 2 minggu yang lalu. Aku menyabarkan hatiku, kemudian mengikuti langkahnya. “Kamu udah janji lho, Yo…” Sambungku, sedikit mengingatkan janjinya dua hari yang lalu, menemaniku les piano sebagai ganti batalnya acara menonton kami waktu itu.
Aku terkaget saat menyadari dia menghentikan langkahnya. Setelah menghembuskan nafas, ia mulai menatapku dengan tatapan sayaunya. Tatapan yan terbukti ampuh untuk meluluh lantakkan hatiku, seperti biasanya.

“Fy, hari ini aku ada janji buat belajar bareng Dea, sorry..”

Aku tersenyum masam mendengarnya. Dea lagi?
“Tapi kan kamu udah janji..” Sahutku pelan.

“But, sorry to say—“

Aku buru-buru menyela ucapannya, “—hari ini kan aku ada ujian memainkan musik klasik, Yo. Kamu pernah bilang pengen liat aku mainin musik kalsik dengan bagus. Ak—“

“Fy, please dong! Jangan kayak anak kecil!”
Aku menunduk, ketika mendengar nada suaranya yang mulai meninggi. “Aku kan bisa liat kamu main piano ntar di rumah kamu—“

“Ya, ya, ya, sorry. Aku egois..”
Potongku cepat. “Aku duluan, Yo. Have fun belajarnya..” Pamitku.
Kata have fun yang ku lontarkan sebenarnya lebih bermakna sindiran. Tapi, ntahlah. Mungkin ia pun tak ambil pusing dengan sindiran halus dariku tersebut.

Hahh..rasanya aku ingin menangis. Tapi, untuk apa?
Bukankah aku suah biasa mengalami ini semua?
***

Aku  berulang kali menghembuskan nafas lega. Sebuah ujian yang sangat ku tunggu-tunggu akhirnya berhassil ku lalui dengan baik, meskipun tanpa dia. Ugh, kenapa aku harus kembali mengingatnya? Dia mungkin sedang asyik belajar bersama dengan Kak Dea, teman kelompak belajarnya. Tak memikirkanku? Sepertinya iya.
Sebaiknya, aku refreshing sedikit sebelum pulang ke rumah, sekedar untuk memperbiki moodku hari ini.

Aku memilih sebuah mall yang berada tak jauh dari tempat lesku. Kebetulan sekali, aku sepertinya sedang membutuhkan novel baru untuk menambah koleksi. Dengan santai aku menyusuri luasnya gedung ini seorang diri. Hingga dering ponselku bernyanyi, aku pun segera meraihnya.

“Ya, hallo! Kenapa, Vi?” Tanyaku langsung, begitu melihat nama pemanggil yang tertera didisplay ponselku.

Aku mendengar nada bicara Sivia yang sepertinya sedang menahan amarah. Sedikit mengernyit, aku melangkahkan kakiku sambil memasang kuping dengan baik untuk mendengarkan Sivia.

“Loe, jangan bercanda deh, Vi.. Rio bilang sendiri kok, kalau dia ada jadwal belajar bareng Kak Dea, bentar lagi kan UN, Vi..” Ak mencoba mengelak dari penuturan Sivia yang menyebutkan bahwa Rio sedang bersama Kak Dea di sebuah mall. Tetntu saja aku –sedikit- tidak percaya, bukankah Rio membatalkan janjinya denganku karena sebuah alasan? Alasan yang sudah ia jelaskan, dan itu bukan seperti apa yang baru saja Sivia bilang.

“Dan loe percaya, gitu?! Non..loe inget deh, inget! Rio udah pernah bo’ong sama loe dan itu nggak cuman sekali..”

Hening…
Dan kalimat Sivia barusan, terasa menyudutkan. Memang untuk yang satu ini, hatiku pun membenarkannya. Lantas, apa yang harus ku laku kan?

“Sorry, Fy, sorry.. Gue nggak bermaksud—“

Aku menggeleng pelan, meski ku tahu Sivia takkan melihatnya. “Nggak, Vi.. Gue ngerti kok, thanks udah perhatian sama..”

Brukk..
Oh my, aku baru saja menabrak seseorang!
Buru-buru ku putuskan sambungan telponku, dan mengabaikan suara Sivia yang terdengar bingung –mungkin- karena suara ku yang tiba-tiba terhenti.

“Ah, maaf-maaf, gue ggak sengaja..” Ucapku pelan, sambil memunguti beberapa lembar foto yang tersebar di lantai. Ku dengar desahan kesal seorang wanita yang sepertinya menjadi ‘korban’ ku.
Sepertinya dua muda-mudi –yang belum ku ketahui siapa namanya, karena yang baru ku lihat hanya alas kaki yang mereka kenakan— ini baru saja keluar dari salah satu photobox didekat sini.
Nafasku seakan tertahan, saat kedua bola mata ini menangkap sosok yang berada paa lembar foto tersebut. Dengan hati tak menentu, aku mengangkat wajah. Sambil berdoa dalam hati, semoga penafsiran ku salah.

“In..Ri..o?” Aku menutup mulut dengan tangan kananku saat mendapati kenyataan bahwa sepasang manusia yang saling merangkul dihadapanku ini memang Rio dan…Kak Dea.

“If..Ify..”

Aku menggeleng tak percaya. “Oh, jadi gini cara kamu belajar bareng?!” Tanyaku dengan nada tak suka. “Belajar bareng, atau foto bareng sih?!” Tanyaku lagi.

Dia mulai melepaskan rangkulannya pada Kak Dea yang sedang memasang tatapan tidak sukanya padaku. Kemudian, beralih menyentuh kedua bahuku. “Fy, aku bisa jelasin. Kamu sekarang pulang ke rumah dan tunggu aku disana.” Pintanya.
Aku tertawa miris. Semudah itu?
Ku lemparkan foto-foto milik mereka dengan kasar, dan bersiap pergi.

“Nggak perlu!”

Dengan cepat aku meninggalkan mereka. Samar-samar aku masih mendengar suaranya yang menyerukan namaku.
Pernahkah dia tahu? Berada di posisiku ini sangat sulit!
Sangat sakit! Mencintai dengan sepenuh hati, dan dibalas dengan sikap –yang terkesan— tidak perduli seperti ini. Jadi, untuk apa dia meminta hatiku saat itu? Untuk disakiti?

Ini semua tentang dirimu
Tentang caramu, memperlakukanku
-----

To : Mario
Yo, ke rumah sekarang bisa?
ada yang mau aku omongin.

Send!
Aku melemparkan ponsel tersebut ke atas kasur, setelah memastikan pesan yang baru saja aku ketik telah terkirim.
Huhhh..akhirnya, setelah sempat terjadi perdebatan antara hati dan pikiran, aku rasa memang seharusnya aku melakukan sesuatu. Sesuatu yang menyakitkan, tapi akan membawaku keluar dari penderitaan, tentu jauh lebih baik dibanding dengan bertahan hanya untuk suat yang sia-sia, kan?


Maka izinkan aku memilih jalan bahagia untuk diriku sendiri.
Biarkan aku berbicara, tentang dia dan sikapnya. Tentang hatiku yang terluka, karena perlakuannya.
***
Hanya keheningan yang ada diantara aku dan dia, yang sedang duduk santai ditaman belakang rumahku. Ah, mungkin hanya dia yang santai. Aku? Aku justru sedang berusaha mengolah hati dan emosiku sebelum aku benar-benar memulai cerita yang ingin ku dongengkan. Aku..

"Fy," Suaranya memecahkan konsentrasi yang sedang ku susun. Dengan gerakan pelan, aku memutar pandanganku ke arahnya. "Kamu nyuruh aku kesini cuman buat diem-dieman kayak gini doang?" Sambungnya bertanya, dengan nada bicara yang –sungguh, aku tidak menyukainya. Terdengar malas dan bosan. Entah malas karena bersamaku, atau bosan karena aksi diamku.

Kita udah lama nggak punya waktu berdua, Yo..” Desahku lirih.

Aku bisa mendengar halus hembusan nafasnya. Err..okay, jadi kamu mau nya hari ini kita ngapain? Jalan-jalan? Nonton? Atau duduk berdua sambil diem-dieman nggak jelas gini?” Tanya nya lagi, kali ini nada bicara yang ku rindukanlah yang ia suguhkan. Lembut dan penuh perhatian. Kedua tangannya bertumpu pada paha, dan membiarkan kedua tangannya menahan bobot wajah yang mulai menatapku lembut.

Aku tak ingin terbuai. Setidaknya untuk saat ini. Karena jika itu terjadi, dapat ku pastikan segala kalimat yang telah aku susun sedemikan rupa akan berantakan.

Duduk disini, temenin aku dan..dengerin cerita aku..” Jawabku dengan wajah menunduk. Jemari saling terkait, semoga itu bisa sedikit menekan kegugupanku.

Dia mulai memperbaiki posisi duduknya, dan menatap antusias padaku. “Okay, kamu akan berdongeng dan aku akan dengerin. Silahkan..”   

Aku menelan saliva –yang entah mengapa begitu sulit ku teguk— dengan bersusah payah. Dan kemudian, memulai cerita..

“Ini tentang..dia..” Ucapku agak berat.

 Dia menyatukan kedua alisnya, bingung. “Dia?”

Aku mengangguk tanpa menjawab, kemudian meneruskan ceritaku. Dia, seorang pria yang dicintai seorang wanita. Dia yang baik, dia yang ramah, dia yang pengertian, dia yang penyayang, dia yang...mulai berubah semenjak kedatang seorang gadis lain dikehidupannya.”

“Oh ya? Kok bisa gitu?”

Aku mengangkat kedua bahuku dengan acuh. “Entahlah, mungkin ada daya tarik tersendiri yang--mungkin, hanya ada pada gadis 'baru' tersebut. Sedangkan gadisnya yang dulu, yang masih berstatuskan sebagai kekasihnya, mulai membosankan.”

Berarti tu cowok nggak bener-bener cinta, Fy. Buktinya, ada yang baru ngelupain yang lama.” Responnya dengan kepala menggeleng.

Aku tertawa miris dalam hati. Oh, jadi dia tidak benar-benar mencintaiku?

Semenjak dekat dengan gadis 'baru' itu, dia seperti melupakan pacarnya, menganggap nggak penting tentang apa yang dianggap pacarnya penting, dan bahkan dengan terang-terangan memilih untuk menepati janji ‎​yang..” Aku mengambil jeda sekedar untuk menghela nafas. ..mungkin baru dia buat dengan gadis 'baru' itu, daripada janji yang sudah jauh-jauh hari dia buat dengan pacarnya.”

Dia kembali merespon. Kali ini hanya dengan gelengan kepala dan decakan lidah.

Pacarnya sudah terlalu kecewa, Yo, tapi..alasan klise, 'masih cinta' ngebuat dia terlalu sulit buat ngelepasin cowok yang sudah jelas nyia-nyiain dia.”

Wawww! Cewek ‎​yang hebat. Aku salut sama dia! Kalau aku jadi cowok itu, aku nggak bakal nyia-nyiain cewek kayak dia.”

Lagi-lagi aku tertawa dalam hati. Jadi aku hebat?
Lantas, apa yang dia lakukan kepadaku sekarang?
Bukankah dia telah menyia-nyiakan ku?

Menurut kamu, baiknya..cewek itu gimana, Yo? Apa yang harus dia lakuin?”

Cari cowok lain kali, Fy. Cowok di dunia ini nggak cuman satu. Dan aku yakin, cewek baik kayak dia pasti bisa ngedapetin cowok yang lebih baik dari pacarnya yang kurang ajar itu.” Jawabnya menggebu-gebu.

Jadi, itu artinya aku harus mundur?
Aku harus melepaskanmu, Mario?

Kalau dia cinta banget, sampe ngerasa nggak bisa hidup tanpa cowok itu, apa dia tetep harus ngelepasin cowok itu?!” Tanyaku lagi, tanpa sadar nada bicaraku mulai terdengar menantang.

Ia mengangkat sebelah alisnya, mungkin tak mengerti dengan alasan perubahan nada bicaraku.
Ya, ya..kan jelas, Fy, cewek baik-baik, juga akan mendapatkan cowok baik-baik. We'll see, cowok dia itu nggak baik, dan untuk cewek baik kayak dia, berarti tu cowok emang pantes dilepas.”

Hehhh..jadi memang sebaiknya aku melepaskanmu, Mario?

Sebenernya ini tentang siapa sih, Fy? Tanya nya kemudian.

Tentang kamu, Rio!
Kalau saja aku mampu, mungkin kalimat itu yang akan aku lontarkan. Namun kenyataannya,  aku justru memilih untuk menggeleng sambil memejamkan mataku sebentar. Berharap sedikit kepenatan diotak ku menguap sementara.
Nggak, okay, thanks udah mau ngedengerin cerita aku.”
Dia tersenyum. Jemarinya bergerak naik ke puncak kepalaku, dan kemudian membelai halus rambut panjangku. “Sama-sama cantik, ini nggak seberapa dibandingin seringnya janji kita yang aku batalin.” Ucapnya terdengar tulus.
Membuat kalimat utama yang sangat ingin aku ucapkan semenjak diawal terhenti hanya ditenggorokan. Biarlah aku memberi sedikit waktu untuk hatiku, agar bisa mengambil jalan terbaik tanpa diakhiri dengan penyesalan.

Aku membuang pandanganku, diam-diam aku tersenyum masam. “Kamu sadar sama semua itu, tapi kenapa kamu nggak sadar sama perasaanku?” Aku bertanya lirih.
Selirih hembusan angin yang menyapa dedaunan kering dibawah kakiku, dan menerbangkannya semakin jauh dari tempatku berpijak.

Angin...
Bolehkah aku menitipkan rasa sakit ini padamu?
Bisakah kau lemparkan sejauh mungkin sesak ini dari hatiku?


Tak sadarkan kau selama ini?
Bukan cuma hati yang kau sakiti, juga hidupku
Diriku ini pasanganmu!
Bukannya musuhmu, tak perlu kau siksa aku
-----

Loe, loe kurang aja banget yah sama gue!” Bentak seorang perempuan kepadaku.
Aku memang baru saja menyiramkan segelas jus jeruk di seragam putihnya, saat secara tak sengaja mendengar ia menjelek-jelekkan ku, dengan temannya yang entah siapa.

Sekuat hati aku menajamkan tatapanku dikedua bola matanya, dan menahan getar suara yang aku rasa akan merusak keberanianku.

Itu semua gara-gara kakak! Kakak yang bikin aku kayak gini!” Balasku sengit.

Ia mulai berdiri, dan memasang tampang angkuhnya, diikuti dengan tatapan tak suka dari beberapa temannya yang mungkin..tak menyukaiku.

Oh, jadi loe denger omongan gue sama temen-temen gue tadi? Iya?!”

“Kalau iya memang kenapa?!” Balasku dengan nada bicara ‎​yang kian meninggi. Situasi kantin cukup sepi untuk saat ini, tapi bukan berarti tak ada yang memperhatikan kami.
Murid-murid yang sedang berada disini tentu saja mulai menonton pertengkaran diantara aku dan Kak Dea. Tapi aku bersikap acuh.

Kak Dea mulai melangkah mendekatiku, dengan kedua tangan terlipat di dada. Sungguh angkuh!
Asal loe tau yah, apa yang gue omongin tuh fakta! Rio udah bosen sama loe!” Dengan keras ia mendorong bahuku. Dia bertahan karena kasian sama loe! Ngerti?!”

“Gue-nggak-percaya-sama-loe!”

Dia tertawa remeh kepadaku. Ya, wajar sih. Secara...dia selalu maniss..banget di depan loe, tapi dibelakang loe?”

Rasanya aku ingin menjambak rambut seniorku yang satu ini. Inginku robek mulut yang masih setia menyunggingkan senyum meremehkan itu. Dia semakin mendekat ke arahku dan..

Apa loe tau, apa aja yang udah dia lakuin sama gue?” Tanyanya dengan berbisik halus ditelinga kananku.

Aku mulai merasa rongga paru-paruku mulai menyempit.
Oksigen yang masuk mulai menipis, dan aku bagai kehilangan kemampuan untuk bernafas. Perlahan ia mulai melangkah mundur, sambil membelai lembut bibir yang dilapisi lip balm berwarna peach miliknya. Tetap dengan senyum meremehkan, serta kerlingan kecil.
Oh Tuhan, apa maksud ucapannya?
Apa maksud dia menyentuh bibirnya?
Aku mulai tak bisa berpikir jernih. Berbagai macam pikiran negatif menghinggapi otakku.
Entah mendapat kekuatan darimana, tangan kananku bergerak mengayun dan tepat mendarat dipipinya..

Plakk..

“Ify!!”

Dan seruan itu membuat semua pasang mata mengalihkan perhatian, begitu pula denganku.

Aku membeku ditempat saat tahu, siapa pria yang menyerukan namaku. Oh Tuhan, terima kasih telah mengirimkan Rio untukku. Dengan keyakinan ia akan membelaku, aku ingin segera melangkah menghampirinya. Namun niatku terhenti saat tubuh itu lebih dulu ditubruk dengan kuat oleh seorang gadis.
Seorang gadis yang baru saja ku hadiahi cap lima jari dipipi kanannya. Gadis itu mulai menangis tersedu-sedu, dengan tangan kanan memegang pipi, dan tangan lainnya memeluk tubuh pria itu, kekasihku..

Dia jahat, Yo! Dia nampar aku setelah ngotorin baju aku dengan minuman, aku..hikss..hikss..”

Acting! Mengadu!

Rio memicingkan kedua matanya, aku tentu saja menciut melihat tatapan yang tak pernah ku suka itu. Karena tak mampu berkata-kata, aku hanya mampu menggeleng sambil mengigit bibir bawahku.
Please, Yo..jangan percaya omong kosong dari Kak Dea..

Jangan percaya, Yo! Dia bohong!” Kak Dea yang masih berada dalam pelukan Rio kembali bersuara, sambil menatapku dengan air mata buayanya. Liat! Baju aku ada noda jus yang dia tumpahin, anak-anak satu kantin juga liat..” Dia menunjukkan bajunya yang kotor pada Rio, membuat tatapan Rio semakin menajam padaku.
Aku semakin merasa tersudut. Bagaikan kurcaci diantara raksasa-raksasa yang tengah tertawa mengejek padaku. Tuhan, mengapa begini?

Pipi aku sakit, Yo.. Kak Dea merengek sambil memegang pipinya. Dan Rio pun tanpa sungkan mulai membelai lembut pipi merah tersebut. Sorot matanya sarat akan kekhawatiran.
Tapi..apa dia tidak merasakan keberadaanku? Keberadaan seonggok hati yang berdenyut ngilu. Dan aku hanya bisa menyaksikan adegan itu dengan tetes air mata yang tanpa bisa ku cegah, mengalir dari kedua sudut mataku.

Loe keterlaluan kak!

Aku buru-buru menyusut air mataku saat mendengar suara itu. Suara Sivia. Tentulah objeknya Rio. Dan setelahnya, ku rasakan kedua tangan telah merengkuh ku hangat, tangan milik Pricilla.

“Loe apa-apaan sih?!” Rio balik membentak dengan nada yang jelas-jelas menunjukkan ketidak sukaannya.

Aku bisa melihat raut penuh amarah yang menghiasi wajah Sivia. Loe yang apa-apaan?! Cewek ini udah ngina-ngina Ify!” Ucap Sivia kesal sambil menunjuk wajah Kak Dea, yang kian menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Rio. Dan loe malah meluk-meluk dia, ngusap-ngusap pipi dia, nggak punya hati loe!”

Eh temen loe tuh yang kurang ajar! Ngapain dia nampar Dea?!”

Kalimat itu...
Kenapa rasanya sakit sekali saat mendengar ia berkata seperti itu?
Aku merasa semakin bingung dengan semua yang terjadi, dan akhirnya memilih meninggalkan Pricilla dan Sivia.

Fy! Ify!!

Samar-samar aku mendengar teriakan Sivia dan Pricilla yang saling bersahut-sahutan memanggil namaku.
***

Ibaratkan berlari sekuat tenaga, menyusuri ribuan kilo meter jalan berliku, hanya untuk mencapai suatu ujung yang tak ku tahu dimana titiknya.
Mengabaikan banyaknya rambu-rambu sebagai pertanda adanya rintangan yang akan ku hadapi saat menyusurinya.
Tapi kini aku telah lelah, meski belum menemukan titik akhir dari apa yang ku cari selama ini.
Aku menyerah aku tak sanggup.

“Loe terlalu baik buat dia, Fy..”

Ku rasakan tangan halus Sivia mengusap-usap punggungku. Aku yang berada dalam pelukannya hanya bisa menangis tanpa suara.

Gue nggak tega liat loe begini, Fy.. Udahlah, putus aja sama dia.” Pricilla menambahkan. Tangannya ikut mengusap-usap pundakku. Gue tau itu semua berat, tapi pikirin hati loe, Fy.. Sambungnya.

Sivia menguraikan pelukannya. Tangannya mulai menyingkirkan poni panjangku yang sudah berantakan. “Loe sendiri yang pernah bilang sama gue, Tuhan nggak suka sama hamba-Nya yang menyakiti diri sendiri. Lets see..apa yang loe lakuin sekarang?” Aku tetap diam mendengarkan 'ceramah' dari Sivia. “Loe nyakitin diri loe sendiri, cantik.. Loe biarin hati loe menahan semuanya, semua rasa sakit yang bahkan gue nggak bisa bayangin, apa jadinya kalau gue yang ada di posisi loe selama ini.”

Pricilla meraih jemari kananku dan menggenggamnya. Gue tau, Fy.. Selama ini loe cuman pengen berjuang. Mertahanin apa yang loe anggep pantes buat dipertahanin. Tapi, perjuangan juga harus segera diakhiri saat loe emang ngerasa udah nggak sanggup lagi.” 

Baiklah, Tuhan. Ku turuti kehendak dia. Ku loloskan nasihat dia dulu, untuk gadis malang yang pernah ku dongengkan padanya.
***

Harusnya aku tak berada disini. Harusnya aku tak melihat semua ini. Mengunjungi tempat penuh kenangan, yang ku kira hanya ia tunjukkan kepadaku.
Tempat spesial, dan hanya untuk orang yang juga spesial. Begitu tuturnya yang ku ingat, dulu.
Tapi, apa yang ku lihat sekarang?
Dia dan seorang gadis terlihat asyik duduk berdua. Posisi mereka memang membelakangiku. Namun aku dapat menangkap gerak-gerik mereka. Dia yang memangku gitar, dengan gadis disebelahnya yang nampak menyandarkan kepala dibahunya. Ugh..bahkan, telingaku masih sanggup mendengar suara mereka, meski samar-samar.

..Oh sayangku kau begitu, sempurna~”

Dia mengakhiri lagunya, bukan untukku. Gadis disebelahnya bertepuk tangan dengan riang.
Oh Tuhan, haruskah aku mendengar senandung yang ia tujukan untuk gadis lain?

Tanpa sadar, derai air mata kembali meninggalkan jejak-jejak kecil dikedua pipi tirisku. Andaikan luka hati seperti air mata ini, mengering tanpa memakan waktu yang lama.

Tess..tess..
Awan gelap ‎​yang memang sedari tadi mengiringi langkahku mulai menghadirkan titik kecil air langit.
Aku tak beranjak. Tetap diam ditempat, menyaksikan dia dan 'gadisnya' yang dilanda kepanikan. Keduanya berlari sambil bergandengan tangan dibawah rinai hujan.
Tanpa ku perintah, kakiku bergerak menjauh dari pepohonan. Bertepatan dengan itu, ia dan 'gadisnya' telah ada dihadapanku.
Aku diam tak berekasi, tanpa ekspresi. Sedangkan dia buru-buru melepaskan tautan yang terjalin diantara mereka.

“If..Ify..”

Kau masih bisa menyebut namaku, Mario? Setelah tadi pagi –hingga saat ini, membuatku benar-benar merasa tak berarti.

“Ak..aku..” Dia mulai gelagapan. Aku tak tahu, dan sudah tak mau tahu apa yang menyebabkan semua itu.

“Rio! Ayo! Ujannya makin gede!” Kak Dea—gadis itu, mengajaknya pergi sambil menarik-narik paksa lengannya.

Dia menepis tarikan itu. Loe duluan ke mobil! Entar gue nyusul!” Serunya terdengar..membentak?

Dengan kesal Kak Dea berlari menerobos hujan, setelah sebelumnya sempat menghentakkan kaki.
Aku menatap punggung Kak Dea yang kian menjauh. Mungkin memang dia telah bosan denganku. Dan gadis seperti Kak Dea lah yang bisa menghilangkan rasa bosan itu.

Fy..Fy, aku minta maa—“

Aku berhenti sayang
Ku tak bisa lanjutkan
Kisah ini, bersamamu..
Aku takkan mampu

Aku menaikkan sebelah tanganku sambil menggeleng. “—stop, Yo! Stop!”

Dia mulai berusaha menyentuh pundakku. Ify, aku tau aku salah, aku khilaf, aku—“

“—cukup,Yo! Cukup!” Teriakku yang mulai menangis.

Aku..tadi pagi aku cuman kaget, kamu bisa sekasar itu, Fy..” Lirihnya.

“Its all because of you, Mario!” Teriakku, kini petir pun ikut menyahut. Kamu yang bikin aku kayak gitu! Kamu yang berubah! Kamu yang nggak perduli lagi sama aku! Kamu..kamu adalah 'dia' yang aku maksud dicerita aku waktu itu..”

Aku tersungkur jatuh dihadapannya. Tak ku perdulikan beceknya tanah yang ku duduki, derasnya hujan yang mengguyur tubuhku, semua ku abaikan.

Fy, maaf..aku nggak bermaksud—“

“—kamu bohong sama aku, kamu lupain janji-janji kita dan semua cuman karena Kak Dea! Aku sakit, Yo! Sakit!”

Dia ikut berlutut dihadapanku, tangannya bergerak ingin merengkuhku dalam pelukannya. Namun, dengan cepat ku tepis rengkuhannya, hingga ia terjerembab ke tanah.

Menghadapi semua
Kebohongan ‎​yang biasa kau lakukan
Aku hanya minta, bebaskan diriku..

“Aku nggak sanggup, Yo..”

‘Fy! Maksud kamu apa?!”

Aku menatap lembut kedua bola mata hitamnya. Berusaha menguatkan hati, meyakinkan diri bahwa setelah ini, sosok dihadapanku bukan lagi milikku. Ku lepaskan dia, membiarkannya pergi menjauh dari kehidupanku, mencari tempat persinggahan yang baru.

“Aku mau kita...” Ku ambil jeda sesaat untuk memejamkan mata dan menghembuskan nafas keyakinan. “...putus, Yo..” Ucapku tegas namun lirih.
Jujur, disudut hatiku nama itu masih ada.  Cinta itu masih terasa. Namun aku telah memilih.

“Nggak! Nggak, Fy!” Dia menggeleng dan..Tuhan, dia menangis?

Aku nggak bisa tanpa kamu, Fy! Aku tau aku salah dan aku minta maaf. Tapi, please..jangan tinggalin aku..”

Dia berusaha menggapai jemariku. Sekuat apapun ia berusaha, namun sekuat itu pula aku menyingkirkan tanganku.
Dengan lemah aku menggerakkan tubuh ku untuk berdiri. Dan untuk -mungkin- terakhir kalinya, aku menatap dalam kedua magnet terkuat yang ada didirinya.
Sekali lagi, untuk yang terakhir. Izinkan aku melakukan ini.
Aku maju satu langkah, dan sedikit membungkuk untuk menuntun tubuh lemahnya berdiri. Begitu tubuh tegap itu berdiri dihadapanku, segera ku peluk dengan erat. Kemudian dengan kilat, aku mendaratkan sebuah sapuan terakhir dipipi kanannya.

Sakit itu ada, sakit itu terasa..” Bisikku. Kemudian aku menjauh sedikit darinya, dan memandang wajahnya yang nampak terkejut. “..disini, Yo..” Sambungku sambil menunjuk bagian dimana aku sering merasakan detak-detak tak karuan, namun begitu menyenangkan, dan membuatku merasa ketagihan.
Sebuah reaksi yang baru pernah ku rasakan sekali, dan semua itu karenanya. Mario...

Song : Bebaskan diriku by Armada

Kalau ada yang punya, bisa sekalian menambahkan "Kau harus mencintaiku by Rumor" juga dibawah track nya Armada ituuu..soalnya lagunya saling berkesinambungan. Cocok dan...gue rasa sih pas!
Enjoy!

0 komentar:

Posting Komentar